Menikah Lagi

1063 Words
Dua hari kemudian, akhirnya Evans dan Sharen pun resmi menikah meski secara agama saja. Di depan orang tuanya, Evans terlihat begitu lembut pada Sharen. Sesekali ia memegangi tangan Sharen. Namun sebenarnya, ia memegangi tangan Sharen begitu kuat hingga Sharen harus meringis menahan sakit. "Evans, kau sudah menikah dengannya. Ayah minta, kau jangan mencoba untuk berselingkuh lagi. Lagipula setelah didandani dia cukup cantik." Ellard memandangi Sharen dengan serius. "Ya, Ayah, aku mengerti." Evans menganggukkan kepalanya. Bersikap seolah kalimat itu benar adanya. Karena meski ia membantah, semua akan terasa percuma. "Ini pernikahan keduamu, Nak. Seluruh rekan kerja dan publik juga akan mengetahuinya, jadi,,," "Bu, aku tidak ingin ada resepsi. Apalagi jika aku sampai memperkenalkan Sharen ke publik. Ibu tahu sendiri kan bagaimana Tuan Marko akan menghancurkan ku jika sampai aku memperkenalkan istriku ke publik. Lebih baik dia bersembunyi sampai keadaan lebih baik, baru aku memperkenalkan dirinya." Evans mencari alasan agar pernikahannya dan Sharen tidak diketahui oleh siapapun. "Ya, lagipula, publik sedang gempar karena perceraian mu dengan Marisa saat dia baru saja mengajukan gugatan." Vania menghela nafas pelan. Sangat disayangkan anaknya menikah sampai dua kali karena perselingkuhan. "Lupakanlah yang lalu, Sayang, kita doakan saja, semoga dari pernikahan Evans yang kedua ini, kita diberikan cucu," ucap Ellard sambil merangkul pinggang istrinya. "Iya, benar juga. Malam ini, kerahkan semua kekuatan mu agar langsung dapat memberikan kami cucu. Malam ini kami berjanji tidak akan mengganggu malam romantis mu seperti yang kami lakukan pada kau dan Marisa saat baru menikah," ucap Vania tersenyum jahil. Wajah Evans seketika memerah mendengar ucapan orang tuanya. Lagi-lagi, ingatan tentang dirinya dan Marisa pun kembali terlintas dibenaknya. Apalagi di malam istimewa itu, saat dirinya dan Marisa gagal melakukan ritual suami istri karena kejahilan orang tuanya. "Evans, kenapa melamun." Vania menepuk pundak Evans. Mengejutkan anaknya yang masih asyik dalam lamunannya bersama Marisa yang saat ini sudah resmi menjadi mantan istrinya. Evans terkesiap lalu berkata, "Baik, Bu, malam ini aku akan buatkan kalian cucu." Jelas sekali ia tidak sadar dengan ucapannya karena saat ini pikirannya sedang tidak fokus. Orang tuanya sontak langsung tertawa. "Aku tidak menyangka anak ini sangat polos." Ellard menepuk pundak Evans berulangkali sambil terus tertawa. Evans semakin malu dibuatnya. Betapa bodohnya ia karena mengucapkan kalimat terkutuk itu begitu saja. Wajahnya semakin memerah karenanya. "Sayang, sudahlah, jangan goda mereka," ucap Vania menyudahi godaan suaminya pada anak laki-laki mereka. Ia sangat ingin pasangan pengantin baru itu segera memasuki kamar dan membuatkan mereka cucu yang banyak. Maklum saja, Evans adalah anak mereka satu-satunya. Pewaris tunggal harta kekayaan orang tuanya yang sudah sampai ke mancanegara. "Ya sudah, kalau begitu, ayo kita tidur di hotel saja, Sayang, aku juga ingin bermesraan denganmu." Mencolek dagu Vania hingga membuat istrinya merasa malu diperlakukan seperti itu di depan anak dan menantu mereka. "Dasar tidak malu, ayo pergi. Hari sebentar lagi akan malam. Kalian bersenang-senanglah, jangan lupa tentang cucu untuk kami." Vania menggandeng suaminya pergi ke luar rumah mewah itu. Kini tinggallah Evans dan Sharen. Sharen hanya bisa menunduk tanpa berani memandangi Evans yang kini menatap tajam padanya. "Ayo, Nona Muda, saat pergi ke kamar." Evans menarik paksa Sharen ke dalam kamarnya yang terletak di lantai paling atas, yaitu lantai tiga dengan lift. Sesampainya di kamar, Evans langsung membanting tubuh Sharen ke atas ranjang. "Sekarang katakan, siapa yang telah menyuruh mu merusak rumah tanggaku dengan Marisa?" tanya Evans dengan nada meninggi. "Aku, aku tidak disuruh siapapun." Sharen tetap bersikeras meski yang dikatakannya saat ini adalah sebuah kebohongan. "Aku beri tahu kau sesuatu. Aku menikahi mu agar aku bisa menyiksamu secara fisik maupun mental. Dan jika kau memberi tahu orang yang menyuruh mu, maka aku akan membebaskan dirimu." Evans mencoba bernegosiasi dengan Sharen agar wanita itu jujur. "Tidak, aku melakukannya karena keinginanku sendiri, Tuan." Sharen menatap Evans dengan tubuh yang gemetaran. "Apa motifmu? Jelas sekali kita tidak saling mengenal. Tapi dengan keji kau datang dan mengaku sebagai selingkuhan ku di depan keluarga Marisa!" Suara bentakan Evans mengisi ruangan kedap suara itu. "Aku, aku ingin hidup enak. Aku selalu melihat unggahan Marisa di sosial media karena aku adalah penggemarnya. Aku iri melihat hidupnya yang sempurna dan mempunyai suami tampan dan kaya sepertimu. Aku memutuskan untuk menjebak mu di hotel agar aku bisa memiliki mu!" ucap Sharen sambil menatap serius. Seolah rasa takutnya seketika hilang. "Dasar w************n! Apa kau tidak mempunyai kaca sehingga kau tidak bisa berkaca? Lihatlah dirimu, kau tidak menarik, berasal dari keluarga miskin, dan tidak berpendidikan. Apa kau pantas menjadi istri seorang Evans William? Bahkan bermimpi pun kau tidak akan bisa!" "Terserah apa katamu, yang terpenting aku bisa menjadi istrimu sekarang. Aku sudah mewujudkan impian ku menjadi istrimu." "Dasar tidak tahu malu! Kau sudah menghancurkan pernikahan ku. Aku sudah merekam pengakuan mu, dan aku akan memberikannya pada Marisa sebagai bukti bahwa aku tidak berselingkuh, lihat saja!" Evans menunjukkan ponselnya yang telah merekam suara Sharen. "Itu tidak akan terjadi. Aku akan menyebarkan foto kita tidur bersama ke publik, bahkan Marisa pun tidak akan percaya pada rekaman yang bisa saja kau edit. Dan kamera pengintai mu juga tidak akan mempan saat aku menunjukkan video saat kau mencumbui ku dalam keadaan mabuk. Aku sengaja menyimpannya agar kau tidak melakukan ancaman mu." "Dasar wanita gila! Lihat saja, aku akan membuatmu tidak betah berada di sini. Aku akan menyiksamu setiap hari hingga kau sendiri yang akan mengaku pada Marisa!" Evans pun pergi ke luar kamarnya. Ia menuju dapur untuk minum. Namun, setengah jam kemudian, Evans merasakan sesuatu yang berbeda pada tubuhnya. Perasaan panas dan gerah kini membuatnya ingin melepas pakaian dan mencari pelampiasan. Ia pun segera kembali ke kamar dan mendapati Sharen sedang berada di kamar mandi. "Hei, buka!" Evans menggedor pintu kamar mandi. Sharen yang masih memakai handuk yang terlilit di tubuhnya langsung membuka pintu kamar mandi. Evans yang sudah kehilangan akal, langsung menarik Sharen ke atas ranjang dan mulai melakukan hubungan suami istri secara paksa. Sharen berusaha memberontak, namun ia teringat akan ucapannya yang menyukai Evans sehingga ia tega merebutnya dari Marisa. Ia pun memilih diam saat Evans merampas kehormatannya secara paksa. Selesai dengan itu, Evans langsung pergi ke kamar mandi. Ia terus mengutuki dirinya yang telah menodai perasaannya pada Marisa. Ia pun teringat akan minuman yang ia minum tadi. "Pasti ayah telah menukarnya dengan minuman yang dicampur obat perangsang." Sementara itu, Sharen hanya bisa menangis meratapi dirinya yang sudah tidak suci lagi. Namun ia segera menyadari bahwa ini adalah konsekuensi yang harus ia terima karena tindakannya yang telah menghancurkan rumah tangga Evans dan Marisa.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD