Kabar Berbeda

1509 Words

Pov : Huda Pesan dari Ningrum soal tespeknya membuatku begitu penasaran. Gina pun ingin segera tahu hasil tes mamanya. Sejak dulu Gina memang menginginkan seorang adik agar bisa diajak bermain bersama. "Telpon aja, Pa. Atau pesan suara biar nggak perlu ngetik. Kelamaan," ucap Gina menyarankan. Benar juga, gegas kutelpon Ningrum. Terdengar suara tangisnya dari seberang. Kenapa nangis? Hasilnya negatifkah? Atau ada sindiran yang tak enak didengar? "Sayang, Ningrum. Kenapa kamu menangis?" tanyaku setelah terdengar jawaban salam. Aku tahu Ningrum berusaha lebih tenang sekarang meski Isak masih sesekali terdengar. "Nggak apa-apa sih, Mas. Cuma terharu," balasnya kemudian. "Terharu? Apa hasilnya beneran positif?" tanyaku sedikit gugup. Kedua mataku mendadak berkaca setelah mendengar jawa

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD