Di dalam hati, ia masih berharap bahwa kedua orang tuanya masih bisa di selamatkan. "Tolong! Tolong kami!" seru Cassie dengan suara lirih, tenaganya habis, ia tak mampu lagi untuk berteriak kencang. "Tolong!" lirihnya lagi. Bulir bening mengalir deras dari kedua pelupuk mata.
Hening. Tak ada tanda bantuan akan datang. Gadis itu menangis tersedu-sedu. Ia meratapi nasib kedua orangtuanya yang masih berada di dalam sana. "Mama, Papa, aku akan menolong kalian," lirih gadis itu seraya berusaha bangkit dari tempatnya saat ini.
Dengan sisa tenaga, ia berdiri dan berjalan dengan langkah tertatih. Darah segar masih mengalir dari pelipisnya. Luka di tubuh gadis itu masih belum kering. "A-aku ... akan menolong kalian ...." Gadis itu bersikeras ingin mendekat ke arah mobil itu walau ia tahu tenaganya telah habis.
Tanpa gadis kecil itu sadari, percikan api dari mesin mobil mulai menyala, sedangkan bahan bakar mobil itu sudah tercecer akibat tangki yang bocor.
Dalam seperkian detik. Mobil itu meledak dengan kekuatan yang sangat besar.
Duuaarr!
Tubuh Cassie terlempar jauh akibat ledakan itu. Entah beruntung atau tidak, tubuhnya tak terkena ledakan. Kini, ia terlempar di atas rerumputan dengan keadaan tak sadarkan diri. Wajahnya pucat, sesekali napasnya berhenti. Begitu juga dengan denyut nadi yang kian melemah.
Asap membumbung tinggi, api membakar hangus mobil itu. Begitu juga dengan kedua orang tua Cassie yang telah tak bernyawa di dalam sana. Suara dentuman ledakan mobil itu terdengar hingga jarak satu kilometer dan membuat para warga yang masih berada di rumah terkejut dan segera mendatangi sumber dari suara ledakan tadi.
Dua jam kemudian, bangkai mobil yang terbakar itu pun ditemukan bersama dengan jasad Ardian dan Alia yang begitu mengenaskan, sedangkan Cassie tergeletak tak jauh dari bangkai mobil yang telah hancur itu.
"Cepat! Periksa dia! Apa dia masih bisa di selamatkan?" tanya seorang polisi pada petugas medis.
Beberapa orang petugas medis segera mendekat ke arah tubuh Cassie yang penuh dengan luka. Darah yang mengalir di sekujur tubuhnya berhenti, sehingga membuat kondisinya terlindungi.
Sang petugas kesehatan memeriksa denyut jantung dari Cassie. "Aman! Ia masih bisa di selamatkan! Tapi sekarang keadaannya bisa lebih buruk. Detak jantung lemah!" titah sang petugas medis.
Seorang petugas medis datang mendekat. Ia segera memeriksa Cassie. "Cepat bawa tandu ke sini! Dia butuh pertolongan segera!" perintahnya pada para petugas kesehatan yang menunggu di mobil ambulans.
Tanpa menunggu perintah kedua, para petugas kesehatan yang menggunakan seragam putih itu segera mendekat sembari membawa kotak pertolongan pertama pada kecelakaan.
"Kita tidak bisa memindahkan tubuhnya dengan sembarangan. Kita tak tahu jika ada cedera leher. Ambilkan penyangga leher," pinta seorang petugas bernama Ari.
Petugas lain segera membuka kotak P3K dan mengambil barang yang diperlukan. "Ini," ucap sang petugas sembari menyerahkan penyangga leher pada petugas Ari.
Sementara itu, pemuda yang usianya baru menginjak tiga puluhan itu pun mengangkat kepala Cassie dengan satu tangan dan di bantu oleh petugas lainnya. Ia segera memasangkan penyangga leher pada leher gadis itu.
"Ayo pindahkan, kita harus segera membawanya," perintah Ari setelah selesai memasang penyangga leher.
Mereka memindahkan tubuh Cassie ke brankar dan memasukkannya ke ambulans.
Ari sebagai petugas kesehatan yang telah lama berpengalaman segera memasang infus agar cairan di tubuh Cassie tetap terjaga. Tak lupa ia memasangkan oksigen untuk meningkatkan kadar oksigen pada Cassie.
"Cepat ke rumah sakit permata Medika!" perintah Ari.
"Baik!" jawab petugas lain dan segera melajukan mobil ambulans untuk menuju rumah sakit terdekat yaitu Rumab Sakit Permata Medika.
Sementara itu, lokasi kecelakaan ramai oleh para warga yang ingin tahu bagaimana kondisi kecelakaan itu. Tak sedikit dari mereka bersedih karena yang mengalami kecelakaan itu adalah keluarga Ardian, dan anaknya Cassie. Mereka berdoa demi kesembuhan Cassie yang dianggap sebagai pembawa tuah di desa ini. Sebagian warga berpikir bahwa kecelakaan ini adalah tanda awal dari datangnya malapetaka di desa mereka.
Raut wajah sedih para warga terlihat begitu jelas saat melihat kondisi mobil yang telah ringsek dan terbakar hebat, kini hanya tinggal puing-puing saja.
Petugas pemadam kebakaran dan pihak kepolisian segera mengevakuasi mobil itu dan mengeluarkan jasad Alia dan Ardian yang telah tewas terpanggang di dalam mobil.
Mata siapa yang tak berkaca-kaca melihat kondisi jasad Alia dan Ardian. Kondisi mereka sangat mengenaskan, seluruh tubuhnya hitam melepuh akibat api, sedangkan beberapa bagian tubuh telah hancur akibat terhimpit badan mobil. Nahas, tak ada yang bisa di selamatkan dari dalam mobil itu.
Sementara itu, Cassie segera dilarikan ke rumah sakit terdekat, dirinya hanya mengalami luka ringan saja, berbeda jauh dengan jasad kedua orang tuanya.
"Darurat! Ada pasien darurat!" teriak petugas kesehatan yang membawa brankar Cassie ke dalam rumah unit gawat darurat.
Beberapa dokter segera mendekat dan membantu para petugas kesehatan untuk memindahkan tubuh gadis itu ke atas brankar rumah sakit.
"Apa yang terjadi?" tanya seorang pemuda yang mengenakan jas putih khas dokter bernama Diki.
"Dia mengalami kecelakaan, mobil keluarganya terperosok ke dalam jurang. Ia ditemukan tak jauh dari mobil yang terbakar. Kedua orang tuanya meninggal." Ari menjelaskan detail.
Tanpa kata, Diki segera memeriksa tubuh Cassie. Suhu tubuhnya rendah, detak jantung lambat begitu juga dengan napasnya yang tak lagi berembus.
"Intubasi dia!" perintah Ari sembari memeriksa kelopak mata Cassie.
Tak lama, beberapa dokter ikut membantu dan mengintubasi Cassie agar paru-parunya mendapatkan pasokan oksigen.
Mereka melakukannya banyak sekali tindakan untuk menyelamatkan nyawa gadis itu sebelum ia dinyatakan koma dan kondisinya dalam keadaan kritis oleh para dokter.
Dua, tiga hari dilalui oleh Cassie di dalam ruang unit gawat darurat. Tubuhnya terhubung dengan mesin-mesin yang menopang kehidupan agar bisa bertahan di dunia fana ini. Hari demi hari ia lalui dengan mata terpejam, gadis itu terlalu sibuk dengan mimpi hingga lupa jika ia masih berada di dunia ini, seorang diri.
Tepat pada hari ke lima belas, tanda kesadaran mulai muncul. Tangan dan kelopak matanya bergerak walau ia masih belum bisa membuat matanya, tetapi itu adalah suatu pertanda yang baik karena saat ini Cassie telah melewati masa kritis.
Hari demi hari pun berlalu, hingga tiba pada hari ke tujuh belas semenjak Cassie memasuki rumah sakit. Semburat jingga terlihat di ufuk timur tanda bahwa sang surya akan segera menampakkan dirinya. Udara pagi hari terasa begitu menyegarkan. Semilir angin menerpa pepohonan yang tumbuh di sekitar rumah sakit hingga menimbulkan suara yang begitu menenangkan.