Hari itu, Celine merasa pelajarannya kali ini membosankan. Dia hanya membulak-balik buku dengan malas. Suara dosen pun hanya menjadi radio dengan frekuensi sinyal rendah di telinganya. Tepat saat bel berbunyi, anak-anak di tuangan itu terdengar gaduh dan ramai. Sang dosen pun melangkahkan kakinya keluar kelas.
Ia mengecek ponselnya, sudah hampir sepekan sejak terakhir dia bertemu Nicholas. Lelaki itu bahkan tidak ada menghubunginya lewat pesan mau pun telpon. Itu bagus, setidaknya ia tidak jengkel harus selalu berpura-pura menjadi pasangan kekasih yang saling menyayangi.
Celine membereskan buku di meja sambil menghela napas berat. Kapan Raka akan kembali agar ia dapat wajah terkejut pria itu larena sudah meninggalkannya tanpa kabar.
Akan tetapi, lebih dari itu Celine mulai memikirkan bagaimana kisah asmaranya setelah semua ini. Setelah perjanjiannya dengan Nicholas selesai, setelah ia bisa membalas sakit hati oleh Raka.
Celine kembali mengembuskan napas. Sudah pasti dalam jangka waktu setahun dua tahun ke depan hatinya tidak akan ada bisa terbuka untuk pria lain. Perjalanannya masih panjang, drama ini bahkan baru dimulai. Meski jauh di lubuk hatinya ia masih berharap pada Raka, tapi rasa kecewa itu juga ada. Ia ingin penjelasan dan kata maaf dari lelaki itu. Namun, juga terlalu sakit rasanya untuk memupuk harapan yang tidak pasti.
Dulu ... Saat awal pertemuan mereka, Celine benar-benar merasa Tuhan mengirimkan malaikat pelindung untuknya. Tapi sekarang ... malaikat itu mencampakannya begitu saja, apa dia sebegitu berdosa?
"Hai," sapa seorang pria berkacamata yang berdiri di samping tempat duduk Celine.
Kening berkerut dan tatapan menelusur pun tercipta di wajah Celine tanpa bisa mengucapkan apa-apa. Mendapati reaksi gadis itu, tentu saja pria tersebut menjadi canggung. Ia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Hm ... anu, aku ... a-aku aku Irfan," sapa pria tersebut mengulurkan tangan perkenalan.
"Celine."
"Eum ... begini." Pria itu tergagap, wajahnya berkeringat. Dia menoleh resah ke arah pintu sesaat, di sana Celine melihat sepertinya ada kawannya yang gemas menyuruhkan untuk segera melakukan apa yang harus dilakukannya.
"Boleh aku mengajakmu makan? A-atau nonton? Kalau kau tidak keberatan juga aku ingin kita pergi jalan bersama? Tapi jika kau bersedia. Jika kau punya ide atau ingin pergi ke suatu tempat aku juga tidak keberatan mengan--"
"Maaf," potong Celine
Dia bilang apa? Makan? Nonton jalan? Yang benar saja!
"Maaf, tapi aku tidak bisa." Tolak Celine to the point. Dia masih berstatus tunangan Nicholas. Sekalipun mereka tidak melibatkan perasaan, tetap saja ... Apa yang akan sampai ke telinga orang tua Nicholas jika mengetahui calon menantu mereka bersama pria lain.
"Aku tidak bisa melakukan satu hal pun dari yang kau sebutkan tadi, maaf."
Seketika Irfan terdiam. Meski wajahnya menampakan senyuman, akan tetapi Celine tahu, senyum itu bertujuan untuk menyembunyikan kepedihannya.
"Jadi berita itu benar?"
Celine kembali dibuat bingung. "Maksudmu?"
"Berita bahwa kau adalah calon menantu keluarga Bagaskara?"
"Sekitar seminggu yang lalu aku melihatmu dijemput oleh putra tunggal keluarga Bagaskara. Aku tidak ingat namanya tapi aku pernah melihatnya di salah satu majalah."
Celine kembali menghela napas. Mau bagaimana lagi, kenyataannya semua orang yang mengetahui keluarga Bagaskara pasti sudah mendapat berita pertunangan mereka dan Celine harus menjaga nama baik keluarganya juga keluarga Nicholas. Akan menjadi masalah jika sampai ada berita bahwa calon tunangan mereka jalan bersama pria lain.
Nicholas pernah bilang bahwa Papi Rendra menyewa beberapa bodyguard dan mata-mata, atau mungkin bodyguard sekaligus mata-mata untuk mencari kebenaran informasi hubungan mereka berdua. Oh, Celine merasa dia seperti melakukan tidak kriminal, buronan, atau lebih parahnya lagi dia seperti seorang mafia pengedar obat terlarang. Tinggal menunggu hari yang tepat untuk penggerebekan.
"Ya ... itu benar, maaf." Celine tidak mebgerti untuk apa dia meminta maaf, hanya saja gadis itu merasa suasana amat canggung.
"Tidak apa-apa. Sepertinya aku terlambat lagi."
Celine mendongak, menatap lekat pria itu, mencoba meminta penjelasan apa maksud dari perkataannya dan pria tersebut paham.
"Sebenarnya aku mulai memperhatikanmu sudah lama, sebelum kau cuti kuliah. Saat aku mulai ingin mendekatimu, tapi tiba-tiba saja kau menghilang dan informasi yang ku dapat kau mengambil libur hingga satu semester. Aku mencoba menunggumu tapi saat kau kembali, kau sudah menggandeng kekasihmu."
Pernyataan tersebut semakin mempercanggung suasana.
"Awalnya aku bisa menerima melihatmu bersamanya selalu tersenyum, tapi dua bulan terakhir aku tidak lagi melihat senyuman itu dan sepertinya dugaanku benar bahwa Raka memutuskanmu. Aku mulai ingin kembali mencoba mendekatimu tapi lagi-lagi aku terlambat." Lelaki itu menatap lantai. Memasang kembali senyuman demi menyembunyikan kepedihan.
Celine membisu, tidak menyangka selama ini ada yang menyukainya diam-diam. Dia bingung harus berkata dan bertindak bagaimana. Namun, apa pun alasannya sekarang yang orang tahu dia tunangan Nicholas. Ada perasaan tidak tega pada pria itu, tapi apa yang harus ia lakukan? Mengatakan yang sebenarnya bahwa dia dan Nicholas bukan tunangan sebenarnya?
Lagipula, Celine juga tidak memiliki perasaan sama sekali pada Irfan. Mengatakan hal yang sebenarnya hanya akan membuatnya berharap lagi, dan apa? Celine akan tetap menolaknya. Karena hatinya masih tertuju pada Raka dan juga ia harus menjaga perjanjiannya dengan Nicholas.
"Celine." Itu suara Sofia. Sontak pandangan Celine dan Irfan menoleh bersamaan.
"Aku rasa aku harus pergi, maaf mengganggumu," ucap Irfan sebelum pamit dan meninggalkan Celine berdua dengan sahabatnya. Pandangan mata Celine masih mengikuti pria tersebut hingga menghilang.
Dengan tidak sabar, sama sekali tidak menyadari aura kecanggungan yang menguar. Ia duduk di samping tempat duduk Celine, lalu menunjukan sesuatu dari ponselnya tepat ke depan mata.
"Kau harus lihat ini."
Seketika mata Celine langsung melotot lebar tatkala video berdurasi kurang dari lima menit itu berputar. Dadanya terasa panas dan berbagai rutukan terucap dalam hati. Bagaimana tidak, di saat Celine berusaha menjaga nama baik dan hubungan mereka. Nicholas justru bermesraan dengan wanita lain?
Meski video tersebut diambil dari belakang, tapi Celine masih bisa menggenali seorang pria yang sedang b******u dengan wanita di sana. Itu jelas Nicholas.
"Dari mana kau mendapatkan semua ini, Fia?"
"Seseorang mengirimnya lewat emailku, katanya wanita di video ini adalah sekertarisnya."
Otak dan darah Celine rasanya seperti mendidih. Ingin sekali ia mendatangi kantor Nicholas dan mengobrak-abrik ruangan di sana. Bahkan ia ingin sekali menjambak rambut gadis itu.
"Kau baik-baik saja, Cel?"
Celine menutupinya dengan tersenyum ringan. "Aku baik-baik saja."
"Kau yakin?" Mata Sofia menelusuri raut kaku sahabatnya.
"Kau bilang kau tahu ilmu pelet kan, Fia? Apa kau juga tahu ilmu santet?"
Pertanyaan Celine itu membuat Sofia menganga tak berkedip