eps 4

1002 Words
Bayangan Semu Setelah kejadian itu Mas Aska sama sekali tidak memberi kabar, bahkan menanyakan kabarku pun tidak. Terkadang aku bingung, sebenarnya dia mencintai aku atau tidak? Jika tidak mencintai kenapa waktu itu dia mengajakku menikah? Aku berdiri di dekat jendela, menikmati keindahan kota Jakarta ditemani senja yang semakin menghilang. Aku berdiri sendiri dengan beribu-ribu pertanyaan sedang apa dia di sana? Biasanya aku menikmati keindahan ini bersama Mas Aska, memelukku dari belakang lalu mencium punggungku dan berkata,"Aku mencintaimu, Sayang." Kini hanya kenangan yang kurasakan. Aku sendiri, menikmati rasa sakit ini sendiri, atau bahkan merindukan seorang diri. Aku duduk di pinggir ranjang, lalu mengambil bingkai foto yang ada di atas nakas. Fotoku bersamanya, beberapa bulan lalu di saat semuanya belum diketahui istrinya. "Kamu dimana, Mas? Kalau kamu sudah tidak mencintaiku setidaknya bilang. Jangan menghilang, aku rindu, Mas!" Aku melangkah menuju kamar mandi, lalu membasuh muka. Aku bercermin, melihat wajahku sendiri, mataku sembab, rambut acak-acakan. Setelah membasuh muka aku mengambil jaket, kemudian menyisir rambut. Ku raih HP dan sediki uang lalu memasukkannya kedalam suku jaket. Aku keluar tak lupa mengunci pintu. Aku melangkah menyusuri jalan, kendaraan lalu lalang, sepasang kekasih berjalan bergandengan, pedagang kaki lima pun mulai aktivitasnya. Sungguh bahagia mereka ini, beda dengan diriku. Ketika sedang asyik berjalan tiba-tiba pengendara sepeda motor berhenti tepat di sampingku. Lelaki itu turun dari motor lalu membuka helmnya. "Ayu!" sapanya. Aku hanya diam mengamati lelaki di depanku ini. "Bang Roni!" ucapku kaget, kenapa dia bisa di sini. Tanpa menunggu menit lelaki itu memegang lenganku dengan kasar. "Ayo, pulang!" ucapnya memaksa. "Aku gak mak pulang!" "Aku cari kamu kemana-mana! Dan aku tidak akan melepaskanmu begitu saja!" Lelaki itu terus menarik lenganku dengan paksa dan memaksaku untuk duduk di belakang. "Bang, lepas! Kalau enggak aku teriak ni!" bentakku. Namun, lelaki itu tetap saja memaksaku ketika aku teriak minta tolong Bang Roni bisa melabuinya dan semua orang percaya padanya. Tak lama kemudian mobil berhenti, di depan kami dan lampunya menyorot kami berdua. Orang itu pun keluar, dan ternyata dia Mas Aska. "Mas Aska!" teriakku mencoba melepaskan cengkraman dari Bang Roni. "Lepaskan Ayu!" ucap Mas Aska dengan lantang. "Siapa, Kamu! Apa hubungannya kamu dengan Ayu!" ucap Bang Roni lantang. "Saya suaminya!" jawab Mas Aska. Mas Aska pun menghampiri kami berdua, dia berusaha menarik lenganku tetapi Bang Roni menendang dadanya dan Mas Aska pun terjatuh. "Mas!" teriakku panik. Mas Aska bangkit lalu memukul Bang Roni. Mereka berdua pun berkelahi, aku yang panik mencoba melerai percuma karena mereka sama-sama saling emosi. Ketika Bang Roni hendak memukul Mas Aska aku berlari di antara mereka hingga akhirnya pukulan itu mengenai kepalaku. Aku terjatuh dan semua berubah gelap. . Aku tersadar merasakan sakit di kepala, aku mataku memutar ke seluruh ruangan yang serba putih ini. Kulihat lelaki tampan sedang terlelap tidur di sofa, kembali aku melirik jam dinding menunjukan 02.00 dini hari. Tiba-tiba aku merasa haus, perlahan aku bangun bersandar di bantal. Aku meraih gelas di pinggir ranjang, dan sialnya gelas itu jatuh. 'Pyaar…' "Sayang!" ucap Mas Aska kaget melihat serpihan gelas di lantai. "Maaf, Mas! Aku haus," "Oke oke gak pa-pa … Sayang haus? Mas ambilin air minum ya, biar nanti cleaning servis yang membersihkan serpihannya." ucapnya. Lelaki itu keluar kamar dan tak lama kemudian datang cleaning service membersihkan serpihan gelas. Mas Aska pun datang lalu memberiku segelas air putih. "Lega, Sayang?" "Hmmm …" "Bagaimana keadaanmu? Masih sakit kepalanya?" tanyanya dengan wajah khawatir. "Sedikit pusing, Mas," "Ya sudah, sekarang istirahat ya … Mas jaga kamu di sini." ucapnya lalu membantuku berbaring. Sebenarnya sih gak begitu parah, hanya memar saja. Tapi tidak apa-apa sih berkat ini aku jadi bertemu dengan Mas Aska. Lelakiku. "Mas, kok kamu bisa di situ? Dari mana?" tanyaku penasaran. "Tidur, istirahat Sayang … nanyanya besok aja ya …" jawabnya. Aku menurutinya berusaha diam dan istirahat tapi mata tidak bisa diajak kerja sama. Atau mungkin aku sedang bahagia? Karena Mas Aska ada di sini? Kupandangi lelaki berkumis tipis itu, lelaki yang seharusnya kupanggil Om karena umur kami berbeda hampir sebelas tahun. Lelaki yang masih menjadi istri orang. Tapi aku mencintainya. "Tidur, Sayang … jangan liatin saya seperti itu." ucapnya kemudian tangannya membelai rambutku. Kugenggam tangannya dia, tangan yang sudah berhari-hari tidak kusentuh. Aku menyayanginya, sungguh dengan tulus bukan karena harta. Kubelai pipinya, hidungnya, matanya, dia pun menggenggam tanganku kemudian menciumnya. Kami saling mencintai, tapi kami berdua juga tidak tahu apa yang harus kami lakukan. Kami terdiam di tengahnya malam, sunyi hanya detak jam dinding yang bersuara. Aku dengan pikiranku yang takut kehilangan dia, dan dia entah dengan pikiran seperti apa. Tanpa di sadari air mataku jatuh, tidak bisa menahannya. Rasa bahagia dan rasa sakit menjadi satu. Lagi dan lagi aku mempertanyakan hal yang sama kepada Tuhan, kenapa Engkau menghadirkan cinta yang tak semestinya tumbuh? "Hey … Kenapa nangis, Sayang? Mas di sini gak kemana-mana," "Jangan tinggalin aku, Mas! Jangan ngilang, kalau Mas mau pergi bilang jangan tiba-tiba menghilang seperti kemarin. Ku mohon." ucapku, aku tidak peduli jika harus memohon seperti ini asalkan aku bersama dia. "Iya, Sayang … Maafkan saya, kemarin masih banyak hal yang harus diselesaikan. Tapi saya selalu mantau kamu," "Mantau?" tanyaku. "Iya, setiap hari saya selalu datang ke Apartement menanyakan apakah kamu di rumah atau pergi. Saya selalu nanya ke petugas," "Jadi Mas tadi mengikuti aku? Terus kenapa enggak masuk aja?" "Iya, tadi saya ngikutin kamu. Tadi mau masuk, tapi lihat kamu keluar terus jalan ke arah taman. Saya itu sayang banget sama kamu, Ay, sampai kapan pun. Percayalah saya tidak benar-benar pergi meninggalkanmu." ucapnya. Aku lega mendengarnya, bibirku tersenyum, di depanku ini lelaki yang selalu membuatku nyaman dan aman dia tidak pergi. Dalam hati ingin rasanya aku melompat-lompat bahagia. Walaupun sebenarnya aku takut menjalani hubungan ini. Ah … sudahlah, nanti aku bicara baik-baik dengan Mbak Anita. Dia pasti merestui hubunganku dengan Mas Aska, toh sampai sekarang Mbak Anita belum bisa memberinya keturunan. Di dalam anganku yang terlalu indah ini, Mas Aska tersenyum melihatku bahagia seperti ini. Tangannya masih membelai rambutku dan tangan yang satunya menggenggam telapakku. Mataku pun sudah mulai mengantuk di menit berikutnya aku terlelap.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD