Sudah bertahun-tahun lamanya, Cassie tak melihat keberadaan kedua orang tuanya pada malam satu suro di setiap tahunnya karena pelindung gaib yang terpasang di tubuh Cassie memudar dan membuat Cassie kehilangan kendali atas keistimewaannya hingga kini ia tak tahu apa saja yang tersembunyi di dalam tubuhnya.
Ia melangkah kan kaki menuju ke arah kelas sebelas multimedia, yang berada di tengah bangunan sekolah karena sekolah ini terdiri dari berbagai macam bangunan kelas, bangunan tehnik kendaraan, bangunan peternakan, atau pun laboratorium mm dan biologi.
Gadis itu memasuki kelas yang masih terlihat sangat sepi. "Ah, sepi banget? Mana murid lain? Apa masih molor?" Gumam Cassie sembari duduk di kursinya.
"Mumpung sepi, aku kerjaan tugasnya dulu," ucap gadis itu dan mengeluarkan buku-buku coding dan data web. Ia mulai mengerjakan tugas yang tak sempat ia kerjakan semalam karena ada tamu di rumah Zein hingga ia harus siap sedia karena harus menyuguhkan berbagai macam minuman untuk para klien Zein.
Hening. Hanya terdengar denting jam di kelas itu. Cassie begitu fokus mengerjakan tugasnya hingga tak menyadari kedatangan salah satu siswa di kelas itu.
"Hei, kamu lagi apa?" tanya pemuda yang usianya sama seperti Cassie.
Sontak saja Cassie terkejut mendengar pertanyaan itu ketika ia tengah berkonsentrasi. Manik mata Cassie melihat ke arah sumber suara. Tanpa sengaja, tatapan mereka beradu hingga Cassie segera mengalihkan pandangan agar tak salah tingkah.
"Aku lagi ngerjain tugas semalam," jawab Cassie sembari tetap mengerjakan tugasnya dan berusaha fokus kembali.
"Oh." Hanya itu yang terdengar dari pemuda yang bernama Rio. Pemuda itu terkenal dengan sifat dinginnya, ia bahkan tak pernah berbicara basa basi dengan lawan jenisnya.
Rio ia duduk di bangku dan fokus dengan ponsel di tangannya tanpa info mengganggu Cassie yang tengah mengerjakan tugas dengan fokus.
Kelas itu kembali hening, tak ada suara apa pun hingga membuat Cassie begitu fokus mengerjakan semua soal di kertas bukunya. Udara pagi ini benar-benar membantu daya pikirnya bekerja dengan cepat. Dalam sekejap soal-soal buang berjumlah sepuluh soal sudah hampir terselesaikan.
Tak berapa lama, salah satu teman dekat Cassie selama sekolah di SMA BANGSA, Delia namanya, gadis cantik dengan perawakan pendek dan juga rabbit sehari, terlihat manis tertarik hyper aktif, ia selalu mempunyai cerita saat berkumpul bersama dengan teman-temannya.
"Cessie ... selalu deh datang nya pagi-pagi buta. Coba deh datang siang biar kena omel dikit sama guru, liat tuh ruang guru BK gak pernah di kunjungi Ama elu," ucap Delia yang sama sekali tak layak untuk di tiru oleh keturunan baik-baik. Hanya di tiru oleh keturunan dakjal saja, haha.
"Dih, apaan sih? Lagian siapa juga yang mau masuk BK, kamu aja sana," ucap Cassie.
"Dih, ogah! Kiat wajah Pak Yanto, bisa-bisa gue kena sawan, ngeri banget," ujar Delia sembari bergidik ngeri.
"Hahahaha!" Cassie hanya tertawa mendengar jawaban dari teman dekatnya itu.
Ia kembali menulis jawab dari soal terakhir yang ada di tugasnya.
"Lagi apa sih?" tanya Delia penasaran.
"Lagi ngerjain tugas. Kamu tahu kan, guru web itu killer banget, kalau gak ngerjain bisa-bisa berdiri di tiang bendera sampai gosong," tutur Cassie.
"Iiih! Serem! Aku gak mau di hukum. Aku belum ngerjain, mana liat dong punyamu," pinta Delia dengan puppy eyes andalannya.
"Gak boleh nyontek. Ini, kamu pakai saja buku ini. Buku ini buku pembelajaran ku, semua inti pelajaran ada di sini. Kamu cari jawaban dari tugas kamu, pasti ada. Poin penting udah aku kasih stabilo," ucap Cassie sembari menyerahkan buku pembelajaran nya kepada Delia.
Manik mata Delia berkaca-kaca. "Wah, makasih," ucap Delia sembari menerima buku itu dan melihat isi yang ada di dalam buku.
"Aku ngerjain langsung ah," ucap Delia lagi sembari mengeluarkan buku tugasnya.
Sementara itu, Cassie yang sudah selesai dengan tugas pun membuka buku tentang web desain, ia sangat menyukai pelajaran itu. Para siswa segera masuk ke dalam kelas karena waktu telah menunjukkan pukul tujuh pagi, lima belas menit lagi pelajaran akan segera di mulai.
Tepat pada lima belas menit setelahnya, guru pun masuk. Rupanya, ada banyak siswa yang tak mengerjakan tugas itu karena waktu yang di berikan oleh guru hanya sehari, yaitu kemarin. Tak ada kata pengampunan. Semua mendapatkan hukuman berupa lari keliling lapangan sebanyak tiga kali, sedangkan Cassie dan beberapa siswa lain yang mengerjakan tugas hanya melihat dari teras kelas sembari sesekali menertawakan para siswa yang berlari di lapangan.
Manik mata Cassie hanya menatap sendu, ia tak begitu suka dengan hukuman seperti ini. "Pasti mereka malu," batin gadis itu. Ia merasa kasihan. Akan tetapi ia tak bisa menolak perintah dari sang guru killer.
Sepuluh menit pun berlalu, mereka di persilahkan kembali ke dalam kelas dan mengikuti pelajaran dari guru itu.
***
Ting Ting Ting!
Bel istirahat berbunyi, sebuah suara paling merdu yang paling di tunggu oleh para siswa. Tanpa menunggu lama, mereka segera berteriak ricuh karena terbebas dari pelajaran guru killer itu.
"Baiklah, anak-anak. Kalau begitu, nikmati waktu istirahat kalian. Hari ini kalian beruntung karena tak mendapatkan pr, tapi Minggu depan, kalian akan mengerjakan soal sebanyak dua halaman," ujar sang guru.
Sontak saja tawa bahagia para siswa lenyap saat mendengar ucapan dari guru itu. Bagaimana tidak, pelajaran yang ia bawa Memang sangatlah susah, terlebih ia sering memberikan tugas dan soal, walau pun tujuannya bagus, tetapi tak banyak siswa yang menyukai sikap tegas dan disiplin gitu itu.
Tak berapa lama, sang guru pun meninggalkan kelas. Para siswa segera berhamburan keluar dari kelas dan segera menuju kantin untuk mengisi energi yang telah habis karena mengikuti pelajaran Menyebalkan itu.
"Cassie!" teriak Delia memekikkan telinga gadis itu. Ia segera mendekat dan memeluk Cassie.
“Duh, Delia. Gak usah pakai teriak-teriak segala. Aku denger kok, belum budeg!" Cassie mendorong tubuh Delia agar melepaskan tubuhnya.
"Hehe. Makasih, ya. Coba kalau kamu gak pinjemin buku pembelajaran kamu, pasti bakalan di hukum akunya." Delia tersenyum senang.
"Oke, oke. No problem," ucap Cassie ikut senang karena bisa membuat Felia lepas dari hukuman.
Kryuuk!
Perut Cassie berbunyi nyaring, tanda bahwa cacing-cacing di perut sudah meronta-ronta meminta jatah untuk mereka. Wajar, karena dari semalam, Cassie terus menyuguhkan makanan tanpa sedikitpun boleh menyentuh makanan itu sendiri, hingga pagi ini ia merasa sangat lapar. "Duh, laper nih. Ke kantin, yuk," ajak Cassie pada Delia.
"Ayo! Aku juga nih," ucap Delia.