Malam sudah larut, tepatnya pukul sebelas Arga baru saja sampai di rumah. Lelaki itu baru saja selesai mengurus apa saja yang dibutuhkan saat menikah nanti. Mulai dari tempat, dekor, catering dan masih banyak lagi, Arin ingin acara pernikahan yang mewah. Bahkan wanita itu sendiri yang memilih hotel tempat acara itu berlangsung. Arga hanya bisa menurut tanpa berkomentar apapun, terlebih ibunya juga ikut turun tangan. Keinginan seorang perempuan jika tidak terpenuhi, nantinya hanya membuat masalah. Itu sebabnya Arga memilih untuk mengalah dan menurut, meski begitu pikirannya benar-benar tidak tenang. Ia masih belum rela jika nantinya harus kehilangan Naima. "Huft, hari yang sangat melelahkan." Arga memegangi tengkuknya yang terasa begitu pegal. Lelaki itu baru saja sampai di rumah, melihat

