Perjuangan Terakhir

1007 Words
Marisa dan ayahnya sudah sampai di kantor. Semua pegawai yang ada di sana menunduk memberikan hormat kepada mereka. Marko langsung membawa Marisa ke ruang rapat, lalu memperkenalkan dirinya kepada orang-orang yang memiliki jabatan penting di kantor tersebut. "Saya tidak ingin jika Marisa mengeluh karena keteledoran kalian." Marko memberikan ultimatum kepada semua yang hadir di rapat itu agar mereka lebih berhati-hati. Marisa hanya bisa tersenyum melihat sikap ayahnya yang masih saja memanjakannya meski ini berhubungan dengan pekerjaan. Pagi itu dia langsung menerima beberapa laporan yang harus dikerjakannya. Saat ini posisinya adalah wakil ayahnya. Posisi yang dulu pernah ia miliki sebelum menikah dengan Evans. Hingga saat jam makan siang, Marisa pun pamit kepada ayahnya untuk makan siang di cafe terdekat. Marko tidak bisa ikut karena ada pekerjaan yang tidak dapat ditinggal. Namun begitu, Marko terus mewanti-wanti anaknya agar berhati-hati di luar. Ia tidak ingin jika putri kesayangannya sampai bertemu dengan Evans. Marisa langsung pergi ke sebuah cafe yang tahu jauh dari kantor ayahnya. Ia memesan makanan untuk melepaskan rasa laparnya siang ini. Banyak sekali pria yang menatapnya tanpa henti. Hal itu dikarenakan Marisa yang memang memiliki daya tarik tersendiri kepada lawan jenisnya. Ia bertubuh tinggi dan langsing, memiliki kulit putih dan mulus, bibir sensual, mata indah, hidung mancung, serta dua lesung pipi yang menyempurnakan wajahnya. Apalagi saat ini ia memakai pakaian yang lumayan ketat. Wanita karir yang sangat cantik seperti itu tentu menjadi dambaan setiap lelaki. Marisa yang menyadari tatapan para lelaki itu memilih untuk tidak memperdulikan mereka. Dirinya tetap fokus dengan makanannya karena ia tidak bisa berlama-lama. Setelah menghabiskan makanannya, ia pun bergegas untuk kembali ke kantor. Namun, baru saja ia hendak membuka pintu mobil, tiba-tiba saja ada sebuah tangan yang memegang tangannya. Sontak Marisa langsung menoleh dan terkejut melihat seseorang yang tadi menahan tangannya. Seseorang yang sebenarnya tidak pernah ingin ia temui lagi seumur hidupnya. "Evans." Marisa merasa sangat syok melihat keberadaan pria yang akan menjadi mantan suaminya itu. "Marisa, izinkan aku berbicara denganmu, aku mohon." Evans menatap wanita yang sangat dicintainya itu dengan penuh permohonan. Bahkan kini dirinya terlihat sangat memelas. Marisa dapat melihat wajah penuh penyesalan dengan mata yang sedikit membengkak. Sepertinya Evans menangis semalaman, sama seperti dirinya. "Tidak ada lagi yang perlu dibicarakan." Marisa melepaskan tangannya dari Evans. Ia sama sekali tidak ingin berlama-lama dalam drama ini. Bahkan kini ia menyesal mengapa harus makan siang sendirian di luar. "Tapi kau harus mendengarkan aku dulu. Aku dan wanita itu tidak mempunyai hubungan apapun. Bahkan aku sama sekali tidak mengenalnya." Evans kembali meraih tangan Marisa dan memegangnya lebih erat dari yang tadi. Ia hanya tidak ingin melewatkan kesempatan emas ini untuk memperbaiki hubungannya dengan Marisa. Tadi, ia baru saja selesai makan siang dengan kliennya saat Marisa datang. Ia pun memilih untuk bersembunyi dan menunggu Marisa selesai makan. Dan ketika Marisa hendak menuju ke mobilnya, Evans pun langsung mengikutinya diam-diam. Berharap bisa berbicara dengan Marisa dengan mencuri kesempatan ini. "Tidak, Evans, aku sudah bilang padamu bahwa aku tidak ingin bicara apapun denganmu. Semua sudah jelas, bahkan ayahku yang dulu sangat mempercayaimu pun sudah kecewa padamu. Meskipun kita kembali bersama, setiap detik dalam hidupku bersamamu akan teringat dengan wanita itu. Jadi, aku mohon agar kau berhenti melakukan ini semua. Kita tidak jodoh, Evans. Aku bukanlah orang yang bisa menerima kesalahan seperti itu." Marisa menatap Evans dengan penuh kekecewaan. Ia sangat berharap pria itu akan mengerti bahwa kaca yang pecah tidak akan bisa pulih seperti semula. Begitu juga dengan hatinya yang tidak akan bisa menerima Evans seperti dulu. "Tapi, aku akan membuktikan padamu bahwa aku dan wanita itu sama sekali tidak mempunyai hubungan! Kita bisa melakukan visum agar kau percaya bahwa aku tidak pernah berselingkuh dengan siapapun." "Evans, cukup! Mengapa kau harus melakukan ini? Apa kau kira aku tidak tahu apa isi kepalamu saat ini? Pasti kau ingin memasukkan surat visum itu, kan? Kau adalah orang yang sangat berkuasa. Apapun bisa kau lakukan, termasuk memanipulasi semuanya! Aku tidak akan pernah tertipu, Evans!" Marisa akhirnya membentak Evans hingga membuat pria itu terkejut. Ia dapat melihat kebencian di mata Marisa. Pertanda bahwa sedikitpun wanita itu tidak akan pernah memaafkannya, apalagi kembali padanya. "Tapi, Marisa, aku benar-benar tidak pernah berselingkuh dengannya! Harus dengan cara apa lagi aku membuktikannya!" Evans merasa sangat frustrasi dengan keadaan ini. "Sudahlah, aku sangat sibuk. Cobalah untuk tidak mempersulit sidang perceraian kita." Marisa bersiap masuk ke dalam mobil. Namun, lagi-lagi Evans berusaha menahan pintu mobilnya agar dirinya tidak pergi. Namun, saat Marisa akan keluar, tiba-tiba sebuah pukulan mendarat di wajah Evans. Pria itu jatuh terhuyung ke tanah dengan luka lebam di sudut bibirnya. Saat ia mengangkat wajahnya, ia terkejut melihat keberadaan Marko di sana. Wajah pria separuh baya itu terlihat tidak bersahabat. Sama halnya seperti Marisa, ia menatap Evans dengan penuh kebencian. "Dengar, pria tidak tahu malu! Sampai kapanpun kau tidak akan bisa kembali dengan anakku meski kau mengorbankan nyawamu. Hal yang paling aku benci dalam hidupku adalah pengkhianatan. Apalagi itu dilakukan pada putri kesayanganku. Aku saja tidak pernah membuatnya menangis. Kau malah dengan tega mengkhianatinya." "Ayah." Marisa keluar dan berusaha menenangkan ayahnya yang sedang dilanda emosi. "Sayang, tadi ayah khawatir padamu. Makanya ayah datang ke sini karena perasaan Ayah tidak enak. Dan ternyata itu terbukti saat melihat pria tidak tahu diri ini berada di sini!" Marko menatap Evans sambil berdecih. Evans adalah orang yang paling menjijikan di dunia ini. "Ayah, sebaiknya kita kembali ke kantor." Marisa mengajak ayahnya masuk ke dalam mobil dan meninggalkan Evans yang terlihat menghapus air matanya. Ia tidak percaya hari ini akan terjadi. Dua orang yang biasanya sangat akrab dengannya, kini menjadi orang yang paling membencinya. Mereka pun pergi hingga hilang dari pandangan. Menyisakan luka yang teramat dalam di hati Evans saat ini. Bahkan untuk berbicara saja ia tidak diberi kesempatan. Perlahan ia bangkit menuju ke mobilnya. Untung saja peristiwa tadi tidak dilihat oleh orang lain. Kalau sampai banyak yang melihatnya, maka reputasinya akan hancur. Canggihnya teknologi sekarang membuat semuanya akan cepat tersebar dan menjadi buah bibir. *** Seorang wanita tengah menyunggingkan senyumannya. "Bagus, rencanaku berjalan dengan lancar. Pernikahan itu akan segera berakhir. Menjadi mimpi buruk yang akan terus terkenang seumur hidup," batinnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD