Di satu sisi, Celine teramat bersyukur karena hari ini ia tidak mempunyai jadwal kuliah. Bukan karena ia takut menghadapi Irfan dan temannya, hanya saja ia malas dengan semua desas-desus yang masuk ke telinga. Sekuat apa pun mencoba untuk berpura-pura tidak mendengar, setegar apa pun berusaha tidak peduli, nyatanya hatinya terluka.
Akan tetapi di sisi lain, ia justru harus menghabiskan waktu senggangnya bersama dengan Nicholas. Sementara tugas kuliahnya terlantar. Celine sangat ingin menggerutu pada pria itu, mengingatkan pada tunangan gadungannya mengenai sikap Nicholas di meja makan semalam. Namun, rasanya ia sedang tidak dalam kondisi siap berdebat. Meski setiap mengingat hal tersebut membuat pikiran Celine terasa panas.
Orang ini bodoh atau amnesia? Bukankah Nicholas bilang akan bagus tidak bertemu dengannya dalam waktu lama? Dan apa yang lelaki itu ucapakan semalam? Dia dan Nicholas akan lebih sering bersama? Heh...
Celine mendengus, terlebih mengingat permintaan orang tua Nicholas.
Denpasar? Oh, ayolah ... tidak bisa kah Nicholas tidak menolak ide tersebut? Berpura-pura sebagai pasangan saja sudah sangat menyulitkan, apa lagi harus ke luar kota? Ah, tidak ... ini keluar pulau. Jika saja di sana tidak ada sesiapa, mungkin mereka bisa menghabiskan waktu masing-masing. Namun, mengingat mereka harus menginap di rumah Paman dan Bibi Nicholas ... uh, membayangkannya saja Celine sudah merasa tidak sanggup. Ia tidak pernah ingin berlibur berhari-hari di luar kota bersama pria gila di sampingnya ini.
"Aku suka penampilan barumu, Cel."
Seketika Celine keluar dari pemikirannya, ia menoleh dengan dramatis bersama alis yang mengernyit mendengar pujian Nicholas.
"Apa aku tidak salah dengar? Kau sedang memujiku ketika tidak ada yang mengawasi kita?"
Tawa renyah Nicholas menguar di dalam mobil yang tengah melaju sejak empat belas menit yang lalu. "Aku jujur, Cel. Kau terlihat seperti perempuan sekarang."
"Jadi maksudmu sebelumnya aku bukan perempuan?"
Terdengar Nicholas berdecak sebal. "Sudahlah lupakan! Kau mau kita membeli pakaian di mana? Apa kita perlu terbang ke Singapure?"
"Kau gila! Memangnya ini acara apa hingga membeli baju harus sejauh itu, Nick?" pekik Celine hingga tanpa sadar menegakan duduknya.
"Apa kau lupa yang diucapkan Mami dan Papi?"
"Pakaianku masih banyak dan menurutku itu masih layak pakai."
Seketika Nicholas menengok, menelusuri penampilan Celine saat ini. Celana panjang dengan kaos motif catur dilapisi jaket denim. Benar - benar perpaduan yang buruk.
"Cel, kau ini tunanganku sekarang. Mami bisa menghukumku jika tahu calon menantunya memakai pakaian yang model lawas di acara sana. "
"Apa kau tidak tahu jika mode fashion itu selalu berputar? Aku masih bisa memadu padankannya," kekeh Celine.
"Seperti yang kau pakai sekarang?" tanya Nicholas sarkas. Mobil mereka tengah berhenti di lampu merah. Setelah memindahkan tuas rem, ia memutar tubuhnya ke arah Celine. "Tanpa bermaksud merendakan. Orang lain akan menghargai kita dari bagaimana kita menghargai diri sendiri. Dan berpenampilan menarik adalah salah satu bentuk menghargi dirimu."
"Jangan pernah menilai orang dari covernya."
"Dan jangan terlalu naif dengan mempercayai orang akan menilai dari hati saja. Faktanya, pada pertemuan pertama tidak akan ada yang bisa menilai hati orang lain."
Celine sudah membuka mulut saat pandangan Nicholas tampak lebih tajam. "Perlu aku tegaskan lagi, jika suka atau tidak, posisimu sekarang adalah tunanganku ... calon menantu Bagaskara. Tidak bisa kah kau cukup mematuhiku tanpa berdebat?"
Ada sesuatu yang membuat mulut Celine terkatup, entah oleh nada tegas pria itu, atau rahangnya yang mengerat, mungkin juga pada tatapan dari mata cokelat Nicholas yang menembus.
"Baiklah." Celine membuang muka, jantungnya merasa tidak sanggup harus beradu tatap lebih lama. Namun, Celine juga sudah gerah dengan embel - embel tunangan dan calon menantu. Ia bersedekap dan menghempaskan tubuhnya. Sementara Nicholas kembali menghadap ke depan, memperhatikan detikan merah menuju lampu hijau.
"Baiklah. Kita akan membeli baju baru, tapi via online saja. Aku malas harus jalan berdua denganmu."
"Are you insane? Tidak! tidak! tidak! Itu lebih parah." Kali ini Nicholas yang mengembuskan napas menahan kesal.
"Tapi aku tidak mau pergi keluar negeri hanya untuk berbelanja, Nick!"
"Oke, kita akan cari jalan tengah."
"Apa?"
Memilih tidak menjawab, Nicholas lebih memilih melajukan mobilnya.
"Nick, katakan apa jalan tengahnya? Kau tidak berniat membawaku ke singapure atau ke luar kota kan?"
Nicholas menggeleng santai. Dia sengaja membuat Celine penasaran, sekaligus tidak ingin mendengar debatan lagi. Tujuan kali ini Celine harus bersedia.
"Kau akan mati di tanganku jika berbohong."
Dibanding takut, Nicholas justru terkekeh mendengar ancaman kosong itu. Terlebih melihat wajah cemberut Celine dengan pipi mengembung.
"Bisakah kau samapaikan terima kasihku untuk Sofia," pinta Nicholas mengalihkan pembicaraan.
"Hmm? Apa?" Celine menoleh bingung.
"Aku bilang, sampaikan terima kasihku pada Sofia. Terima kasih karena sudah meringankan tugasku untuk membawamu ke salon. Setidaknya hari ini aku cukup mengantarmu membeli beberapa pakaian."
Celine hanya mengangguk pelan tanpa berkata apa - apa lagi, tapi anggukannya seketika berhenti menyadari sesuatu.
"Tunggu dulu, bagaimana bisa kau mengenal Sofia?"
"Kemarin saat kau pergi dari kantin, kau meninggalkan tasmu. Dia yang mengangkat panggilanku saat aku menghubungimu dan Sofia juga bercerita tentang hal yang membuatmu menangis. Harusnya hal itu tidak akan terjadi bila aku di sana."
Benak Celine berputar kembali pada kejadian di kantin dan di taman. Saat ia menangis dan membiarkan seseorang meraup dirinya ke dalam pelukan karena berpikir bahwa orang tersebut adalah Raka, guardian angelnya.
Celine mendengus, tidak mungkin Tuhan mengirimkan malaikat pelindung yang b******k seperti Nicholas bukan?
"Kenapa kau malah mengacuhkan panggilanku?"
"Tentu saja karena aku tidak mau diganggu, bukankah aku sudah bilang?"
"Ya ... ya ... ya ... terserah kau saja."
*****
Celine yakin wajahnya sekarang tampak bodoh dengan mulut yang menganga serta mata tak berkedip dan tubuh tak bergerak karena tidak menduga tempat pilihan Nicholas adalah butik milik ibunya sendiri.
Sementara pria itu dengan terkekeh geli mengusap wajah Celine. "Ayo masuk!"
Tidak ada keromantisan seperti bergandeng tangan, Nicholas lebih dulu melangkahkan kaki panjangnya meninggalkan Celine yang masih berdiri di samping mobil.
"Nick, tunggu!" Begitu kesadarannya telah kembali Celine pun melesat menyusul Nicholas.
"Kau ini apa-apaan, Nick! Kenapa kau tidak bilang kita akan ke...." desisan Celine terhenti ketika Nicholas melemparkan tatapan yang sama seperti di mobil tadi. Gadis itu tak berani membantah lagi.
Satu hal yang Celine syukuri adalah ibu Nicholas sedang tidak berada di tempat. Hanya ada beberapa karyawan yang menyapa mereka dengan ramah, mungkin karena sudah mengenali Nicholas sebagai anak pemilik butik.
Sementara Celine sibuk di ruang ganti untuk mencoba beberapa pakaian yang telah dipilihkan, Nicholas duduk di sofa panjang berwarna merah megah dengan list berwarna emas yang berkilau. Menggulir beberapa portal berita tentang Alice.
Persis ketika tirai dibuka -- menampilkan Celine berbalut gaun pendek cream peach yang bertabur swarovski pada kerah dan tepian lengan, pandangan Nicholas sepenuhnya fokus pada gadis itu.
Cantik, setidaknya begitulah pengakuan hati Nicholas sebelum kemudian tatapannya jatuh pada bagian bawah dress itu yang hanya setengah paha menampakan kaki jenjangnya.
Astaga.. Sejak kapan kaki itu terlihat indah?
Nicholas berusaha membasahi tenggorokannya, mencoba menjaga ekspresi di depan Celine.
"Anda menyukainya, Tuan?" tanya wanita penjaga toko di sana.
"Tidak. Saya tidak suka. Bisa kau pilihkan yang lain? Yang..." Nicholas kaki Celine. "Tidak terlalu pendek begitu?"
Lain hal dengan Celine yang sudah pasrah, tidak berani membantah dan mendapatkan tatapan tajam Nicholas lagi. Ia hanya ingin semua ini segera selesai. Demi Tuhan, tugasnya masih menumpuk. Tidak lucu jika ia harus ke Denpasar nanti dengan membawa tugas.
Kali ini Celine memakai long dress berwarna merah maroon dengan bahan yang berkilau menambah kesan elegan, tapi tunggu ... gaun tersebut memiliki bagian atas yang terbuka tanpa lengan dengan belahan d**a rendah serta di sisi kiri juga terdapat belahan tinggi mencapai paha.
Sebelum Nicholas melancarkan protes, Celine sudah lebih dulu berkomentar.
"Aku tidak suka yang ini, Nick! Tidak nyaman."
Lagi ... Celine berganti baju, kali ini dress yang digunakan memiliki panjangnya selutut, berbahan tile dengan motif bunga pada lengan, berwarna ungu muda, terlihat sopan namun tetap elegan.
Nicholas merasa sepertinya yang ini sudah pas. "Berputarlah!"
Zooonnk!!!
Rupanya bagian belakang Celine tercetak jelas, gaun tersebur menampilkan punggung polosnya yang mulus. Nicholas mengacak rambut frustasi.
"Pakaian apa sebenarnya yang maminya jual? Semua tampak kekurangan bahan."
"Nick, tidak kah sebaiknya kita menggunakan batik couple saja? Aku rasa itu lebih sopan," usul Celine.
"Akan banyak orang yang memakai batik juga. Aku tidak suka harus terlihat sama dengan yang lain."
Celine mendesah berat, adakah yang menjual kesabaran? Karena hari ini pasti akan berlangsung lebih lama dan lebih melelahkan.