Kinarsih hanya diam dan menatap tanpa kedip pada Susan yang tertawa terbahak-bahak. Gadis itu sampai-sampai memegang perutnya karena amat merasa lucu. "Apa kamu belum selesai tertawa?" tanya Kinarsih dengan wajah datar. "Aduh, aduh! Kamu ini, menghayalmu terlalu jauh. Kamu kan paling bodoh pas kita sekolah. Aku masih ingat, dulu kamu dicapit hidungmu sama pak guru Amir karena bodohmu gak ngerti-ngerti cara nulis huruf kapital itu dimana saja. Sekarang mau jadi penulis kamu?" "Lain dulu, lain sekarang. Tertawalah terus. Sekarang gantianmu yang menertawai aku. Suatu hari, aku yang akan tertawa pada nasibmu yang buruk. Assalamu'alaikum." Susan menggeleng-geleng masih merasa lucu. Ia menatap penuh cebikan saat Kinarsih keluar menyeret putranya. "Dasar wanita miskin tak punya harga," de

