“Freez!”
‘c***k’
“Berhasil!” seru Ruhi kegirangan. Akhirnya, ia berhasil membekukan sebuah objek untuk pertama kalinya.
“Kau hebat, Ruhi!” puji Asta ikut merasa senang karena selama ini ia pun menyaksikan perjuangan Ruhi yang terus menerus melatih kekuatan sihirnya.
Setelah hampir satu tahun sejak ia bertemu dengan Ruhi untuk pertama kalinya. Dan sudah banyak bulan berlalu sejak mereka memulai pelatihan, Ruhi berhasil menguasai kedua elemen dasar udara dan air miliknya. Dan hari ini, dua minggu setelah Zephyr mengajarinya menggabungkan dua elemen tersebut hingga akhirnya berhasil menciptakan elemen baru berupa es.
Zephyr pun tersenyum bangga. “Teruslah berlatih agar kau terbiasa. Nanti aku akan mengajarimu skill lainnya yang berguna untuk sihir serangan.”
“Terima kasih Tuan Zephyr! Semua ini berkat Anda, Ruhi sangat berterima kasih dan ingin membalas budi pada Tuan.”
“Jangan dipikirkan. Madhiaz yang sudah mengurusnya. Kalau kau ingin membalas budi, perlakukan Madhiaz dengan baik.”
“Ruhi mengerti. Sekali lagi, terima kasih, Tuan.”
Asta tersenyum, ikut merasa bangga dan kagum pada ayahnya yang bisa menemukan orang sebaik dan sehebat Tuan Zephyr. Walau terkadang Zephyr melatih mereka dengan keras dan tanpa perasaan, tidak diragukan ia adalah orang yang baik hati. Latihan hari itu pun berakhir di sana.
Keesokan harinya, Asta dan Ruhi menghadapi dua demon beast saat sedang berlatih di hutan Zerda. Setelah berhasil mengalahkannya dengan susah payah—karena Zephyr hanya mengawasi, kedua binatang iblis itu pun meninggalkan core beast yang cukup besar.
“Hm, kemampuan kalian sudah berkembang cukup bagus,” puji Zephyr lalu menatap Asta. “Dan untukmu, kau harus lebih banyak melatih kekuatanmu. Kelincahanmu adalah satu-satunya yang bagus darimu.”
Asta cemberut. “Baiklah ....”
Setelah kembali dari latihan, mereka pun meminta izin pada Madhiaz untuk pergi ke kota bersama Drew untuk menjual core beast yang telah mereka kumpulkan selama ini. Awalnya, Madhiaz menentang. Asta tidak tahu, tapi ia selalu merasa kalau ayahnya melarang dia pergi ke kota.
Namun, setelah Asta dan Drew membujuk sepenuh hati, Madhiaz mengalah. Mereka pun diizinkan pergi untuk satu hari saja. Asta senang bukan kepalang, ia akhirnya akan pergi ke kota untuk pertama kalinya. Ruhi yang wujud manusianya belum sempurna memutuskan untuk mengubah bentuk menjadi binatang serigala kecil agar tidak mencolok.
Biasanya, benda seperti core beast dijual di guild petualang yang ada di ibu kota, tetapi karena jauh, mereka pun menjualnya di toko yang biasa menerima benda-benda tersebut yang kemudian akan dijual pada guild pusat nantinya.
Asta mendapatkan banyak bayaran berkat Drew yang pandai bernegosiasi. Setelahnya, mereka pun berjalan-jalan di sekitar kota.
“Wah ... pasar di kota sangat ramai! Ada banyak orang dan hal-hal yang tidak aku ketahui. Luar biasa!”
Valence adalah kota Kerajaan Yernell bagian selatan. Kota yang berada paling dekat dengan perbatasan. Dan Desa Wayne tempat tinggal Asta merupakan bagian dari daerahnya.
Sejak sampai di kota, Asta tak bisa berhenti takjub. Ia takjub melihat bangunan-bangunan mewah, takjub melihat toko-toko berkelas dengan barang-barang mewah, takjub melihat pertunjukan sihir jalanan, dan sekarang takjub melihat pasar. Begitu pula dengan Ruhi yang berlari ke sana kemari. Ini pertama kalinya mereka mengunjungi kota.
“Belilah apa pun yang kau mau, aku yang akan membayarnya,” ujar Drew yang juga senang bisa membawa Asta ke kota.
“Sungguh?! Kakak Drew, kau sangat baik! Aku mencintaimu!” Asta memeluk Drew erat. Ruhi ikut menjilat kaki Drew.
“Astaga. Iya, iya, aku memang tampan dan baik hati. Anggap saja ini hadiah dariku sebelum aku pergi mengikuti ujian kesatria.”
“Ah, aku akan sangat kesepian,” ujar Asta sedih.
“Hei, hei, aku kan belum tentu akan lulus.”
“Tidak. Kau pasti akan lulus. Aku tahu kemampuan berpedang dan memanahmu sangat hebat. Benar, kan Ruhi?”
Ruhi mengangguk setuju. Mereka lalu kembali melihat-lihat apa saja yang ingin mereka beli. Ruhi berkomunikasi dengan Asta lewat pikiran agar tidak ada yang mencurigainya sebagai binatang iblis.
“Yah. Semoga saja aku bisa diterima. Sudah, apa yang mau kau beli? Sudah lama juga aku tidak membelikanmu sesuatu, kau selalu sibuk berlatih bersama Ruhi.”
Asta cengengesan. “Bagaimana lagi, aku juga mau menjadi kuat seperti Kakak Drew! Apa kau cemburu?”
Drew berdecak. Sebelum ia membalas perkataan Asta, seorang anak tiba-tiba berteriak.
“Mama! Orang itu sangat jelek dan menakutkan!” seru anak tersebut sambil bersembunyi di belakang ibunya. Mengintip sedikit melalui lengan ibunya pada Asta.
“Sst ... diam. Nanti dia mendengarmu.”
“Apakah dia monster? Apa dia akan memakanku?”
“Diamlah.” Si ibu langsung menggendong dan membawa anaknya menjauh.
“Lihat itu, ada apa dengan wajahnya? Mengerikan.”
Kini suara-suara dari para pengunjung pasar mulai terdengar jelas.
“Kenapa dia jalan-jalan dengan begitu percaya diri? Tidak tahu malu.”
“Ugh, menjijikkan.”
“Apa dia penyakitan?”
Sepanjang jalan, Drew sudah menahan diri mendengar semua cemoohan yang ditujukan pada Asta. Tapi, kini ia sudah tak tahan lagi. “Kalian—“
“Kakak Drew,” Asta menahan lengan Drew, lalu menggeleng. “Sudahlah. Aku tidak apa-apa. Aku sudah bertahun-tahun mendengar ejekan seperti itu. Tidak usah pedulikan mereka. Ayo, belikan aku dan Ruhi makanan.”
Asta menyeret Drew menuju stan yang menjual berbagai makanan tanpa beban. “Permisi Tuan, saya ingin membeli makanan ini.”
Si penjual yang melihat Asta langsung terkejut. “Huh? Apa ini? Pergi sana! Aku tidak menjual ini padamu. Jangan membuat pelangganku ketakutan. Sana, kau!”
“Hei, Paman! Kami di sini untuk membeli, bukan mencuri. Kenapa kau mengusir kami? Bukankah kami juga pelanggan?!” Drew yang sudah naik pitam akhirnya meluapkan emosi.
“Apa? Kau tidak lihat pelangganku ketakutan karena dia! Kalau punya wajah seburuk itu harusnya diam saja di rumah! Bukan berkeliaran dengan tak tahu malu! Pergi! Aku tidak akan menjual daganganku pada kalian!”
“Grrr ...!” Ruhi menggeram.
“Sudah, sudah. Ayo kita pergi! Masih banyak pedagang yang membutuhkan uang,” ujar Asta menghentikan Drew yang siap adu mulut lagi dan membawanya pergi.
Mereka pun kembali berjalan ke arah lain, Asta melirik Drew yang berwajah masam dan tak berkata apa-apa lagi setelah kejadian tadi. terlihat jelas kekesalan di wajahnya. Ada seseorang yang begitu marah karena memedulikannya, membuat hatinya menghangat. Ia pun tersenyum. “Terima kasih, Kakak Drew.”
“Diam. Aku sedang kesal,” ketus Drew tak mau melihat Asta.
Asta terkekeh. “Kakak Drew yang terbaik!”
Mereka lalu memutuskan kalau Drew yang akan membeli makanan atau barang yang Asta dan Ruhi inginkan. Saat itu, Asta mendengar beberapa orang yang sedang membicarakan orang Kekaisaran yang datang ke Kota Valence.
“Katanya mereka sedang mencari seseorang.”
“Sungguh? Bukankah hubungan kerajaan kita dan Kekaisaran tidak baik?”
“Itu dia, apalagi orang-orang Kekaisaran sangat sombong. Kemarin saja saat di ibu kota katanya mereka membuat ulah.”
“Uh, aku harap mereka cepat pergi. Memang siapa yang mereka cari sampai datang ke kerajaan kita?”
“Kau tidak tahu?”
“Apa?”
“Kekaisaran sudah bertahun-tahun mencari anak yang diramalkan,” bisik orang tersebut. Namun Asta masih bisa mendengarnya. Sejak menjalin kontrak dan latihan bersama Ruhi. Indranya menjadi lebih tajam.
“Asta!” Drew menepuk bahu Asta hingga ia terperanjat. “Apa yang sedang kau pikirkan? Ini, makanlah. Dan ini untukmu, Ruhi.” Drew memberikan makanan dari daging yang ditusuk bersama beberapa sayuran.
Asta berjongkok lalu menyuapi Ruhi. “Aku sedang mendengarkan pembicaraan orang lain,” ujar Asta.
Drew berdecak. “Tidak sopan.”
Asta cengengesan. “Aku tidak sengaja mendengarnya, tapi karena menarik, aku jadi tertarik mendengar lebih lanjut. Kau juga mendengarnya, Ruhi?”
“Ya!” Ruhi menjawab lewat pikiran.
“Memang apa yang mereka bicarakan?”
Asta pun menceritakan tentang orang Kekaisaran yang datang ke Kota Valence pada Drew. “Apa kau tahu soal itu?” tanyanya kemudian.
“Ya, itu sudah menjadi rahasia yang sangat umum. Kabarnya, Kekaisaran mencari pangeran yang dibawa kabur oleh bapak asuhnya yang seorang kesatria.”
“Apa? Kenapa bisa begitu? Memang apa yang diramalkan tentang anak itu?”
Drew menoleh ke kanan-kiri sebelum menjawab setengah berbisik, “Katanya, dia anak yang diramalkan akan menghancurkan Kekaisaran.”
“APA?!” Asta berteriak tanpa sadar. Lalu menutup mulut. “Sungguh ada hal seperti itu? Dan lagi, dia seorang pangeran? Apa mereka akan membunuhnya?”
Drew mengedikkan bahu. “Siapa yang tahu. Kemungkinan besar begitu. Sepertinya Kaisar Kekaisaran Lorne sangat takut akan lamaran itu.”
Asta tampak melamun. Teringat perkataan Madhiaz tentang takdir.
“Kenapa?” tanya Drew.
“Tidak. Aku hanya merasa kasihan pada pangeran itu. Nasibnya sungguh malang. Memang, itu kemauannya dilahirkan sebagai anak dalam ramalan? Padahal takdir bisa saja berubah.”
“Tapi orang-orang di sana tidak akan berpikir begitu. Karena bagaimanapun, keberadaannya mengancam kedamaian Kekaisaran. Bagi Kaisar, nyawa seorang anak yang tidak tahu apa-apa tidak lebih berharga daripada sebuah negara.”
Asta merasa bersedih untuk pangeran tersebut. Di sisi lain ia merasa bersyukur memiliki Madhiaz sebagai ayah yang sangat menyayanginya meski keadaannya tak sempurna. Berbicara tentang ayahnya, ia merasa heran karena Madhiaz yang di matanya selalu tahu segalanya tidak pernah menceritakan tentang hal ini padanya.
Apa Ayah tidak tahu tentang hal ini? Kalau begitu aku akan menceritakan tentang hal ini padanya nanti. Asta merasa bersemangat karena mengetahui sesuatu yang tidak diketahui Madhiaz.
“Yah, lagi pula itu bukan urusan kita. Ayo, kita harus segera kembali sebelum hari makin gelap,” ujar Drew memimpin perjalanan.
Mereka pun kembali ke desa. Tanpa Asta tahu ada hal besar yang telah menunggunya di sana.