Vania lumayan gugup saat sekolah sudah terlihat di depannya. Padahal gedung bertingkat tiga itu masih sama seperti sebelumnya. Sedikit menghela napas kecil sebelum melangkahkan kakinya memasuki gedung.
Seperti biasa, tatapan itu selalu mengiringi langkahnya. Tatapan yang membuatnya seolah-olah seekor rusa yang tak sengaja masuk dalam kawasan para singa. Dalam pikirannya ia hanya mampu menebak-nebak jebakan apalagi yang akan ia terima hari ini. Perlakuan buruk itu akan terus ia dapatkan sebelum Nabil bosan dan mencari target lain selain dirinya.
Tangannya sedikit gemetar saat memutar gagang pintu dan mendorongnya, sambil bersiap menunggu apapun di atas sana menimpa tubuh kecilnya. Namun, tak ada apapun yang terjadi. Saat ia melihat ke dalam kelas, semuanya melakukan kegiatan seperti biasa. Berkumpul dan mengobrol dengan kelompok masing-masing sambil menunggu kelas pertama dimulai.
Masih dengan perasaan was-was, ia melangkah menuju mejanya. Hanya untuk mendapati mejanya yang sudah dicoret-coret dengan spidol permanen. Hanya sebuah coretan, tidak ada kata atau kalimat apapun yang bisa dibacanya. Setidaknya ia bersyukur tidak mendapatkan kalimat yang menyuruhnya untuk mati, seperti yang terjadi di drama yang sering ia nonton.
Tanpa berkata apapun ia mendudukkan tubuhnya di kursi. Menganggap seolah-olah tidak ada yang terjadi, juga mengabaikan tatapan-tatapan tak bersahabat dari segala sisi.
*****
Sebenarnya, Vania ingin sekali menghindari mengunjungi kantin. Namun, perutnya yang lapar membuatnya mau tak mau harus melangkahkan kaki ke tempat itu. Ia mengantri seperti biasa, memesan semangkuk bakso yang menjadi menu andalannya. Setelah menerima pesanannya ia kemudian melangkah menuju meja kosong jauh dari keramaian.
Semua berjalan normal sebelum sekelompok siswi mendekatinya. Salah satu dari mereka dengan pakaian ketat dan rok di atas lutut duduk di samping kanannya. Sambil merangkul sok akrab bahunya, ia tersenyum menampilkan deretan gigi putihnya yang rapi.
"Sendiri saja?" tanyanya dengan senyum yang tak lepas dari wajah cantiknya. Namun sayang, wajah cantiknya tak bisa menutupi sikap buruknya. Beberapa siswi yang mengelilingi mejanya ikut tertawa melihatnya. Seolah ia sedang melakukan pertunjukan sirkus saat ini.
Vania tersenyum kikuk, merasa tidak nyaman. Tidak pernah terbesit dalam pikirannya Jessica dan kawan-kawannya akan mengganggunya di saat ia merasa semua mulai normal. "Iya."
"Kasian, boleh kami gabung?"
Akal sehat Vania berteriak menyuruhnya untuk menolak, ia bahkan sudah mempersiapkan diri untuk menerima resiko apapun dari penolakannya. Namun, alih-alih menyuarakan penolakannya, kepalanya malah mengangguk patuh tanpa bisa ia kendalikan. Ia bahkan kaget sendiri dengan reaksi tubuhnya itu, tapi kemudian ia sadar mungkin itu adalah pilihan yang baik. Menolak hanya akan membuat Jessica dan kawan-kawannya meradang.
Jessica mengangkat tangan kanannya berusaha meraih ponsel yang ia letakkan sebelum duduk di samping Vania. Namun tak sengaja menyenggol minuman Vania yang kemudian tumpah, untungnya tak mengenai makanannya.
"Aduh, maaf. Aku tidak sengaja."
Vania tidak bodoh hanya untuk membedakan mana yang akting dan bukan. Ia tahu Jessica sengaja menumpahkan minumannya. Tanpa melihat ke samping pun ia bisa melihat senyum licik gadis itu.
"Tidak apa-apa, aku bisa beli yang baru." Vania baru saja akan beranjak dari duduknya sebelum Jessica memegang bahunya, mencegahnya untuk berdiri.
"Biar aku yang pesan, kamu duduk saja. Aku traktir sebagai permintaan maaf." Tanpa menunggu jawaban, Jessica memerintahkan salah satu temannya untuk memesan. Mereka saling melempar senyum aneh sebelum kembali menatap Vania.
Tak butuh waktu lama, teman Jessica kembali dengan segelas minuman. Jessica memberikannya pada Vania dan menyuruhnya untuk meminumnya segera. "Minumlah."
Vania sebenarnya sudah tahu ada sesuatu di minuman itu, terlebih saat melihat senyum licik Jessica. Namun, ia tak punya pilihan lain selain meneguknya. Rasa campuran telur mentah, garam dan kecap di dalam minumannya membuatnya mual seketika. Tak tahan ia mengeluarkan semuanya diiringi tawa puas Jessica dan antek-anteknya.
"Selamat menikmati minumannya." Setelah mengucapkan itu Jessica berlalu, meninggalkan Vania dengan perasaan malu dan mual di perutnya.
Kembali ia menjadi pusat perhatian, di waktu dan tempat yang sama.
*****
Setelah membersihkan diri di toilet, Vania segera menuju ruang kelasnya. Berharap dapat mencapai kelasnya tanpa mendapatkan masalah apapun.
Namun, sepertinya Dewi Fortuna tak berpihak padanya dan kesialan selalu menghampirinya. Ia malah bertemu dengan sumber kesialannya, Nabil.
Nabil tak mengatakan sepatah kata pun, hanya gerakan tangannya yang menyuruh Vania untuk mendekatinya.
Vania mendekat dengan degup jantung berpacu lebih cepat. "Ada apa, kak?"
Nabil menyerahkan beberapa buku pelajaran. "Fotokopi buku ini untukku."
"Tapi, kak, kelas selanjutnya sebentar lagi dimulai." Sebenarnya Vania takut menolak, tapi mengingat sebentar lagi kelas dimulai ditambah lagi jarak sekolah dan toko percetakan yang lumayan jauh ia tak punya pilihan lain.
"Kamu pikir bisa menolakku?"
Vania menciut, ekspresi Nabil sekarang benar-benar membuatnya takut. Tanpa berpikir panjang ia segera mengambil buku-buku tersebut kemudian berlari ke arah pos satpam.
"Pak, saya bisa izin keluar sebentar. Ada buku yang ingin saya fotokopi," ucapnya sedikit mendesak. Waktu adalah yang terpenting sekarang.
Pak Yudis melihatnya dengan alis terangkat, sedikit bingung dengan kelakuan siswi di hadapannya. Meskipun begitu ia tetap membuka pagar dan mempersilakannya untuk keluar.
"Terima kasih, pak." Tak ingin membuang waktu, Vania segera berlari menuju toko percetakan yang jaraknya lumayan jauh terlebih lagi letaknya di seberang jalan.
Setelah tiba ia segera menyerahkan buku-bukunya. "Tolong difotokopi, ya, kak."
Sambil menunggu ia duduk di kursi yang memang tersedia di sana, berharap kelas selanjutnya belum dimulai. Matanya sesekali melirik jam yang melingkari tangannya, hanya tersisa beberapa menit sebelum kelas dimulai.
"Bisa dipercepat sedikit, kak? Saya sedang buru-buru," desaknya.
Tanpa menjawab, perempuan muda yang mengerjakan bukunya tersenyum tanda persetujuan. Akhirnya setelah menunggu lama dengan perasaan tak tenang, bukunya selesai juga. Vania segera merogoh sakunya dan mengeluarkan uang. Setelah menerima kembaliannya ia segara berlari menuju sekolah.
Pak Yudis yang sedang berdiri di depan posnya segera membukakan pintu pagar. "Kelas sudah dimulai, dek."
"Tidak apa-apa, pak. Terima kasih." Tanpa menunggu jawaban Vania segera berlari, sebenarnya ia tak suka terlambat tapi sudah nasibnya seperti itu.
Bukannya berlari menuju kelasnya, Vania malah berlari menuju kelas Nabil. Sambil terengah-engah ia mengetuk pintu. Semua pasang mata menatapnya tak terkecuali Bu Naura yang sedang mengajar.
"Permisi, Bu. Saya ingin mengembalikan buku."
"Untuk siapa, Vania?"
Sebelum Vania sempat menjawab, Nabil berdiri dan menghampiri Vania. Tangannya dengan sigap mengambil alih buku-buku di tangan Vania. "Ini buku saya, Bu," ujarnya dengan senyum manis pada Bu Naura seraya berjalan kembali ke mejanya.
Bu Naura menatap Vania yang masih mengarahkan pandangannya pada Nabil yang sudah duduk dengan nyaman di kursinya. Ia tersenyum. "Kamu bisa kembali ke kelasmu sekarang."
Vania mengangguk singkat. "Iya, Bu." Setelahnya ia beranjak dari sana berjalan cepat menuju kelasnya di lantai tiga. Ia sudah sangat terlambat, mustahil baginya untuk diizinkan masuk dan mengikuti pelajaran bersama teman sekelasnya.
Seperti dugaannya, ia dihukum berdiri di depan kelas dan disuruh membersihkan halaman belakang sekolah saat jam pulang. Vania tak bisa apa-apa selain menerima hukumannya itu.
*****