Part 7

1527 Words
Vania sedang menyapu di halaman belakang sekolah di saat siswa dan siswi lainnya pulang ke rumah masing-masing. Sebenarnya ia tak ingin ditinggal sendirian di sana, tapi menyadari ia tak punya teman dekat membuatnya tak punya pilihan. Tak jarang ia merasa iri dengan beberapa teman perempuan yang bisa akrab satu sama lain. Ia selalu ingin bergabung, tapi entah kenapa semuanya seperti tak begitu terbuka padanya. Meskipun ia bergabung, ia tetap terasa seperti orang asing. Salahkan dirinya yang tak begitu pintar bergaul. Di saat Vania sibuk dengan kegiatannya, Nabil beserta Kevin dan Daffa yang memang suka menghabiskan waktu di belakang sekolah saat jam pulang duduk tak jauh darinya. Kevin yang pertama kali menemukan keberadaan Vania. Ia menyenggol lengan Nabil yang tengah sibuk menatap layar ponselnya dengan serius. Nabil mengumpat tanpa suara saat layar ponselnya terdapat tulisan Game Over. Ia sedang asyiknya bermain game saat Kevin menyenggol lengannya yang membuatnya kalah seketika. Ia menatap Kevin dengan kesal. "Apa?" Kevin tak menjawab, tatapan matanya yang mengarah ke suatu tempat membuat Nabil mau tak mau mengikutinya. Matanya sedikit memicing untuk melihat dengan jelas siapa siswi yang masih setia berada di sekolah di jam seperti ini, kecuali mereka bertiga tentunya. "Vania?" tebaknya antara yakin dan tidak. Kevin mengangguk. Sementara Daffa tak memperdulikan mereka dan tetap setia dengan ponselnya. "Kenapa dia masih ada di sekolah?" Nabil memutar matanya. "Untuk apalagi? Untuk menjalani hukuman tentu saja," jawabnya enteng sambil kembali berkutat dengan ponselnya. "Dan penyebabnya adalah kamu?" "Aku kenapa?" Jemari Nabil sibuk di atas layar ponsel, ia menjawab tanpa melihat ke arah lawan bicaranya. Tak menyadari tatapan tak senang yang dilayangkan Kevin padanya. "Kamu yang menyuruhnya ke toko percetakan sampai membuatnya terlambat mengikuti kelas selanjutnya." Mendengar itu, Nabil mendecak tak suka. "Sejak kapan kau peduli padanya?" Daffa yang dari tadi hanya diam saja, mengalihkan pandangannya dari layar ponsel. Menatap Kevin dan Nabil bergantian. Meskipun begitu mulutnya tetap bungkam. "Lupakan." Kevin mengambil ponselnya, ikut bermain game berusaha menghentikan perdebatan yang sebentar lagi terjadi. Sementara Nabil tak terlalu memusingkannya dan kembali dengan game-nya. Diam-diam Daffa bersyukur dalam hati. Perseteruan yang ia pikir bakal terjadi ternyata bisa terselesaikan dengan mudah. Ia bersyukur Kevin memiliki sifat yang berkebalikan dengan Nabil yang mudah tersulut emosi. ***** Vania meletakkan kantong sampah terakhirnya ke dalam tong sampah, sambil menyeka keringatnya yang mengalir deras di pelipisnya. Tangan kirinya sibuk mengipas bagian lehernya yang gerah, sambil dalam hati bersorak senang telah menyelesaikan hukumannya. Saat melihat sekeliling, matanya tak sengaja menangkap tiga sosok pemuda yang duduk tak jauh dari tempatnya. Lebih tepatnya di bawah pohon rindang yang memang ditanam di halaman belakang sekolah. Ia tak menyadari keberadaan mereka bertiga saat sedang menyapu, mungkin karena ia terlalu fokus ingin menyelesaikannya dengan cepat. Vania masih menatap ketiga sosok pemuda di bawah pohon saat seseorang menyadarinya. Ia menatap Vania yang segera mengalihkan pandangannya dan berpura-pura mengecek kantong sampah. Matanya sesekali mencuri-curi pandang, penasaran apakah sosok itu masih menatapnya atau tidak. Saat ia melirik ke samping, yang ia dapat adalah Nabil sudah berdiri tepat di sampingnya. "Cari siapa?" tanyanya dengan nada arogan khas miliknya. Vania tersenyum kikuk. "Tidak ada, kak, cuma ingin memastikan kalau sudah tidak ada lagi sampah yang berserakan." Alis Nabil terangkat, namun tak mengatakan apapun. Matanya dengan setia mengikuti setiap pergerakan gadis mungil di hadapannya yang terlihat begitu gugup. Siapapun pasti tak akan tenang jika seorang Nabil Abimayu menatapnya, apalagi dengan tatapan tajamnya. "Kau masih ada urusan?" Vania tersentak. "Tidak, hukumanku sudah selesai, kak." "Lalu kenapa kau masih di sini?" "Kalau begitu saya permisi, kak." Vania membalikkan badannya dan baru saja akan melangkah saat suara Nabil membuatnya berhenti. "Kau mau pergi begitu saja?" Raut wajah kekesalan Vania tersamarkan dengan senyum yang ia buat seramah mungkin.  Jika bisa ia ingin sekali mengumpat pada sosok di hadapannya sekarang. Siapapun juga pasti akan hilang kesabaran saat berhadapan dengan sosok iblis Nabil. Belum sempat ia menanggapi ucapan Nabil, Kevin memanggil dari kejauhan. Meski raut wajah Nabil menunjukkan keengganan ia tetap melangkah mendekati Kevin dan Daffa yang masih setia dengan ponselnya. Ia menatap Vania tajam. "Tunggu di sini," perintahnya sebelum menjauh. Vania tidak menjawab atau pun mengangguk mengiyakan, dalam hati ia bersorak dan berterima kasih pada Kevin yang telah menyelamatkannya secara tidak langsung. Tanpa membuang waktu lagi ia segera berlari dari sana saat Nabil sudah beberapa langkah dari posisinya, samar-samar ia bisa mendengar u*****n kekesalan Nabil yang mengetahui aksi kaburnya. Senyum merekah di bibirnya, berhasil membuat Nabil kesal seperti ini tidak buruk juga. ***** Vania baru saja duduk di bangkunya saat seseorang mendekatinya, menggebrak mejanya dan meletakkan sebuah ponsel dengan kasar. Suara bising yang ia timbulkan membuat mereka berdua menjadi pusat perhatian seisi kelas. "Apa maksudnya ini?" bentaknya dengan wajah memerah. Beberapa orang mulai berkumpul di belakangnya. Kening Vania berkerut tanda tak mengerti, meskipun begitu ia tetap mengambil ponsel di atas meja dan melihat apa yang ada di dalamnya. Matanya sedikit membulat saat melihat fotonya dan Nabil sedang berduaan di belakang sekolah. Tepatnya saat Nabil mendekatinya setelah ia menerima hukumannya. "Bukannya jawab malah diam. Ini maksudnya apa?!" "Sepertinya kamu salah paham." "Salah paham bagaimana?! Jelas-jelas itu fotomu dengan kak Nabil. Kau mau menggodanya?!" Kelas mulai gaduh. Suara bisikan terdengar di mana-mana. Vania tahu dengan jelas apapun yang keluar dari mulutnya tak bisa meredam emosi mereka. Namun, jika ia tak mencoba menjelaskan mereka tetap akan salah paham. Saat ia berpikir keras bagaimana caranya menjelaskan tanpa menyulut amarah mereka, seseorang angkat suara. "Kalau punya waktu untuk bertengkar bukankah lebih baik kalian gunakan untuk belajar? Sebentar lagi jam pertama dimulai." Kepala Vania menoleh ke belakang diikuti yang lainnya, menatap sosok cantik yang duduk santai di bangku paling belakang dekat jendela. Itu Revha adik kandung Nabil. Sedikit yang Vania tau tentangnya, yang ia tahu sosok itu bukanlah orang yang mudah untuk didekati. Meski tak sekasar dan searogan Nabil, tapi mereka memiliki aura dingin yang sama. Wajar jika ia mendapat julukan Ice Princess. Untungnya, setelah Revha bersuara kerumunan mulai berkurang. Mereka kembali ke bangku masing-masing tak terkecuali gadis yang tadi membentak Vania. Ia mengambil ponselnya, melotot pada Vania sebentar sebelum kembali ke bangkunya. Helaan napas lega terdengar di bibir Vania. Ia beruntung untuk yang kesekian kalinya. ***** "Terima kasih untuk yang tadi." Vania memberikan diri untuk mendekati Revha yang masih sibuk membereskan buku-bukunya ke dalam tas. Tatapan mereka bertemu sepersekian detik sebelum Revha kembali berkutat dengan kegiatannya. "Tidak perlu, yang kulakukan tadi bukan untuk menolongmu. Aku hanya tidak suka ada keributan saat ingin belajar dengan tenang." Meski diucapkan dengan nada datar, Vania tahu dengan jelas jika Revha hanya mencoba untuk memberikan kesan dingin. Gadis cantik itu meskipun dikenal banyak orang, ia tak punya banyak teman di sekitarnya. Berbeda dengannya yang tak pintar bergaul, Revha justru lebih suka menyendiri. Ia tak suka dikelilingi oleh para pemuja kakaknya atau orang-orang yang hanya ingin memanfaatkan otak cerdasnya. Ia selalu memasang dinding penghalang di sekitarnya. Vania tersenyum. Tanpa berkata apa-apa ia berjalan keluar dari kelas. Tujuannya saat ini adalah rooftop, tempat yang tenang dan paling tepat untuk menghabiskan waktu istirahat. Kegiatan yang baru-baru ini ia lakukan setelah kantin dan perpustakaan mulai tak aman untuknya. Perutnya masih penuh untuk diisi, terlebih ia mulai menghindari mengunjungi kantin jika ia tak benar-benar lapar. Tempat ramai itu hanya membuatnya tertimpa kesialan terus-menerus. Napasnya terengah-engah saat sudah tiba di ujung tangga, naik tangga sebanyak tiga lantai ternyata tak semudah yang ia pikir. Ia mendorong pintu besi di depannya yang segera menimbulkan suara berderit tanda jarang dibuka. Udara segar langsung menyambutnya begitu ia melangkahkan kakinya melewati pintu. Vania tak bisa menahan bibirnya untuk tidak tersenyum saat melihat pemandangan lapangan hijau di bawahnya, juga langit biru yang begitu menawan dengan awan putih di atasnya. Semilir angin memainkan rambut tergerainya dengan nakal, namun Vania justru menyukainya. Hal sesimpel ini saja bisa membuatnya begitu bahagia dan melupakan sejenak kejadian tak enak yang selalu menimpanya di sekolah. Ia sedikit menyesal tak membawa serta novelnya, membaca novel sambil ditemani udara segar di atap sekolah bukanlah pilihan yang buruk. Vania menoleh saat mendengar suara, didapatinya Nabil tengah mengarahkan kamera ponsel ke arahnya. Terkejut melihat ada orang lain di sana selain dirinya. Ia pikir tempat itu tak ada yang mengunjunginya selain dirinya. Nabil tersenyum puas melihat ekspresi kaget gadis di hadapannya. Membuat ia dengan mudah mendapatkan foto konyolnya. "Kau cantik sekali di foto ini." Ia menunjukkan hasil karyanya dengan bangga. Vania tak bisa menyebunyikan semburat merah dipipinya saat melihat wajah konyolnya di layar ponsel. Mata melotot dan mulut terbuka ditambah angin yang membuat rambutnya berantakan. Ia terlihat tak ubahnya seorang gelandangan. Tangannya bersiap merebut ponsel Nabil, namun pemiliknya dengan sigap mengangkatnya tinggi-tinggi. "Coba saja ambil kalau bisa." Senyum nakal tercipta di bibirnya melihat Vania yang tidak sabaran ingin merebut ponselnya. "Hapus fotonya, kak." Vania sibuk berjinjit berusaha menyamakan tingginya dengan Nabil, namun ia tahu hal itu sia-sia mengingat perbedaan tinggi mereka yang begitu jauh. "Tidak akan. Foto ini akan ku sebar di seluruh sekolah." Nabil masih sibuk menghindar hingga tak sadar saat melangkah mundur kakinya tersandung dan jatuh. Vania yang berusaha merebut ponselnya tak siap dengan kejadian itu membuatnya ikut terjatuh di atas tubuh Nabil. Ia meringis pelan sambil berusaha untuk bangun, sebelum menyadari Nabil yang terpaku di posisinya. Wajah mereka begitu dekat, sangat dekat sampai bisa membuat bibir mereka bersentuhan jika Vania salah bergerak sedikit saja. Mereka bertatapan cukup lama sebelum Vania sadar dan segara bangun. Ia berusaha menahan malu sambil merapikan seragamnya, sementara di sisi lain Nabil juga melakukan hal yang sama. Keduanya saling membelakangi dengan wajah memerah, sibuk dengan pikiran masing-masing hingga tak sadar bahwa pelajaran berikutnya sudah dimulai beberapa menit yang lalu. *****
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD