Part 5

1003 Words
Seperti biasa, Vania akan pulang sendiri dengan jalan kaki. Arkan ada rapat dengan anggota OSIS lainnya jadi tidak bisa pulang bersamanya hari ini. Lagipula ia sudah terbiasa pulang sendiri. Arkan pemuda yang baik dan selalu ada untuknya, tapi bukan berarti pemuda itu tak punya kehidupannya sendiri yang harus ia jalani.  Seseorang menarik tangannya tiba-tiba, menariknya menuju g**g yang sempit dan mendorongnya ke dinding. Vania menatap tiga orang di hadapannya, tidak ada satupun di antara mereka yang dikenalnya. “Serahkan semua uangmu,” desak salah satu laki-laki berperawakan tinggi dengan bekas luka di pipi kanannya. “Aku tidak punya uang,” balasnya berusaha tenang. Menampakkan ketakutan di saat seperti ini jelas bukan pilihan yang tepat. Para preman itu terlihat marah. “Jangan bohong. Kau pasti punya uang, berikan sekarang.” Seseorang yang bertubuh tegap mengancam. “Aku serius. Aku tidak punya uang.” Salah satu dari preman itu maju, mencengkeram dagu Vania membuat mereka saling bertatapan. Ia terlihat sangat marah.“ Serahkan sekarang atau kau berakhir tragis,” ucapnya dengan penekanan di setiap kata–katanya. “Tidak mau.” Vania menolak, berusaha melepaskan tangan preman itu dari wajahnya. Ia memukul laki-laki yang mencengkeram wajahnya dengan keras. Laki-laki itu mundur selangkah sambil memegang pipinya, darah segar nampak dari sudut bibirnya. “s**l! Geledah dia.” Ia memerintahkan pada kedua temannya yang langsung menuruti arahannya. Mereka menarik paksa tas Vania, namun gadis itu masih mampu menahannya, mereka saling tarik-menarik. Preman yang terkena pukulan dari Vania tadi merasa jengah melihat adegan tarik–menarik itu, ia maju dan menampar Vania. Vania jatuh tersungkur. Darah perlahan mengalir dari sudut bibirnya, ia meringis pelan. Laki-laki itu menampar pipi kirinya tempat bekas tamparan dari Jessica saat di sekolah tadi. Membuat rasa sakitnya semakin terasa. Ketiga preman itu mulai menggeledah tasnya, mengeluarkan segala isi yang ada di dalamnya berserakan di tanah. Vania bangkit dan menarik paksa tasnya, masih berusaha untuk mempertahankan hak miliknya walaupun perih di pipinya masih terasa. “Kau cari mati rupanya.” Preman yang tadinya sedang asyik mengeluarkan isi tasnya berjalan mendekatinya dan melayangkan tinjunya. Vania refleks menutup matanya rapat. Namun, tidak ada rasa sakit yang dirasakannya, yang ia dengar hanya suara pukulan dan benda jatuh yang diiringi ringisan kesakitan. Ia membuka matanya sedikit untuk mengintip apa yang sedang terjadi, seseorang medekatinya dan menepuk pundaknya. “Kau tidak apa-apa?” Vania membuka lebar matanya, menatap tidak percaya pada pemuda yang sedang berdiri di hadapannya saat ini. Pemuda yang jelas tidak pernah terlintas dipikirannya akan datang menolongnya. Tatapannya beralih pada para preman yang sudah tergeletak tak berdaya di tanah. Sementara seorang pemuda tinggi terlihat sedang menendang–nendang salah satu preman yang sudah sekarat itu dengan emosi. “Sudahlah, Daff, dia bisa mati kalau kau tendang terus seperti itu.” Kevin berujar sedikit jengkel, menasehati Daffa yang seperti kesetanan. Ia terlihat tenang sambil memasukkan kedua tangannya di saku celananya. Meskipun seragamnya sudah kusut di sana sini, yang Vania tidak tahu penyebabnya. Vania tidak sadar sudah berapa lama ia menatap pemuda di depannya, dan seperti menyadari itu Kevin juga ikut balik menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan. Wajahnya datar, namun matanya memancarkan hal yang membuat Vania bingung dan merasa aneh. “Biarkan saja, dia memang pantas mati! Bisanya cuma memalak orang. Dasar tidak berguna!” Daffa masih menendang para preman itu bergantian. Tidak peduli jika para preman itu benar-benar akan mati atau tidak. Bahkan ringisan memohon mereka bertiga ia abaikan. Seakan-akan perlakuannya saat ini saja masih belum cukup untuk menghukum mereka. “Hentikan, Daff." Kevin mulai jengah, dihampirinya Daffa dan menariknya menjauhi tubuh preman yang sudah bersimbah darah akibat ditendang dengan sangat keras. Meskipun enggan, Daffa akhirnya mengikuti perkataan Kevin. Namun, tatapan matanya tetap memandang kesal pada para preman itu yang sudah tak bisa dibedakan lagi wajahnya. Vania melihat sekitar, tidak ada Nabil di sana. Sesuai dugaannya, pemuda itu masih memiliki dendam padanya. Cuma yang ia tidak habis pikir kenapa bisa ada Kevin dan Daffa di sana? Mereka berdua adalah sahabat Nabil. Siapapun yang menjadi musuh Nabil maka jadi musuh mereka juga. Maka tak heran jika Vania tetap waspada pada dua pemuda itu. Ia sedikit menaruh curiga, jangan-jangan ini adalah salah satu cara Nabil untuk mengerjainya dengan mengirim preman untuk mengganggunya. Meskipun begitu, agak sedikit tidak masuk akal jika Nabil mengirim preman juga mengirim orang untuk menolongnya. Mengingat ia tahu persis bagaimana watak pemuda itu. Tak ada ampun bagi siapapun yang pernah berurusan dengannya. Bahkan Vania yakin, pemuda itu bisa saja mengirim pembunuh bayaran untuk menghabisinya. Meskipun begitu bukan berarti Nabil pernah melakukannya, itu hanya pikiran liar Vania saja yang terlalu paranoid dan berlebihan. Sibuk dengan pikirannya sendiri, tanpa Vania sadari Kevin sudah selesai mengambil semua barangnya yang berserakan di tanah dan memasukkannya ke dalam tas. Setelah ia rasa semuanya sudah terkumpul ia mendekati Vania dan menyodorkan sapu tangan berwarna putih. “Bersihkan darahmu pakai ini.” Vania tersentak kaget, ia tidak menyadari kehadiran Kevin di depannya. Kalau bisa, mungkin jantungnya sudah melompat keluar saat ini. Kehadiran Kevin di depannya benar-benar seperti hantu yang muncul tiba-tiba dan tak diundang. “Terima kasih,” ucapnya setelah memenangkan degup jantungnya yang memacu dengan cepat. Ia menerima sapu tangan pemberian Kevin dan membersihkan darahnya yang sudah setengah kering. “Kevin, ayo pulang!” Daffa berteriak dari kejauhan sambil melambaikan tangannya. Entah sejak kapan ia berjalan menjauh dari sana. Ia sudah terlihat sibuk dengan ponsel pintarnya, sambil terkadang mengumpat tidak jelas. Mungkin dia sedang main game dan kalah, begitu pikir Vania. “Sebentar!” Kevin ikut berteriak membalas teriakan Daffa, kemudian kembali menatap Vania. “Aku pergi dulu.” “Iya, terima kasih.” Kevin mengangguk dengan senyuman, kemudian berlari kecil menghampiri Daffa yang belum menyadari kehadirannya. Daffa sedikit kesal saat Kevin merangkul lehernya tanpa peringatan. Mereka kemudian berjalan semakin jauh dari pandangan. Vania masih diam menatap punggung Kevin dan Daffa yang berjalan menjauh, meskipun sosok dua pemuda itu sudah tenggelam di balik dinding. Menyadari kebodohannya, Vania kemudian berjalan kembali menuju rumahnya yang jaraknya sudah tidak terlalu jauh lagi. Ia sedikit melirik para preman yang masih terbaring di tanah. Vania yakin mereka masih sadar, terbukti dengan ringisan kecil yang terdengar dari bibir mereka. Sebelum para preman itu bangkit dan mengganggunya lagi, ia segera melangkahkan kakinya dengan cepat. Selain takut ia juga tak ingin ada yang melihatnya di sana dan berburuk sangka. Meskipun mereka preman, bukan berarti kita bisa menghakimi mereka sendiri. Setelah rumahnya sudah terlihat, ia kemudian memelankan langkah kakinya. Meskipun jarak antara rumah dan sekolahnya dekat, namun tetap saja terasa jauh saat berjalan kaki. *****
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD