"Arin, kamu benar-benar keterlaluan. Aku tidak suka kamu memperlakukan Naima seperti itu. Seharusnya kamu berterima kasih karena Naima sudah memberi ijin untuk kita menikah, tapi seperti ini balasan kamu," geramnya. Arga tidak habis pikir kalau Arin bisa setega itu, ia benar-benar tidak rela jika Naima dijadikan pelayan di hari pernikahan keduanya nanti.
"Baik, aku bersedia." Naima menjawab dengan mantap, hal tersebut membuat Arin serta Rianty tersenyum bahagia. Tapi tidak dengan Arga, lelaki itu menggeleng tak percaya mendengar jawaban dari istrinya.
"Naima, kamu tidak perlu melakukan itu. Mas tidak rela kamu menjadi pelayan," ujar Arga. Lelaki itu melangkah mendekati istrinya, ia tahu jika Naima terpaksa menerima syarat yang Arin ajukan.
"Arga sudahlah, Naima aja setuju. Tapi kenapa kamu seperti itu, lagian dia pantas kok jadi pelayan, asalnya aja anak pelayan. Cuma lagi beruntung aja nikah sama kamu," ucap Arin. Jujur ia kesal melihat Arga yang begitu perhatian kepada Naima.
"Arin, pernikahan kami terjadi juga ulah kamu. Kenapa kamu pergi saat kita akan melangsungkan ijab kabul, jadi kamu jangan salahkan Naima. Kamu tidak tahu kan bagaimana malunya .... "
"Arga sudah, masalah itu jangan dibahas lagi." Rianty memotong ucapan putranya, seketika Arga diam.
"Naima kamu kenapa?" tanya Arga dengan raut wajah khawatir, ketika melihat istrinya tiba-tiba memegangi kepalanya.
"Enggak apa-apa kok, mas. Cuma sedikit pusing saja," sahut Naima. Ia berusaha tetap tenang dan bersikap biasa meski sakit dikepalanya kembali mendera.
"Sudah selesai kan? Dan semuanya sudah jelas. Kalian bisa menentukan kapan tanggal pernikahannya, mas aku minta tolong nanti anterin Alifah ya," ucap Naima kemudian. Rasanya ia sudah tidak kuat lagi untuk berdiri.
"Ya sudah nanti mas yang akan anterin Alifah. Alifah sekarang kamu siap-siap ya, nanti papa yang anterin." Arga menoleh ke arah putrinya yang sedari tadi hanya diam.
"Iya, pa." Alifah mengangguk, setelah itu Naima beranjak untuk menyiapkan bekal yang biasa di bawa oleh putri serta suaminya.
"Kalau gitu mama langsung pergi, soalnya ada janji sama temen. Mau arisan juga," ucap Rianty. Lalu beranjak meninggalkan ruang makan tersebut.
"Arga, aku ikut kamu ya. Kita perlu membicarakan tanggal pernikahan .... "
"Masalah itu kita bicarakan besok saja, hari ini jadwal aku di kantor cukup padat. Tolong mengerti," potong Arga dengan cepat. Mendengar itu Arin langsung mendengus kesal.
"Ya udah, kalau gitu aku duluan." Arin melangkah meninggalkan Arga yang masih berdiri di samping meja makan.
Selang beberapa menit Naima kembali dengan membawa dua kotak bekal. Satu ia masukkan ke dalam tas Alifah dan yang satunya dimasukkan ke dalam tas kerja Arga. Setelah itu Arga dan Alifah segera berpamitan karena hari sudah siang.
***
Keesokan harinya, seperti biasa setiap pagi Naima disibukkan dengan pekerjaan rumah. Setelah memasak, wanita itu mulai menyiapkan segala kebutuhan suami serta putrinya. Selagi masih menjadi istrinya, Naima ingin berbakti kepada Arga, walaupun hati dan pikirannya sudah disakiti. Tetapi ia tidak ingin menjadi istri durhaka.
Di kamar Arga tengah sibuk memakai pakaiannya, hari ini ia ada meeting mendadak. Dan mungkin setelah meeting nanti baru bisa menemui Arin, jujur hatinya benar-benar tidak tega jika harus menyakiti Naima dengan pernikahannya. Tapi semua itu sudah menjadi pilihannya, dan juga keinginan ibunya.
"Masih berantakan, mas." Naima yang sengaja mengecek sang suami, seketika mendekat ketika penampilan Arga masih berantakan.
"Naima, kamu adalah istri paling sempurna yang pernah aku temui." Arga membatin, bahkan lelaki itu sibuk menatap wajah ayu istrinya.
"Sudah selesai." Naima beralih mengambil jas, lalu membantu sang suami untuk memakainya.
"Terima kasih ya, sayang." Arga mendaratkan kecupannya di kening Naima, seketika wanita berjilbab biru itu terdiam lalu tersenyum.
"Sama-sama, mas. Buruan turun, Alifah udah nungguin," ucap Naima. Setelah itu keduanya bergegas turun ke bawah.
Usai sarapan, Arga dan Alifah bergegas untuk pergi. Agar putrinya dekat dengan ayahnya, Naima membiarkan Alifah berangkat sekolah diantar oleh Arga. Kini ayah dan anak itu sudah memasuki mobil, perlahan kendaraan roda empat yang mereka naiki melaju meninggalkan halaman depan rumah.
"Mas, tolong jaga dan sayangi Alifah. Bagaimanapun juga dia putrimu, darah dagingmu," ucap Naima. Baru saja ia akan masuk ke dalam rumah, tiba-tiba sebuah mobil datang dan berhenti tepat di halaman depan.
"Mama, untuk apa mama datang ke sini." Naima bergumam ketika melihat ibu mertuanya datang.
"Ma." Naima menyalami ibu mertuanya seperti biasanya. Meski selalu mendapat respon tak menyenangkan, tetapi Naima tetap menghormati Rianty sebagai ibu mertuanya.
"Silahkan masuk, ma." Naima mengajak ibu mertuanya untuk masuk ke dalam. Tanpa sepatah kata Rianty melangkah masuk mendahului menantunya.
"Kedatangan saya ke sini untuk menanyakan tentang pemberian Arga yang harus kamu kembalikan. Mulai dari biaya operasi caecar, operasi pengangkatan rahim, lalu uang nafkah selama kamu menjadi istrinya. Apa semua itu sudah ada," ungkap Rianty. Mendengar itu Naima terdiam sejenak, ibu mertuanya benar-benar sudah keterlaluan. Bukannya apa yang sudah Arga berikan itu adalah kewajiban seorang suami.
"Arga dan Arin akan segera menikah, walaupun katanya kamu meminta waktu tiga puluh hari. Tapi setelah mereka resmi menjadi suami istri, kamu harus secepatnya mengembalikan uang tersebut." Rianty kembali bersuara.
"Untuk mengembalikan semua itu sangat mudah, tapi apa mama bisa mengembalikan kegadisanku yang sudah mas Arga ambil. Mengganti rasa sakit ketika aku bertaruh nyawa untuk melahirkan Alifah di meja operasi. Mengganti rasa lelah ketika harus mengurus Alifah seorang diri, dan mengurus mas Arga yang tak pernah menganggap aku sebagai istrinya," ungkap Naima. Seketika Rianty diam dengan mata melotot, tak menyangka jika Naima bisa berkata seperti itu. Ia pikir menantunya adalah perempuan polos dan juga kampungan, tapi ternyata Rianty salah.