Kehidupan Penuh Derita

1003 Words
"Ayo!" Jia segera menarik tangan Cassie ke arah kamar barunya, yang bertempat di area belakang dekat dengan dapur. Jia membuka kamar yang penuh dengan tumpukan kardus, sebelumnya kamar ini telah dijadikan gudang oleh keluarga ini, jadi tidak heran jika debu adalah hal pertama yang menyambut kedatangan mereka. "Ini kamar kamu, kamu bisa bersihkan 'kan?" tanya Jia pada Cassie yang terdiam melihat banyaknya tumpukan kardus yang ada di dalam ruangan sempit itu. Cassie mengangguk tanda setuju. Ia tak ingin merepotkan keluarga yang sudah mau merawatnya setelah kepergian kedua orang tuanya. "Baguslah, yang bersih. Aku tak suka datang ke sini kalau bau. Aku pergi, sibuk," ucapnya tanpa ekspresi. Sepertinya sifat gadis itu menurun dari kedua orang tuanya yang tampak kasar.. Tanpa banyak bicara Cassie membersihkan kamar itu tanpa bantuan Jia. Ia melipat semua kardus tak berisi dan menyimpannya di kolong tempat tidur. Kondisinya yang baru saja pulih, membuatnya tak bisa menyelesaikan semua pekerjaan itu dengan cepat. Ia mengerjakan dengan perlahan, tangan yang dulunya gesit sekarang tertatih merapikan dan membersihkan debu yang menempel di dinding kamar. Sarang laba-laba yang menggantung di setiap sudut kamar bagaikan hiasan dinding yang melengkapi kotornya ruangan kecil ini. Kaki kecil cassie menghitam karena debu di lantai yang begitu tebal. Akan tetapi gadis itu sama sekali tak menyerah walaupun peluh menetes dengan deras dari tubuhnya. Napasnya terengah-engah, manik matanya terkadang menatap buram karena kelelahan. Dengan tekad yang kuat, ia akhirnya bisa membersihkan ruang kecil itu dalam waktu satu jam. "Akhirnya," lirih gadis itu sembari mengusap peluh yang membasahi wajahnya. Tubuhnya kotor, ia menyandarkan tubuh lelahnya di dinding dan merosot hingga jatuh terduduk. Manik matanya menatap ke arah jendela kaca di samping tempat tidurnya. Sorot cahaya matahari sore menerobos masuk ke dalam hingga membentuk garis garis cahaya. Cassie hanya terdiam menatap cahaya indah itu, perasaannya kalut. Pikirannya penuh dengan rasa rindu pada kedua orang tuanya yang sudah berada di alam yang berbeda. "Semoga Mama dan Papa tenang di alam sana. Cassie titip salam sama Tuhan ya, Ma, Pa." Gadis itu berucap lirih. Tubuhnya terasa lengket hingga gadis kecil itu merasa risi. Ia akhirnya memutuskan untuk ke kamar mandi yang letaknya hanya sepuluh langkah dari ruangan yang menjadi kamarnya. *** Udara terasa dingin, hari telah benar-benar gelap. Sementara gadis kecil yang baru saja membersihkan tubuhnya itu berada di atas ranjang. Ia termenung sembari menatap ke arah jendela, tak terlihat apa pun selain rembulan yang bersinar redup karena terhalang oleh awan hitam. Waktu telah menunjukkan pukul tujuh malam, sedari tadi, Cassie tak berani keluar dari kamar untuk melihat keadaan rumah barunya ini. Ia melihat ke arah kardus yang ada di samping tempat tidurnya. "Sejak kapan ada di sini?" tanya gadis itu kebingungan. Cassie turun dari ranjang ia mendekat ke arah kardus berukuran sedang. Perlahan tangannya membuka kardus itu. Manik matanya membelalak saat melihat isinya yang berubah buku dan juga foto kedua orang tuanya. Sepertinya, Zein membawa barang dari rumah lamanya ke sini. Setetes bulir bening mengalir dari kedua pelupuk matanya ketika melihat senyum ketua orang tuanya yang terbingkai rapi. "Mama Papa ... Cassie rindu," ucapnya lirih seraya mengambil bingkai foto itu. Ia mendekap erat foto keluarga yang amat ia sayangi. Kini, ia tak bisa lagi melihat senyum itu karena mereka telah hilang ditelan oleh kekejaman setan itu. Rasa sakit di hatinya membuat gadis itu berdesis lirih. Ia mencoba menahan semua rasa yang saat ini merusak rasa di hatinya. "Aku kangen, Ma, Pa," ucap Cassie sembari menangis tanpa suara. Cukup lama ia mendekap bingkai foto sembari terduduk di lantai. Tok! Tok! Suara ketukan terdengar. Dengan cepat, Cassie menghapus air matanya yang tersisa. Pintu pun terbuka dan menampakkan Jia. "Cepat makan," perintahnya dengan wajah datar. Cassie pun berdiri, ia meletakkan foto kedua orang tuanya di atas meja dan berjalan ke arah ruang makan bersama dengan Jia. Di meja makan sudah terhidang berbagai macam makanan yang lezat, terlihat Zein dan Ira yang sudah siap menyantap hidangan itu. "Jia, sayang ayo sini cepat," pinta Ira pada putrinya. Gadis itu segera berlari ke arah sang ibu dan duduk di sampingnya. Sementara Cassie berdiri di samping meja makan, ia ragu untuk langsung duduk di kursi. Rasanya tak sopan, karena kedua orang tuanya selalu mengajarkan sopan santun jika berada di rumah orang. "Kenapa kamu diam?" tanya Ira pada gadis kecil itu. "Cepat duduk, makan!" perintahnya lagi. "Iya, Tante. Terima kasih," ucap Cassie lirih. Ia perlahan duduk di kursi samping Zein. Namun, gadis itu tak berani mengambil makanan sebelum keluarga Zein mengambil makanan mereka. Setelah dipersilahkan oleh Zein, Cassie mengambil nasi satu sendok dan tempe serta sayur hijau. Ia sungkan untuk mengambil lauk-pauk yang terhidang di hadapannya. Cassie bertekad tak akan merepotkan mereka, bisa tinggal di rumah ini pun ia sudah bersyukur. "Mama, aku mau ayam goreng," ucap jia manja. Ira segera mengambil ayam goreng dan meletakkannya pada piring Jia yang sudah penuh dengan berbagai macam lauk. Sementara itu, Cassie hanya melihat kedua anak dan ibu itu. Tak terasa manik matanya berembun, ia merindukan kedua orang tuanya. Waktu menunjukkan pukul delapan malam, Cassie memilih untuk tetap di kamar selepas makan malam. Butiran air mata kembali mengalir tatkala mengingat kedua orang tuannya yang telah dikuburkan. "Mama Papa, aku kangen," isaknya lirih. Wussshh! Tangisnya terhenti saat sekelebat bayangan melintas dengan cepat di sekitar Cassie. Dirinya pun beranjak dari ranjang dan menuju jendela kamar. "Apa itu tadi?" tanyanya kebingungan sembari menyeka air matanya. Ia merasakan ada aura lain yang ada di sekitarnya. Gadis itu waspada akan datangnya sesuatu yang bisa membuat dirinya ketakutan. Perlahan tirai tipis itu dia buka, sontak saja Cassie terkejut saya melihat penampakan makhluk halus di sekitar halaman rumahnya. Beberapa mahluk halus terlihat berjalan di sekitar halaman. Gadis itu menutup mulut dengan tangan kanannya, ia terkejut melihat banyaknya penampakan yang ada di sekitar rumah sang paman. "Apa yang terjadi?" tanyanya kebingungan. Manik matanya membulat sempurna saat ada hal lain yang menarik perhatiannya yaitu bangunan tua di seberang jalan, terlihat begitu ramai, tetapi bukan pengunjung manusia melainkan pengunjung yang berasal dari makhluk gaib. Udara dingin menyebar di sekitar tengkuk, gadis itu kedinginan. Ia menelan Saliva beberapa kali saat melihat penampakan seram di bangunan itu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD