Kematian Alia dan Ardian

1007 Words
Tak ada denyut nadi, tak ada embusan napas. Ia telah meregang nyawa saat melindungi putrinya. pengorbanannya tak sia-sia, ia berhasil menyelamatkan nyawa Cassie dengan nyawanya sendiri. Gadis kecil yang berada di dekapan ibunya pun mulai sadar akan apa yang menimpa diri dan keluarganya. "Ma-mama," panggil gadis berambut panjang yang masih dalam dekapan ibunya. Sebuah keajaiban, Cassie bisa selamat dari kecelakaan mengerikan ini, bagian badan mobil telah hancur, hingga hanya menyisakan bagian tengah mobil yang ditempati oleh dirinya dan Alia. Perlahan, Cassie melepaskan diri dari dekapan Alia yang begitu erat. "Mama, bangun," pinta Cassie dengan isak tangis saat melihat tubuh ibunya yang penuh akan darah. "Mama, Mama! Bangun, Ma!" teriak gadis kecil itu seraya mengguncang tubuh Alia yang tak bernyawa. "Mama, bangun!" isaknya semakin kencang, derai air mata tak lagi bisa dia hentikan. "Papa!" panggil Cassie hendak menjangkau tubuh ayahnya, tetapi terhalang oleh kursi mobil. "Papa, Mama," ucap gadis itu terisak melihat kedua orang tuanya tak lagi bernyawa. Gadis kecil itu melihat ke arah sekitar. Perlahan, tangan mungil Cassie mencoba membersihkan serpihan kaca yang masih tertinggal di jendela mobil, hingga tangannya tak luput dari goresan luka. Cassie segera keluar dari mobil yang telah ringsek serta berusaha untuk mengeluarkan tubuh Alia dari dalam mobil, tetapi ia terlalu lemah. "Mama, Papa, bangun!" isaknya. Asap hitam menggumpal di sekitar area mobil, Cassie terkejut dan segera melangkah mundur. Matanya membulat sempurna saat sosok hitam dengan wujud yang sangat mengerikan mendekat ke arah Cassie yang masih diam terpaku pada tempatnya berpijak. Degh! Jantung Cassie berdetak kencang, ia merasakan ada hawa lain yang sedang mendekat ke arahnya. Tubuhnya bergetar, aura jahat terasa begitu kental terasa. Udara dingin menyebar di sekitar tengkuk, ia mengeratkan genggaman di jemarinya. Manik mata Cassie membulat sempurna ketika tahu adanya sosok yang mengawasinya dengan sangat dekat. Asap hitam itu mulai menyebar mengelilingi mobil tempat kedua orang tuanya merenggang nyawa. Ha-ha-ha! Suara tawa dari sosok setan Xilius terdengar jelas di telinga gadis kecil itu, tubuhnya bergetar ketakutan, kini tidak ada lagi yang bisa melindungi dirinya, buliran air mata mengalir deras di pipi Cassie. Asap hitam yang membumbung tinggi itu pun perlahan menyusut hingga membentuk suatu wujud setan yang menyeramkan, seluruh tubuhnya di balik kain hitam yang membentuk sebuah jubah panjang. Wajahnya tak terlihat tertutup oleh tudung yang ia kenakan, sekilas terlihat tangannya yang terbuat dari tulang belulang tanpa daging atau pun nadi. Setan yang di namakan Xilius itu adalah jenis sosok setan yang mengincar nyawa manusia untuk keabadian dirinya. Ia tak segan melukai siapa saja yang menghalangi dirinya untuk mendapatkan apa yang ia inginkan. Xilius tergolong jenis setan tinggi, tetapi masih di bawah kaum iblis. Ia bisa saja menjadi anak buah dari salah satu iblis terkuat yang ada di alam semesta ini. Xilius itu menatap Cassie dengan tatapan membunuh, ia mengangkat wajahnya yang tertutup tudung hitam. Terlihat mata merahnya berbinar-binar bagaikan melihat mangsa yang sangat menyegarkan. Dia menyeringai mengeluarkan taring tajamnya dengan lendir kental berwarna hitam pekat. Perlahan, setan itu mendekat ke arah Cassie yang masih terdiam. Tangan yang terbuat dari tulang putih bercampur bercak merah miliknya serta kuku yang sangat tajam mengarah pada leher Cassie. Iblis itu seakan-akan tak sabar untuk menikmati jantung gadis manis yang kini tepat di hadapannya. "Akhirnya, setelah sekian lama aku menunggu kesempatan ini. Kamu datang juga padaku, Anak manis. Ah, darahmu terlihat sangat menyegarkan, aku ingin mencicipinya," ucap Xilius itu sembari tertawa. "Hiks, jangan ...." Cassie ketakutan. Tubuhnya bergetar hebat, napasnya pun terdengar memburu. Bruk! Tubuh Cassie jatuh terduduk. Kedua kakinya lemas, seluruh sendi di tubuh seakan-akan tak berfungsi lagi hingga gadis itu hanya bisa menangis hingga sesegukan. Xilius tersenyum. Ia telah siap untuk menyantap sasaran empuk di hadapannya ini. Namun, saat hendak menyentuh kulit putih milik Cassie, sinar biru terang keluar dari tubuh Cassie hingga membuat setan itu terkejut. Sebuah energi yang besar mendorong tubuh setan itu hingga Xilius terpental ke arah belakang, hingga tubuhnya tersungkur beberapa meter dari Cassie. Aaaarrrggghhh! Teriak setan itu marah, tubuhnya terlempar cukup jauh. Manik matanya berubah menjadi merah darah. Xilius mengerang marah. "Apa yang kamu lakukan? Kamu melawan diriku? Sepertinya harus menggunakan cara yang kasar," ucap xilius sembari bangkit dari tanah tempatnya terpental tadi. Asap hitam semakin pekat mengelilingi tubuhnya, udara terasa hangat, kian lama udara terasa panas akibat aura yang di keluarkan oleh sosok setan itu. Warna merah samar terlihat di sekeliling sosok xilius itu. Dengan cepat setan itu mendekat ke arah Cassie, ia mencoba meraih gadis itu. Akan tetapi ... Aaaarrrggghhh! Kembali tubuhnya terpental ke arah belakang karena aura pelindung yang ada di sekitar tubuh Cassie begitu kuat menjaga dirinya dari serangan mahluk jahat itu. Sang setan tidak bisa menyentuh kulit Cassie berkat mantra perlindungan yang diberikan oleh Mbah Aryo setiap malam satu suro. Pelindung tanpa rupa yang siap melindungi Cassie dari serangan para makhluk gaib yang berniat jahat padanya. "Aaarggghh!" teriak setan itu marah. "s****n!" pekik setan itu marah karena tak bisa menyentuh gadis kecil itu. Ia kembali mendekat ke arah gadis itu. Seperti tak mengenal lelah dia kembali mencoba untuk menyentuh Cassie, tetapi hasilnya tetap sama, setan itu akan terus terpental ke arah belakang. "Mama, Papa, tolong!" pinta Cassie di tengah tangisnya. Tubuh kecil Cassie bergetar karena ketakutan, manik mata indahnya meneliti mobil ringsek itu. Dia melihat jasad kedua orang tuanya yang telah tiada dengan tubuh terluka penuh darah. Tangis gadis kecil itu semakin menjadi-jadi. Seiring waktu, tubuhnya kian melemah dan akhirnya terjatuh dia atas rerumputan tepat di sebelah mobil. Pandangannya buram, tetapi telinganya masih bisa mendengar jelas apa yang dikatakan oleh setan itu. "Lihatlah, aku akan membawamu, Manis." Sang setan telah menyerah untuk mencoba memakan jantung gadis manis itu, dirinya tahu kalau pelindung itu akan terus melindungi Cassie sampai waktu yang ditentukan oleh takdir, dia akan terus menunggu jantung manis itu sampai kapan pun. "Aku akan membawamu!" seru Xilius sebelum akhirnya menghilang. Sosok setan itu marah. Ia kesal karena semua usahanya sia-sia sejak lama. Ia menghilang bersama dengan dendam yang akan suatu hari akan ia balaskan terhadap gadis kecil itu. Sementara itu, Cassie masih menangis tersedu-sedu di atas rerumputan. Ia menatap ke arah mobilnya yang terguling dengan keadaan hancur. "Mama, Papa," ucapnya lirih.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD