Bastian

1012 Words
Tangan Celine mulai merasa sakit karna genggaman Nicholas yang semakin erat saat menariknya ke kamar, tapi ia tidak berani mengucapkan apapun. Ia menghempaskan tubuh Celine ke kasur, hingga tubuhnya mengembal terduduk disana. Masih tak ada kata yang keluar dari mulut Celine, ia tahu ia salah.. ia gegabah dan tidak memikirkan resikonya, padahal Jonathan sendiri sudah memperingatkannya. Dan semua ini ia lakukan semata-mata karna ia kesal pada Nicholas. Kekesalan yang ia sendiri tidak mengerti, ia hanya ingin melakukannya. Dan lelaki itu masih berdiri didepan Celine dengan jubah mandinya. Celine seperti anak kecil yang siap dimarahi, ia terus merunduk. "Siapa pria itu?" Tanya Nicholas. "Pria yang mana?" "Kau tahu siapa yang ku maksud Cel" "Dia.... dia.... temanku" Tidak mungkin kan Celine berkata bahwa Jonathan orang asing yang baru ia kenal lalu memintanya cek in atas nama pria itu. Tidak terbayang apa yang akan dipikirkan Nicholas. "Kau tidak punya teman bernama Jonathan Cel..." "Sok tahu! Dia memang temanku" kekeh Celine masih menutupi kebohongannya. Well.. Tidak terlalu berbohong sih Jonathan kan sudah jadi temannya "Asli sini? Tinggal dimana? Sudah berapa lama kalian berteman?" Cecar Nicholas "I-itu.. itu" sial.. dia lupa menanyakannya. Dia hanya tahu Jonathan tinggal disini untuk urusaan pekerjaan. "Sekalipun kau cek in atas nama orang lain kau pikir aku tidak akan bisa menemukanmu dengan mudah?" Ya.. Celine baru sadar, sejak kapan Nicholas mengetahui keberadaannya. Jonathan yang cek in, ia juga membayar cash tanpa menggunakan kartu kredit yang Nicholas berikan "Bagaimana bisa kau tahu aku disini?" Tanya Celine langsung "Kau pikir yang punya rumah tidak akan tahu dimana tamunya menginap?" Jawabnya dengan senyum miring "Jadi maksudmu Hotel ini.." "Tentu saja. Apa kau lupa tunanganmu ini adalah Nicholas Bagaskara?" Shit.. harusnya Celine memang tidak kembali ke hotel ini. Ini terlalu mudah untuk Nicholas menemukannya. "Sekarang katakan padaku dengan benar! Siapa Jonathan?" Tuntut Nicholas "Kau bisa mencaritahu sendiri, bukan kah hal yang mudah untuk seorang Bagaskara menemukan identitas orang lain?" Kesal Celine. Bukankah ia yang harusnya emosi disini mengingat dia lah korban PHP. "Jangan menguras kesabaranku Honey?" Apa? Menguras kesabaran? Bukankah aku yang harusnya marah setelah ia tinggalkan sebagai tumbal begitu saja? "AKU. TIDAK. PEDULI" Tekannya pada setiap kata Nicholas tersenyum miring. "Baik.. jika kau tidak mau mengatakannya aku yang akan memaksamu" Nicholas mencondongkan tubuhnya, bertumpu pada kedua tangan mengurung Celine yang duduk dipinggir ranjang dan mendekati wajah Celine hingga tak ada jarak diantara mereka. "A-a-pa yang co-ba kau la-kukan?" Tanya Celine tergagap "Aku akan kembali menghisap madu" jawab Nicholas masih dengan senyum miringnya Secepat kilat Celine menahan bahu Nicholas dengan tangannya agar pria itu tidak semakin mendekat lalu merapatkan kedua bibirnya. Dan dengan bibir yang masih terkatup itu ia berbicara seperti nenek-nenek ompong "Dia hanya orang asing yang kebetulan bertemu di lobby la-" "Cukup. Aku mengerti" Alis Celine bertaut, wajahnya penuh tanda tanya. Memangnya apa yang sudah dia mengerti aku bahkan belum cerita semuanya? Setidaknya bukan hanya aku yang kau anggap orang asing, Cel.. batin Nicholas Nicholas menarik diri tapi tiba-tiba Celine menahan tangannya. Wanita itu memperhatikan wajah tunangannya dengan seksama. "Kau terluka." Ujar Celine saat melihat sedikit sobekan disudut bibir Nicholas. "Oh ini.. hanya luka kecil" Celine masih menatapnya penuh selidik "Jangan memasang wajah seperti itu, tunjukan lesungpipi mu! Dibawah ada Bastian, aku akan memakai baju dulu. Kau tunggu disini, kita turun bersama" "Apa? Kak Bas ada disini?" Celine memekik tak percaya. Apa yang akan terjadi nanti saat dia tahu adiknya menginap dihotel. Ya.. meskipun ia hanya tidur sendiri tapi jika ia turun bersama dengan pria ini pasti kakaknya akan mengira.... ***** Mereka bertiga sekarang berkumpul disebuah restoran. Celine sibuk mengaduk-aduk minumannya, dia baru saja selesai sarapan, tidak mungkin dia makan lagi, kapan dia bisa menyaingi tubuh Alice kalau dia terus makan? Jadi ia hanya memesan segelas jus. Celine merasa tersisihkan karna kakaknya dan Nicholas hanya sibuk membahas perusahaan dan bisnis yang sama sekali Celine tidak mengerti dan tidak mau mengerti. Dulu ayahnya pernah berucap agar sebagian besar perusahaannya dikelola oleh Celine karna ia lebih pintar, maka dari itulah ayahnya juga memasukannya kuliah dijurusan ekonomi bisnis. Sebenarnya ia ingin menjadi penyanyi tapi ayahnya melarang, bagi kedua orang tua Celine, profesi artis dan penyanyi itu tidak menjamin, berbeda dengan pengusaha. Tapi itu dulu, cita-citanya kini hanyalah menjadi ibu rumah tangga yang baik dan menjalani hidupnya sebagai pendamping guardian angel nya. Ya.. begitu lah setelah ia bertemu Raka. Ia masih mengharapkan lelaki itu kembali padanya setelah ia melalui semua ini. Ddrrtt... ddrrttt... Ponsel Nicholas berbunyi, dia menjauh untuk mengangkat panggilan itu. Bastian menatap lekat adiknya "Nah.. memang seharusnya begini lah tampilan seorang calon istri Nicholas Bagaskara." Ucap Bastian "Memangnya apa yang salah dengan penampilanku sebelumnya?" Tanya Celine polos "Tidak ada yang salah sih. Hei Cel.. coba kau lihat itu!" Bastian menunjuk sesuatu diatas dan itu membuat Celine ikut mendongak untuk melihat apa yang coba kakaknya tunjukan diatas. Tapi nyatanya tidak ada apa-apa "Memangnya ada apa?" Tanya Celine. "Lampu crystal diatas sepertinya bagus, aku akan memasangnya di rumah baruku nanti" "Ish.. hanya itu? Pasang patromax sekalian kak! Lebih antik" Celine mendengus kesal karna yang kakaknya ucapkan itu sangat amat tidak penting. Celine menenggak minumannya "Jadi.. Sejak kapan keperawananmu dibobol Nick?" Tanya Bastian menggoda Buuuuurrrrr... air dimulut Celine menyembur kedepan. "Hei.. hati-hati, kau bisa mengotori bajuku" ucap Bastian kesal. Celine meletakan gelasnya kasar, lalu meraih tisu dan mengelap bibirnya. "Biar saja! Biar semua orang tahu, pakaian dan otakmu itu sama kotornya" seru Celine bersungut-sungut. Dia nyaris tidak percaya dengan pertanyaan kakaknya yang begitu frontal ini. Apa yang ada dipikiran kakaknya? Bagaimana bisa dia bertanya hal tersebut dengan tenangnya sedangkan adiknya ini seorang perempuan? Satu-satunya pula? Harusnya dia marah bukan? Melarang Nicholas berbuat yang macam-macam-atau satu macam- seperti... melakukan pembobolan. "Tenanglah adikku yang manis. Aku hanya memastikan informasi dari Sofia." Bastian tertawa renyah. "Sofia? Memang apa yang dia katakan?" Celine tidak tahu apa yang sahabatnya ini ceritakan pada kakaknya, jelas-jelas Sofia tahu bagaimana hubungan dia dan Nicholas, tapi bagaimana bisa kakaknya bertanya kebobolan? "Em.. itu.. oh iya.. apa Sofia tidak memberitahumu bahwa Gilbert dikeluarkan dari kampus?" Bastian yang merasa salah bicara pun mengalihkan perhatian "Gilbert? Siapa itu?" "Sofia bilang Gilbert itu lelaki yang pernah 'menawarmu' di kantin sebelum kau datang kesini dia temannya Irfan. Sofia juga bilang Irfan pernah menyatakan cinta padamu" "Ooo.. dia" Celine ingat sekarang, jadi nama lelaki temannya Irfan itu adalah Gilbert "tapi bagaimana bisa?" "Tentu saja bisa. Kenapa seorang Nicholas tidak bisa mengeluarkan mahasiswa bodoh seperti dia. Sedangkan Nicholas menjadi penyumbang terbesar di kampusmu. Biar dia merasakan seperti apa dinginnya penjara" **** To Be Continue
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD