Honey

1534 Words
Mobil Nicholas melaju kencang ketika Celine sudah turun. Sesaat dia melihat melalui kaca spion sampai gadis itu masuk ke dalam. Dua puluh menit kemudian Nicholas sampai di Taman Ujung Water Palace Karangasem. Tempat Alice melakukan photoshot tepat ketika beberapa pengambilan gambar terakhir di sana selesai sebelum pindah lokasi. Asisten dan penata riasnya sibuk berhambur ke arah Alice, memperbaiki riasan, gaun floral dengan topi bundar yang lebar. Sebenarnya mata Alice sudah menangkap sosok lelaki yang sejak tadi memandanginya dengan tersenyum, ialah Nicholas Arka Bagaskara. "Kau selalu sempurna seperti biasa," puji Nicholas menghampiri lantas memberikan bunga tulip yang sudah ia persiapkan. Alice menatap kedua orang di sampingnya seolah memberi kode agar mereka meninggalkannya berdua dengan Nicholas. "Sebenarnya apa yang kau inginkan Nick? Kau selalu mengirimiku bunga tiap hari dan itu membuatku tidak nyaman." Alice terpaksa mengambil bunga tersebut. "Kau tahu apa yang aku mau Alice." "Dan kau tahu jawabanku akan tetap sama." Wanita berkulit eksotis itu merasa pembicaraan mereka akan selalu membahas hal yang sama dan berujung tidak akan ada gunanya, Alice memilih untuk beranjak dari sana. Namun, Nicholas menjegal tangannya. "Tinggalkan dia, Alice." Pinta Nicholas penuh penekanan dan makna tersirat. Menarik mapas kasar, Alice menyentak pegangan Nicholas. Ini kali ke sekian Nicholas meminta hal yang sama. "Aku tidak bisa, Nick! Kau dan aku hanya masa lalu, tidak ada lagi kita. Aku dan Ethan akan segera menikah, apa kau tidak melihat keseriusan semua ini?" "Tapi kenapa harus dia? Aku telah bersamamu tujuh tahun. Kita melalui semuanya bersama. Semuanya, Al." Alice meringis ketika Nicholas mencengkram kedua bahunya. Sorot mata pria itu menajam, kata - katanya berdesis persis di wajah Alice. "Aku selalu menunggumu, Al. Aku yang selama ini melakukan semua untukmu. Bahkan empat tahun yang lalu pun itu untukmu. Kau tahu itu. Tidak ada yang lebih pantas dan tidak ada yang mampu melindungimu seperti aku." "Lepaskan aku!" Alice memberontak. Mengambil langkah mundur yang cukup untuk membuat jarak di antara mereka. Belum sempat Alice mengutarakan pendapatnya, ponsel milik wanita itu berdering dan ia mengatur napas sejenak sebelum memilih mengangkat panggilan itu. "Ya, Sayang?" Nicholas masih menatap intens wanita di hadapannya, wanita yang tersenyum mendapat panggilan dari pria berstatus calon suaminya. "Benar kah?" tanya Alice dengan nada tak percaya yang berbinar senang. Wanita itu berbalik membelakangi Nicholas, bahkan bunga tulip yang Alice terima tadi ia geletakan begitu saja di sembarang tempat dan berniat meninggalkan Nicholas. Namun, lagi - lagi pria itu kembali menahannya, Alice hanya menatap jengkel pada Nicholas tanpa suara seolah tidak ingin orang di sebrang telpon itu mendengarnya. "Aku akan turun segera," pesan Alice menutup telponnya dan u tuk kesekian kalinya menghempaskan dengan kasar cekalan Nicholas. "Cukup, Nick!" "Aku mohon, Al." Kali ini Nicholas memeluknya. Alice mencoba melepaskan diri, akan tetapi tenaganya kalah kuat. "Aku tidak akan membiarkanmu menikah dengan pria itu. Dia tidak pantas untukmu." "Kau itu egois atau bodoh, Nick?" Hening ... Nicholas tidak menjawab "Apa kau belum mengerti juga?" Nicholas paham akan arah pembicaraan Alice karena ia sudah sering mendengar dari keluarganya. "Aku hanya memanfaatkanmu, Nick! Aku memanfaatkan koneksi dan namamu untuk bisa menggapai karirku dan sekarang...." Alice menggantungkan kalimatnya dengan sengaja, agar Nicholas bisa menyerap kata - katanya lebih mudah. "...aku sudah tidak membutuhkanmu lagi. Ini lah alasan sebenarnya, Nick! Jadi mulai sekarang jangan ganggu aku lagi." Tubuh Nicholas membeku ia tidak pernah menyangka bahwa semua yang keluarganya bicarakan, kini keluar dari mulut wanita ini sendiri. "Tidak! Tolong jangan berkata seperti itu. Aku tahu itu tidak benar. Aku lebih mengenalmu, sangat mengenalmu." Nicholas mempererat pelukannya. Namun sedetik kemudian, tanpa keduanya perkirakan, seseorang menarik bahu Nicholas memisahkan pelukannya dan.... BUUUGGH!!! Sebuah hantaman telak melayang tepat di wajah Nicholas dan itu dari Ethan. "Apa kau tuli? Atau bodoh? Berani sekali kau menganggu calon istriku." Nicholas terhuyung, memegangi rahangnya yang memerag. "Kau yang sudah mengganggu b******k!" Kemudian dengan cepat Nicholas juga memberi Ethan bogem mentah dan keadaan pun tak terkendali, Alice menjerit melihat kedua pria itu berkelahi. Beruntunglah pihak sponsor menyewa secara ekslusif tempat tersebut sehingga tidak akan ada video amatir dari pengunjung lain yang akan menyebarkan lewat internet. Tak lama kemudian ada beberapa tim keamanan memisahkan mereka, tampak kedua pria itu dalam kondisi berantakan. Napas mereka terdengar penuh emosi, tatapannya berapi-api. Setelah merasa agak tenang, Ethan menghentak pegangan para penjaga lalu membetulkan jasnya. Ethan menarik Alice dari sana dan dengan sengaja Ethan berjalan meninggalkan Nicholas dengan merangkul pinggang Alice posesif seakan menegaskan bahwa Alice sekarang adalah miliknya. "Dia tidak mampu menjagamu, Alice. Hanya aku, hanya aku!!!" ***** Sementara itu, di pinggir pantai yang tersinari cahaya bulan disertai semilir angin laut, Celine mematung mendengar ungkapan Jonathan. Telinganya yang salah dengar atau memang pria ini yang lebih dari tidak waras? Dulu saat Celine dan Raka resmi berpacaran adalah karena Celine yang menyatakan perasaannya. Dia tidak mau kehilangan guardian angelnya. Sekarang, ada seorang pria yang menyatakan cinta padanya? Pria asing dan Celine merasa hatinya sudah kebal dengan ucapan seperti itu. Raka yang bahkan melamarnya pergi entah kemana, belum lagi tragedi Irfan kemarin, terakhir Nicholas yang terlalu sering membuatnya harus terlihat mesra saat mereka bersama bahkan melakukan hal lebih dari pernyataan cinta. Namun, Celine sudah cukup sakit hati oleh perlakuan Raka dan Nicholas. Nyatanya lelaki yang ia kenal selalu berujung menghempaskannya setelah membuatnya merasa melayang. Memang ada sedikit perasaan tersipu saat seorang lelaki menyatakan cinta padamu, tapi sungguh mati Celine tidak merasa bangga. Apa lagi jika cinta itu pandangan pertama, sekali pun benar hal tersebut memang ada, ia tidak lagi mau melambungkan harapannya karena ketika kenyataan berlangsung tidak sesuai bayangan indahnya, maka kau akan jatuh lebih sakit. Celine menganggap dan lebih memilih mempercayai jika lelaki di hadapannya ini seorang playboy yang gemar memacari wanita lebih dari satu atau dia merasa kasian dan berbohong untuk menghiburnya. Miris! "Becandamu tidak lucu, Jo!" "Cel ... aku--" "Aku lelah dan ingin istirahat. Mungkin aku akan pergi lebih dulu." "Biar aku antar." Tanpa menunggu jawaban Celine, Jonathan mengejar gadis itu. Memastikan Celine menyetujui permintaannya. Suasana di dalam mobil menjadi tidak nyaman bagi Celine, ia berinisiatif mengambil snack yang ada di kursi belakang. Namun, tangannya ternyata agak susah meraihnya. Berbanding terbalik dengan Jonathan yang justru dengan santai mengambil sekantung plastik tersebut dengan mudah dan menyodorkannya ke pangkuan Celine. Tanpa mengalihkan perhatian dan fokusnya pada kemudi. Kini yang terdengar adalah suara berisik mulut Celine yang terus mengunyak snack. Ya, dalam keadaan seperti ini salah satu yang bisa menghibur Celine adalah ngemil. Meski di dalam hatinya sih lebih ingin ngemiliki Nicholas. Dia bukan milikmu Cel ... ingat! Jonathan memutar musik untuk sedikit memecah keheningan atau ... mengurangi bunyi Celine yang berisik dengan snacknya. .....gumi indahmu wahai jelita Tak dapat lagi kuucap kata Bisuku diam terpesona Dan andai suatu hari kau jadi miliki Tak akan kulepas dirimu kasih Dan bila waktu mengijinkanku untuk menunggu dirimu Terdengar Jonathan ikut bernyanyi santai, akan tetapu tidak dengan Celine. Gadis itu memberi tatapan tajam, bahkan sengaja memakan snacknya dengan cepat dan mengunyah kasar agar lebih berisik. Kurasa ku t'lah jatuh cinta Pada pandangan yang pertama Sulit bagiku untuk bisa Berhenti mengagumi dirinya "Uhuk ... uhuk ... uhuk...." Celine tiba-tiba tersedak, dengan sigap Jo meraih botol mineral dan membukakannya untuk gadis itu. Celine pun langsung menenggaknya. "Kau tidak apa-apa?" tanya Jonathan khawatir. "Aku baik terima kasih," jawab Celine. "Pelan - pelan makannya. Kau seperti tidak bertemu makanan seminggu saja," pesan Jonathan yang sebenarnya sudah kelewat telat. Dan memang betul, selain rujak bulung Celine belum mengisi perutnya lagi. Namun sungguh, bukan itu yang membuatnya tersedak. "Apa makanannya pedas?" tanya Jonathan dengan nada khawair meski matanya yang masih fokus ke depan. "Tidak, bukan itu," jawab Celine. "Aku hanya merasa kau sedang memancing suasana Jo?" "Maksudmu?" Jonathan menoleh sebentar. "Apa pun yang kau lakukan dengan lagu-lagu mp3-mu itu. Aku tidak akan luluh atau percaya pada cinta pandangan pertama," tutur Celine. "Benarkah?" Alis Jonathan naik sebelah. "Ayolah Jo! Modus mu terlihat sekali. Mengajak wanita yang baru kau kenal ke pantai, menyatakan perasaanmu, mendengarkan musik romantis di mobilmu? Lalu apa lagi? Berharap ada ciuman diantara kita?" sarkas Celine menggebu. "Kalau kau mau, kenapa tidak?" ejek Jonathan dengan senyuman miringnya. "Apa kau lupa aku membawa pisau Jo?" ancam Celine. "Baiklah, baik." Jonathan mengangkat kedua tangannya seolah menyerah Maka menekan 'next' pada tombol tersebut adalah hal yang paling aman. Lagu berganti.... Kau buatku terbang melayang Tiada ku sangka getaran ini ada Saat jumpa yang pertama Mataku tak dapat terlepas darimu Perhatikan setiap tingkahmu Tertawa pada setiap candamu Saat jumpa yang pertama Could it be love, could it be love Could it be, could it be, could it be lo... Tatapan itu kembali mengarah pada Jonathan. "Aku akan memindahkannya." Because I just always wanna have you right here by my side The future's near but never certain At least stay here for just tonight I must a done something right To deserve you in my life I musta done something right A long the way Lagi, Jonathan menekan tombolnya. Kali ini terdengar lagu : I love it when you call me señorita I wish I could pretend I didn't need ya But every touch is ooh la la la It's true, la la la Ooh, I should be running Ooh, you keep me coming for ya Jonathan semakin merasa frustasi, dia menggaruk kepalanya dengan keras. Menghadapi gadis baperan itu membuatnya merasa serba salah, terutama saat Celine menatapnya lagi. Dengan terbata dia berkata "Hm.. Celine, aku sungguh tidak bermaksud.... " Jari Jonathan sudah menuju ke tombol 'next' tapi tanpa disangka, tangan Celine menghentikannya. "Jangan diganti, aku suka lagu ini." Spontan... Jonathan pun menunjukan wajah tak percayanya menatap Celine. Celine pun menggerakan kepalanya dan mencoba ikut bernyanyi. "Hei, perhatikan jalan!" Celine mendorong pipi Jonathan agar mengarahkan pandangan pria itu untuk fokus ke depan. Di sini Jonathan baru menyadari Celine memakai parfum beraroma vanila bercampur gardenia dan madu, wangi favorite Jonathan. Makanan dan minuman yang mengandung madu adalah kesukaannya. "Antar aku ke hotel di awal kita bertemu," pinta Celine "Oke, Honey." -------------------------- To be continue... Aku merasa part ini garing deh, sumpah (╥﹏╥)
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD