Sepulang dari kota, Asta memberikan oleh-oleh pada Madhiaz. Hasil dari menjual core beast ia belikan kain baru untuk nanti dibuatkan pakaian untuknya, Madhiaz, dan Ruhi. Lalu sisa uangnya ia berikan semuanya pada Madhiaz.
“Kenapa banyak sekali?” tanya Madhiaz melihat berbagai jenis makanan yang dibawa Asta.
“Oh, itu dari Kakak Drew,” ujar Asta senang. “Bukankah dia sangat baik hati?”
Madhiaz tersenyum. “Ya, dia masih saja suka menghamburkan uang dan memanjakanmu.”
Asta tersenyum lebar mendengar itu. “Apa boleh buat, Kakak Drew sangat menyukaiku dan menganggapku seperti saudara kandungnya sendiri. Jadi, bukankah aku memang pantas mendapatkannya?” candanya.
Ia lantas bercerita dengan semangat mengenai pengalamannya di kota. Minus mengenai orang-orang yang menghina dan mengejeknya. Ruhi pun tampak antusias bercerita dengan sesekali menyela Asta.
“Kalian pasti sangat bersenang-senang,” ujar Madhiaz yang disambut anggukan semangat Asta dan Ruhi.
“Oh, ya! Ayah, apa Ayah tahu kalau Kekaisaran Lorne sedang mencari pangeran yang diramalkan?”
Madhiaz yang sedang merapikan makanan di meja, mendadak berhenti. Menoleh pada Asta dengan raut kaget. “Apa?”
Melihat reaksi ayahnya, Asta sangat senang. Mengira kalau Madhiaz benar-benar terkejut karena tidak tahu tentang hal tersebut.
“Dari mana kau mendengar itu?”
“Ho-ho ... ternyata benar Ayah tidak tahu! Bukankah aku hebat bisa mengetahui hal yang tidak Ayah ketahui?” ujar Asta bangga.
“Aku tanya, dari mana kau mendengar itu, Asta?”
Asta kaget melihat raut Madhiaz yang berubah serius. “Huh ...? Aku ... mendengarnya saat di kota. Ada orang-orang yang membicarakan kedatangan prajurit Kekaisaran Lorne yang datang ke kerajaan kita.”
“Maksudmu? Mereka sudah ada di Kota Valence?”
Asta mengangguk pelan. Lalu menceritakan hal apa saja yang ia dengar saat di Kota Valence. Reaksi Madhiaz sungguh di luar perkiraan. Ia sama sekali tidak menyangka Madhiaz akan sekaget itu. Tetapi, daripada terkejut, Madhiaz lebih terlihat kebingungan dan panik.
“Tidak mungkin ...,” Madhiaz bergumam pelan. “Seharusnya masih ada waktu sekitar sebulan lagi. Apa aku salah?”
“Ada apa, Ayah? Apa ada sesuatu yang salah?” tanya Asta khawatir sekaligus heran. Ruhi yang sedari tadi hanya memperhatikan pun ikut menatap Madhiaz penuh tanda tanya.
Madhiaz menatap Asta dan Ruhi. Kemudian memijit pelipis. Tampak berpikir keras. “Kita tidak punya waktu lagi. Ada yang berubah.”
Tingkah Madhiaz yang tidak biasa membuat Asta semakin bertanya-tanya. “Ayah? Ada apa ...?”
Madhiaz menghela napas, lantas menggenggam bahu Asta dan menatapnya dengan raut serius. “Asta, dengarkan Ayah. Pergilah bersama Ruhi malam ini dan jangan pernah kembali. Pergilah sejauh mungkin.”
Asta yang mendengar itu sangat terkejut. Begitu pula dengan Ruhi. Keningnya berkerut dalam. “Apa maksud Ayah?”
Bukannya menjawab, Madhiaz malah pergi ke kamarnya lalu kembali dengan membawa sesuatu di tangannya.
“Kemarilah. Ayah akan menunjukkan sesuatu padamu.”
Meski bertanya-tanya, Asta menurut. Ia duduk di hadapan Madhiaz bersama Ruhi. Entah kenapa, ia memiliki firasat buruk tentang ini. “Apa yang mau Ayah tunjukkan? Dan benda apa itu?”
“Tentang asal-usulmu. Identitasmu yang sebenarnya, dan alasan kenapa kau memiliki wajah seperti itu.” Jawaban Madhiaz membuat Asta semakin terkejut.
“Asal-usul? Identitasku yang sebenarnya? Apa maksud Ayah?” tanya Asta yang kini jantungnya berdebar-debar cemas. “Dan kenapa aku harus pergi dari sini?”
Namun, Madhiaz tidak segera menjawab kebingungan Asta. Ia menaruh alat yang dipegangnya di tengah-tengah. Alat itu berwarna emas, berbentuk seperti mangkuk dengan batu kristal berwarna ungu di sisi-sisinya.
“Ini adalah alat sihir kuno, alat ini bisa merekam dan menyimpan kejadian menggunakan sihir,” ucap Madiaz kembali memandang Asta. “Kau akan mengetahui semua jawabannya di sini.”
Alat sihir? Terlebih lagi, alat sihir kuno? Seharusnya itu adalah benda yang hanya bisa dimiliki oleh menara sihir atau istana kerajaan. Bagaimana bisa Ayah yang hanya rakyat biasa memiliki alat sihir kuno seperti itu?
Asta bertanya-tanya dalam hati. Madhiaz lalu mengaktifkan alat tersebut, hingga keluar sebuah rekaman di mana terdapat seorang wanita yang cantik jelita berambut hitam legam sedang menari di sebuah perjamuan di istana.
“Dia adalah ibumu,” ujar Madhiaz, sontak membuat Asta terpana. Ruhi pun memperhatikan rekaman itu dengan saksama tanpa bicara. Sesekali melihat reaksi Asta.
Namun bagi Asta, orang dalam rekaman itu hanyalah orang asing. Ia tidak memiliki ingatan ataupun kenangan apa pun tentang ibunya. Ia menatapnya penuh kerinduan dan rasa keingintahuan. Orang seperti apakah ibunya?
Dalam rekaman itu, Sachi—ibu Asta—menari dengan indah dan anggun, serta tampak bahagia. Kecantikannya menghipnotis semua pria dan wanita. Tak terkecuali Putra Mahkota yang saat itu memimpin perjamuan.
“Kemenangan untuk Yang Mulia Putra Mahkota Tayron!” Orang-orang yang tampak bangsawan berteriak, mengangkat minuman dan tertawa-tawa.
Tampaknya mereka tengah merayakan kemenangan putra mahkota yang kembali dari medan perang. Namun, fokus putra mahkota saat itu hanya tertuju pada perempuan gipsi yang menari di tengah-tengah perjamuan.
Di samping putra mahkota, ada wajah yang sangat Asta kenal. Itu adalah wajah ayahnya ketika masih cukup muda. Asta segera melihat ke arah Madhiaz. Ingin bertanya mengapa ayah dan ibunya ada di Kekaisaran Lorne. Dan ....
“Ayah seorang kesatria ...?”
Apa ini? Ayah dan ibunya bukan dari Kerajaan Yernell tapi berasal dari Kekaisaran Lorne? Asta tiba-tiba teringat pedang yang ia lihat sebelumnya.
“Apa pedang yang aku lihat waktu itu juga milik Ayah?”
“Benar,” jawab Madhiaz.
Asta sungguh dibingungkan dengan situasi. Bagaimana bisa tiba-tiba jadi seperti ini?
“Asta, lihat dan perhatikan apa yang akan terjadi selanjutnya,” ujar Madhiaz lagi.
Dan Asta pun mencurahkan seluruh fokusnya pada rekaman tersebut.
Di sana, ibunya bertemu secara pribadi dengan Putra Mahkota Tayron dan Madhiaz setelah perjamuan berakhir atas undangan putra mahkota. Putra mahkota dengan jelas menunjukkan ketertarikannya pada Sachi. Lalu setelahnya, mereka pun berkali-kali bertemu secara rahasia.
Kasih sayang dan perhatian yang diberikan Putra Mahkota Tayron akhirnya meluluhkan hati Sachi. Mereka pun saling jatuh cinta dan menjalin hubungan secara diam-diam. Dan orang yang menjaga rahasia mereka adalah Madhiaz. Orang kepercayaan sekaligus tangan kanan Putra Mahkota saat itu. Ia pun menjadi dekat dengan Sachi karena selalu ada di saat pertemuan rahasia mereka. Mereka menjalin hubungan seperti tiga sahabat yang tidak akan terpisahkan.
Adegan berganti pada saat Putra Mahkota diangkat menjadi Kaisar. Tak lama setelahnya, Tayron yang telah menjadi kaisar mengumumkan hubungannya dengan Sachi pada publik. Setelah melalui berbagai pertentangan, mereka pun melangsungkan pernikahan dan ia mengangkat Sachi menjadi permaisuri.
Sebenarnya, Tayron ingin mengangkat Sachi menjadi ratu, tetapi banyak pertentangan dari kalangan bangsawan dan petinggi istana, karena Sachi berasal dari rakyat biasa yang tidak jelas asal-usulnya. Akhirnya, ia harus puas dengan menjadikan Sachi permaisuri. Selama itu pula, posisi ratu masih kosong. Dan banyak bangsawan yang mengajukan pengangkatan selir. Tetapi, Kaisar Tayron tidak memedulikannya. Walaupun posisi Ratu diisi orang lain, dan ia harus memiliki selir pun, orang yang dicintainya hanyalah Sachi.
“Mervon, aku mencabut sumpahmu padaku dan mengabdilah pada Permaisuri. Bersumpah setialah padanya seperti yang kau lakukan padaku selama ini.”
Mervon adalah nama Madhiaz ketika menjadi kesatria. Wajah pria dua puluhan itu terdistorsi untuk sesaat. Namun, seperti biasa, tak banyak garis emosi yang muncul di wajah tegasnya.
Di sana, Madhiaz berlutut di hadapan Tayron dan mematuhi perintahnya tanpa ragu. Semua itu dilakukan Tayron tidak lain untuk melindungi Sachi. Sebab banyak pihak yang ingin mencelakai kekasih hatinya itu.
Asta yang melihat Madhiaz di sana merasa asing, di sana Madhiaz tidak banyak berekspresi dan terlihat keras. Sangat kontras dengan Madhiaz yang ia kenal; penuh kasih sayang dan lemah lembut.
Lalu, ia pun bertanya-tanya, kenapa yang menikah dengan ibunya adalah Kaisar dan bukan Madhiaz, ayahnya? Melihat adegan demi adegan membuat jantungnya berdebar-debar. Perasaan cemas, takut, dan keingintahuan akan kebenaran. Semuanya bercampur, menjadi satu.
Adegan kembali berganti ke saat di mana Sachi mengandung, Kaisar sangat bahagia, begitu pula dengan Sachi. Istana Permaisuri pun diliputi kebahagiaan. Lalu, lahirlah seorang pangeran kecil berambut hitam seperti ibunya dan bermata emas seperti ayahnya. Dia adalah pangeran pertama sekaligus penerus takhta Kekaisaran. Pangeran Levasta Kaeil Iverson Lorne.
Kebahagiaan menyelimuti istana. Pangeran kecil hidup dengan limpahan kasih sayang. Ia pun tumbuh menjadi pangeran yang cerdas dan berbakat. Tetapi, kebahagiaan itu tidak bertahan lama. Di usia Pangeran Levasta yang ke-5, kuil suci tiba-tiba menyampaikan sebuah ramalan yang diperlihatkan pada Pendeta Agung. Bahwa Pangeran Levasta adalah anak yang diramalkan akan menghancurkan Kekaisaran dan membunuh seluruh anggota keluarga Kaisar.
Kaisar Tayron mencoba untuk tidak percaya, namun para pendeta memberikan bukti-bukti bahwa ramalannya mengenai pangeran pertama adalah benar. Mereka juga mengungkap bahwa Pangeran Levasta memiliki darah keturunan iblis. Kaisar sangat marah atas tuduhan itu. Namun, semua anggota bangsawan mendesak Kaisar untuk menyelidiki hal tersebut. Karena kehadiran bangsa iblis di tengah-tengah istana akan sangat membahayakan.
Kaisar tidak bisa lagi menolak dan akhirnya mengindahkan keinginan para bangsawan. Permaisuri Sachi pun dicurigai sebagai bangsa iblis yang menyamar menjadi manusia. Sehingga permaisuri dan pangeran pertama dikurung di istana terpisah untuk diselidiki kebenarannya.
Setelah berbagai proses dan terbukti bahwa Permaisuri memiliki sihir hitam dan merupakan bangsa iblis, Kaisar sangat marah dan kecewa.
“Yang Mulia, saya mengakui kejahatan saya, saya memang berasal dari bangsa iblis. Karena itu, saya akan menerima hukuman apa pun, tetapi saya mohon, biarkan anak kita tetap hidup.” Sachi bersujud di hadapan Kaisar Tayron penuh permohonan.
Sementara Kaisar Tayron memandangnya dengan sorot yang menyiratkan amarah serta kekecewaan. “Kenapa kau melakukan ini padaku ...?”
Sachi terisak di sana. “Mohon maafkan saya, Yang Mulia. Tetapi, saya sungguh mencintai Anda. Saya tidak pernah menggunakan sihir hitam pada Anda, Yang Mulia.”
Tetapi, Pangeran Levasta yang baru berusia lima tahun itu sudah pandai dan mengetahui keadaan bahwa hidup mereka berada di ujung kehancuran. Di lain waktu, ia pun memohon pada Kaisar tanpa sepengetahuan ibunya.
“Ayahanda, saya adalah anak yang diramalkan, karena itu bunuhlah saya dan saya mohon biarkan Ibunda tetap hidup.” Itulah yang dikatakan anak berusia lima tahun pada ayahnya.
Kaisar Tayron sangat tertekan. Ia menyayangi anak dan istrinya, tapi keduanya memintanya untuk membiarkan salah satunya mati. Sementara para petinggi istana memohon untuk membunuh Permaisuri dan Pangeran pertama.
Rekaman itu pun berhenti sampai di sana. Artinya, kaisar sudah tidak lagi merekam kejadian dengan menggunakan alat sihir tersebut. Asta masih terdiam. Mencoba mencerna informasi dan fakta yang baru ia ketahui. Untuk beberapa waktu, keheningan menyelimuti ruangan yang sempit dan sederhana itu.
“Asta,” panggil Madhiaz.
Asta masih menunduk dengan tangan agak gemetar. “Apakah aku ... adalah Pangeran Levasta yang diramalkan itu?”
Jeda sejenak. “Benar,” jawab Madhiaz.
Asta mengepalkan tangan di atas lututnya. “Jadi, itu alasan Ayah menyuruh aku dan Ruhi pergi? Karena mereka telah sampai di sini untuk menangkapku?”
“Benar,” sekali lagi Madhiaz menjawab. Lalu, ia melanjutkan, “Saat itu, ibumu merasa sudah tidak ada jalan lain, jadi ia pun memutuskan untuk melarikan diri dari istana bersamamu, dan aku memutuskan untuk membantu ibumu,” ujar Madhiaz menjelaskan kejadian yang tidak terekam oleh alat sihir. “Saat itulah, Kaisar memberikan alat sihir kuno ini padaku. Alat yang selalu dibawanya dan merekam kejadian yang diinginkannya.
“Kaisar memerintahkanku untuk melindungi Permaisuri dan aku telah melakukan sumpah kesatria pada Permaisuri untuk melindunginya dengan mempertaruhkan nyawaku. Karena aku adalah seorang kesatria. Maka aku harus memenuhi sumpahku.”
Madhiaz berhenti berbicara, keraguan sesaat menghampirinya.
Tapi kemudian, Asta bertanya, “Ayah berhasil membawaku. Lalu, apa yang terjadi pada ibu?”
Madhiaz terdiam. Dan diamnya membuat Asta menyimpulkan bahwa ibunya ... tidak selamat.