“Ya, sudah kalau begitu. Segera pulanglah ketika urusanmu sudah selesai. Ibu belum tidur dari semalam.”
Seina menganggukkan kepala. Dia paham ke mana arah pembicaraan ibunya.
Ibunya kelelahan dan hendak menyuruhnya untuk gantian menjaga Daisy. Maka ketika Seina sudah bertemu dengan Helian, dia akan segera pulang.
Seina menatap Daisy yang terlelap.
‘Tenanglah Daisy. Kakak berjanji akan pulang dengan membawa bunga itu sehingga kau pasti akan segera sembuh. Kakak janji akan hal itu.’
***
Seina mengamati ke arah sekitar. Kebetulan saat ini di pintu masuk hutan tidak terlihat Pak Tua yang biasanya mejaga.
Sejenak, Seina mendongak ke atas menatap kawat pembatas hutan yang tingginya sekitar tiga meter itu.
Ada perasan ngeri ketika Seina menatap ke hutan terlarang. Bahkan dia setengah tidak percaya jika kemarin malam dia ada di sana. Dikejar serigala, digigit serigala, dan diselamatkan oleh Helian.
Dengan langkah ragu. Seina masuk ke dalam sambil memeluk lengan kirinya sendiri.
Ini masih pagi hari, namun kenapa rasanya hutan ini masih saja menyimpan kengerian.
Baru beberapa langkah memasuki hutan, tiba-tiba udara berembus cukup kencang membelai lengannya yang terbuka serta menerbangkan surai anak rambutnya seolah memberikan salam selamat datang kepadanya.
Angin yang berembus itu juga menggerakkan beberapa dedaunan dan ranting pohon di sekitar.
Entah hanya perasaannya atau apa. Tiba-tiba Seina merasa atmosfer di sini semakin memekat.
“Hei kau! Apa yang kau lakukan! Kembali!” teriak pria tua dari belakang mengangetkan Seina.
Mata Seina membulat penuh ketika melihatnya. Si Pak Tua itu ternyata sudah kembali.
Bukannya kembali dan keluar dari hutan, Seina malahan lari semakin memasuki hutan.
“Hei jangan kabur! Keluar Nak! Hutan itu berbahaya!” teriak Pak Tua memperingati.
Seina tidak peduli! Saat ini yang terpenting baginya adalah adiknya selamat.
Sesekali Seina menatap ke arah belakang untuk memastikan apakah Pak Tua tersebut mengejarnya atau tidak. Namun untungnya tidak.
Lagi pula, kan, Pak tua itu sudah sudah tua. Tidak mungkin juga dia bisa mengejar Seina.
Napas Seina berembus cepat dan ngos-ngosan.
“Akh!”
Seina berteriak ketika menabrak sesuatu. Awalnya Seina pikir dia menabrak pepohon. Namun ternyata bukan.
“Hei. Kenapa kau berlari-larian di dalam hutan, Manis?”
Seina mengembuskan napas lega. Ternyata dia menabrak Helian.
“Ti-tidak apa. Seseorang sempat mengejarku,” kata Seina smabil memegangi dadanya sendiri dan masih dengan ngos-ngosan.
“Siapa?”
“Pak Tua. Juru kunci yang menjaga pintu masuk hutan.”
Seketika terlihat ekspresi wajah Helian berubah. Namun hanya samar. Kemudian Helian tersenyum dan mengacak pucuk rambut Seina.
“Untung saja gadis nakal ini tidak tertangkap.”
Seina menepis tangan Helian karena dia malu.
Sejenak. Helian mengamati tampilan gadis di depannya ini. Rambutnya tergerai indah—meksipun agak tidak rapi lantaran Seina habis berlari seperti itu.
Senyum tipis terlihat di bibir Helian ketika Seina ternyata memakai riasan wajah. Apa Seina berndandan karena hendak menemuinya?
Seina memang cantik. Tapi sekarang dia terlihat semakin bertambah cantik saja.
Namun entah efek Seina habis berlari sehingga dia berketingat seperti itu. Helian menatap leher yang basah akan keringat dan belahan Seina yang mekipun tidak terlalu terlihat tapi….
Sial, Helian mulai hilang atas kendalinya. Masa kawin memang membuatnya terkadang hilang akal.
Helian mendekat dan menyentuh dagu Seina. Ia menatap kedua manik favoritnya itu lamat-lamat.
“Jadi… kau ke sini untuk menyerahkan dirimu kepadaku. Benarkah dugaanku?”
Mata Seina mengerjab. Mau tidak mau itulah kenyataanya.
“Ya,” ucap Seina dengan lirih sambil membuang wajahnya ke samping membuat Helian tersenyum.
“Tapi kau janji, kan, akan memberikan bunga anggrek ungu itu kepadaku dan adikku akan sembuh?” tanya Seina penuh harap.
“Tentu. Tapi kau tahu, kan, apa yang harus kau lakukan untukku, Manis?” ucap Helian dengan menyeringai.
“Melayanimu.”
Seina menangis. Sebenarnya hatinya hancur. Kehormatannya yang dijaganya sampai saat ini seolah ia lepaskan begitu saja demi kesembuhan adiknya.