Vania mengangkat wajahnya, menatap pemuda yang berjalan mendekat dan berdiri tepat di hadapannya.
“Kau tidak apa-apa?” Arkan bertanya penuh kekhawatiran. Raut wajahnya benar-benar panik saat ini, seperti orang tua yang mengkhawatirkan anaknya.
Vania mengangguk singkat sebagai jawaban, tangannya masih setia memegang pipinya yang terasa perih. Arkan kemudian menatap garang pada Jessica yang tengah menundukkan kepalanya, entah takut atau malu.
“Kenapa kau menamparnya?”
“Dia menumpahkan makanan d seragamku.” Jessica mengangkat wajahnya, menampilkan ekspresi marah dan merajuk secara bersamaan. Aksi yang cukup mempan jika dilakukan di hadapan pemuda lain, tapi tidak dengan Arkan.
“Hanya itu?” Jessica mengangguk, masih menampilkan wajah merajuknya yang membuat Arkan muak.
“Dan kau menamparnya?” Lagi–lagi Jessica mengangguk, tidak menyadari tatapan marah yang sudah dilayangkan Arkan padanya.
Arkan menghela napas. “Dengar, Jessica, itu hanya makanan dan masih bisa dibersihkan. Hanya karena dia menumpahkan makanan padamu bukan berarti kau harus menamparnya. Aku bahkan yakin Vania sudah meminta maaf padamu. Bukan begitu, Vania?”
Vania mengangguk singkat sebagai jawaban, sambil berusaha sekuat mungkin menghindari bertatapan dengan Jessica. Namun, ternyata Jessica sendiri sudah menatap tajam padanya, seolah ingin membunuhnya hanya melalui tatapan. Beruntung Arkan adalah orang yang peka, maka ia menyadari tatapan Jessica pada Vania.
“Kenapa? Kau ingin menamparnya lagi?” Mendengar kata itu Vania langsung mengangkat kepalanya menatap Jessica.
“Tidak, aku tidak bermaksud begitu.”
“Kalau begitu minta maaf pada Vania sekarang.” Vania dan Jessica sontak membulatkan matanya.
“Tidak perlu. Lagipula yang salah memang aku, karena aku tidak sengaja menumpahkan makanan padanya.” Vania menolak tegas, membuat Jessica sedikit lega karena tidak perlu meminta maaf.
“Tidak, dia sudah menamparmu tanpa alasan yang jelas, jadi dia harus meminta maaf.”
“Tapi.”
“Kau tahu bagaimana aku, kan?” Vania bungkam, ia tahu Arkan adalah tipe orang yang tidak mau menerima penolakan, jika sudah mengatakan ‘iya’ maka itu wajib, tidak boleh tidak.
“Cepat minta maaf.” Arkan menatap tajam pada Jessica. Sementara yang ditatap tak mampu membalas tatapannya.
“Maaf,” ujarnya lirih yang hanya bisa didengar oleh dirinya sendiri. Ia sungguh tidak ingin minta maaf pada Vania, jika disuruh memilih antara membersihkan toilet dan minta maaf pada gadis itu, maka dengan senang hati ia pasti akan memilih untuk membersihkan toilet.
“Apa?”
“Maaf.”
“Kencangkan suaramu!” Arkan berujar tegas, siswi seperti Jessica harus dikasari dulu baru akan menyadari kesalahannya.
“Aku bilang, aku minta maaf. Puas?!” Jessica berteriak membuat seluruh penghuni kantin menatap ke arah mereka. Arkan tersenyum puas, diliriknya Vania yang tampak terkejut mendengar teriakan dari Jessica tadi, sementara Jessica sudah kembali menatapnya dengan pandangan benci.
“Bagaimana, Vania? Kau memaafkannya?”
Vania mengangguk. “Iya, aku memaafkannya.”
“Baiklah, masalah sudah selesai. Ayo kita pergi.” Arkan mengajak Vania pergi yang langsung disetujui oleh Vania. Mereka menghilang di balik pintu meninggalkan Jessica dengan kekesalannya.
Jessica menendang nampan yang ada di dekat kakinya, melampiaskan amarahnya yang sudah membuncah sejak tadi. “s**l!” teriaknya frustasi sambil mengacak–acak rambutnya. Teman–temannya mendekatinya “Kau baik-baik saja?“ Salah satu temannya bertanya takut-takut.
“Baik–baik saja apanya?! Apa penampilanku ini masih tidak cukup bisa menjelaskan bahwa aku sedang tidak baik–baik saja?!” ucapnya emosi membuat semua temannya langsung diam, tak terkecuali seluruh penghuni kantin yang sejak tadi hanya menjadi saksi bisu.
“Apa lihat–lihat?!” Ia kemudian meluapkan amarahnya pada orang–orang yang masih setia menatap kearahnya. Sebelum berjalan keluar dari kantin menuju toilet untuk membersihkan tubuhnya, sementara teman–temannya dengan setia mengekor di belakang.
*****
Vania saat ini sedang duduk di bawah pohon rindang tepat di depan sekolah. Ia sibuk memperhatikan lapangan yang membentang luas di hadapannya. Sementar Arkan sedang ke kantin membeli makanan untuk mereka berdua. Karena Arkan tahu bahwa Vania belum makan sejak tadi, apalagi melihat makanan Vania yang sudah tumpah di kantin.
Terdengar langkah kaki dari arah kanannya, Vania menolehkan kepalanya sekedar ingin tahu siapa yang datang. Arkan mendekat dengan senyum merekah di bibirnya, kemudian duduk di samping Vania dengan bingkisan di tangannya. Ia memberikan satu bungkus nasi untuk Vania. Vania menerimanya, namun tak langsung membukanya. Nafsu makannya hilang gara-gara kejadian di kantin beberapa menit lalu.
“Makanlah selagi masih hangat.” Arkan berujar sambil mulai menyantap makanannya dengan lahap. Sesekali ia melirik ke arah Vania yang tampak melamun sambil menatap lurus ke arah makanannya tak berniat sedikitpun untuk menyentuhnya.
“Kenapa? Kau tidak suka makanannya?”
Vania tersentak dari lamunannya. Ia menggeleng dengan cepat. “Tidak, tentu saja aku suka.”
“Lalu kenapa kau tidak makan?”
“Ini aku sudah memakannya.” Vania memasukkan sesendok nasi ke dalam mulutnya kemudian tersenyum ke arah Arkan, tapi kemudian ia kembali murung sesaat setelah Arkan kembali berkutat dengan makanannya.
Arkan yang menyadari itu kembali bertanya “Kenapa? Apa ada yang terluka?”
“Aku tidak apa–apa, sungguh.”
Arkan yang tidak percaya begitu saja langsung menarik Vania untuk berdiri dan memeriksa tubuhnya. Matanya terbelalak saat melihat bagian punggung Vania.
“Van, ada apa dengan seragammu?”
Vania menolehkan kepalanya menatap Arkan dan mencoba melirik punggungnya “Ada apa dengan seragamku?”
“Ini, kenapa seragammu bisa robek begini? Siapa yang melakukannya?”
“Tidak tahu. Aku tidak tahu kalau seragamku robek.” Vania mengeluh saat berusaha melihat punggungnya tapi kesulitan.
“Kau bisa mengganti seragammu di toilet.”
Tanpa berpikir panjang, Vania segara berlari ke toilet terdekat dan memasukinya salah satu bilik.
“Astaga! Kenapa bajuku bisa robek begini?!” Vania menatap sendu bajunya yang sudah robek secara horizontal sampai ke bawah.
Arkan yang menunggu di luar mendelik mendengar pertanyaan Vania “Seharusnya itu pertanyaanku. Kenapa bajumu bisa robek? Apa yang sudah kau lakukan dengan bajumu?”
“Aku juga tidak tahu. Aku tidak memperhatikannya saat memakainya tadi. Pantas saja orang–orang melihatku dengan tatapan aneh saat berjalan di koridor. Ternyata ini penyebabnya.”
“Kau bisa menggantinya dengan seragam cadanganmu, kau pasti punya, kan?”
“Itu dia masalahnya, seragam yang satunya sudah basah. Bagaimana ini? Apa yang harus aku lakukan?”
"Tunggu sebentar." Arkan segera berlari menuju kelasnya, membuka lokernya kemudian mengambil sebuah baju dari dalam. Setelahnya ia berlari kembali ke toilet tempat Vania, mengabaikan tatapan penasaran orang-orang di sekitarnya.
“Pakailah dulu bajuku, kau tidak mungkin keluar memakai baju yang sudah robek begitu. Aku tidak ingin kau menjadi pusat perhatian dan menjadi selebriti seharian ini.” Arkan sedikit bercanda saat mengatakannya. Tangannya yang memegang seragam terulur ke dalam menunggu Vania mengambilnya. Vania tertawa pelan, ia keluar dari bilik kamar mandi masih menggunakan seragam robeknya dan mengambil seragam yang diberikan Arkan.
Arkan menahan tawanya saat Vania sudah selesai memakai bajunya dan keluar dari kamar mandi. Seragam yang dipakainya terlihat sangat kebesaran di tubuh mungilnya.
“Bajunya kebesaran. Lihatlah, tanganku saja sampai tidak kelihatan.” Vania mengangkat tangannya yang tertutupi oleh lengan baju yang panjang sampai menjuntai ke bawah.
“Aku tahu, tapi mau bagaimana lagi, hanya itu bajuku yang paling kecil. Sudahlah! Ayo kita kembali makan sebelum waktu istirahat selesai.”
“Iya.”
*****