Hak Asuh

1015 Words
Mbah Aryo membalas pelukan bocah malang yang kini di hadapannya. "Tenang, Nak. Mbah akan selalu berada di samping kamu," ujar Mbah Aryo. Berharap tangis gadis itu mereda. Manik mata indah Cassie terlihat berkaca-kaca, rasa takut telah mendominasi perasaan. Ingin sekali dia bercerita tentang ketakutannya kepada pria yang telah dia anggap sebagai kakek, tetapi lidahnya terasa kelu, suara seperti enggan untuk menyuarakan isi hatinya. "Mbah, bagaimana Mama dan Papa?" tanya Cassie lirih. Manik mata Mbah Aryo menatap Cassie dengan sendu. Tangan rentanya membelai pelan rambut panjang gadis itu. "Kamu yang tabah, mereka telah pergi ke alam lain, Nak," jawab Mbah Aryo, "kami warga desa sudah menguburkan jasad kedua orang tuamu dengan layak." Cassie terdiam. Walau ia hanya seorang anak kecil, tetapi ia mampu memahami konsep dari kematian. Semenjak ia sadar, ia tahu bahwa ia tak bisa lagi bertemu dengan kedua orangtuanya, kecuali di pusara mereka. "Sabar ya, Nak," ucap Mbah Aryo lagi. Cassie mendongakkan kepalanya ke arah pria renta itu. "Iya, Mbah. Cassie paham, Cassie akan berusaha ikhlas," ucapnya. Mbah Aryo tersenyum. "Ini emang kamu, Nak. Anak baik yang sudah bersikap di atas usiamu sendiri," ucap Mbah Aryo. Sekelebat bayangan melintas dengan cepat, tatapan Cassie menjadi waspada, dia takut kalau bayangan itu adalah sosok setan yang telah merenggut nyawa kedua orang tua. Tangan mungilnya semakin erat memeluk pinggang Mbah Aryo. Suara tawa anak kecil terdengar dari kejauhan, membuat peluh mulai membasahi tubuh sang gadis. "Ada apa, Nak?" tanya Mbah Aryo saat mendapati Cassie yang semakin ketakutan. Mbah Aryo menatap sekeliling, perlahan dia mengangguk tanda mengerti tentang apa yang dilihat dan didengar Cassie. Pria renta itu menatap tajam kepada arwah anak kecil yang berada di ambang pintu, tubuhnya penuh dengan luka bakar dengan wajah hitam yang hampir meleleh. Mbah Aryo mengeluarkan sebuah kalung dari dalam sakunya. "Nak, kamu pakai ini. Jangan pernah kamu lepaskan," pinta Mbah Aryo pada Cessie seraya memasangkan kalung berliontin batu berwarna hijau lengkap dengan semburat putih yang terukir indah. Cassie mengangguk tanda mengerti dengan permintaan Mbah Aryo, perlahan sosok anak kecil yang dilihat oleh Cassie dan Mbah Aryo pun menghilang. Ini adalah fungsi dari kalung berliontin batu hijau itu, selain menjaga sang pemilik kalung itu juga bisa membawa keberuntungan baginya. Pria berusia senja itu menatap sang gadis dengan mata sayu, terlihat jelas gurat kesedihan dalam diri gadis kecil itu. Dirinya bingung memikirkan nasib Cassie yang harus kehilangan kedua orang di usia semuda ini, tentu ini semua tak mudah bagi gadis berusia sepuluh tahun. Mbah Aryo memandang beberapa orang warga di belakangnya. "Dengan siapa anak ini tinggal nantinya?" tanyanya. "Pihak rumah sakit telah menghubungi saudara dari Pak Ardian, Mbah. Nanti Cassie akan diurus oleh mereka," jawab salah seorang warga. "Ada hal yang harus saya bicarakan dengan keluarga Pak Ardian," ujar Mbah Aryo lirih. Waktu berlalu dengan cepat, Mbah Aryo masih setia menemani Cassie yang masih ketakutan. Beberapa kali Mbah Aryo berusaha menghiburnya, tetapi itu semua sia-sia. Jiwa dan raga Cassie terlalu terguncang akibat semua kejadian yang menimpanya, hingga untuk berbicara saja dia tak mampu. Tok! Tok! Suara ketukan pintu terdengar, tak berapa lama pintu terbuka dan terlihat pria paruh baya bernama Zein--paman Cassie. Tanpa basa-basi, Zein segera mendekat ke arah Cassie. "Cassie, kamu sekarang tinggal sama Om," ujarnya langsung. "Maaf sebelumnya, Pak. Saya ingin berbicara pada Anda," ucap Mbah Aryo pada Zein. "Ada apa, Pak?" tanya Zein. "Saya berharap, jika Cassie tinggal dengan Bapak, tolong antar Cassie setiap malam satu suro ke desa kami," pinta Mbah Aryo. "Malam satu suro? Buat apa?" tanyanya tak mengerti. "Cassie anak istimewa, dia harus mengikuti ritual yang kami lakukan," jawab Mbah Aryo. "Maaf, saya tidak percaya dengan hal seperti itu," ujar Zein tak mengindahkan permintaan Mbah Aryo. "Tapi ini semua demi kebaikan Cassie," ucap Mbah Aryo. "Kebaikan apa? Itu semua omong kosong, saya akan membawa Cassie sekarang," ujar Zein seraya menarik lengan Cassie dari brankar karena dirinya sudah mendapatkan izin untuk membawa Cassie pulang dari dokter walau hanya dalam beberapa hari saja ia sudah di perbolehkan pulang. "Pak, tunggu dulu!" pinta Mbah Aryo seraya menarik tangan Cassie. "Ada apa lagi? Sudah saya bilang, saya tidak percaya dengan hal aneh, itu semua hanya omong kosong belaka. Biarkan Cassie menjadi tanggung jawab saya, Anda tidak perlu ikut campur!" tegas Zein dengan sedikit emosi. Dia menarik paksa Cassie yang tidak mau berpisah dengan Mbah Aryo. Dirinya terus meronta, tetapi tenaganya tidak sebanding dengan tenaga Zein. "Cassie, sekarang kamu ikut sama om, kamu harus nurut semua perkataan om dan Tante," ucap Zein seraya terus membawa Cassie masuk ke dalam mobil. Tangis Cassie mengiringi perjalanan menuju rumah Zein, rasa takut, sedih dan marah bercampur menjadi satu. Dia tidak mau jika harus tinggal dengan keluarga yang tidak begitu dekat dengannya, sedangkan Zein sama sekali tidak memedulikan tangis gadis kecil di sampingnya. Perjalanan memakan waktu yang cukup lama, hingga akhirnya mereka sampai pada sebuah rumah di tengah kota. Zein segera menggandeng tangan mungil Cassie untuk masuk ke dalam rumah barunya. "Mama! Papa pulang!" seru Zein seraya duduk di sofa. Tak berapa lama derap langkah terdengar, terlihat seorang wanita paruh baya menggunakan daster khas ibu-ibu mendekat ke arah mereka. "Ini yang namanya Cassie?" tanyanya langsung seraya meneliti tubuh Cassie. "Iya, mulai sekarang kamu urus dia seperti anak," ujar Zein pada Ira--istrinya. "Huh, ngurusin anak satu aja repot, Pa. Bagaimana kalau tambah satu lagi, biayanya pasti gede," jawab Ira seraya duduk di samping suaminya, sedangkan Cassie dibiarkan berdiri. "Mau gimana lagi, Ma? Orang tuanya meninggal, dia jadi tanggung jawab kita," ujar Zein dengan nada pasrah. "Ya, sudahlah. Kita urus saja," ucap Ira. "Jia! Ke sini, Sayang!" panggil Zein. Seorang gadis kecil yang berusia sama seperti Cassie keluar dari kamarnya. Tangannya sibuk dengan boneka beruang yang ia mainkan. "Iya, Papa. Ada apa?" tanyanya saat sampai di hadapan kedua orang tuanya. "Kenalin, dia Cassie, sekarang Cassie jadi saudaranya Jia, ya," ucap Zein pada putrinya--Jia. Gadis berambut keriting itu mendekat ke arah Cassie. "Namaku Jia," ucapnya seraya mengulurkan tangan, dengan ragu Cassie menyambut uluran tangan Jia. "Ca-casie ...." Suara Cassie mulai kembali, tetapi sangat berat untuk dia keluarkan. "Jia, kamu antar Cassie ke kamar yang ada di belakang, sekalian kamu bantu bersihkan," pinta Ira dan dijawab dengan anggukan oleh Jia.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD