Kedua teman dekat itu segera menuju kantin yang berjarak 100 Meter dari kelas mereka. Memang, sekolah ini cukup besar dengan belasan bangunannya. Jarak antar bangunan antara lima meter hingga 100 meter.
Kantin yang terletak di belakang bangunan khusus guru itu di penuhi oleh para siswa. Beruntung, kantin di bangun dengan sangat besar hingga di sediakan kursi dan meja yang berjejeran, jumlahnya bisa puluhan meja.
"Kita ke sana, yuk," ajak Delia sembari mengarahkan telunjuknya ke arah meja yang di penuhi oleh siswi dari kelas mereka.
"Oke," jawab Cassie nurut.
Delia segera menarik tangan Cassie dan mendekat ke arah Vina dan kawan-kawan. "Guys, kira boleh gabung gak nih?" tanya Delia.
"Gabung aja sih, pakai izin segala. Sini bareng sama kita," ajak Vina mempersilakan kedua teman dekat itu untuk duduk bersama dengan mereka. Delia segera memesan makanan bersama dengan Cassie.
"Makasih. Kalian lagi bicarain apa? Kok kayanya lagi seru banget?" tanya Delia.
"Ini loh tentang kelas paling ujung," jawab Vina.
"Kelas apa?" sahut Cassie yang penasaran karena topik pembicaraan.
"Kamu pernah dengar, gak? Gosip tentang kelas paling ujung yang Deket sama WC gak kepakai itu? Yang ada pohon asam besar di belakangnya," ujar Vina sembari menunjuk ke arah kelas paling ujung yang hampir tak terlihat oleh mata dari kantin.
"Kalian ini, kaya gak tau aja kalau dia gak suka gosip," timpal Delia.
"Hem, iya juga sih," ucap Vina manggut-manggut.
"Emang ada apa di sana?" tanya Cassie lagi.
"Dari kabar yang aku dengar dari kakak kelas yang kelasnya ada di krlsd itu. Kata mereka, kelas itu angker dan dengar-dengar dari kakak kelas yang lain, katanya di sekolah kita ini ada yang meninggal di sini. Makanya mereka yang meninggal di sekolah ini berkumpul di kelas itu dan menjadi markas mereka sampai saat ini, terus karena banyak kejadian yang terjadi sekarang kelas itu di tutup." Vina menjelaskan.
“Ah masa sih aku kok gak pernah dengar?” tanya Delia menyelidik.
"Iya, aku juga baru denger," sahut Cassie yang sedari tadi tertarik mendengar cerita itu.
"Kamu sih kalau ada orang ngegosip kamu malah ngeloyor ntah kemana,” ucap Vina.
“Hehe, terus siswa yang meninggal itu apa sebabnya?” tanya Cassie penasaran.
"Dari ceritanya sih. Katanya ada siswa yang meninggal ketika lagi di toilet laki-laki penyebabnya masih misteri. Terus ada siswa yang tertabrak bus yang mengalami rem blong di gerbang sekolah, dia meninggal di tempat. Katanya tubuhnya itu hancur gara-gara kelindas ban bus itu. Hi! Katanya ya ada yang sering lihat darah ngalir dari gerbang sekolah, padahal gak ada apa-apa. Terus ada lagi, katanya nih ya ada siswi yang tiba-tiba saja meninggal saat keluar dari kantin lama yang sekarang udah di bongkar, aku juga gak tahu penyebabnya yang ini. Nah, gosip di kantin lama yang Deket sama kelas itu juga gak kalah seremnya, ada banyak siswa yang sering lihat penampakan di kantin itu. Kayanya sering ada wewangian melati, kadang bau bangkai. Ada juga yang bilang siswa lihat murid lain yang sedang makan di kantin itu, baju seragamnya aneh seperti keluaran angkatan ke enam, padahal sekarang sudah angkatan ke sebelas," ujar Vina lagi.
"Iiih! Serreeem! Ih kok sekolah kita banyak hal mistis sih? Aku kan jadi merinding. Apa setiap upacara ada siswa yang kesurupan itu ulah para hantu itu ya?” tanya Delia bingung.
Sementara itu, Cassie hanya diam. Jika memang benar apa yang di katakan oleh Vina, kenapa selama ini ia tak merasakan adanya mahluk gaib di lingkungan sekolah? Apa itu hanya rumor saja? Akan tetapi, tak akan ada asap jika tidak ada api. Rumor pasti berkembang dari sebuah kejadian nyata. Gadis itu berpikir keras, ia berpikir bahwa auranya memudar karena tak pernah melakukan ritual di danau suro lagi.
"Kayanya sih gitu, Del. Kan serem, aku jadi takut ke toilet sendiri," ujar Vina.
"Ih, aku juga," sahut Felia sembari memeluk lengan Cassie yang tengah memikirkan dirinya sendiri.
Mereka pun asik berbicara tentang rumor yang ada di sekolah ini. Sembari menyantap makanan yang mereka pesan tengahnya. Dua puluh menit pun berlalu.
Ting! Ting!
Bel masuk pun berbunyi. Tanda bahwa jam pelajaran segera akan di mulai kembali.
"Ayo masuk kelas! Hari ini kita bakal ke lab lagi!" seru Vina.
Delia dan cassie pun buru-buru menghabiskan makanannya. "Ayo, Cass!" seru Delia.
"Iya," jawab Cassie sembari menaruh mangkuknya di tengah meja.
Gadis itu pun melangkah keluar dari kantin mengikuti langkah Delia. Akan tetapi, tiba-tiba saja dari arah belakang tubuhnya di dorong hingga jatuh tersungkur.
Brugh!
Aw! Cassie merintih kesakitan saat telapak tangannya terkena sudut meja. Ia menoleh ke arah belakang dan melihat siapa yang tega berbuat jahat padanya.
"Ka-kamu?" tanya Cassie melihat jia di belakangnya.
Gadis itu menatap ke arah Cassie tanpa rasa bersalah, sudut bibirnya tersungging. Sepertinya ia senang membuat Cassie kesakitan. "Makanya kalau jalan lihat-lihat! Minggir!" teriak Jia keras.
Sontak saja hal itu pun menjadi perhatian di kantin itu. Sementara itu, Delia yang melihat Cassie tersungkur segera mendatangi temannya itu dan berusaha untuk membuatnya bangkit.
"Cassie, kamu kenapa? Ayo bangun," pinta Delia sembari membantu Cassie.
"Aku gak apa-apa kok," jawab Cassie lirih.
"Kalian ini budeg ya! Minggir sana!" bentak Jia sembari kembali mendorong Cassie.
"Heh! Nenek lampir! Kurang ajar banget sih! Gak punya sopan santun!" teriak Delia kesal melihat tingkah Jia yang semena-mena. Cassie segera menggenggam tangan Delia agar ia tak marah.
Jia berbalik badan. "Apa kamu bilang? Nenek lampir? Kamu yang Nenek lampir!" teriaknya tak mau kalah.
"Gak sadar diri! Sudahlah, ayo pergi, Cassie!" Delia menarik tangan Cassie untuk menjauh. Ia melirikan matanya ke arah Jia. "Sekali lagi kamu macam-macam sama Cassie, kamu akan terima akibatnya!" ancam Delia marah.
Mereka pun kembali ke dalam kelas dengan hari membara. Sementara itu, sedari tadi Cassie berusaha untuk menenangkan Delia yang terus saja emosi. Di lain sisi, Cassie merasa sangat beruntung memiliki teman seperti Delia yang membantunya saat dalam kesusahan. Ia tak berani melawan Jia karena ia saat ini menumpang hidup pada keluarga Jia.
Tak berapa lama, kelas sebelas multimedia mendapatkan panggilan dari laboratorium untuk mengerjakan sistem html pada web desain.
Akan tetapi, selama pelajaran berlangsung, Cassie masih merasa penasaran dengan cerita yang di ceritakan Vina tadi. Ia juga penasaran dengan dirinya sendiri yang semakin lama semakin lemah dalam hal gaib.