Entah mengapa Celine tetap kembali ke hotel di mana terakhir kali Nicholas menurunkannya. Mungkin karena ia harus konsisten. Ya, itu satu-satunya alasan yang masuk akal. Sebenarnya bisa saja ia menginap di hotel lain, agar Nicholas kelimpungan mencarinya. Lalu akan ada yang melapor pada ayah Nicholas jika hubungan mereka berdua tidak sebaik yang terlihat.
Rasanya ia ingin sesekali membuat pria itu pusing karnanya, tapi sekali lagi ... biar bagaimana pun ia harus konsisten. Mereka berdua --Nicholas dan Celine-- terlibat perjanjian untuk menciptakan atmosfer kebahagiaan agar kedua orang tua Nicholas percaya mereka saling mencintai.
Dan menurut perjanjian itu pula, tidak ada ikut campur urusan pribadi. Jadi Celine juga tidak berhak marah hanya karena Nicholas meninggalkannya di hotel demi Alice.
Tunggu dulu.. marah? Hei, siapa yang marah?
"Kenapa kau harus kembali lagi ke sini, Cel? Kau bisa cek in di hotel terdekat tadi." Jonathan memarkirkan mobilnya.
"Aku tidak bisa menjelaskannya padamu Jo. Kenapa kau seperti yang keberatan?"
Pria itu tidak menjawab, Celine pun tak peduli ia keluar mobil Jonathan.
"Dan terima kasih untuk hari ini," ujar Celine melambai dari kaca pintu yang terbuka. Ia sudah berbalik ketika suara Jonathan kembali memanggilnya.
"Celine!!" Jonathan keluar dari mobilnya menghampiri Celine.
"Bisa kah nanti kita bertemu lagi?"
"Hm ... mungkin. Kau tidak sedang mencoba menginap di kamar yang berdekatan denganku kan?"
Jonathan menggeleng sambil tersenyum. "Tidak ... aku tidak bisa menginap di sini."
Kening Celine berkerut dalam mempertanyakan.
"Sampai jumpa."
"Jo!" Kali ini Celine yang memanggil.
"Ya," Lelaki itu menghentikan langkahnya.
"Bisa kau bantu aku sekali lagi?"
*****
"Ingat! Jika ada wanita tidak dikenal mengetuk pintu kamarmu, jangan kau buka!" pesan Jonathan yang sudah berdiri di samping mobilnya.
"Berarti kalau lelaki boleh?"
"Celine aku sedang tidak bercanda."
"Iya, iya ... kau sudah mengatakannya sepuluh kali Jo!"
"Karena aku merasa cemas, ini bukan ide yang baik, Cel."
"Berikan ponselmu!" Pinta Jonathan, Celine memberikannya begitu saja.
Jonathan menekan dial ponsel Celine dan meninggalkan nomer ponselnya di sana. "Jangan lupa hubungi aku jika terjadi sesuatu!"
"Jo,aku bukan anak kecil"
Jonathan mengelus puncak kepala Celine. "Ya sudah, sampai ketemu lagi Bye."
"Bye." Celine membalas lambaian tangan pria itu.
Saat memasuki kamar, Celine langsung merebahkan badan. Ia merasa apa yang dilakukannya ini memang sedikit konyol.
Cek in atas nama Jonathan, untuk apa? Agar Nicholas mencarinya? Kenapa juga ia ingin Nicholas mencarinya? Bukankah ia kembali ke hotel ini agar Nicholas dapat menemukannya?
Celine menggeleng berusaha mengenyahkan semua tanda tanya yang tak memiliki jawaban tersebut dari benaknya. Mungkin sebaiknya ia membersihkan diri agar dapat berpikir lebih jernih.
Setelah membersihkan diri, Celine bersiap tidur. Ia menggalau, disatu sisi ia tak bisa menginap dihotel lain karna itu akan membuat Nicholas kesulitan menemukannya, namun disisi lain ia juga tak ingin Nicholas menemukannya dengan mudah. Perasaan apa ini?
Mungkin karna rasa lelah teramat sangat, lelah hati, lelah fikiran juga lelah fisik yang terus berkutat dengan kegundahan itu, akhirnya Celine pun terlelap dalam tidurnya.
*****
Sebuah tangan terasa melingkar di tubuh Celine, memeluknya hangat, membuat ia merasa nyaman, aman dan juga meremang. Seolah ada napas dan kecupan pada bagian lehernya. Ia juga merasakan ada yang sedang mencium bibirnya hingga basah dan menikmati setiap pagutan lembut bagian bibir bawahnya, lalu dengan perlahan Celine merasa tangan yang memeluknya mulai merayap menggelayari tubuhnya, menyusup di balik piyamanya menuju d**a serta meremas isinya lembut dan dengan sekali hentakan dirobeknya baju itu hingga kancingnya berceceran, dengan perlahan pula cumbuan tersebut mengiringi belaian berlanjut turun dari leher ke d**a, perut, lalu bersiap untuk membuka pakaian bawahnya disertai kecupan yang terus turun ke ... Oh tidak?!
Celine terperanjat dari tidurnya, ia duduk dengan napas yang terengah. Meraba piyama dan celana yang ia kenakan masih terbungkus utuh di badan.
"Rupanya hanya mimpi," gumam Celine mengelus d**a. B
enar juga, bukankah ia tidur sendirian? Mana mungkin terjadi hal - hal seperti dalam mimpinya. Atau jangan-jangan kamar ini ada penghuni lainnya?
Pikiran Celine mulai kacau, ia bergidik ngeri sendiri. Mungkin ia terlalu memikirkan Nicholas, hingga membuatnya bermimpi aneh. Dilihatnya dari jendela sinar matahari yang memberontak menembus gorden mewah itu. Ia menyibaknya dan benar saja, ini sudah pagi, tidak mungkin hantu berkeliaran di pagi hari kan?
Celine menenggelamkan dirinya di bathtube, menenangkan otot dan mengenyahkan pikirannya yang kacau. Ia teringat ucapan Jonathan kemarin di pantai dan iaa tidak mengerti, kenapa lelaki begitu mudah mengumbar cinta?
Hampir satu jam Celine berendam air hangat dengan aroma terapi untuk menenangkan pikirannya yang kacau. Ia lantas berpakaian dan turun ke bawah untuk mengambil sarapannya.
Sekilas ia mendengar suara wanita yang meninggi di lobby, akan tetapi ia tidak ingin ikut campur. Sampai kemudian wanita tersebut menerobos aera makan dan berteriak.
"Jonatahan! Jo! Keluar kau!" Jeritan tersebut melengking hingga beberapa orang menoleh ke arah wanita tersebut. Termasuk Celine. "Aku tahu kau baru cek in semalam."
Gadis itu segera memalingkan wajah. Ia membeku di mejanya mencoba menyantap sarapan seperti tidak terjadi apa-apa. Naun, benaknya terus bertanya-tanya Siapa gadis ini? Kenapa dia mencari Jonathan seperti orang kesetanan? Apa ia perlu menghubungi pria itu?
Hingga kemudian para security menarik dan mengamankan gadis itu. Ia masih berontak dan berteriak, "Jonathan! Kau harus bertanggungjawab!"
What?! Bertanggung jawab? Celine mulai menyusun potongan-potongan ingatannya tentang pria yang sedang dicari wanita tersebut
Mereka bertemu di lobby hotel, ia yakin Jonathan berjalan tergesah-gesah juga makanya pria itu menabraknya. Saat di kafe Jonathan bilang dia sudah terbiasa mendapat tatapan 'seperti itu' tatapan seperti apa maksudnya? Membuat wanita menangis? Jonathan juga mengajaknya ke pantai, bukankah itu hal yang romantis? Berdua di pantai menikmati matahari tenggelam. Akh, jangan lupakan pernyataan cinta yang ia katakan? Dia bilang cinta pada pandangan pertama? Single? Cih... kata-katanya benar-benar seperti playboy cap kadal. Dan ya, mungkin Jonathan tidak bisa menginap disini karna wanita ini, wanita ini juga yang dimaksud olehnya sebelum ia pergi. Wanita ini lah yang membuat Jonathan memintanya berkali-kali untuk berhati-hati.
Oke fix.. lelaki itu memang playboy dan wanita ini adalah salah satu korbannya yang ia tinggal begitu saja tanpa mau bertanggung jawab. Ish....
Mungkin wanita itu luluh dan bersedia menghabiskan malam bersama Jonathan lalu dia hamil dan sekarang meminta pertanggung jawaban?
Celine menggeleng keras. Ia dengan cepat menghapus nomer pria itu. Ia tidak mau berhubungan dengan pria yang sudah menghamili anak orang!
Segera setelah Celine menyelesaikan sarapannya, ia kembali ke kamarnya. Namun belum juga tangannya meraih gagang pintu, pundaknya sudah ditarik dengan kasar.
"Hei kau! Jadi kau gadis yang bersama Jonathan kemarin?"
Dia gadis tadi yang berteriak di bawah bagaimana wanita ini bisa ke lantai atas? Dan sekarang Celine baru melihat dengan jelas bahwa wanita dihadapannya ini sangat cantik. Pakaian terbuka tapu tetap elegan, kulitnya yang mulus, rambut pirangnya yang berkilau sudah pasti sering perawatan, tas mewah yang dibawanya tak berani ia tebak harganya yang pasti puluhan atau bahkan ratusan juta mengingat logo tas itu adalah sebuah kuda dengan kencana.
"Katakan di mana Jonathan?" Wanita itu kembali bertanya sambil memegang kedua pundak Celine, membuatnya sedikit takut.
"Aku ... aku tidak tahu," jawab Celine tergagap.
"Jangan bohong! Kemarin aku melihatmu dengannya di kafe depan dan kalian pergi bersama dengan mobilnya!"
"Semalam dia juga cek in di kamar ini kan? lalu sekarang aku lihat sendiri kau tidur di sini."
Celine terdiam, dia tidak menyangka wanita ini melihatnya, apa jika ia menceritakan yang sebenarnya maka wanita ini akan percaya bahwa ia salah paham?
"Jangan diam saja!" bentak wanita itu.
"Oh... apa dia masih di dalam? Masih berselimut dengan badan telanjang setelah yang kalian lakukan semalam? Dibayar berapa kau hah? Dasar jalang!" Dugaan wanita itu sekaligus menghinanya. Bahkan dia bersedekap dan melempar pandangan meremehkan.
Kontan keberanian Celine menyeruak seketika, ia tidak terima.
"Hei jaga kata-katamu!" Celine berani mengeluarkan suara lagi mendengar hinaan itu.
"Kalau begitu buka pintunya!" tantang si wanita tersebut tak sabar.
"Baik akan aku buka, tapi jika kau tidak menemukannya kau harus menarik kata-katamu."
Celine sudah bersiap membuka pintu namun pintu itu sudah terbuka dengan sendirinya, dan muncul sosok pria berbalut jubah mandi dengan rambut yang basah dari sana. Hal tak terduga itu membuat mata Celine melotot lebar, lelaki itu tampak begitu sexy dan menggoda iman.
"Ada apa ini?"
"Nick ... kau--"
"Hai honey, apa kau sudah selesai sarapannya? Kenapa tidak menungguku? Aku baru selesai mandi, saat aku bangun kau tidak ada." Nicholas meraih pundak Celine lalu mengecup puncak kepalanya mesra tanpa memperdulikan ada wanita lain di sana yang kepalanya sedang mengepul.
"Eh, itu ... iya... aku...."
"Siapa dia?"
"Kau yang siapa? Jonathan di dalam kan?" Wanita itu hendak menerobos, akan tetapi segera dihalangi oleh Nicholas.
"Hei apa yang akan kau lakukan? Kau mengganggu ketenangan kami," cegah Nicholas.
"Oh... aku tahu, kau lelaki yang bermain dengannya setelah Jonathan selesai? Hebat! Kau bermalam dengan dua pria sekaligus." Kembali wanita itu menyindir dengan pandangan meremehkan ke arah Celine.
Tangan Celine sudah mengepal, ia bersiap menyerang wanita ini, tidak peduli sekalipun wanita ini dari kelas atas, tapi ucapannya benar - benar tidak bisa ditoleransi.
"Jaga bicaramu Nona! Atau aku bisa menuntutmu dengan pencemaran nama baik!" cecar Nicholas mendahuluinya.
"Dia ini tunanganku, calon istriku, kau lihat!" Nicholas menunjukan tangannya yang mana cincin tunangan mereka melingkar di jari manisnya.
Dan Nicholas juga menarik tangan Celine untuk mensejajarkannya di hadapan wanita itu menunjukan bahwa mereka memakai cincin yang sama.
Tunggu dulu... sejak kapan cincin tunangannya melingkar lagi dijari manisnya? Bukankah kemarin ia melepasnya di kafe saat bersama Jonathan?
"Apa kau masih tidak percaya? Pergilah sebelum kau lebih mempermalukan dirimu lagi atau aku tidak akan segan menuntut ke meja hukum. Hotel ini memiliki cctv sebagai bukti.l
"Kau?! Awas saja jika--" ancaman wanita itu terpotong oleh Celine.
"Untuk apa aku berhubungan dengan lelakimu, jika pria ku jauh lebih tampan, sexy dan menggoda." umbar Celine dengan senyum mengejek.
Kemudian tanpa mengatakan apapun, wanita itu melangkah pergi meninggalkan mereka dengan kesal. Celine mendesah, sungguh ... sekalipun dalam benaknya tak ada keinginan untuk bertengkar ala-ala perempuan hanya karena seorang lelaki.
Ia menengok Nicholas dan hendak memberondongnya dengan banyak pertanyaan, tapi pria itu justru menatapnya tajam, rahangnya mengeras seakan sedang menahan amarah membuat Celine menelan sendiri pertanyaannya, kemudian tanpa berkata apapun Nicholas menarik kasar lengan Celine untuk masuk ke dalam.
Ini gawat..
Kau dalam masalah Cel..
pria ini akan menelanmu hidup-hidup
---------------------------
To be continue..
Thank you for reading and don't forget to coment ^^