Part 8

1074 Words
Suara gesekan antara sapu dan tanah adalah satu-satunya suara yang menemani Vania. Ia sibuk mengomel dalam hati sambil sesekali melirik sosok yang sedang duduk-duduk santai sambil bersandar pada dinding sekolah. Kekehan pelan sesekali terdengar dari bibirnya saat menemukan sesuatu yang lucu di ponselnya. Begitu asyik dengan kegiatannya tanpa mempedulikan pekerjaan yang harus ia selesaikan. "Apa lihat-lihat?" tanyanya saat mendapati tatapan jengkel Vania padanya. Matanya melotot menandakan ketidaksukaan. Vania tak menjawab, helaan napas kesal keluar dari bibir mungilnya sebelum kembali sibuk dengan sapunya. Gara-gara kejadian di atap sekolah, mereka berdua jadi terlambat mengikuti pelajaran selanjutnya dan mendapatkan hukuman. Kalau saja bukan karena Nabil, ia tak akan terlambat dan dihukum lagi. Andai saja ia bisa mengulang waktu, ia tak akan memilih menghabiskan waktu di atap sekolah dan bertemu dengan sosok menyebalkan itu. Ia sengaja memilih atap sekolah karena ia pikir tempat itu adalah tempat yang paling aman di sekolah, tapi ternyata pikirannya salah. Tempat itu justru tempat Nabil dan kedua temannya sering menghabiskan waktu istirahat. Beruntung saat itu ia tak melihat sosok Kevin dan Daffa. Jika tidak maka kesialannya akan berlipat ganda. "Ini semua salahmu." Tiba-tiba saja Nabil sudah ada di sampingnya dan melakukan kegiatan yang sama, ikut membersihkan sampah. Vania mengangkat wajahnya menatap pemuda di sampingnya yang mengayunkan sapunya asal-asalan. Terlihat sekali bahwa pemuda itu melakukannya dengan perasaan tak ikhlas sambil terkadang matanya melirik ke depan. Ia mengikuti arah pandangan Nabil dan mendapati pak Yuda di sana, sedang berdiri menyilangkan tangannya mengawasi mereka berdua. Tatapan pak Yuda seolah-olah berkata agar mereka melakukan tugasnya dengan baik. Padahal saat ia menjalani hukuman kemarin, tidak ada satupun guru yang mengawasi. Mungkin karena hari ini ia bersama Nabil makanya mereka diawasi. Namun, Nabil bukanlah sosok murid pembangkang yang suka berbuat ulah di hadapan guru. Ia memang nakal, tapi nakalnya hanya di kalangan para siswa. Jika ia berbuat ulah, cukup para siswa atau sang ketua OSIS saja yang tahu. Atau jika ia ketahuan, ia cukup mencari kambing hitam. "Ini semua salahmu." Kembali Nabil mengulang kalimat yang sama. "Kenapa jadi aku yang salah?" Nabil mengumpat kesal. "Kalau saja kamu tidak berusaha merebut ponselku, aku tidak akan terlambat mengikuti kelas." "Salah kakak sendiri ambil foto orang tanpa izin." "Salah sendiri kenapa pasang wajah konyol seperti itu. Lagipula kamu, kan sadar saat aku mengambil gambar." Tawa mengejek Nabil tertahan mengingat pak Yuda masih mengawasi mereka berdua. Namun tatapan jailnya jelas terlihat dan membuat siapa saja berang. Ingin sekali Vania menjambak rambut sosok menyebalkan di sampingnya jika saja ia tidak lupa bahwa sosok itu adalah kakak kelasnya. Ditambah tatapan pak Yuda yang tak lepas dari mereka. "Bukan salahku terlahir dengan wajah seperti itu." Bibirnya mengerucut lucu. "Lagipula aku tidak memberi izin untuk mengambil gambarku." "Itu ponselku, jadi aku bebas mau menggunakannya untuk apa. Bahkan untuk mengambil gambarmu yang jelek. Seharunya kau bersyukur ada yang bersedia untuk mengabadikannya." Bibir Vania terkatup rapat, malas menanggapi Nabil yang maha benar dan tidak bisa dikalahkan soal adu mulut. Percayalah jika ia tetap kekeuh dan melawan ucapan Nabil, mereka bahkan tetap tidak bisa menyelesaikannya esok hari, yang ada mereka akan terus berdebat hingga ada yang mengalah, dan itu jelas bukan pilihan Nabil. Nabil sadar dengan perubahan sikap Vania, namun ia berusaha tak memikirkannya. Maka dengan setengah hati ia berusaha menyelesaikan hukumannya agar bisa pulang secepatnya. Kevin dan Daffa sudah pulang sejak tadi. Ia sengaja menyuruh mereka pulang agar mereka berdua tak melihat sosok menyedihkannya seperti sekarang. Mereka berdua pasti tak akan berhenti menertawakannya jika mereka tahu. Mereka berdua memang tahu jika Nabil sedang menjalani hukuman hanya saja mereka tidak tahu jika hukumannya sama dengan yang dilakukan Vania sebelumnya. Ia yang kemarin sempat mengejek Vania karena dihukum, akhirnya malah menemukan nasib yang sama. Ia sedikit heran, padahal Vania sudah menyapu bersih tempat ini kemarin tapi kenapa sampahnya masih sebanyak itu. Setelah mereka mengumpulkan sampah dan memasukkannya di dalam kantong plastik, Vania bersiap mengangkatnya dan menaruhnya di dalam kotak sampah besar. Namun Nabil buru-buru merebut kantongnya dan mencuri kesempatannya. Vania bahkan tak sempat melakukan apapun dan kantong sampah sudah habis di hadapannya. Nabil melakukan semua pekerjaan itu sendirian. Vania pikir Nabil melakukan itu karena pak Yuda masih mengawasi mereka. Namun saat ia melihat ke arah tempat pak Yuda berdiri, sosok guru muda itu sudah tidak ada di sana. Ia sedikit bingung dengan perubahan sikap Nabil, namun berusaha untuk tidak terlalu memikirkannya. Nabil sudah berdiri di depan keran air dan membasuh tangannya yang kotor, Vania masih berdiri di posisinya sambil tak sadar sudah memperhatikan pemuda itu sejak tadi. Ia baru tersadar saat Nabil berbalik dan memanggilnya. "Kau punya tissu?" tanyanya. Vania bergerak mendekati tasnya dan mulai mencari-cari. Ditatapnya Nabil yang sibuk mengibaskan tangannya. "Aku cuma punya ini, kak," serunya sambil menunjukkan sapu tangan berwarna putih. "Itu juga boleh." Nabil mendekat dan mengambil sapu tangan yang disodorkan Vania padanya. Ia sibuk mengeringkan tangannya sebelum menyadari sesuatu. Sapu tangan itu jelas pernah ia lihat sebelumnya, namun ingatannya masih samar-samar. "Sudah selesai, kak?" Nabil menyerahkan sapu tangan itu yang segera disambut Vania. Ia sedikit mengibaskannya di udara sebelum melipatnya rapi dan memasukkannya kembali ke dalam tas. Tanpa menyadari tatapan Nabil yang tak pernah lepas darinya. "Sapu tangan itu ...." Nabil menggantung kalimatnya saat Vania menoleh ke arahnya dengan tatapan penasaran. "Itu punya Kevin, kan?" Vania tersenyum, mengangguk. Alis Nabil terangkat. "Kenapa bisa ada padamu?" Senyum Vania memudar, entah kenapa raut wajah Nabil saat ini berbeda dari beberapa saat yang lalu. Seperti mereka berdua adalah sosok yang berbeda. "Kak Kevin memberikannya saat menolongku dari preman." Sesaat Nabil tidak mengeluarkan suara, wajahnya jelas menampakkan kebingungan. "Preman?" tanyanya. "Kapan kejadiannya?" Kini giliran Vania yang bingung. "Beberapa hari yang lalu aku diganggu preman, kak Kevin dan kak Daffa yang menolong. Aku terluka jadi kak Kevin memberikan sapu tangannya agar aku bisa membersihkan lukaku," jelasnya. "Kupikir yang mengirim preman waktu itu kak Nabil. Karena kakak begitu membenciku waktu itu." Suaranya sedikit berbisik saat mengucapkan kalimat terakhir. Namun ia yakin pemuda di hadapannya dapat mendengarnya dengan jelas. Terbukti dengan raut wajah Nabil yang mengeras. Lama Nabil tak mengeluarkan suara, hanya tatapan matanya yang tajam menatap lurus ke manik mata Vania yang mulai gusar. "Aku memang membencimu bahkan sampai detik ini," ucapnya penuh penekanan sebelum mengambil tasnya dan beranjak dari sana. Tak lupa menendang sapu yang bersandar tak jauh dari sana dan kembali melangkah, meninggalkan Vania yang terkejut dan kebingungan. Ia dengan sabar merapikan kembali sapu dan sekop kemudian mengembalikannya ke gudang penyimpanan. Dalam hati ia sibuk menerka-nerka apa yang salah dengan ucapannya. Kemudian ia menyadari sesuatu, mungkinkah Nabil tidak ada hubungannya dengan preman itu? Ia menggelengkan kepalanya, sekarang bukan saatnya untuk memikirkan soal itu. Ia harus segera pulang dan menyegarkan diri. ****"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD