Suasana di sekolah pagi itu tampak gaduh, tidak seperti biasanya para siswa dan siswi saling berkumpul di depan Mading. Vania tak bisa menahan diri untuk ikut melihat apa yang tersuguhkan di sana. Tubuh mungilnya dengan gesit melewati lautan manusia sebelum tiba di depan Mading dan melihat sesuatu di sana. Firasatnya memang sudah mengatakan bahwa apapun yang tertempel di benda persegi itu bukanlah hal yang baik untuknya, namun ia tak pernah berpikir akan seburuk ini.
Di depannya terpampang nyata beberapa foto dirinya dan seorang pemuda yang tak lain adalah Nabil Abimayu. Foto itu jelas diambil secara diam-diam. Ada foto saat ia dihampiri Nabil saat dihukum sendirian, fotonya saat tak sengaja jatuh dan menindih tubuh Nabil di atap sekolah, juga foto mereka berdua saat dihukum kemarin.
"Siapa gadis kurang ajar itu?"
"Berani sekali dia menyentuh kak Nabil."
"Kalau aku tahu orangnya akan kuhabisi dia."
Bisikan-bisikan kemarahan terdengar jelas di sekitarnya. Ia tak mampu berkata apapun bahkan untuk sekedar mengangkat wajahnya. Ia terlalu takut untuk menghadapi situasi buruk yang kapanpun bisa menimpanya. Anggaplah ia pengecut karena memang kenyataannya seperti itu.
"Bil, bukannya itu fotomu?"
Wajah Vania langsung terangkat saat mendengar suara Kevin. Saat ia menoleh ke belakang, di sana berdiri Nabil, Kevin dan Daffa. Ia bahkan tak tahu sejak kapan para siswa-siswi di sekitarnya membelah diri dan memberikan jalan untuk ketiga pemuda itu.
Sesaat pandangannya beradu dengan Nabil, namun pemuda itu dengan cepat mengalihkan pandangannya ke arah lain. Enggan untuk bertatapan dengannya. Vania tak menyia-nyiakan kesempatan, ia segera mendekati pemuda itu yang masih menatap Mading tanpa minat.
"Kak, tolong jelaskan pada semuanya kalau kita tidak ada hubungan apa-apa dan ini semua cuma salah paham."
Nabil bergeming, enggan mengeluarkan suara. Ia menatap Vania sebentar dengan pandangan yang sulit diartikan, sebelum beranjak dari sana mengabaikan Vania yang memohon padanya.
"Kak, aku mohon tolong jelaskan pada mereka." Mata Vania mulai memanas, kupingnya juga sudah tidak tahan dengan bisikan-bisikan penuh kebencian di sekitarnya. Ia mengikuti langkah Nabil, namun seseorang mendorongnya dengan kuat hingga jatuh berlutut di atas lantai yang dingin dan keras.
Ia meringis merasakan perih di kedua lututnya, sementara air mata sudah mengenang di pelupuk matanya. Ia mendongak sekedar melihat Nabil yang terdiam di tempat sambil menatapnya. Ia tampak goyah sejenak, namun kembali ego menguasainya sehingga ia lebih memilih melangkah menjauh daripada membantu gadis rapuh di hadapannya.
Kevin tidak tahan sekadar menjadi penonton yang pasif, apalagi saat pandangannya beradu dengan Vania yang seolah-olah meminta tolong dari tatapannya. Namun, suara Nabil yang memanggilnya menahan niatnya. Ia lebih memilih mengikuti langkah pemuda itu. Itu semua juga demi kebaikan Vania. Jika mereka tahu ia peduli dengan gadis itu, Vania mungkin akan mendapat perlakuan yang lebih buruk lagi.
Setelah kepergian ketiga pemuda itu, orang-orang mulai berkerumun di sekitar Vania. Membuat gadis itu terpojokkan, ia bahkan tidak bisa beranjak dari posisinya apalagi untuk kabur dari situasi buruk itu.
"Heh, kau pikir kau siapa bisa memerintah Kak Nabil seperti itu! Dasar perempuan tidak tahu diri!"
Ringisan kesakitan kembali terdengar dari bibir Vania saat seseorang menarik rambutnya. "Aku tidak melakukan kesalahan apapun," ujarnya sambil berusaha melepas genggaman Jessica di rambutnya. Namun, sepertinya usahanya sia-sia, genggaman itu terlalu kuat untuknya.
"Tidak melakukan kesalahan? Kau hidup dan bernapas saja adalah sebuah kesalahan, apalagi mencoba dekat dengan kak Nabil!" Tarikan di rambutnya semakin kencang, Vania bahkan yakin beberapa helai rambutnya ada yang rontok sekarang.
"Betul. Kalau saja dia tidak ada, sekolah kita lebih tenang." Seseorang dengan kacamata gaya menimpali yang disetujui semua orang.
Jessica tertawa licik. "Seharusnya sebelum ke sekolah kau berdoa dulu. Kau tidak akan pernah tahu hal buruk apa yang akan terjadi padamu seperti saat ini." Genggamannya sudah terlepas, membuat Vania menghela napas lega.
Saat Vania berpikir Jessica sudah selesai dengan perbuatannya dan orang-orang akan berhenti berkumpul disekitarnya, ternyata ia salah besar saat merasakan telur mentah mendarat di kepalanya. Kemudian satu persatu mulai melemparinya dengan telur. Bahkan belum cukup dengan itu, Jessica menumpahkan tepung di atas kepalanya sehingga sekujur tubuhnya menjadi putih.
Ia tak bisa apa-apa selain tetap melindungi wajahnya dari amukan para siswi yang sedang murka itu. Mereka tak henti-hentinya melemparinya dengan telur bahkan ada juga yang melemparinya dengan tomat. Vania berpikir bahwa ini semua telah diatur, yang ia tak tahu siapa dalang di balik semua kejadian ini.
"Hentikan semuanya!"
Serentak semua berhenti. Mereka dengan kompak menatap Pak Bayu yang menatap murka dengan Arkan di belakangnya. Nyali mereka seketika menciut, mereka tak sanggup menatap wajah Pak Bayu yang sudah berdiri di hadapan mereka. Bersiap dengan ledakan amarah yang tidak bisa mereka bayangkan.
Sementara Arkan menghampiri Vania. Tatapan matanya menampakkan kekhawatiran yang jelas. Ia tak pernah berpikir gadis itu akan mendapatkan perlakuan seburuk itu. "Kau tidak apa-apa?"
Vania tak menjawab, hanya air mata yang mengalir di pipinya sudah menunjukkan bahwa ia tak sedang baik-baik saja. Arkan tak bertanya lagi, ia segera mengangkat tubuh mungil Vania dan membawanya ke ruang UKS setelah sebelumnya meminta izin pada Pak Bayu.
*****
"Kupikir yang tadi itu sudah keterlaluan." Kevin menatap Nabil yang sedang berbaring menikmati angin segar. Meski matanya terpejam, Kevin yakin pemuda itu masih terjaga.
"Kali ini aku setuju dengan Kevin." Daffa yang memang terkenal cuek akhirnya buka suara. Lama-lama tak tahan juga melihat perilaku Nabil yang semakin tidak bisa ia toleransi.
Nabil masih diam, namun gerak tubuhnya masih memperlihatkan dengan jelas bahwa ia mendengarkan. Melihat itu Kevin mengumpat tanpa suara. Ia memang tak lebih baik dari Nabil, tapi ia jelas tak seburuk pemuda itu yang dengan tega membiarkan anak orang diperlakukan buruk seperti itu.
"Aku tahu kau mendengarkan, Bil."
Nabil mendecak kesal, namun tetap bangkit dari posisinya. Matanya nyalang menatap Kevin yang fokus menatap ke arahnya. Entah sepertinya dia ada dendam tersendiri pada sahabatnya satu itu. "Dia tidak akan mati hanya dengan perlakuan seperti itu."
Mendengar itu Kevin jadi murka. "Jadi menurutmu hal seperti tadi itu tidak apa-apa selama si korban tidak mati?"
Jari tangan Nabil bergerak mengacak rambutnya frustasi. "Kenapa kau begitu peduli padanya! Dia pacarmu?!"
"Dia tidak harus jadi pacarku dulu agar aku peduli padanya. Aku peduli sebagai sesama manusia."
"Memangnya kau berbeda denganku?" Senyum mengejek tampak di bibir Nabil. "Kau, kan juga sering mem-bully siswa lain. Kau bahkan pernah membuat Vania menangis di belakang sekolah waktu itu."
"Tapi semua itu perintah darimu."
"Memangnya kau pembantuku selalu mengikuti perintahku? Kau punya pilihan antara menerima atau menolaknya."
Tangan Kevin sudah mengepal di samping tubuhnya. Entah kenapa melihat senyum Nabil saja membuat emosinya memuncak saat ini. Mungkin karena semua perkataan Nabil adalah fakta dan itu benar-benar melukai harga dirinya. "Sialan." Ia berniat melayangkan tinjunya namun Daffa buru-buru mencegahnya.
"Hentikan, Vin. Tidak ada gunanya kita saling bertengkar satu sama lain sekarang. Jika kau benar-benar prihatin dengan keadaan gadis itu lebih kita pergi meminta maaf padanya. Lagipula sejak kapan kau mudah tersulut emosi begini?"
Amarah Kevin mulai reda, ia melepaskan pegangan Daffa padanya kemudian melenggang pergi dari sana. Daffa berbalik menatap Nabil yang sudah kembali berbaring di lantai dengan santai, mengindahkan teriknya matahari yang mengenai tubuhnya.
"Sebaiknya kita kembali ke kelas sekarang."
"Kau pergi saja dulu, aku masih ingin sendiri."
Mendengar itu Daffa pergi meninggalkan Nabil sendirian di atap sekolah yang panas. Ia tahu meski Nabil bersikap tak acuh seperti tadi, jauh di dalam lubuk hatinya ia juga cemas dan merasa bersalah. Ia sudah mengenal Nabil sejak TK jadi ia sudah tahu betul watak pemuda itu. Meskipun ia menampilkan ekspresi garang dan suka berbuat onar, tapi ia hanyalah anak cengeng yang berusaha terlihat kuat.
*****