"Mana ada kegadisan bisa dikembalikan, ternyata selain kampungan, pikiranmu juga ngawur," ucap Rianty. Berusaha menahan emosinya, padahal ucapan yang Naima lontarkan mampu membuat darahnya mendidih.
"Mama bilang aku ngawur, padahal yang mama lakukan juga ngawur," sahut Naima.
Rianty menyunggingkan senyumnya. "Saya tidak ngawur, itu adalah tradisi di keluarga saya. Siapa saja yang telah bercerai, maka harus mengembalikan apapun yang sudah diberikan. Terlebih dia seorang istri, jadi kamu harus melakukannya."
"Tradisi itu sudah lama tidak digunakan, mama sengaja mau membuat .... "
"Siapa bilang tradisi itu tidak digunakan lagi, nyatanya sampai sekarang tradisi itu masih berlaku." Rianty memotong ucapan Naima. Sejenak wanita berhijab itu terdiam, ia harus bisa memutar otak untuk melawan ibu mertuanya.
"Oh, tapi yang mas Arga katakan. Katanya tradisi itu sudah tidak berlaku lagi," ucap Naima. Ia dapat melihat jika sang ibu mertua tengah menahan amarahnya.
"Kamu jangan percaya dengan Arga, dia itu tidak tahu apa-apa. Pokoknya saya tidak mau tahu, setelah Arga dan Arin resmi menikah. Kamu harus mengembalikan apa yang sudah Arga berikan padamu," tegasnya. Rianty menatap tajam menantunya itu.
Setelah itu Rianty melangkah meninggalkan menantunya yang masih terdiam. Naima menghela napas, ibu mertuanya memang tidak bisa diremehkan. Karena sejak Naima menikah dengan Arga, orang pertama yang menentang pernikahan mereka adalah Rianty. Namun wanita itu terpaksa menyetujuinya, karena semua itu sudah menjadi keputusan ibunya.
"Ya Allah kepalaku." Naima menjatuhkan bobotnya seraya memegangi kepalanya yang kembali didera rasa sakit. Bahkan setiap kata-kata yang ibu mertuanya lontarkan masih terngiang-ngiang di telinga. Hal tersebut membuat rasa sakit di kepalanya semakin menjadi.
"Aku harus kuat, aku tidak boleh lemah." Naima memaksa untuk bangun dan melangkah menuju ke kamarnya. Saat rasa sakit menyerang, Naima harus meminum obat agar rasa sakit itu reda.
Naima terpaksa menyembunyikan semua itu karena rasanya percuma jika suaminya tahu. Toh selama tinggal satu atap Arga tak pernah menaruh rasa simpati padanya. Padahal selama ini Naima berusaha untuk menjadi istri yang baik. Posisinya sebagai istri memang tidak pernah diinginkan, mungkin itu alasannya kenapa Arga selalu cuek.
***
Waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh siang, namun pengantin wanita tak kunjung datang. Padahal Arga dan keluarganya sudah mempersiapkan semuanya. Mulai dari dekor, hotel, catering dan masih ada lagi, semua itu telah dipersiapkan sedemikian rupa. Namun ketika ijab kabul hendak dilangsungkan, pengantin wanita justru tidak datang.
Arga sudah berusaha untuk menghubungi nomor Arin, calon istrinya. Namun nomor ponselnya tidak aktif, hal tersebut membuatnya frustasi. Arga sampai menyuruh orang untuk mencari keberadaan Arin. Mulai mencarinya di rumah orang tuanya, sampai apartemen tempat wanita itu tinggal jika kedua orang tuanya sedang berada di luar negeri.
"Arga bagaimana? Apa sudah ada kabar tentang Arin." Pertanyaan yang Rianty lontarkan mampu membuat Arga menoleh. Lelaki berjas hitam itu tengah gusar lantaran calon istrinya tidak ditemukan. Orang yang sudah Arga kerahkan untuk mencari keberadaan Arin ternyata tidak bisa diandalkan.
"Belum, ma." Arga menggeleng. Ia kembali sibuk dengan benda pipih miliknya.
"Bagaimana ini, mama tidak ingin malu gara-gara pernikahan kamu gagal," ucap Rianty yang membuat pikiran Arga bertambah ruwet.
"Arga, supaya keluarga kita tidak menanggung malu. Menikahlah dengan Naima, dia gadis yang baik, nenek yakin Naima bisa menjadi istri yang .... "
"Ibu apa-apaan sih, ibu sadar nggak kalau Naima itu tidak sederajat dengan kita. Dia hanya anak pelayan." Rianty memotong ucapan ibunya. Mendengar itu Sukma, nenek Arga hanya menghela napas.
"Kalau kamu masih memikirkan kasta serta status kita dengan Naima. Silahkan saja kamu tanggung sendiri rasa malu keluarga kita, apa kamu tidak berpikir sedikit saja. Arin pergi tanpa ada kabar, padahal dua jam yang lalu seharusnya ijab kabul sudah berlangsung." Sukma menatap Rianty dengan tatapan yang tajam, berharap putrinya itu mau mengerti.
"Tapi, bu. Naima itu kan .... "
"Naima gadis yang baik, ibu sangat yakin dia bisa menjadi istri dan menantu yang baik juga. Ibu sangat mengenal Naima, pribadinya yang baik sama seperti almarhumah ibunya." Sukma memotong ucapan putrinya, seketika Rianty bungkam. Ibunya memang sangat menyayangi dan membanggakan Naima, padahal gadis itu hanya anak pelayan. Tetapi Sukma sudah menganggapnya seperti cucu, bahkan ia rela menyekolahkan Naima sampai ke universitas.
"Arga, bagaimana." Kali ini Sukma melontarkan pertanyaan kepada cucunya. Seketika Arga mendongak, menatap nenek serta wanita yang berdiri di sebelahnya itu.
"Terserah nenek saja." Arga pasrah, pikirannya yang sudah frustasi memilih untuk menurut. Toh kecantikan Naima tak kalah dengan Arin, meski kedua wanita itu sangat berbeda.
"Ya sudah, ijab kabul kita laksanakan sekarang juga. Naima, ayo sayang." Sukma menuntun Naima menuju ke pak penghulu. Naima terlihat begitu cantik dengan kebaya berwarna putih tulang yang melekat di tubuhnya itu.
Kini Naima dan Arga sudah duduk berhadapan dengan pak penghulu. Perlahan pak penghulu menjabat tangan Arga, setelah itu ijab kabul pun dimulai. Hanya dengan satu tarikan napas saja, Arga berhasil melafazkan janji suci tersebut. Kini Naima dan Arga sudah sah menjadi suami istri, walaupun keduanya belum memiliki buku nikah karena pernikahan yang mendadak itu.
"Maaf karena nenek, kamu harus ikut terlibat. Tapi kamu tidak perlu khawatir, setelah nanti Arin kembali, aku pasti akan melepaskanmu, kamu akan bebas dari pernikahan ini. Dan ingat jangan pernah bermimpi untuk bisa menjadi istri dan menantu di keluargaku," ucap Arga tepat di telinga Naima, wanita yang baru saja ia halalkan. Mendengar itu Naima hanya diam seraya menahan sakit di hatinya. Jika nenek Sukma tidak memohon, Naima juga tidak ingin berada di posisinya seperti saat ini.
"Kamu tidak perlu khawatir, tuan Arga yang terhormat. Saya juga tidak pernah menginginkan untuk berada di posisi ini. Tapi keluarga anda sendiri yang memaksa saya untuk menempati posisi ini," sahut Naima. Meski ia hanya anak pelayan, tetapi Naima tidak pernah terima jika diremehkan seperti saat ini.