Aku duduk di atas kursi taman menghadap ke jalan raya. Jalanan tampak sepi, angin mensapukan daun yang berguguran di kaki. Jennie telah pulang duluan dengan tas make up yang sengaja di tinggalkan dengan dalih aku akan memerlukannya saat berkencan nanti.
Pagi-pagi saat tiba di kampus tadi aku meminta Jennie mencariku pacar dengan tiba-tiba, yang kupikir itu akan menjadi kesalahan terbesar karena melaluinya. Kau tau Jennie selama ini selalu menyodorkan cowok-cowok kenalannya untukku tapi tidak ada satupun yang setipe atau layak kujadikan pacar.
Cowok bar, anak punk, dan kadang playboy kaki lima yang menggaet cewek-cewek dengan siulan murahan yang memuakkan. Dia selalu membawa tipe seperti itu hingga kesabaranku habis dengan sendirinya.
Namun sekarang kupikir seburuk apapun cowok yang disodorkan Jennie kali ini aku harus menerimanya agar kewarasanku kembali. Agar aku tidak terus-terusan berburuk sangka kepada Kakakku dan berbuat bodoh seperti beberapa malam belakangan, membuatku terlihat seperti orang gila di mata orang-orang.
Seperti kata Kakakku bahwa aku sedang stress dengan tugas kuliah dan baiklah, seperti pintanya aku akan merefress kembali otakku dan semoga dia puas melihatku punya pacar hingga dirinya ikut menghilang bersama napas yang kubuang. Dengan begitu aku tidak akan terus-terusan memikirkannya, kan?
Beberapa kali aku memegang rambut, mengacaknya dengan frustasi. Masih cukup lelah dengan mata panda yang luput dari perhatian. 30 menit aku menunggu disini dan Jennie belum kembali dengan teman cowok yang katanya ingin diperkenalkannya padaku.
"Hai cantik, sendirian aja dari tadi."
Aku mamandang sinis ke depan dengan pandangan muak. Seorang cowok yang kukira lebih tua dariku, mengenakan kemeja rapi dan kacamata gelap berada dalam mobilnya memandangku dengan wajah genit yang membuatku kesal setengah mati.
Apa-apaan itu!
Aku berpaling, memilih tidak perduli. Tanganku meraba kop surat lama dalam tas.
"Kau butuh tumpangan, akan kuantar kau hingga kerumah. Mau menumpang?"
"Tidak! Makasih," jawabku tegas dan lugas, beralih memegang hanphone seolah sibuk. Kuharap dia sadar bahwa aku tidak menyukainya.
"Kau terlihat beda, mau tukaran nomor hanphone." Dia tidak terlihat menyerah kupikir.
"Tidak." Sabarku kedua kali. Sepatu mahal dan mobil mercy keluaran terbaru mungkin dipikirnya terlihat keren. Dia setipe seperti cowok-cowok yang menggoda cewek di gang dengan siulan murahan yang kusebutkan, tidak mudah menyerah terhadap sesuatu yang segar dan menantang. Oh, aku benci tipe seperti ini.
"Ayolah, kau tipeku. Aku suka cewek sedikit cuek dan rock sepertimu."
"Terima kasih sudah menyukaiku, tapi maaf aku tidak tertarik," kataku masih mencoba bersabar lagi-lagi, namun siapapun tau wajah masamku sebagai kode keras aku tak nyaman. Tapi cowok ini tidak peka sama sekali.
"Oh ayolah, kita bisa hangout bareng atau coba kencan di klub dan senang-senang."
Seperti tebakanku dia tidak menyerah, aku menggigit bibirku dengan geram. Jennie kenapa lama sekali...
"Tolonglah. Aku sudah punya pacar dan dia sedang dijalan untuk menjemputku sekarang." Biasanya cara ini ampuh, tapi tidak tau kali ini.
Lelaki itu membuka kacamatanya, kening terangkat seperti cowok b******k yang sedang menalar kebohongan.
"Kau tidak terlihat seperti gadis yang punya pacar. Ayolah, aku berjanji kita benar-benar akan bersenang-senang di club mahal malam ini."
Oh ya ampun. Ini orang membuat otakku mendidih!
"Hei! pergi sana, aku tidak menyukaimu. Kau tidak dengar! Jangan pernah mencoba mendekatiku atau kau akan kutendang!" Amukku dengan suara besar, membuatnya melotot setengah kaget. "Pergi sana b******k!" Tambahku dengan teriakan yang tidak kalah kencang. Kupikir itu cukup berpengaruh untuknya, dia langsung menjalankan mobilnya dengan wajah memerah dan sinis.
Dia benar-benar membuatku naik darah, aku sedang frustasi dan kehadirannya membuatku ingin menjambak rambut orang satu-satu.
Aku memasukkan hanphone ke tas. Deru mobil cowok tadi sudah tak terdengar lagi. Sikapku barusan agak kasar namun tidak cara lain untuk membuatnya berhenti. Aku menarik napas, selang beberapa menit mobil Ferrari hitam berhenti, Cowok yang berada dalam mobil tidak memakai kacamata dan kaos dengan sablon kopi di bajunya.
"Hy Selena. Apa kabar?"
Nick?
"Oh, Hai..Aku baik-baik saja. Kau kenapa disini?" tanyaku dengan heran mengingat Nick bukan penggemar berat taman belakang kampus. Bagaimana aku tau? Yah, itu sering terdengar dari cewek-cewek yang setiap hari membicarakan Nick cowok idaman mereka yang katanya keren.
Dia turun dari mobil, menghampiriku yang telah berdiri di garis jalan.
"Aku menerima panggilan dari Jennie dan katanya kau sedang disini."
Ah Jenni kenapa dia memberitahu Nick!
"Aku hanya sedang tidak punya pekerjaan dan memutuskan singgah disini sebentar. Lagian taman ini cukup bagus untuk paru-paru. Kau tau disini hijau," kataku berusaha tertawa dengan rasa tak nyaman seperti biasa setiap kali berhadapan dengan Nick yang notabenenya adalah sahabat dekat Jason. Dia tertawa, mengucapkan beberapa patah kata.
"Sebenarnya aku kesini karena disuruh sama Jennie. Dia bilang kau sedang mencari teman kencan dan dia menawariku untuk itu."
Ah, Jennie! Kenapa harus Nick!
Aku menggigit bibir, malu seketika karena benar-benar merasa terlihat murahan sekarang.
"Itu..Yah, kupikir aku sudah dewasa jadi apa salahnya punya pacar," jawabku tersenyum kikuk dan meraba hanphone dalam tas, berharap ada chat permohonan maaf Jennie karena membuat ulah. Aku akan berkencan dengan siapapun kecuali dengan Jason dan Nick, dan dia memberikanku salah satu diantara mereka. Temanku baik hati sekali.
Dia mengangkat bahu dan membuka pintu mobilnya.
"Mau jalan-jalan? Kita bisa ke restoran untuk makan atau ke Bar untuk sekedar singgah," ujarnya dengan suara khas serak miliknya. Tanganku meraba kening, berpikir. Sepertinya itu tidak terlalu buruk. Lagian Nick cowok yang sopan. Dia tidak pernah memberikan hatinya untuk perempuan manapun, sejauh ini aku hampir berpikir dia Gay karena tidak pernah pacaran, persis sepertiku.
Bukan berarti aku tidak normal, aku hanya tidak pernah nyaman dengan cowok manapun selain Kakakku.Tidak, kenyataannya satu-satunya orang yang membuatku terkungkung adalah dia dan sekarang saatnya keluar dari zona buruk itu.
"Oke," kataku melempar tubuh dalam satu hantaman ke kursi mobil tanpa penolakan. Nick masuk setelahnya, duduk di kursi kemudi dan mobil melaju membelah jalan, meninggalkan taman yang menggugurkan daun dari pohon di belakang.
"Saat malam pesta itu, kau dan Simon terlihat mengenal dengan baik. Kalian pernah punya hubungan?"
Tidak sampai 2 menit duduk dan pertanyaan ini kudengar disini, setelah sekian lama akhirnya ada seseorang yang bertanya tentang Simon padaku kecuali Jennie. Kupikir hari itu aku akan dibully karena banyak mahasiswi beken di kampus yang melihat kejadian memalukan itu, namun rupanya tidak ada satupun yang pernah mengajukan pertanyaan, kecuali wajah penasaran orang-orang setiap kali aku melewati koridor dan kantin kampus.
"Dia hanya menolongku dan siapapun bisa menolong selama kita membutuhkan bantuan kan?" kataku tidak melihatnya. Nick terdiam. Aku yakin ada banyak pertanyaan yang mengganjal namun tidak ditanyakan. Dia memilih mengambil obrolan lain.
"Aku dengar kau suka sekali merawat mawar, warna apa yang kau suka?"
"Aku bukan penggemar berat mawar, tapi aku hanya suka merawatnya karena itu bunga yang Ibuku suka." Aku bersandar pada punggung kursi, menatap ke luar jendela yang penuh orang-orang lalu lalang. Anak kecil yang membawa kardus cerry mengingatkanku pada masa kecil sebelum bertemu Kakakku, dimana hanya ada Ibuku dan buah Cerry dalam duniaku yang bahagia.
"Kupikir kau suka mawar."
"Aku suka bunga apapun selama bukan bunga busuk," tanggapku tertawa. terkadang aku bisa menjadi seperti Kakakku yang bercanda dengan cara yang aneh.
Nick tertawa.
"Yah, itu bukan bunga terbaik yang bisa diberikan. Nick memutar mobilnya ke kiri. Kami berhenti di Hotel LA Grand yang menampilkan sisi gemerlap dari gedung 50 lantai dengan pintu-pintu elektronik bergeser membuka untuk memperlihatkan kilau eksotik di dalamnya. Ada banyak bar dan spa dengan asap mengepul dari tabung kaca di atas meja-meja berbaris tiap tangga.
Kami naik ke lantai 40 melalui lift kaca yang memperlihatkan seluruh bagian gedung di bawah. Aku belum pernah kesini, namun kuyakin Nick sudah berulang-ulang kali. Dia tidak terlihat canggung sedikitpun.
Ketika pintu lift terbuka, plakat yang bertuliskan New Bird tertempel di pintu kiri dari lorong. Nick membuka gorden pembatas untukku masuk. Gadis cantik berkulit coklat, memegang topi baseball yang tidak dipakai di tangan langsung memeluk Nick begitu kami sampai, dia juga memelukku dengan wajah berkesan, namun terlalu ramah untuk orang yang baru pertama di temui.
"Ini temanku, Selena."
Nick memperkenalkan. Aku tersenyum kikuk menanggapi wanita berlesung pipi berdahi tinggi itu. Dia menggenggam tanganku dengan hangat, menyerahkan sesuatu disana.
"Akhirnya setelah sekian lama Nick membawa perempuan baik-baik kesini."Aku melihat kertas kosong tak terisi. Dengan wajah ber oh ria, karena tidak mengerti maksudnya.
"Ini untuk apa?" tanyaku penasaran.
"Untuk kau menuliskan kesan buruk dari cowok disampingmu selama kalian bersama," jawabnya tertawa mengejek terang-terangan pada Nick yang tidak menanggapi terlalu serius.
"Memangnya selama ini cewek seperti apa yang kubawa,"tanya Nick ulang. Si gadis lesung pipi mengangkat bahunya, membuat senyum Nick mengembang dan menarik tanganku menjauhkan dari temannya yang bergumam tidak jelas di belakang. Setahuku Nick belum pernah punya pacar tapi dia banyak membawa perempuan aneh kesini? Ya, bisa jadi itu temannya yang super high class itu. Menjadi populer bisa membuat orang lain salah paham.
Bisa jadi.
Sebenarnya aku tidak nyaman disini. Gaya hidup gemerlap bukan gayaku sama sekali,selama ini alasanku tertinggal dalam pergaulan kupikir karena ini, karena gaya hidupku yang monoton dan tidak pernah berbaur.
Tapi berbaur dengan cara seperti ini? Baikkah?
"Mau berdansa?" Nick mengagetkanku disamping. Sebentar tadi dia kemeja konter dan kembali dengan 2 minuman di tangan. Menyodorkan satu untukku.
"Ini bisa meredakan stress."
Aku menatap Alcohol dalam gelas. Rasa mual menyebar di perut. Meskipun Kakakku cowok b******k yang bergonta ganti pacar tapi belum pernah sekalipun dia menawarkan sesuatu yang bisa merusakku. Apalagi yang bisa merusakku selamanya.
Aku menyambut gelas itu dengan senyum yang kupaksakan. Bukan saatnya memikirkan Kakak yang hampir berpikir aku gila sekarang. Meskipun aroma jeruk dari salah satu pengunjung kembali membuatku merindukannya.
"Terima kasih," kataku akhirnya, membuat Nick meraba tengkuknya dan berujar.
"Sepertinya kau benar-benar sedang banyak pikiran seperti yang kupikirkan. Ada sesuatu yang mengganggumu beberapa hari ini?"
Aku menatapnya. Menggeleng.
"Tidak. Semua orang bisa stress kan?" Seperti jawaban sebelumnya, aku tidak pernah terbuka pada siapapun kecuali Jennie.
"Minumlah, itu yang terbaik disini."
Aku tertawa, gugup dan merasa telah terjerembab ke jalan yang salah.
"Aku akan meminumnya sebentar lagi," jawabku melihat ke arah lain. Bau rokok dan alcohol bercampur menjadi satu, membuat perutku melilit. Selama ini aku tidak pernah menerima minuman dari siapapun tapi hari ini aku menerimanya dari Nick?
Tangan kumasukkan ke kantong baju berbentuk beruang tidur. Hari ini aku mengenakan celana jeans putih dan atasan berbentuk hodie bahan tipis dengan kedua kantong yang melekat di sisi resleting.
Rasanya wajah Nick terlihat lebih tegang dari biasanya.
"Sebenarnya aku sejak lama tertarik denganmu tapi Jason lebih dulu mengatakan menyukaimu jadi aku mundur dengan sportif untuk temanku."
Aku berpaling dari keramaian, menatap mata biru Nick yang terlihat seperti biru dari samudra. Dia meraih tanganku dan mengenggam erat.
"Menurutmu bagaimana?"
Bingung menghujam kepala. Aku menggaruk dengan pikiran amburadul, lalu berharap tidak pernah berada di posisi ini sekarang, tidak pernah menyetujui ajakannya tadi sore.
"Aku.."
Aku ingin mengatakan bahwa aku tidak bisa berkencan dengan cowok yang menjadi teman dari orang yang pernah kutolak ditambah itu Nick, cowok tipe semua orang tapi bukan tipeku.
Lalu tipemu seperti apa? Kalimat pertanyaan Jennie terus terngiang di kepala. Datang dan pergi dalam satu kali kilasan.
'Aku ingin kau fokus ke kuliahmu sister, jangan berpikir terlalu berat' kalimat dari Kakakku juga muncul seperti air bah dalam kolam.
Dia bilang aku jangan terlalu stress, tapi sekarang aku sedang kacau dengan pilihan yang kubuat gegabah.
Aku menatap mata Nick yang bersungguh-sungguh, hampir menjawab kata iya namun sebuah tangan lebih dulu menarikku hingga hampir membuatku melompat karena kaget. Kakakku yang melakukannya.
Bagaimana dia bisa disini? Mataku melebar, melihat wajah yang membias dari lampu neon kerlap kerlib bar.
"Aku perlu berbicara denganmu. Bisakah kau ikut aku?"
Tidak bisa melawan. Aku mengikutinya dengan senang hati dan resah sekaligus. Ada satu sisi yang membuatku tenang karena membawaku lari dari Nick lalu dilain waktu ketakutan mengisi seperti cerobong asap di otak saat menyadari dia bisa saja marah karena melihatku keluyuran tanpa Jennie.
"Hei, dia sedang berbicara denganku. Bisakah kau melepasnya?" ucap Nick tidak terima. Kakakku menanggapi dengan terlalu santai namun tanpa senyuman.
"Dia adikku, hak-hakku mau membawanya kemana."
Nick terdiam.
Aku terkejut tak percaya karena mengakuiku di depan orang lain. Selama ini tidak pernah sekalipun dia repot-repot menjelaskan identitasku ke orang-orang kecuali kepada pacarnya yang menginap di rumah. Itupun jika mereka menanyakan.
"Oh satu lagi." Dia mendekat ke telinga Nick. "Dia memang Adikku, tapi bukan adik kandung, jadi kuharap kau menjaga jarak dengannya karena aku bisa menikahinya kapan saja yang kumau." Dia berbisik namun aku bisa mendengarnya dengan jelas. Tanganku ditariknya, terakhir kalinya kepalaku berpaling ke belakang, menatap Nick yang tidak bersuara sedikitpun, kaku seperti patung.
"Nah, karena kita sudah sampai dirumah bisa kau jelaskan apa yang kaulakukan dengan Nick di hotel Grand? Kau sungguh berkencan dengannya? Dia tipemu?"
Baru 2 langkah memasuki pintu rumah Kakakku sudah mulai melemparkan berbagai pertanyaan bertubi-tubi. Di mobil tidak ada satupun kata keluar namun disini dia terdengar cerewet, seperti nenek memergoki cucunya jalan dengan preman di gang sebelah.
"Aku mau kencan atau bukan kupikir itu hak ku. Lagian Nick orang yang baik, semua orang akan mengejekku tidak normal jika menolaknya." Antara jujur atau tidak, cukup aku yang tau.
Kakakku mengacak pinggang. "Tapi dia menawarimu Alcohol. Kau tau bukan resikonya?"
Dia mengkhawatirkanku karena itu, bukan hal lain rupanya.
"Memangnya apa yang salah? Lagian belum tentu aku akan meminumnya."Dingin, tanggapanku seperti itu. Kulit pucatnya merona, kuharap dia memang marah, aku akan senang jika dia melakukan itu.
"Kau tidak pernah meminum Alcohol."
"Aku hanya akan memegangnya tapi aku tidak akan pernah pernah meminumnya."
"Memegang berpotensi untuk meminum, sama seperti berkeringat berpotensi untuk mandi."
Aku tau aku salah, tapi tatapannya membuatku tidak ingin mengalah!
"Itu terserahku. Bisakah jangan mencampuri urusanku lagi? Aku lelah terus-terusan seperti ini. Aku juga ingin bebas, ingin seperti orang lain, aku ingin bahagia."Saat aku mengatakannya rasanya air mataku hampir merebak. Bukan, bukan kebahagian seperti itu yang kudambakan tapi kebahagian seperti dulu, saat pertama kali kami bertemu. Saat orang tua kami belum menikah. Hanya itu.
"Kau berbohong."
"Selalu seperti itu. Memangnya Nick tidak pantas? Dia tampan, kaya, dan punya semuanya. Apa salahnya? Dan ditambah dia bukan cowok b******k yang suka gonta ganti pacar sepertimu."Rumah terang namun hatiku memburuk. Karena bisa melihat wajah patah hatinya dengan jelas.
Dia patah hati? Memangnya dia menyukaiku!
Aku tertawa miris melihat pantulan wajah sendiri di cermin. Bukan dia yang patah hati tapi aku!
"Tetap dia tidak pantas untukmu."
Seharusnya dia marah, seharusnya dia cemburu dan seharusnya dia memelukku sekarang bukan menjawab tanpa emosi sedikitpun yang terselib disana, seolah itu hanya kepedulian seorang Kakak untuk adiknya.
Tanganku teremas dalam genggaman.
"Lalu orang seperti apa yang pantas untukku?"
Wajahnya tak terbaca, aku frustasi setengah mati.
"Tidak ada.."
Aku menarik napas. Harapan sebentar tadi sirna, berharap dia menjawab dialah orangnya itu tidak mungkin sama sekali. Lagian seharusnya aku waras sedikit saja, membiarkan hatiku menangis untuk lelaki yang tiap hari membuat jantungku hampir masuk jurang benar-benar pilihan yang buruk.
"Kalau begitu tolong biarkan aku memilih. Aku akan berkencan dengan Nick dan kuharap kau tidak menghalangiku lagi. Kita selesai berbicara hari ini." Mataku sudah tak sanggup menatapnya, satu menit terlambat dan semuanya akan merembes keluar.
Sudah, tidak usah menangis. Jangan jadi gadis bodoh!
"Tetap kau tidak boleh berkencan dengan Nick atau siapapun."
Langkahku berhenti, tubuhku berpaling, air mata yang kutahan jatuh ke pipi dengan sendirinya.
"Memangnya kenapa? Kenapa kau begitu melarangku bersama semua orang? Kau tidak punya hak!"
"Aku punya. Kau Adikku dan aku berhak mengaturmu dengan peraturanku."
"Hanya itu?" Lirihku.
"Iya, hanya itu."
Napasku berhembus keluar, tidak percaya bahwa Kakak yang tenang adalah orang yang seperti ini. Dia benar, namun dalam beberapa hal aku berharap bukan itu alasan dia melarang.
"Setidaknya jika ingin melarang berikan alasan yang lebih baik agar aku tidak membuang air mataku dengan percuma." Aku menghapus jejak air mata di pipi dan berlalu meninggalkannya yang mematung, termangu sendirian.
Tanganku menutup pintu dengan keras hingga kuingin dia mengetok dan marah-marah. Aku lebih suka dia memberontak, lebih suka dia bersuara lantang, dengan begitu aku juga bisa membaca wajahnya dengan mudah. Marahkah, cemburukah, sedihkan?
Wajahku mencari bantal, terisak dalam diam.
***
"Hy Simon, kau bisa melihat sesuatu di jariku?" Gadis kecil hampir remaja berkepang dua itu melemparkan kotak kacang pada remaja laki-laki yang sedang mengamati semut berbaris menuju pohon. Simon mengambil kotak kacang dan melemparkan kembali ke si gadis kecil yang pontang panting karena tidak bisa menyambut dengan baik.
"Memangnya apa yang ada di jarimu?" tanyanya dengan polos.
"Coba lihat deh. Warna pink di kukuku," ucap si gadis dengan malu-malu. Semburat merah menyebar di wajahnya dan itu membuat Simon heran setengah mati. Dia mendekat, meraba tangan gadis itu untuk di lihat lebih dekat.
"Aku hanya melihat warna pink seperti yang kau sebutkan. Ini apa?"
"memangnya kau tak tau? ini cat kuku. Sedang ngetren di kalangan anak cewek sekarang." jelas gadis itu dengan geram karena sahabatnya kudet luar biasa.
"Oh." Hanya itu saja tanggapan Simon lalu bergegas kembali ke barisan semut yang ditinggalkan demi gadis berambut hitam itu. Lena menatap kesal dan menghentak-hentakkan kakinya ke tanah, membuat barisan semut berantakan.
"Hei kau mengacaukannya."
"Biarin! Lagian kau sudah gede tapi masih main dengan semut," kata gadis itu tak mau kalah.
"Umurku belum 15 Tahun. Aku masih masuk dalam kategori anak-anak."
"Itu udah masuk remaja tau! Memangnya kau tidak malu dengan Dexon yang sudah punya pacar umur segitu?"
"Memangnya apa pentingnya pacar? Aku tidak berniat pacaran hingga dewasa. Aku Cuma ingin menikah dengan wanita yang kucintai kelak."
Lena terdiam, kuku merah jambunya di sembunyikan di belakang punggung.
"Memangnya wanita seperti apa yang akan kau nikahi?" tanyanya dengan penasaran teramat sangat. Simon menatap langit, berpikir.
"Entah. Tapi yang pasti dia harus berambut hitam."
Wajah gadis kecil itu bersinar merah. Dia meraba pipinya, merasakannya memanas.
"Lalu?"
"Matanya juga harus hitam."
Pipinya bukan lagi merona tapi seperti kepiting rebus sudah.
"Lalu?"
Simon memegang dagunya. Berpikir lagi-lagi.
"Lalu dia harus cantik, punya kulit halus, tinggi proporsional, langsing, pintar, dan perfect."
"Simon!!"
Gebukan tangan mungil bertubi-tubi mendarat di punggungnya. Lena telah memukulnya tanpa belas kasihan dan membuat tubuh Simon memerah, namun Simon tertawa, memegang perut.
"Memangnya apa salahku mengatakan tipe idaman. Kau yang meminta."
"Jahat! Kau jahat!"
Percakapan tak berujung itu terus terjadi diselingi tawa Simon yang makin menjadi. Lena kecil terus menerus mengumpat hingga suaranya serak esok hari. Kebun kering itu sebagai saksi bisu persahabatan dan awal kisah pahit mereka di mulai. Tidak ada yang menyangka bahwa masa indah itu berakhir rumit setelah beberapa bulan kemudian.
Kisah yang membawa kehidupan keduanya menjadi tragis dan memilukan.