Jenjang SMK

1018 Words
"Dunia kita berbeda, Nak. Walaupun kamu anak istimewa, tetapi alam memiliki aturannya sendiri. Tubuh kamu akan mengeluarkan aura yang sangat besar di malam satu suro sehingga kamu dapat dengan mudah melihat kami," jawab Ardian. "Walaupun kamu tidak melihat Mama dan Papa, percayalah kami akan ada untuk terus menjagamu, Nak." Alia dengan lembut mencium kening putri kecilnya. "Jangan menangis, Sayang. Meski kita tak bersama lagi seperti dulu, Tuhan pasti punya rencana yang lebih baik untuk kita," ujar Ardian berusaha untuk menenangkan Cassie yang masih menangis. Malam semakin larut, Cassie terbaring bersama dengan kedua orang tuanya di atas ranjang. "Tidurlah ... anakku sayang, mimpilah yang indah ... temukan hari yang menyenangkan ...." Suara lembut Alia menyanyikan lagu pengantar tidurnya untuk Cassie. Perlahan, Cassie mulai terlelap dalam mimpi indahnya bersama dengan kedua orang tua yang sangat dia rindukan. **** Tahun demi tahun Cassie lewati dengan penuh ketegaran, ia selalu berusaha untuk menerima perlakuan Jia yang semakin semena-mena pada dirinya. Sementara itu, Ira dan Zein tak begitu memperhatikan tingkah anaknya jika bersama dengan Cassie. Pernah satu kali, Jia memarahi Cassie hingga menampar pipi Cassie karena salah satu pakaian luntur akibat masuk ke mesin cuci bersama dengan baju berwarna lainnya. Cassie hanya bisa merintih kesakitan, sedangkan kedua orang tua anak itu hanya terdiam melihat tingkah jia, menurut mereka memang sudah sepantasnya Cassie di perlakuan seperti itu karena kesalahannya. Namun, sekali pun Cassie tak pernah meneteskan air mata di depan keluarga itu, ia berusaha menunjukan bahwa dirinya tegar dan kuat diperlakukan seperti itu, ia tak ingin terlihat lemah dan membuat mereka tertawa bahagia saat melihat air mata Cassie. Cassie semakin dewasa, ia bisa berpikir layak nya seorang wanita dewasa, ia lebih memilih untuk mengalah dari pada harus bertengkar dengan sepupunya. Kini, usia Cassie tepat enam belas tahun, selama enam tahun, Cassie tak pernah sekali pun kembali ke desa selaras, ia tak pernah lagi melakukan ritual dengan Mbah Aryo di danau suro. Semakin lama, tubuhnya semakin lemah, aura pelindung yang terpasang di sekitar tubuh Cassie pun memudar karena tak pernah lagi di beri persembahan. Terkadang, beberapa arwah jahat berusaha untuk mencelakakan dirinya. Akan tetapi, kalung hijau yang di berikan oleh Mbah Aryo kah yang bisa menghalangi serangan para mahluk halus itu. Kini, kalung itu adalah satu-satunya pelindung gadis itu. Tepat pada tanggal 05 Juni 2020, Cassie di masukkan ke dalam sebuah SMKN BANGSA, sekolah kejuruan yang siap mengajari para murid untuk menjadi lebih kompeten. Cassie di masukkan bersama dengan Jia. Akan tetapi, mereka berbeda kelas karena memilih jurusan yang berbeda-beda. Jia memilih jurusan pariwisata, sedangkan Cassie memilih multimedia. Hari ini, adalah hari pertama mereka masuk ke sekolah. Seperti biasa, mereka akan sarapan bersama. Akan tetapi, saat hendak berangkat ke sekolah, Jia berkata, "Cessie, gue gak mau ya kalau orang sampai tahu kalau elu numpang hidup di rumah gue," ucap Jia dengan kasar. Cassie seketika terdiam. Hatinya terasa kebal mendengar ucapan dari Jia. "Loh, kenapa begitu, Jia?" tanya Zein sembari membawa kunci mobil dan hendak mengantar kedua gadis itu. "Aku gak mau, Pa. Aku gak suka sama dia, nanti apa kata teman-teman kalau aku punya sepupu yang aneh, mana sering bilang kalau ada hantu, kan hantu itu gak ada. Cuma akal-akalan dia saja," jawab jia menyilangkan tangan di depan dadanya. Lagi dan lagi, Cassie terdiam. Ia tak pernah membalas semua perkataan Jia karena ia sadar siapa dirinya di rumah ini. "Pokoknya aku gak mau pergi sekolah bareng dia, Pa," rajuk Jia pada sang ayah. "Iya iya. Cassie, kamu bisa kan pergi sekolah sendiri? Ini uang buat bayar angkot, sisanya uang jajan kamu," ucap Zein sembari menyerahkan dua lembar uang sepuluh ribuan. Cassie menerimanya dengan senang. "Terima kasih, Om," ucap Cassie sembari tersenyum. Uang sakunya bertambah sepuluh ribu semenjak masuk ke sekolah menengah atas. Dari sekolah dasar, Cassie gaya di beri lima ribu, itu pun tak semua ia belanjakan. Sisa dari uang itu ia tabung dalam sebuah celengan, sedangkan waktu sekolah menengah pertama, Cassie di beri uang saku sebesar sepuluh ribu, begitu juga dengan masa SMP, ia menabung semua sisa uang jajannya. Hanya dengan begitu, ia bisa senang dan cukup puas. "Pa, yang jajan aku mana?" rengek Jia sembari menengadahkan tangannya pada sang ayah. "Ini buat kamu," ucap Zein sembari menyerahkan uang selembar berwarna biru dengan nilai lima puluh ribu rupiah. "Jangan jajan gorengan, gak sehat," ucapnya lagi. "Aaa, makasih, Papa." Jia memeluk Zein dengan erat. Sementara itu, Cassie hanya bisa tersenyum melihat pemandangan yang sangat ia rindukan dari kedua orang tuanya. "Om, saya pergi dulu," pamit Cassie sembari mencium tangan Zein dengan takzim. *** Selama menjalani kehidupan di sekolah. Cassie mendapatkan cukup banyak teman karena pribadinya yang cukup menyenangkan dan juga tak pelit ilmu untuk membantu teman-teman yang kesusahan karena pelajaran di lab multimedia. Cassie di kenal sebagai anak yang ramah dan pintar, ia mendapatkan peringkat pertama saat semester awal dan mempertahankannya hingga semester dua. Rasa bangga seketika membuatnya tetap bersyukur pada yang Maha Kuasa. Tahun ajaran pun berganti. Cassie melewati harinya dengan penuh senyuman. Pagi ini, udara pagi begitu menyegarkan. Semilir angin melengkapi indahnya pagi hari ini. Cassie sudah berada di depan gerbang, ia berangkat lebih awal karena ada tugas yang harus ia kerjakan di laboratorium. Manik mata Cassie melirik ke arah jam tangan lusuh yang ia kenakan di tangan kirinya. Waktu menunjukkan pukul enam lima belas pagi. Sekolah masih terasa sangat sepi karena hanya ada beberapa siswa dan penjaga sekolah yang berada di dalam lingkungan sekolah. Gadis itu memasuki sekolah yang di penuhi dengan pohon rindang, sekolah yang berada di bawah kaki gunung jaran pusang ini terlihat asri dengan deretan sawah membentang di sekitar sekolah yang membuat para siswa semakin berkonsentrasi karena tak ada gangguan dari bisingnya perkotaan. Semilir angin menerpa dedaunan pohon hingga membuat beberapa lembar daun pohon akasia itu pun berjatuhan. Senyum terbit di wajah gadis itu, ia menatap sendu ke arah atas melihat dedaunan yang beterbangan. Tanpa ia sadari,ada yang memperhatikannya sedari tadi, seorang pengagum rahasia, ya dia adalah seorang manusia bukan hantu. "Indahnya. Mama Papa, apa kalian bangga melihat aku?" tanyanya pada embusan angin. Cassie, gadis sendu yang percaya jika di sebuah embusan angin sejuk yang menerpa dirinya, terselip doa dari kedua orang tuanya yang telah berada di alam sana.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD