Masih Sama

1264 Words
Keesokan paginya. Kediaman Jide dan Tante Virny begitu ramai dengan tetangga yang turut membantu persiapan jalannya upacara tujuh bulanan besok atau orang setempat menyebutnya megedang - gedongan / Garbha Wedana / Garbhadhana Samskara. Di mana esok merupakan hari baik yang telah dipilih setelah sekitar dua ratus sepuluh hari atau tujuh bulan sejak kama jaya bertemu dengan kama ratih. Para ibu - ibu menyiapkan beberapa bekal sesajen berbentuk gedong atau rumah yang di dalamnya dimasukan beberapa perlengkapan seperti : beras, sebutir telur, segulung benang, uang kepeng 225 butir, dan lain - lain yang Celine tidak tahu apa itu. Tidak ketinggalan kaum laki - lakinya membangun tempat pemandian dadakan di halaman rumah. Menurut yang Celine dengar dari obrolan di sana. Harusnya Tante Virny mandi di sungai dengan sembilan - sebelas macam bunga. Akan tetapi karena kondisi Tante Virny yang tidak bisa berjalan terlalu jauh, maka di bangunlah tempat pemandian khusus. Celine sangat merasa senang bisa turut andil dalam persiapan seperti ini, ia seolah belajar hal baru dari ragamnya adat istiadat di Indonesia. Terlebih, kesibukan ini setidaknya membuat ia lupa akan kejadian semalam. Tentang betapa memalukannya ia dengan pikirannya serta begitu licik dan tega Nicholas yang sungguh - sungguh membiarkan dirinya tidur di sofa. Astaga, lelaki itu sangat ama tidak gentleman. Sementara untuk saat ini Celine cukup tenang karena Virny bersedia meminjamkan pakaiannya untuk Celine dan menerima alasan bahwa kopernya tertukar, ia merasa tidak enak jika harus berbelanja keluar sementara di sini orang - orang sedang sibuk. Celine juga ikut membantu memasak, untuk para tamu yang datang membantu. Untuk kali ini merasa lepas dan tidak canggung untuk berinteraksi dengan orang asing di sekitar. Hari itu benar-benar menjadi hari yang sibuk, hingga tidak sempat menyadari bahwasanya ada sepasang mata yang turut sibuk memandanginya dari kejauhan. "Kenapa? Kau takut dia kelelahan?" tanya Jide Indra membuat Nicholas sedikit melonjak. "Ah, tidak. Aku hanya...." Hanya apa? Nicholas sendiri tidak tahu kenapa matanya selalu tertuju pada gadis itu. Mungkin karena tawa Celine yang begitu lepas seperti dulu, sangat berbeda saat bersamanya, mungkin juga karena Nicholas merasa gadis itu yang paling cantik di matanya, atau karena keringan yang membasahi kaos putih ketatnya. "Kau terlihat seperti Kala yang berniat melahap Jabang Bayi, Gus." Jide Indra kembali terkekeh menepuk pelan pundak keponakannya. Pantaslah kakak iparnya meminta ia dan Virny untuk menempatkan kedua anak ini dalam satu kamar. "Jangan lupa untuk makan bersama nanti. Atau mungkin kau sudah kenyang hanya dengan menatapnya?" "Tidak seperti itu." Pada satu detik secara kebetulan Celine menoleh ke arahnya. Pandangan mata keduanya bertemu, Nicholas masih sempat melihat seburat merah muda menggemaskan pada wajah gadis itu sebelum memutus tatapan mereka. **** Waktu telah berganti sore, para tetangga yang membantu juga sudah kembali ke rumah masing - masing, kesibukan perlahan selesai dan menyisakan rasa lelah, Celine merasa tubuhnya remuk dengan aktifitas hari ini terlebih semalam dia tidur di sofa yang membuat badannya sakit. Benar-benar melelahkan, tapi tampaknya tidak dengan si kecil Egar. Bocah itu menghampiri Celine lalu menariknya untuk mengajak main bersama saat gadis itu baru saja merebahkan diri di sofa. Egar terlihat seperti ponsel dengan baterai penuh, begitu lincah dan merengek hingga nyaris membuat kepalanya pening. "Hei, Baby." suara milik Nicholas membuat keduanya menoleh. "Om Niko panggil aku apa kak Celine?" tanya Egar. "Tentu saja aku memanggilmu, boy! Kak Celine sudah bukan Baby lagi, tapi Honey," jelas Nicholas yang kemudian menyadari sesuatu. "Tunggu, kenapa kau panggil aku Om? Panggil Kakak!" "Tidak mau! Om terlalu tua untuk dipanggil kakak," bantah Egar membuat Celine terkekeh. "Bocah ini. Aku calon suaminya. Aku sudah cukup berdiam diri sejak kemarin." Celine memutar bola mata jengah. Dia tahu Nicholas itu menyebalkan, tapi apakah dia harus bertengkar dengan seorang anak kecil? "Calon suami itu apa Kak Celine?" tanya Egar polos. "Eum ... calon suami itu...." Celine mencoba mencari rangkaian kata yang sederhana dan mudah dipahami oleh bocah ini. Lagipun kenapa pula Nicholas harus mengucapkan hal tersebut di depan anak kecil yang mempunyai rasa keingintahuan tinggi seperti Egar. "Calon suami itu adalah pria yang memiliki hak penuh atas wanita yang akan menjadi calon istrinya, lalu mereka menikah dan mempunyai anak," jawab Nicholas "Mempunyai anak? Jadi menikah itu bisa buat anak, Om? Gimana caranya?" "Tentu saja dengan proses perkawinan di mana s****a akan membuahi sel telur melalu--" Segera Celine bangkit untuk membekap mulut Nicholas tanpa permisi dan memberinya tatapan peringatan. Namun, pandangan matanya beralih lembut saat kembali menatap Egar yang justru bingung melihat tingkah kedua orang dewasa ini. Celine berlutut agar bisa mensejajakan tingginya dengan bocah itu. "Egar," panggil Celine memfokuskan pandangan anak itu untuk menatapnya "Perkawinan itu adalah proses di mana suami dan istri hidup bersama dengan bahagia seperti ayah dan ibumu, lalu Tuhan akan mengirimi anak untuk melengkapi kebahagian mereka." "Ah, seperti film Storks ya kemarin aku tonton ya, Kak? Aku terbuat oleh mesin dan akan ada burung besaaaaar membawaku terbang di dalam kantong lalu memberikanku pada ayah ibuku," ucapnya heboh dengan tangan yang melebar saat mengatakan 'besar' dan mengibaskan kedua tangannya untuk mencontohkan 'terbang'. "Burungnya tidak sebesar itu dan tidak bisa terbang," pungkas Nicholas. "Nick!!!" Celine melirik tajam. "Iya benar seperti itu sayang." "Wah, Kakk Celine pintar." Egar mengangkat dua jari jempolnya. "Nanti kak Celine jadi calon istriku saja ya! Biar sekolahku nilainya seratus terus." tutur Marcel dengan antusias "Kau pikir menikah untuk meningkatkan nilai sekolah? Menikah itu untuk meningkatkan kualitas keturunan dan...." Ucapan Nicholas seketika berhenti saat melihat lagi tatapan Celine. "Dan ... Kak Niko pikir kamu harus pergi mandi dulu sekarang!" "Kak Celine ayo mandi bareng." "Kak Celine akan mandi bersama Kak Niko, boy!" sergah Nicholas dengan senyum penuh kemenangan. "Yah ... Tapikan aku maunya sama kak Celine." Egar mulai merengek. "Egar! Cepatan mandi, Gus. Jangan ganggung misan." Jide Indra muncul memerintah, lalu Egar menurut tanpa membantah. Celine hanya tersenyum menatap bocah kecil itu. Namun, begitu mereka hanya berdua di ruangan tersebut, Celine menatap kesal pada Nicholas. "Haruskah kau menerangkan dengan gamblang pertanyaan seorang anak kecil, Nick?" Celine berdiri dengan tangan di pinggang. "Memangnya kenapa? Apa aku harus berbohong? Mengajari anak kecil berbohong itu tidak baik, Honey." Nicholas memangkas jarak amtara mereka. Celine tahu dia pasti akan bertambah lelah bila berdebat dengan pria gila ini, maka dari itu dia bersiap meninggalkannya untuk mandi. Namun kemudian tangannya dicekal oleh Nicholas dan membuat Celine kembali berbalik. "Kau mau mandi? Bagaimana kalau kita memproses sel telur untuk dibuahi s****a sambil mandi?" tawar Nicholas dengan senyum jahilnya "KAU GILA??!! Tidak ada kata KITA dan jangan harap aku bersedia menjadi bahan praktek biologimu itu." Celine menghempas tangan Nicholas. "Kau tahu apa yang  seharian ini mengganggu dipikiranku, Cel?" Celine merasa ada yang salah. Tenggorokannya mengering dan jantungnya berdebar cepat merasakan suasana seperti ini. Ia tidak berani menjawab. Ditambah dengan senyuman licik Nicholas ketika berkata, "Ah, tidak lebih tepatnya sejak semalam aku memikirkan ini." Di detik berikutnya Celine dibuat terperangah saat tangan Nicholas menarik pinggangnya dan tangan lainnya menarik tekuk gadis itu kemudian mempertemukan bibir mereka. Celine membulatkan matanya, ia mematung seolah tubuhnya terasa kaku karena tidak tahu harus berbuat apa. Akan tetapi itu hanya sesaat karena setelahnya gadis itu langsung mendorong Nicholas menjauh. Ada senyuman tergurat di wajah lelaki itu "Masih sama, manis." "Nick!" protes Celine kembali teredam ketika Nicholas mendesakan dirinya ke dinding. Lalu berbisik persis di telinganya hingga membuat Celine meremah. "Aku belum selesai." Jantung Celine seperti akan meledak dengan kecepatan tinggi saat Nicholas kembali melumat bibir Celine lama dan dalam. Semakin liar dan menuntut, ciuman itu mulai membuat Celine kehabisan oksigen. Kakinya terasa melemah. Bahkan selama tiga tahun berhubungan dengan Raka, Celine tidak pernah merasa seperti ini. Tubuhnya bergetar di bawah cumbuan Nicholas. Hingga tanpa sadar ia mengerang dan mendesah, hal yang membuat pria itu semakin bringas. Sampai kemudian tanpa tahu apa yang terjadi di ruangan tersebut, Egar kembali ke sana dan melihat hal yang mereka lakukan. Seketika anak itu menutup mata dan berbalik, lalu lari seraya berteriak, "Mamaaaa ... Kak Celine dan Om Niko cium emut - emut?!!" **** To be continue... Nah kan, Niko nakal sih. Maen nyosor aja!
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD