Jonathan

1558 Words
Setelah mendengar suara mobil Nicholas yang menjauh, Celine tetap melangkah masuk ke hotel tersebut. Mencengkram sebuah tas kecil sebagai penguat. Ada perasaan tercekit di hatinya. Pria bodoh!! Kutuk Celine. Air mata terus menggenangi pelupuk mata, ia mencoba untuk tidak menangis. Karena dia sendiri tidak tahu kenapa tiba - tiba air matanya memberontak keluar sedangkan otaknya berteriak, jangan menangis! Jangan menangis! Dengan segera, ia merogoh clutch untuk mencari tisu. Tidak lucu jika ia menangis di lobi hotel. Di depan banyak orang. Bruukk... Akibat oleh pandangannya yang terhalang oleh airmata dan tidak fokus berjalanan karena mencari tisu, Celine yang tidak bisa melihat dengan jelas pun tanpa sengaja menabrak seseorang. Tabrakan itu juga membuat isi tas mungil Celine berserakan, persis seperti hatinya. Gadis tersebut segera berjongkok untuk membenahi kekacauan yang ada. "Maaf," ujar seseorang yang membantu Celine membereskan barang - barang. Dari suaranya terdengar seperti seorang pria. "Kau tidak apa-apa?" tanyanya yang melihat Celine hanya terus menunduk. "Nona, kau baik-baik saja?" tanya pria itu lagi karena tak kunjung mendapat jawaban Celine, hingga tanpa aba - aba.... "Huwaaaaaa." Celine menangis kencang. Air mata mengalir deras tak terbendung lagi. Si pria dibuat gelagapan dengan tingkah Celine yang di luar dugaan. "Haduh ... kenapa kau menangis? Apa ada yang terluka?" Tangis Celine semakin kencang, hingga membuat orang- - orang di sekitar menatap mereka. Bukan fisiknya yang terluka, melainkan hatinya. Ia merasa sesak dan kesesakan tersebut hanya mampu dikeluarkan dengan air mata. Namun, berkebalikan dengan pria yang menabraknya. Lelaki tersebut tampak risih oleh karena banyaknya mata yang menatap mereka dengan pandangan menuduh. "Bukan, bukan aku! Aku tidak melakukan apa-apa? Sungguh!" Terang pria itu seolah meluruskan. Ia kemudian beralih pada Celine dan berbisik, "Hei jika kau ingin menangis jangan di sini." Akan tetapi ucapan tersebut juga tidak mampu menenangkan tangisan Celine. Akhirnya ia terpaksa mengangkat bahu gadis tersebut dan membawanya pergi dari sana, Celine sama sekali tidak menolak. Tidak, bahkan ia mungkin akan mengikuti ke mana pria ini membawanya, bahkan bila mendorongnya ke jurang sekali pun. *** Di sini lah ia dibawa, pada sebuah kafe terdekat. Tangisan Celine sudah mereda, hanya masih sedikit terisak. Ia mengambil duduk di pojokan, melepas cincin tunangannya dan menyimpan ke dalam tas. Pria tadi menghampirinya, lalu menyodorkan secangkir cokelat hangat. "Kau ini kenapa? Apa aku begitu keras menabrakmu?" tanya pria itu bersedekap di sebrang meja. Celine menggeleng, melingkupi cangkir tersebut dengan kedua tangannya. "Minumlah!" Celine menurut, tanpa ingin berpikir apa pun lagi. Jikalau pun dalam cokelat ini berisi sebuah racun. Mungkin saat paru - parunya tidak bernapas dan jantungnya berhenti berdetak akan lebih baik. "Coklat akan lebih nikmat jika kau menghirup aromanya dulu sebelum meminumnya." Tanpa membantah, Celine kembali mengikuti anjurannya. Menghirup aroma itu kuat-kuat, lalu mengembuskan napasnya pelan sebelum meminumnya. "Maaf." Satu kata pertama yang keluar dari mulut Celine. "Maaf? Untuk apa?" "Untuk hal yang tadi, aku sudah membuat situasimu menjadi tidak nyaman." Celine masih menunduk dan tidak berani menatap pria itu. "Tidak usah dipikirkan, lagi pula itu bukan pertama kali aku dipandangi orang - orang seperti tadi." "Maksudmu?" "Akh, bukan apa-apa." Celine tidak menanyakan lebih lanjut, dia justru bersyukur. "Terima kasih." "Kali ini untuk apa?" tanyanya lagi "Untuk semua perlakuanmu. Menolongku di Lobby dan menyelamatkanku yang menangis" Jika tidak salah dengar, Celine menangkap dengusan kecil dari pria di depannya. "Kasihmu diterima. Memangnya apa yang membuatmu seperti itu?" Celine terdiam, dia tidak mungkin menceritakan semuanya pada orang yang baru dikenal kurang dari satu jam dan tampaknya pria tersebut mengerti. "Aku Jonathan," ujarnya. Celine menatap uluran tangan pria itu "Celine." "Apa kau baru pertama kali ke sini?" Jonathan kembali bertanya. "Tidak. Dulu aku pernah kevsini sebelumnya. Mungkin terakhir sekitar empat tahun lalu, tapi sepertinya banyak yang sudah berubah," papar Celine bercerita "Ya, dunia berubah terlalu cepat. Kita juga harus begitu bukan?" Celine mengangguk setuju. Ya, semuanya berjalan begitu cepat. Jatuh cinta pada Raka, berhubungan selama tiga tahun lalu dilamar olehnya. Namun, ironisnya sekarang ia menjadi tunangan Nicholas, ya ... Nicholas, lelaki yang membuatnya menangis tapi dia sendiri tidak tahu alasannya. "Mau pergi ke suatu tempat?" tanya Jonathan memberi tawaran. Celine memincing curiga pria bernama Jonathan ini, mereka baru kenal dan tiba - tiba dia mengajak ke suatu tempat? Dan sepertinya Jonathan memahami pandangan itu. "Hei, aku tidak akan bertindak satu hal apa pun yang sedang kau pikirkan. Aku hanya ingin menunjukan tempat yang bisa meredakan kesedihanmu." "Kau boleh meminjam pisau dari kedai ini jika kau takut aku akan berbuat aneh-aneh," saran Jonathan menambahkan keyakinan Celine "Baiklah," jawab Celine tanpa ragu. Gadis itu memang merasa perlu pergi jauh ke tempat yang Nicholas tidak tahu. Namun, tentunya dengan kewasapadaan. Dan Jonathan menganga tak percaya saat Celine benar-benar memintanya membayarkan pisau yang akan dia bawa untuk berjaga-jaga. "Kau yang bayar, ya!" Jonathan mengemudikan mobilnya ke arah selatan. Sebelumnya mereka mampir ke toserba untuk membeli beberapa makanan, karena menurut Jonathan di tempat itu tidak terdapat pedagang. Ia juga sempat menyuruh Celine mengganti pakaian dressnya untuk lebih casual. Itu membuat Celine teringat bahwa ia memang butuh pakaian yang nyaman, mengingat di dalam kopernya hanya terdapat pakaian minimalis. Celine membeli beberapa kaos, celana, serta satu setel piyama. Tidak lupa sandal yang nyaman untuk dipakai ke pantai. Jonathan menggeleng pasrah saat nyatanya Celine membutuhkan waktu sekitar satu jam untuk membeli pakaian dan lain-lain. Hanya butuh waktu dua puluh menit setelah mereka berbelanja lebih tepatnya Celine yang berbelanja. Sesampainya disana Celine merasa ia tidak asing dengan tempat ini. "Ini adalah Pantai Tegal Wangi. Aku biasa ke sini jika membutuhkan ketenangan." Celine bisa melihat pantai itu masih asri, tampak dari warna alam yang menghiasinya, gradasi warna tosca dan biru tampak pada air laut, ditambah lagi bukit-bukit cokelat dengan sentuhan kehijauan oleh rerumputan terlihat di bukit selatan tebing Pantai Jimbaran ini menambah eksotisme Pantai Tegalwangi. Sementara langit sudah mulai menebar jingga. Sang surya bersiap tenggelam di ujung. Sedetik setelah Jonathan memarkirkan mobilnya. Celine segera melesat ke bibir pantai, memijakan kakinya pada pasir putih yang selalu basah oleh deburan ombak. Mereka hanya punya sedikit lagi waktu melihat matahari terbenam karena Celine dan kebiasaan wanitanya ketika berbelanja. "Kita melewatkan banyak waktu, sekarang hanya tinggal sebentar lagi matahari akan terbenam sepenuhnya," keluh Jonathan sedikit kesal. Celine tidak menanggapi ucapan Jonathan dia mengambil duduk untuk memandangi matahari terbenam yang jarang ia lihat sambil duduk memeluk lututnya. "Cantiknya." Celine tidak ingat kapan terakhir kali ia bermain di tepi pantai menyaksikan hal sederhana dalam ketenangan. Sepoi angin yang berhembus meniup rambut cokelatnya, Celine merasa sedikit kegundahan itu terbang terbawa pergi dan ada sepasang mata yang mulai terpikat melihat wajah gadis itu disinari mentari senja. Satu jam lebih mereka di sana, air laut sudah pasang dan anginnya mulai berhembus kencang. Celine dan Jonathan masih berjalan santai di bibir pantai. Sebenarnya di sana tidak sesepi yang dikira, karena masih ada beberapa orang yang sama - sama menghabiskan waktu dengan menikmati pergantian hari. Namun, untuk ukuran wilayah di Bali, juga tidak termasuk ramai. Celine mengeratkan kedua tangannya merasakan angin yang berembus semakin dingin. "Pakai itu!" Jonathan melempar jaketnya menutupi wajah celine. Gadis itu sempat terkejut sesaat. "Terima kasih." "Kenapa kau tidak membeli sweeter atau jaket di toserba tadi?" "Aku lupa." Celine mengenakan jaket parka biru milik Jonathan yang kebesaran. untuk melingkupi tubuhnya. "Kau tinggal di Bali, Jo?" Celine baru sadar bahwa sejak tadi ia bersama lelaki yang tidak ia kenal selain namanya. "Tidak juga, aku di sini sedang ada urusan pekerjaan. Bagaimana denganmu?" Jonathan bertanya balik. "Aku juga di sini sedang berkunjung ke rumah bibiku, mereka mengadakan acara tujuh bulanan," tutur Celine. "Mmmh ... begitu, lalu kenapa kau masuk ke hotel? Kau kan bisa tinggal di rumah bibimu?" Celine tersenyum miris, menyadari sepenuhnya keberadaan ia di hotel adalah sebagai tumbal Nicholas. Agar lelaki itu punya waktu menemui Alice tanpa dicurigai. Dan sepertinya malam ini Celine tidak akan pulang ke rumah Tante Virny mengingat ucapan Nicholas yang mengatakan untuk cek in di hotel. "Kau akan tidur di mana malam ini?" "Kenapa? Apa kau akan mengikutiku?" Celine mulai berprasangka. Suara tawa Jonathan terdengar renyah dan tidak asing di telinganya. "Awalnya iya." Jonathan menggaruk kepalanya yang tidak gatal "Tapi sepertinya sudah terbaca." "Jangan mengikutiku! Aku tidak mau cari masalah." Sungguh, Celine tidak bermain - main dengan hal itu. Bukan pula sedang mengancam, tapi memang akan bermasalah bila Nicholas atau orang yang mereka kenal melihatnya bersama pria lain, di hotel. "Tenang saja, Cel... aku single, tidak akan ada yang membuatmu dalam masalah," ujar Jonathan enteng. Tapi aku tidak.... Ingin Celine menjawab demikian, akan tetapi ia urungkan karena akan menjadi banyak pertanyaan seputar Nicholas dan Celine sedang enggan membicarakan pria itu. Jika sebelumnya Celine mengutuk Nicholas sebegai pria bodoh. Kini ia sadar jika, dirinya juga lebih bodoh. Celine tersenyum menertawakan diri sendiri yang telah terperdaya akan hatinya karena terlena oleh perhatian semu tunangan gadungannya itu. "Kenapa kau tersenyum? Kau tidak percaya?" tanya Jonathan salah mengira karena berpikir gadis itu menertawakan dirinya. "Tentu saja aku percaya. Kau tahu, menurut data di Indonesia, stok lelaki berusia remaja hingga dewasa jauh lebih banyak dibanding perempuan. Tapi...." Celine menyorot penampilan Jonathan dari kaki hingga kepala. Celana jeans belel dengan kaos hitam longgar tanpa lengan, menunjukan otot lengan yang tidak terlalu besar. "Untuk ukuran wajah dan tampangmu yang tidak terlalu jelek. Kurasa kau bisa memacari dua sampai tiga gadis sekaligus. "Benarkah? Wah, baru kali ini ada yang bilang aku tampan selain ibuku." Celine terkekeh, menutupi mulut untuk menahan tawa. "Kau tersenyum?" "Entah kenapa, aku geli mendengarnya!" "Kenapa? Kau sendiri yang bilang aku tampan? Apa kau suka padaku, Cel? Kau jatuh cinta pada pandangan pertama denganku kan?" "Astaga, pria ini terbuat dari apa ya Tuhan?" Dia menggeleng tidak percaya. Baru kali ini menemukan pria dengan tingkat narsis seperti ini pada orang yang baru dikenal. "Maaf saja, Jo. Aku tidak percaya pada hal seperti itu. Aku tidak percaya dengan yang namanya jatuh cinta pada pandangan pertama." "Benarkah? Tapi aku kira kau salah.Jatuh cinta pada pandangan pertama itu sungguh ada, karena aku sedang merasakannya." --------------------------- To be continue Thank you for reading & coment ^^ Love you, All.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD