Kicau burung berhasil mengusik mimpi indah sang gadis mungil.
Kelopak matanya bergerak, begitu juga dengan jemarinya. Perlahan, manik matanya mengerjap, semuanya terlihat buram tak ada yang tampak jelas di pandangannya.
Cassie menerawang jauh, manik matanya tak berkedip. Sejenak ia tak merasakan apa-apa, semuanya kosong. Di hatinya kosong, pikiran pun terasa kosong. Ia hanya terdiam untuk beberapa waktu.
Setetes bulir bening mengalir dari kelopak matanya. Akan tetapi, ia tak tahu kenapa air mata itu jatuh begitu saja di pipinya.
"Aw," rintih gadis itu saat kepalanya terasa sangat sakit. Ia mencoba memegang kepala, akan tetapi tanpa ia sadari sebuah benda yang ada di antara sela jarinya terjatuh ke lantai.
Tit! Tit! Tit!
Tiba-tiba saja monitor yang ada di samping Cassie berbunyi dengan nyaring. Entah apa maksudnya, pikir gadis itu tak ingin ambil pikir. Rasa sakit di kepalanya mampu mengalihkan dunia, rasa sakit kian menjadi.
Kepingan tentang bencana hari di mana ia bertemu dengan Mbah Aryo terlintas di kepala nya. Ia terdiam, sembari berusaha mengingat kejadian penting di hari itu.
"Ma ... ma ... pa ... pa," lirih gadis itu ketika menyadari bahwa kedua orang tuanya tak ada di sisinya.
Kepingan demi kepingan ingatan mulai berkumpul. Sontak manik matanya membulat sempurna saat kejadian hari itu teringat jelas di pikirannya. Bahkan ia seperti melewati lintasan waktu dan kembali melihat kejadian yang sangat ia takuti.
Napasnya terengah-engah. Detak jantung berpacu tak karuan. "Mama, Papa!" teriak gadis itu tak percaya dengan apa yang ia ingat.
"Mama, Papa, kalian di mana?" tanyanya dengan tetesan air mata yang mengalir deras.
Ia menangis tersedu-sedu di atas brangkar, ia tak bisa pergi karena tubuhnya lemah hampir tak bisa ia gerakkan. "Mama ... Papa, kalian di mana?" tanya gadis itu masih dengan isaknya.
Derap langkah terdengar mendekat. Pintu pun terbuka, menampakkan beberapa orang yang mengenakan jas dokter. Mereka tampak terkejut saat melihat Cassie yang menangis tersedu-sedu di atas brangkar. Para dokter itu juga terkejut karena pasien koma bisa tersadar setelah tujuh belas hari tak sadarkan diri.
Diki selaku dokter yang menangani gadis itu mendekat ke arahnya. Ia tahu bahwa saat ini, pasien kecilnya itu adalah pasien yang mengalami kecelakaan hingga menewaskan kedua orang tua. Tentu saja saat ini adalah saat yang paling menyedihkan bagi Cassie. Kemungkinan akan ada trauma pada dirinya.
Diki mendekat, ia tak berbicara apa pun. Akan tetapi, tangannya mengelus pelan rambut Cassie, ia berusaha menyalurkan energi positif padanya agar rasa sedih di hati Cassie bisa sedikit berkurang.
Kian lama, gadis itu tak berhenti menangis, ia masih terisak dengan berkali memanggil nama kedua orang tuanya.
Jiwanya terguncang akibat kejadian yang baru saja menimpanya, kini Cassie terbangun sebagai seorang yatim piatu.
Diki menatap ke arah seorang dokter yang ikut ke dalam ruangan. Ia menganggukkan kepalanya sebagai memberikan kode agar dokter itu mendekat.
Salah seorang dokter mendekat ke arah Cassie. Ia seorang dokter wanita yang berusia dua puluh delapan tahun, seorang psikolog yang memang diminta Dokter Diki untuk memeriksa Cassie. Dokter bernama Nadira itu mendekat, ia memeriksa kembali keadaan Cassie dengan saksama. Perlahan, dokter itu duduk di brankar bersama dengan Cassie yang sudah tenang.
"Nama kamu Cassie? Kenalkan, aku dokter Nadira, kamu bisa berbicara apapun padaku," tanyanya dengan suara lembut.
Lidah gadis kecil itu kelu, seperti tak bisa mengucapkan sepatah kata pun. Ia memilih diam, kepingan ingatan masih terlintas jelas di pikirannya. Rasa sakit di hati terasa begitu menyiksa, bayangan tentang kematian kedua orang tuanya terlihat jelas. tanpa ia sadari, setetes bulir bening kembali menetes di pipinya.
"Cassie, kamu tenang, ya. Tidak apa-apa, ceritakan saja padaku," pinta dokter Nadira.
Akan tetapi, Cassie memilih untuk tetap diam. Telinganya seperti tersumbat dan tak bisa mendengar apa pun yang dikatakan oleh dokter Nadira.
"Cassie, kamu dengar saya?" tanya sang dokter, tetapi tak digubris oleh Cassie.
Tangan dokter Nadira menggenggam erat tangan Cassie. "Semua akan baik-baik saja. Jangan diingat semua kejadian itu. Lupakan, Cassie." Dokter Nadira tak tega melihat Cassie yang terlihat tampak menderita.
"Cassie, kamu bisa ingat kejadian itu?" tanyanya lagi.
Namun, gadis itu hanya diam tanpa menjawab pertanyaan demi pertanyaan yang dilontarkan oleh dokter.
Dokter Nadira menghela napas, memang tak mudah untuk menceritakan peristiwa yang menewaskan kedua orang yang paling ia sayangi di dunia ini. Wajar, Cassie terdiam membisu, hanya air mata yang memberitahu bahwa saat ini ia tengah berduka dan meratapi nasibnya.
Dokter Nadira menepuk pelan pundak Cassie, ia mencoba mencoba memberikan semangat pada gadis itu.
"Kamu yang kuat," ucapnya lirih sembari berjalan ke arah dokter Diki.
Ia menggeleng pelan pada Dokter Diki tanda bahwa ia tak mendapatkan Informasi apa pun. "Diki, dia sangat syok. Sebaiknya jangan diingatkan tentang kecelakaan itu, aku khawatir keadaannya memburuk dan membuat ia mengalami trauma berkepanjangan." Dokter Nadira khawatir pada kesehatan mental gadis itu.
"Baiklah, aku akan mengikuti saranmu," ucap Diki.
"Dia baik-baik saja, hanya saja dia butuh waktu pemulihan. Aku harap kamu bisa menenangkan dia," ucap Dokter Nadira, "aku pergi ke ruang kerjaku dulu, ya," pamitnya sembari melangkah pergi.
Menyaksikan kematian kedua orang tua di depan matanya sendiri tentu bukanlah hal yang mudah untuk gadis sekecil Cassie.
Pikiran gadis itu dipenuhi dengan bayang-bayang mengerikan serta kesedihan akibat kematian kedua orang tuanya. Tanpa sadar, bulir bening mengalir deras dari kedua pelupuk mata gadis manis itu. Semua orang merasa iba saat melihat Cassie yang menangis tanpa suara, tak ada yang bisa mengerti bagaimana perasaan seorang anak yang harus ditinggalkan oleh kedua orang tuanya di waktu yang bersamaan.
Lima hari berlalu. Kesehatan Cassie membaik dengan pesat, bahkan dokter sampai heran dengan tingkat kesembuhannya yang terbilang sangat cepat. Akan tetapi, gadis itu masih tak mau membuka mulutnya, ia memilih diam saat ada yang bertanya tentang kecelakaan hari itu. Ia memilih untuk memendam semuanya di dalam hati, ia akan mengingat hari itu seumur hidupnya.
Pihak rumah sakit menghubungi keluarga Cassie yang tersisa dengan informasi dari pihak tetua desa. Tak berselang lama, Mbah Aryo mendatangi ruangan yang Cassie tempati, dirinya melihat gadis kecil yang meringkuk di atas brankar dengan berderai air mata. Tangan renta pria itu membelai pelan rambut panjang Cassie. "Sabar, ya, Nak."
Perlahan Cassie mendongakkan kepalanya dan melihat siapa yang berusaha untuk menenangkan dirinya. "Mbah Aryo," ucap gadis manis itu. Dengan cepat Cassie memeluk tubuh pria renta yang sangat berharga baginya.