Celine menggeliat dalam tidurnya. Kesadaran hinggap perlahan beriringan dengan kelopak mata nan sendu yang mengerjap pelan, memperhatikan tempat dirinya berada sekarang. Ruangan ini jelas bukan kamar tidurnya, dan Celine kembali merasa deja vu dengan kepalanya yang berbantalkan lengan besar nan empuk, juga pelukan dari belakang dengan tangan melingkar di perut.
Menoleh perlahan, ia mendapati Nicholas tertidur satu ranjang bersama. Celine mungkin akan menjerit seperti yang dilakukan terakhir, tapi sebelum itu ia sudah menutup mulut. Belajar dari kejadian sebelumnya, gadis itu menelisik tubuhnya terlebih dulu kemudian menghela napas lega tatkala mendapati badannya masih memakai pakaian lengkap.
Pertanyaannya, bagaimana bisa dia di sini? Ingatan terakhir Celine adalah dia menangis di taman, lalu ada seseorang yang memeluknya. dia pikir itu Raka.
Apa mungkin pria itu adalah Nicholas? Celine membatin sambil memperhatikan wajah Nicholas yang masih tertidur di sampingnya. Wajah dengan garis rahang yang tegas, alis tebal, mata yang tertutup oleh sebagian rambut serta napas yang teratur itu tampak damai. Ada sesuatu menggelitik hati Celine, dilihat dari sisi manapun Nicholas memang punya pesona yang berbeda. Sementara dia hanya wanita normal yang tidak akan menyia-yiakan pemandangan langka seperti sekarang. Meski sulit untuk diakui, tapi tunangan gadungannya ini memiliki ketampanan di atas rata-rata.
"Kau sudah bangun?" Nicholas bertanya karena merasakan pergerakan Celine yang sekarang sudah duduk.
"Kita di mana, Nick?" tanya Celine gugup, dia tidak ingin ketahuan sedang memperhatikan pria itu.
"Aku pikir kau akan menjerit lagi?" kelakar Nicholas.
"Bagaimana aku bisa di sini?" tanya Celine mencoba mengacuhkan ledekan lelaki itu.
"Menurutmu? Tentu saja aku yang menggendongmu seperti yang kulakukan di apartemen."
"Haruskah kau juga tidur bersamaku dengan memelukku seperti terakhir kali? Kali ini apa alasannya? Aku tidak kedinginan, Nick!" Nadanya kembali meninggi, ia tidak terima karena Nicholas selaluengambik keuntungan dari membantunya. Padahal ia sama sekali tidak dianggap seperti perempuan.
"Tapi aku yang kedinginan! Lagipula anggap saja ini bayaranku karena mengangkat tubuhmu yang berat itu ke kamar."
"Kau bisa membangunkanku, Nick. Alasanmu terlihat sekali dibuat-buat."
"Sstt, jangan berisik! Nanti Mami dan Papi dengar."
"Mami? Papi? Jangan bilang kalau kita di...."
"Di rumahku, ayo siap-siap turun! Kita harus makan malam. Kau tertidur sejak sore dan belum makan apa pun."
Celine yakin, wajah bangun tidurnya kini bertambah buruk akibat ia menganga. Gadis itu menggerutu dalam hati, tidak habis pikir dengan kelakuan Nicholas yang seenak jidat. Ini memang bukan yang pertama kali ia datang ke rumah keluarga Bagaskara, tapi ini pertama kali ia masuk dan tidur di kamar Nicholas.
Bahkan, bersama Raka yang sudah tiga tahun menjalin hubungan pun Celine belum pernah menginjakan kaki di rumah lelaki itu.
Nicholas mendorong naik dagu Celine agar mulutnya menutup. "Mandi dulu sana! Kau seperti anak kucing yang baru keluar dari tempat sampah."
Celine kembali mendapatkan kesadarannya lalu mendengus sinis ketika Nicholas sudah terlebih dahulu menghilang di balik pintu.
"Oh, aku tidak percaya ini," gumam Celine. Ia benar-benar tidur dan mandi kamar seorang pria. Astaga!
Sebenarnya Celine sudah menduga, cepat atau lambat hal ini pasti akan terjadi. Menginap di rumah Nicholas. Namun, ini tetap sulit dipercaya. Seharusnya pengalaman menginap seperti ini adalah bersama Raka dan keluarganya.
Pintu kembali terbuka dengan kepala Nicholas yang menyembul bersamaan kalimt ancaman, "Jika dalam sepuluh menit kau belum mandi. Aku yang akan memandikanmu."
"Dasar m***m!!" serunya melempar bantal, tapi hanya berakhir sia-sia karena Nicholas sudah kabur dan menutup pintu.
Celine yakin Nicholas tidak benar-benar serius.
"Cepatlah! Atau mau kuhitung sampai sepuluh?" Mata Celine membesar.
"Satu."
Tanpa berpikir panjang lagi, ia segera melesat ke kamar mandi.
*****
Di meja makan.
"Kami senang kau datang lagi ke sini, Sayang. Beberapa hari ini Nicholas terlihat tidak bersemangat karena kau terlalu sibuk dengan urusan kuliahmu," ujar Jane yang tidak bisa menyembunyikan raut bahagianya.
"Aku minta maaf tidak bisa berkunjung ke sini terlalu sering. Tugas kuliah mulai menumpuk, sebentar lagi akan masuk semester akhir jadi aku harus mulai memikirkan skripsi dan lainnya."
"Bukankah harusnya akhir tahun ini kau wisuda?" Jane kembali bertanya.
"Dia pernah cuti satu semester, Mam." kali ini Nicholas yang menjawab. Celine hanya mengangguk canggung. Bukan hal menyenangkan menggali ingatan alasan dirinya cuti hingga satu semester. "Beruntunglah dia tidak sebodoh itu hingga tidak sebodoh itu untuk mengulang materi semester awal."
Ya ampun ... dia bilang apa?
Celine langsung memberi tatapan tajam pada Nicholas. Bagaimana bisa pria ini berkata seperti itu, bukan kah seharusnya mereka saling memuji dan bertingkah mesra di depan orang tuanya?
Nicholas tahu Celine menatapnya dengan tatapan peringatan dan dia dengan santainya hanya menyodorkan segelas air.
"Apa makanannya terlalu pedas untukmu Honey? Matamu seperti terbakar, minumlah!" Nicholas tersenyum yang mana senyuman itu tampak begitu memuakan divmata Celine. Ingin sekali ia mendengus kasar.
Honey? Sejak kapan dia memanggiku dengan sebutan itu? Celine merasa tidak pernah menganti namanya di kartu tanda pengenal manapun.
Namun, Celine dengan terpaksa membalas senyuman Nichooas sebelum bergerak mengambil minum itu dan menenggaknya sampai tandas dalam sekali tegukan. Ya.. Dia butuh minum untuk meredakan emosinya.
Jane hanya tersenyum kecil melihat Celine, lebih tepatnya melihat tanda kemerahan di bawah dagu calon menantunya itu.
"Celine, bagaimana jika magang nanti kau masuk di perusahaan Nicholas saja?" tanya Rendra secara tiba-tiba.
"Ide yang bagus." Sang istri terlihat antusias.
Itu ide buruk, haruskah ia selalu bertemu pria gila ini lalu kemudian memergokinya dengan sekertarisnya seperti yang ia lihat di video? batin Celine.
"Tidak perlu, Pi. Lagi pula itu masih lama," tolak Celine halus.
"Tidak usah sungkan. Toh, pada akhirnya kau juga harus mengetahui bagaimana perusahaan kami berjalan."
Celine menatap Nicholas. Pandangannya memohon seolah meminta dukungan untuk membantunya menolak permintaan Rendra.
"Betul yang Papi ucapkan. Bukankah kita jadi akan lebih sering bersama?"
What?! Kenapa dengan pria ini?
"Tapi kalian juga tetap harus profesional dalam bekerja," pesan Rendra. Celine sudah bersiap mengutarakan seribu satu macam alasan lain ketika pertanyaan Jane menginterupsi.
"Oia, Nick. Apa kau sudah memberitahu Celine tentang rencana ke Denpasar?"
Denpasar? Demi kerang ajaib, berita apa lagi ini?
"Ah, iya, Honey.. Aku lupa. Kita harus mengunjungi paman dan bibiku di Denpasar. Mereka mengadakan acara tujuh bulanan putra kedua mereka. Dan kita akan pergi bersama."
"A-apa?"
"Hari ini Nicholas akan mengantarmu untuk membeli beberapa pakaian selama kau di sana"
"Aku dan dia?" Tunjuk Celine kepada Nicholas yang langsung menyadari ketidaksopanannya. "Ah, maksudku kami. Kami akan menginap di sana?"
Celine harus kembali memastikan jika apa yang didengarnya sama dengan apa yang dipikirkannya mengingat kata 'beberapa pakaian'
"Tentu saja, Sayang. Tidak mungkin kita hanya datang dan pergi dalam sehari."
Gadis itu bersumpah bisa melihat binar geli bersamaan dengan bibir Nicholas yang terkekeh, dan Celine merasa tenggorokannya butuh air lagi.