Lelah

1286 Words
"Kau bilang kau tahu ilmu pelet kan, Fia? Apa kau juga tahu ilmu santet?" Pertanyaan Celine itu membuat Sofia menganga tak berkedip. *** Keesokan harinya. Celine dan Sofia sedang berjalan di koridor kampus menuju kantin. "Aku suka rambut barumu, Cel. Kau terlihat lebih dewasa." Gadis itu selalu cantik di mata Sofia, bahkan menurutnya Celine sangat cocok sebagai model karena memiliki kaki yang jenjang dan tinggi semampai. Sofia mengelus rambut sahabatnya yang kini bertekstur gelombang dan berwarna cokelat karamel. Sudah sangat lama Celine tidak mewarnai rambutnya. Terakhir kali  mungkin saat pergi ke Bali sekitar empat tahun lalu dengan warna serupa. Sebelum ia bertemu Raka. "Tapi badanku masih serasa remuk," keluh Celine. Seharian kemarin Sofia mengajaknya mengelilingi mall, membeli beberapa baju, aksesoris, dan memanjakan diri ke salon. "Aku sedang menghiburmu! Salon dan shooping adalah cara terbaik memperbaiki suasana hati bagi wanita." "Bukankah sebelumnya kau mengajakku belajar ilmu pelet dan pasang susuk?" Sofia tertawa renyah. "Aku bercanda, Cel. Zaman sekarang klinik dan salon kecantikan sudah menjamur. Untuk apa kita menggunakan hal-hal seperti itu? Eh, tunggu dulu." Langkah mereka terhenti sesaat ketika sebuah pemikiran terlintas dalam benaknya. "Apa aku harus mengajak Irfan juga, ya? Itung-itung promosi klinik kakakku. Dia bilang kalau aku membawa sepuluh temanku untuk perawatan di sana aku akan diberi voucher belanja," tutur Sofia panjang lebar dengan mata berbinar "Astaga, gadis ini," Celine hanya menggeleng tak percaya. "Setelah kupikir-pikir, Irfan tidak jelek-jelek amat 'kok. Aku akan memberinya diskon sebagai ganti rugi karena dia ditolak olehmu." "Kau gila," Celine terkekeh. Kemarin setelah mereka selesai menghabiskan waktu bersama, ia menginap di rumah Sofia dan sempat menceritakan tentang Irfan. Ddrrttt... Drrrtt... Ponsel Celine berbunyi. "Kau tidak mau mengangkatnya, Cel?" Celine menatap layar ponselnya sebentar, lalu menolak panggilan itu dan memasukan ponselnya ke dalam tas setelah membaca nama yang tertera. "Tidak perlu." "Kau seperti pacar yang sedang merajuk kau tahu," celetuk Sofia. "Aku? Merajuk? Untuk apa? Tidak penting." "Kalau begitu untuk apa amarahmu ini? Aku tahu sejak kemarin Nicholas terus menghubungimu 'kan?" Ada beberapa mahasiswi yang berselisih jalan dengan mereka. Kedua gadis itu memperhatikan Celine penuh makna dengan sedikit senyum miring serta tatapan melecehkan. "Perasaanku saja atau memang sejak pagi aku melihat beberapa mahasiswa di sini memperhatikanmu seperti itu, Cel?" "Entahlah ... aku tidak peduli." Celine mengedikan bahu dengan acuh. Berbanding terbalik dengan Sofia yang teramat penasaran. "Terkadang kau terlalu skeptis, kau tau!" "Terlalu peduli juga bukan hal yang baik, Fia. Lagipula apa pun yang mereka sembunyikan cepat atau lambat pasti akan kita dengar juga kan? Yang kupedulikan sekarang adalah apa mie ayam Bu Munah masih ada? Perutku sudah demo." "Ish, kau ini ... bagaimana bisa kau punya ilmu santet jika kau tidak bisa menahan lapar?" Celine hanya menunjukan giginya yang berjejer, mereka berdua baru selesai kelas pukul tiga sore. Setibanya mereka berdua di kantin, suasana di sana pun terasa berbeda dari kemarin. Seolah lebih banyak mata yang menatap Celine dengan pandangan tak terbaca. "Sebenarnya ada apa dengan mereka?" tanya Sofia sambil menarik kursi untuk duduk, ia mulai merasa risih. "Biarkan saja! Aku sudah pernah mendapat tatapan seperti itu, kau ingat?" ucap Celine tenang membawa nampan berisi makanan dan minuman. Tentu saja Sofia ingat bagaimana di sekolah menengah atas dulu Celine mempunyai banyak teman, akan tetapi ketika ibunya meninggal, sementara ayahnya gila perempuan, lalu sang kakak masuk bui, perusahaannya pun mengalami inflasi. Mereka yang mengaku teman justru meninggalkan Celine dan hanya menyisakan Sofia. Kasak-kusuk itu semakin terdengar bergemuruh tidak jelas, tapi Celine masih santai menikmati makanan. Sofia tidak tahan ia nyaris bangkit dan berteriak jika saja kedatangan dua orang lelaki menghampiri mereka terlebih dulu "Hai, Celine." Lelaki berjaket denim bersama tiga temannya menghampiri. Celine dan Sofia saling memandang, lelaki di hadapan mereka ini bertingkah seolah-olah mengenal akrab. Namun kemudian Celine menangkap salah satu sosok di belakang pria itu, dia Irfan, pria yang kemarin menyatakan cinta padanya. Ah, Celine ingat, pria berjaket denim ini adalah pria yang sama yang ia lihat di pintu ketika Irfan berbicara padanya kemarin. "Malam ini kau pasti tidak ada jadwal kan?" "Hm?" Celine melongo bingung untuk sesaat. "Entahlah, kenapa?" Gadis itu tidak mengerti kemana arah dan maksud pertanyaan tersebut, tapi ia berusaha untuk menjaga nada bicara agar terdengar ramah. "Aku ingin mengajakmu bersenang-senang malam ini," ajak pria itu dengan senyum miring dan pandangan melecehkan. "Maaf?" Celine mengernyit, ia merasa salah dengar. "Ayolah, Cel. kau tidak perlu menyembunyikannya lagi. Semua orang di kampus sudah tahu kau akan bersedia kencan dengan bayaran tertentu." "Jaga bicaramu, b******k!" Sofia menyambar kesal, sedangkan Celine mengatupkan mulut. Entah dari mana isu tersebut, tapi yang pasti ia yakin ini alasan beberapa orang menatapnya. "Tenanglah, Nona! Apa kau cemburu karrna tidak kami ajak juga?" Salah satu lelaki lain ikut menimpali. "Katakan saja tarifmu, Cel. Aku akan membayarmu." "Kenapa kau pikir aku mau menerima tawaranmu?" tanya Celine menatang. "Bukankah sejak perusahaan orangtuamu bangkrut dan kakakmu dipenjara, kau sudah berubah menjadi wanita matrealistis? Mencoba meraih kembali kemewahan dengan cara pintas. Buktinya kau menolak Irfan yang hanya anak beasiswa." Shit?!! Celine mengutuk dalam hati, tidak menyangka pada Irfan -- lelaki yang katanya mengaguminya dari lama ikut menyebar berita menjijikan seperti ini karena penolakannya. Bahkan pria itu tetap berdiri diam di belakang temannya tanpa berkata apapun untuk membela, rasa bersalah Celine karena menolaknya pun berubah menjadi rasa syukur. "Jika kau tidak tahu apa-apa sebaiknya kau diam! Atau aku akan merobek mulutmu." Ancam Sofia sambil menggebrak meja dan berdiri, emosinya di ubun-ubun. "Itu memang kenyataan! Tak lama setelah kemewahan itu runtuh, Celine yang tidak pernah pacaran mengandeng Raka setelah dia cuti. dia dan Raka berhubungan begitu lama, tapi kenapa tiba-tiba dia justru bertunangan dengan Nicholas? Tapi sepertinya tunangannya itu sedang bosan denganmu. Buktinya dia malah menggila dengan sekertarisnya." Celine masih mencoba mengontrol emosinya dengan mengepalkan tangan erat, hingga buku-buku jarinya memutih. Ia dan Sofia sama-sama tahu bahwa pertunangan ini hanya sebuah perjanjian, tapi tidak mungkin mereka membeberkannya di depan publik. Bisa jadi, nama Celine akan menjadi lebih buruk dan image sebagai wanita komersil justru akan semakin melekat di dirinya. Namun yang mengherankan, bagaimana bisa video itu menyebar hanya dalam kurun waktu sehari? "Jadi, selagi tunanganmu itu bersenang-senang dengan wanita lain. Bagaimana kalau kau juga bersenang-senang denganku? Kau tidak perlu khawatir, aku pasti memba-" Byuuurr Celine menyiram minumannya ke wajah pria itu dan tanpa berlalu dari sana sedetik kemudian, membuat lelaki tadi meruntuk kesal pada Celine. "Kalian semua banci," umpat Sofia lalu mengejar Celine dengan membawa tas shabatnya yang tertinggal Celine berjalan cepat, seolah tidak akan berhenti. "Celine tunggu!" Sofia menjegal bahu Celine, yang langsung ditepisnya. "Aku ingin sendiri, Fia. Tolong! Tolong tinggalkan aku!" pinta Celine dengan nada sedikit bergetar. Sofia khawatir akan terjadi hal buruk lagi seperti dulu. Dia tidak tega meninggalkan sahabatnya tapi di sisi lain ia paham, Celine tidak suka menangis di depan orang. Maka ia membiarkan Celine berlalu. Di sudut taman, akhirnya tangisan Celine pecah. Rasa kesal, marah, membuat dadanya sesak ingin berteriak, tapi semua itu tidak akan ada gunanya. Masa lalu serta penilaian orang tidak akan berubah. Mereka hanya bisa melihat, menuduh dan mencela tanpa tahu kebenarannya. Meski ini bukan hal buruk yang diterimanya pertama kali,tetap saja dunia serasa kejam. Sekali pun kini kakaknya sudah bebas, dan memulai kembali usaha dari bawah, tapi rupanya semua itu masih tetap tidak mengubah penilaian dan prasangka orang-orang. Dia muak, muak dengan semuanya. Masa lalu, menghilangnya Raka, nama baik, juga dramanya dengan Nicholas. Kenapa dulu dia tidak mati saja? Kenapa dulu Raka menyelamatkannya? Sehingga membuat Celine kembali menggantungkan harapan, harapan bisa hidup bahagia dengan Raka, dia merindukan guardian angel-mya. Berharap di saat seperti ini pria itu datang ke sisinya dan memeluknya. Namun, sepertinya semua itu hanya ada dalam khayalan saja. Karena pada kenyataannya tidak ada harapan dan impian lagi mereka sekarang. Dia sudah lelah berharap, dia leah bermimpi, dia lelah dengan semua omongan orang-orang. Celine terus terisak, airmata benar-benar tumpah tak terbendung hingga tidak ada yang ia lihat selain kekaburan. Gadis tersebut bahkan tidak sadar ada seseorang yang duduk di sebelahnya, lalu mulai merengkuhnya kedalam pelukan. Celine mencium aroma parfum yang begitu maskulin. Kemudian tanpa berkata apa pun pria mengelus punggungnya menangkan, rasanya nyaman. Sekilas Celine melihat di antara matanya yang menggenang. "Raka," batin Celine, dan itu justru membuat tangisan Celine semakin pecah.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD