Persyaratan

1097 Words
Nicholas tertawa tiada henti melirik ekpresi yang ditunjukan Celine ketika membentangkan isi koper tersebut. Pria itu yakin, sebuah gaun tidur merah menyala dengan bahan tipis dan pendek bukan lah pakaian yang akan Celine bawa. Ia lebih percaya ini ulah Maminya. Begitu pula dengan alasan Tante dan Jide, ketika beralasan kamar yang lain tidak bisa di tempati sehingga mereka mau tidak mau harus tidur di kamar yang sama. Nicholas sangat memahami kedua orang tuanya. Bagaimana bisa Mami melakulan ini pada Celine? Nicholas kembali tertawa dengan pemikirannya. Akan tetapi tawa tersebut terhenti ketika Nicholas melihat Celine mendelik tajam padanya. Seketika berdehem dan memindahkan saluran televisi yang dilihatnya, lalu kembali tertawa dibuat - buat seolah memang sejak tadi ia menertawakan acara televisi. Celine terus mengacak-acak isi kopernya, dia tidak menemukan pakaian yang menurutnya layak untuk dipakai. Bagaimana bisa terjadi? Apakah koper miliknya tertukar? Tetapi di mana? Yang jelas, semua isi koper tersebut tidak layak dipakai kecuali satu gaun yang mungkin sudah dipersiapkan untuk hari H. Sekarang gadis itu sedang berpikir untuk meminjam pakaian sementara, tapi tidak mungkin Celine membangunkan Tante Virny yang sudah tidur. Tawa geli menjengkelkan dari Nicholas terdengar, menambah rasa kesal Celine. Ini memalukan! But ... Wait. Satu pemikiran terlintas dalam benaknya untuk sedetik kemudian membuat mengerang sambil mengacak-ngacak rambut frustasi, tapi ia merasa sudah tidak punya pilihan lain. Berbekal sedikit keberanian dan menelan rasa malu, Celine menghampiri Nicholas. "Nick," panggil Celine pelan. Sedangkan yang dipanggil hanya diam saja menatap televisi seolah tidak mendengar atau ... Berpura - pura tidak mendengar. "Nick!" Celine mulai meninggikan suaranya. "Hm," sahut Nicholas tak acuh, menambah jengkel. Semoga Tuhan nanti yang memanggilnya, gerutu Celine jengkel dalam hati. Dia sudah mencoba menahan semua hal yang akan membuatnya marah, bahkan membiarkan rasa malu mencekiknya untuk meminta bantuan pria ini, tapi lihat bagaimana pria ini meresponnya? Atas dasar rasa tidak sabar, Celine nekad menangkup kedua pipi Nicholas agar menatapnya. Namun, gadis itu tidak sadar apa yang sudah ia lakukan membuat darah Nicholas sebagai lelaki dewasa berpacu cepat. Terlebih tubuh Celine hanya berbalut jubah mandi, itu membuat pemikiran Nicholas berkenala liar dan semakin diperparah tatkala Celine mencondongkan tubuhnya, mendekatkan wajah mereka. Aroma sabun yang harum terhirup oleh Nicholas, membuat tenggorokannya mendadak terasa kering. "Ada apa?" tanya Nicholas dengan nada sedikit tinggi menutupi gugupnya. Sementara Celine yang berpikir Nicholas marah padanya, masih mencoba bersabar karena memang dia lah yang sekarang butuh bantuan. "Boleh aku...." Kalimatnya menggantung ragu untuk beberapa saat, Nicholas menautkan kedua alisnya. "Boleh a - aku, ituu...." Celine memejamkan mata, lalu berkata dengan cepat. "Bolehakumeminjambajumu?" "Hah?" Nicholas justru mengalami loading akibat pemandangan yang mengintip dari jubah mandi Celine saat gadis itu membungkuk. "Nick!" pekik Celine menegakkan tubuh. "Apa? Aku tidak bisa mendengar ucapanmu?" "Bolehkah aku meminjam bajumu? Please...." Celine mengulang pertanyaaanya lebih pelan, tidak lupa memasang wajah memelas. Sorot mata memohon seperti anak anjing dan mengigit bibir kecil. "Ehm... " Pria itu kembali membasahi tenggorkannya. "Untuk apa kau meminjam bajuku? Kau kan sudah bawa baju sendiri?" Celine mendesah keras, mendongak ke atas seolah meminta Tuhan memberikan kesabaran lebih banyak. Dan itu adalah sebuah kesalahan, karena pemikiran liar Nicholas semakin mengawang. "Aku tidak bisa memakai pakaian yang ada di dalam sana, Nick!" Celine menghentakan kaki seraya menunjuk koper dengan isi yang aneh itu. Nicholas merasa geli melihat tingkah tunangannya yang masih kekanakan ini, akan tetapi ia mencoba menahan tawa. Nichhola menikmati tiap ekpresi yang ditunjukan Celine. "Lalu kenapa kau membawanya? Jika kau memakai pakaianku, lalu aku akan memakai apa?" Baiklah, pertanyaan Nicholas tersebut Celine anggap sebagai sebagai penolakan. Ia tidak akan memaksa atau lebih memelas lagi pada pria itu, sudah cukup ia menelan rasa malu yang mencekik. Mungkin akan lebih baik dia tidur dengan menggunakan jubah mandi ini saja daripada mengemis bantuan pria gila ini, toh besok dia bisa meminjam pakaian Tante Virny. Celine sudah akan berbalik meninggalkan Nicholas jika saja pria itu tidak mencekal dan membalikkan tubuhnya hingga berhadapan dengan Nicholas yang sudah berdiri begitu dekat. "Kau tau apa yang sudah kau lakukan?" tanya Nicholas mencondongkan wajahnya. Celine mengerjap, secara otomatis memundurkan kepalanya guna mempertahankan jarak di antara mereka. Dia ini, lelaki di hadapannya adalah Nicholas Arka Bagaskara, terlepas dari sikapnya yang menjengkelkan. Dia tetaplah seorang pria tampan nan rupawan dengan segala keindahan yang Tuhan ciptakan. Mata Celine menelusurit raut wajah Nicholas. Mulai dari rambutnya yang legam, kemudian pandangannya berpindah pada mata cokelat terang yang indah, hidung dengan tulang yang tinggi, lalu bibir pria itu yang.... Oh, s**t!! Secepat mungkin Celine memalingkan wajahnya yang memerah berharap secepat itu pula pemikirannya yang bertanya tentang rasa bibir Nicholas enyah dengan segera. Pandangan wajah tampan ditambah posisi mereka yang teramat dekat ini membuat benaknya tidak karuan. Terlebih ini sudah malam, berduaan dengannya di satu kamar. Sungguh, sebuah ujian yang berat untuknya. "Me-memangnya a-a-apa yang aku la-kukan?" "Jika kau butuh pertolongan maka biasakan menggunakan kata 'tolong' bukan dengan bertingkah seperti tadi. Kau tahu, kau sangat ... aneh." "I-itu ...  itu...." Ya, Celine tidak bisa memungkiri hal tersebut. "Lihat! Sekarang suaramu terdengar seperti orang yang keselek biji mangga," ejek Nicholas yang membuat Celine kembali mendelik jengkel. "Sudah sana buka komperku dan pilihlah dua kaos agar kau bisa mencobanya!" Nicholas kembali merebahkan badannya di kasur. Persis ketika Celine sudah bersiap memutar handle pintu kamar mandi dengan satu tangan lain memeluk dua kaos milik Nicholas untuk ia coba, suara pria itu menghentikannya. "Akh ... aku lupa, harus ada syaratnya!" "Syarat?" Celine menatap Nicholas bingung. "Kau meminjam bajuku, Cel. Aku harus menerima bayaran." "Iya iya, besok aku akan pergi ke toko mencari pakaian sekaligus ambil uang di ATM untuk bayar sewa kaos ini! Bila perlu aku akan mencucinya hingga bersih dan harum," sarkas Celine kesal karena Nicholas seolah tidak tulus membantunya. "Tidak, bukan itu bayaran yang ku minta." Segaris senyum licik tergurat di wajah Nicholas. Celine merasakan firasat jika persyaratan pria itu bukanlah sesuatu yang baik. "Lalu?" Benar saja. Nicholas menepuk - nepuk ruang kosong kasur di sampingnya. Kontan itu membuat mata Celine melebar maksimal. Apakah dia pikir tubuhnya semurah itu? Tidur dengannya? Astaga, lelaki ini benar-benar! "Kau cari saja wanita lain untuk menemani tidurmu, karena sampai kapanpun aku tidak akan sudi tidur denganmu!" Kau sudah pernah tidur dengannya, Cel. hati Celine seolah mengingatkan. Nicholas mengernyit dengan tatapan heran, tapi sedetik kemudian lelaki itu tertawa. "Astaga. Aku tidak memintamu untuk seperti itu, Cel. Tenang saja! Aku sudah bilang aku tidak tertarik dengan tubuhmu." Sementara wajah Celine sudah memerah, Nicholas melanjutkan ucapnnya setelah kembali tertawa. "Maksudku adalah ... kasur ini." Nicholas menepuk kasur itu seperti tadi. "Hanya aku yang akan tidur di sini, kau tidur di sofa saja!" Izinkan Celine untuk menganga sejenak karena ia tidak tahu harus merespon apa. Rasanya, ia ingin tenggelam ke dasar bumi. "#&:%)!;@*#℅€π×{£}¶," u*****n dan kutukan keluar dari mulut Celine tanpa bersuara. Haruskah ia senang? atau justru malu karena sudah berpikir terlalu jauh. Yang jelas, Celine langsung masuk kamar mandi dengan membanting pintu setelah mengucapkan kata-kata penuh sensor tersebut ------------------------ To be continue... Thank you for reading and coment ^^ Love you, all. (・´з`・)♡♡♡
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD