“Tolong ...! Tolong aku! Aaaack!”
Di luar sana, dua demon beast ras singa tengah berhadapan dengan beberapa warga desa termasuk Darby yang kakinya sudah diterkam.
“Aaakh! Tidak ...! Tolong ... tolong aku!” Darby berteriak ketakutan dan kesakitan.
Melihat itu, Asta benar-benar tercengang. Apa sumpah serapahnya menjadi kenyataan dalam sekejap?
“Pergi ...! Tidak, seseorang cepat tolong aku!” Sementara warga lain juga tampak ketakutan setengah mati.
Binatang iblis yang menyerang desa memang bukan hal yang aneh lagi. Mengingat letak desa yang dekat hutan yang berbatasan dengan Perbatasan Eden. Hanya saja, akhir-akhir ini sudah sangat jarang terjadi.
Sungguh aneh dua binatang iblis singa tiba-tiba menyerang desa.
Melihat demonic lion yang menerkam Darby, Ruhi bertindak cepat dengan langsung berubah wujud dan melesat untuk menyerang demonic lion dengan kekuatan elemen udara miliknya hingga membuat demonic lion itu terhempas.
“Grrr ...!” Ruhi kini berhadapan dengan ras binatang iblis singa.
“Ruhi!” Asta berteriak karena khawatir.
“Biar aku yang membantu Ruhi,” ujar Drew ikut menghampiri Ruhi lalu menghunuskan pedangnya pada demonic lion yang satunya.
Asta masuk dan mengambil panah miliknya, mencoba membantu Ruhi dan Drew. Sementara Madhiaz hanya menyaksikan kejadian di hadapannya dan membantu mengevakuasi warga ke tempat aman.
Drew menggunakan kemampuan sword infusion-nya dengan baik walau masih terlihat seperti seorang amatir. Tetapi, dengan bantuan kekuatan elemen angin milik Ruhi, serangan elemen api milik Drew jadi memberikan damage yang lebih besar.
Mereka lalu melawan masing-masing satu binatang iblis. Dengan Asta yang membantu menembakkan anak panah pada dua binatang iblis yang dilawan Ruhi dan Drew.
Selain elemen angin, Ruhi juga bisa menggunakan elemen air. Walau serangannya masih lemah dan belum terkendali, ia masih lebih unggul dari binatang iblis yang masih belum tingkat satu seperti mereka.
Karena itu, berkat bantuan Asta dan Drew, dua demonic lion itu pun bisa dikalahkan tanpa memakan banyak waktu dan tenaga.
“Ruhi! Kau baik-baik saja?” Asta segera menghampiri Ruhi begitu dua binatang iblis itu melebur dan meninggalkan dua core beast.
Ruhi mengangguk. “Ya, Ruhi baik-baik saja. Terima kasih sudah membantu Ruhi,” ucapnya tersenyum tulus.
“Bukan masalah, lagi pula aku tidak banyak membantu, hehe.” Asta lalu mengambil dua core beast yang tadi ditinggalkan demonic lion tadi.
“Wah! Ruhi! Kau sudah membangkitkan kekuatanmu?” seru Drew takjub. “Rupanya kau binatang iblis tingkat empat?!”
Ruhi terlihat serba salah. Asta menghampiri Ruhi, lalu mengelus kepalanya bangga. “Kau sangat hebat. Kau sudah melakukan yang terbaik!”
“Ugh ... sakiiit! Kakiku ....”
Asta, Drew dan Ruhi menoleh ke asal suara dan melihat Darby yang masih tergeletak di atas tanah, mengerang kesakitan. Satu kakinya yang sebelumnya digigit oleh binatang iblis kini mengeluarkan banyak berdarah. Bahkan mungkin tulangnya pun patah.
Madhiaz lalu menyuruh warga yang masih ada di sana untuk memindahkan Darby ke rumahnya, ia juga memerintahkan seseorang untuk memanggil Nona Mori.
Asta memasang wajah acuh. Ia tidak merasa senang ataupun kasihan. Ia hanya merasa bahwa Darby pantas mendapatkan hal itu.
“Uh ... maaf ....” Ruhi menunduk.
“Hm? Kenapa minta maaf? Kau baru saja menyelamatkan nyawa seseorang!” sahut Asta tak mengerti. “Padahal dia sudah berbuat jahat padamu. Cih.”
“Asta benar, kau harusnya bangga,” Drew menyahuti. “Jadi, kekuatan elemenmu adalah air dan udara? Kau menguasai dua elemen dasar. Bukankah itu sangat menakjubkan?” ujarnya tampak antusias.
“Benar! Aku juga baru mengetahui hal itu, ternyata kau menguasai dua elemen dasar! Kau luar biasa, Ruhi!” seru Asta ikut antusias. Mengacak-acak rambutnya gemas.
Kini ia mengerti kenapa seorang sorcerer bisa terluka karena baptisan yang ditanggung Ruhi. Baptisannya pasti sangat luar biasa, mungkin saja ia mendatangkan badai.
Sementara itu, yang dipuji-puji tampak tidak tenang. Ruhi melihat ke arah Madhiaz, lalu berujar, “Seharusnya Ruhi tidak boleh menunjukkan kemampuan Ruhi.”
“Anu ... aku tidak akan mengatakan apa-apa tentang kekuatanmu,” ujar wanita berumur 30-an yang sebelumnya diselamatkan Ruhi. “Terima kasih sudah menolongku, sungguh,” ucapnya tersenyum tulus dan penuh syukur.
“Benar, kami mengerti kenapa kau menyembunyikan kekuatanmu. Tenang saja, kami tidak akan mengatakan pada siapa pun mengenai fakta bahwa kau adalah binatang iblis tingkat empat,” sahut yang lainnya.
Lalu, satu persatu mengucapkan terima kasih pada Ruhi, Drew dan Asta. Mendapat ucapan terima kasih setulus itu, adalah pertama kalinya bagi Ruhi. Ia pun tidak bisa membendung perasaan haru dan bahagia yang menyeruak di dadanya.
Orang-orang itu kini memandangnya dengan tatapan hangat, bukan lagi tatapan takut. Mereka menawarkan berbagai imbalan yang bisa mereka berikan untuk membalas budi. Tak kuasa menahan perasaannya, air mata Ruhi pun berjatuhan.
Orang-orang sempat panik karena Ruhi tiba-tiba menangis, sementara Asta hanya tersenyum melihatnya. Sedikit banyak, ia mengerti apa yang dirasakan Ruhi saat ini. Karena ia pun pernah mengalaminya.
Ruhi tampak serba salah, lalu menggeleng. “Ruhi ... tidak memerlukan balasan,” ucapnya tergamam.
“Benarkah?” tanya wanita itu lalu melihat Madhiaz. Setelah mendapat anggukan dari Madhiaz, ia kembali tersenyum pada Ruhi. “Kalau begitu, nanti datanglah ke kedai milikku. Aku akan mentraktir kalian makan sepuasnya.”
“Kami akan datang!” seru Asta semangat. “Aku pastikan membawa Ruhi dan Kakak Drew. Aku juga boleh ikut, kan? Nyonya Slein.”
Nyonya Slein yang diketahui sebagai pemilik kedai makan itu tersenyum. “Tentu, datanglah kapan pun kalian mau.”
Setelah berbincang dengan Madhiaz, Nyoya Slein dan warga yang lain pun pamit pulang bersama Drew. Sementara Darby masih berada di kediaman Madhiaz menunggu Nona Mori dan keluarganya datang.
“Paman ....” Ruhi menghampiri Madhiaz dengan raut cemas. “Bagaimana ini? Aku ....”
“Tidak apa-apa, jangan khawatir. Aku yang akan mengurus semuanya. Kau pasti lelah, seharian ini banyak hal yang terjadi. Istirahatlah.”
“Terima kasih, Paman ....” Ruhi tersenyum haru atas kebaikan Madhiaz.
Nona Mori lalu datang bersama Drew yang mengantarnya, Madhiaz pun segera menyambut dan mengarahkan Nona Mori.
Asta yang melihat itu tidak bisa tidak berdecak. “Padahal dia sudah pulang tadi. Tapi sekarang, dia kembali lagi hanya demi menemani Nona Mori? Kakak Drew benar-benar ....”
“Tuan muda sangat menyukai Nona itu,” sahut Ruhi.
“Benar ... lihat saja senyumannya yang sangat lebar sampai aku khawatir mulutnya akan robek.”
Ruhi pun tertawa mendengarnya. Tidak lama setelah itu, kereta kuda milik keluarga Darby datang. Mereka keluar dengan tergesa-gesa. Lalu terdengar suara ibunya yang histeris karena melihat anak kesayangannya terluka.
Asta mendecih. “Seharusnya kau tidak usah menyelamatkannya tadi,” ketusnya.
“Eh ... tapi Ruhi bergerak sendiri dan tidak berpikir panjang,” ucap Ruhi tampak serba salah, menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Asta tersenyum dan mengelus kepala Ruhi. “Itu artinya kau orang yang sangat baik. Berkat itu, warga desa pun sekarang menyukaimu. Apa kau senang, Ruhi?”
Ruhi mengangguk malu. “Rasanya ... hangat,” ucapnya sambil menyentuh dadanya. “Asta ... terima kasih sudah menerima Ruhi di sini. Sungguh, Ruhi tidak akan melupakan kebaikan Asta dan Paman.”
Mereka pun menghabiskan waktu mengobrol di kursi kayu depan rumah. Karena Asta malas melihat wajah Darby. Entahlah, ia merasa tidak akan bisa memaafkan Darby karena perbuatannya pada Ruhi sebelumnya.
Setelah beberapa saat, Nona Mori keluar bersama Drew. Asta sempat menggoda Drew sebelum keduanya pamit.
Lalu, Darby dan keluarganya pun keluar tak lama setelahnya. Asta memalingkan muka, tidak ada niatan mengucapkan sepatah kata pun. Namun, tak sesuai perkiraan, Darby malah berdiri di hadapan Asta dan Ruhi.
Melihat itu, Asta sangat tidak senang. Apalagi kakinya tampaknya sudah cukup pulih walau jalannya pincang. “Mau apa lagi kau? Aku sedang tidak ingin berdebat denganmu. Jadi cepatlah pulang. Jangan tunjukkan wajahmu di—“
“ ... kasih.”
Asta terdiam. “Apa?” Sepertinya kupingnya bermasalah. Masa, ia mendengar Darby mengucapkan terima kasih?
“Aku bilang terima kasih! Sudah menyelamatkanku! Ini untukmu!” Darby menaruh sebuah kantung di depan Ruhi lalu berbalik dengan satu hentakan dan berjalan cepat dengan kaki pincang menuju kereta kuda.
Asta benar-benar dibuat tercengang sekaligus merinding. Sementara Ruhi hanya menatap polos.
“Apa? Apa-apaan dia?”
Setelahnya, orang tua Darby juga mengucapkan terima kasih pada Ruhi karena sudah menyelamatkan anak mereka.
Lalu, setelah semuanya pergi, Asta mengambil kantung yang diberikan Darby pada Ruhi. Melihat isinya, mata Asta membulat seketika. Koin emas dan perak!
Asta curiga kalau uang itu adalah uang jajan milik Darby. Dia benar-benar memberikan uangnya pada Ruhi? Si pelit kikir yang suka mencari masalah itu?
“Apa akhir dunia sudah dekat?” ucap Asta dramatis.
Ruhi hanya menatap Asta polos. “Um ... kalau Asta menginginkannya, Asta boleh memilikinya,” ucapnya.
Asta langsung melempar kantung uang itu kembali pada Ruhi. “Tidak! Aku tidak menginginkannya sedikit pun! Kau simpan saja dan belikan barang apa pun yang kau mau,” ujarnya lalu bangkit dari kursi. “Ayo, kita istirahat, kau pasti lelah seharian ini, kan?”
Ruhi tersenyum. Menyimpan kantung uang itu di saku bajunya.
Benar-benar banyak hal yang terjadi dalam satu hari ini. Dan, yang lebih penting, ia bisa merasakan ketulusan orang-orang di sekitarnya. Terutama Asta dan Madhiaz. Mereka menerimanya, menganggapnya bagian dari keluarga tanpa memandang ras.
Ruhi menatap langit malam yang penuh bintang.
Soul ... Ruhi menemukan orang-orang yang hangat, yang bisa Ruhi anggap sebagai keluarga. Kau lihat? Ruhi telah berusaha bertahan dan menepati janji Ruhi untuk hidup dengan baik.
“Ruhi ...!” Asta memanggil dari depan pintu. “Kau sedang apa? Ayo masuk!”
Ruhi tersenyum dan berlari menghampiri. Lalu, ia pun masuk bersama Asta dan terlelap tak lama setelahnya karena kelelahan. Melihat keduanya, Madhiaz tersenyum, meski dengan tatapan yang sulit diartikan.