“Kau tahu, kan, apa yang harus kau lakukan?” ucap Helian dengan suara parau menahan gairah.
Seina menganggukkan kepalanya dengan lemas.
“Melayanimu.”
Tanpa terasa air mata Seina menetes sendiri. Dia takut, bahkan ketika dia mengucapkan hal tadi rasanya lidahnya kelu. Tubuhnya gemetar ketakutan mengingat kehormatan yang dijaganya sampai sekarang pun hari ini harus dia serahkan begitu saja kepada Helian.
Punggung tangan Helian terulur untuk mengusap air mata Seina. Tidak, mata indah itu tidak boleh menangis seperti ini.
“Hei, jangan menangis. Kalau kau tak mau, maka tak apa. Aku tidak akan memaksa.”
Seina menatap Helian lurus-lurus. Bagaimana mungkin Helian berkata kepadanya tidak apa. Pasti ucapannya semu. Tidak ada yang gratis di dunia ini, bukan?
“Helian… Apa kau berjanji kepadaku kalau kau benar-benar akan memberikanku bunga itu jika malam ini aku bersamamu?” ulang Seina lagi menuntut jawaban.
Seina hanya takut apabila dia sudah memberikan semuanya kepada Helian tetapi lelaki itu malahan tidak menepati ucapannya.
“Ya. Aku akan memberikan bunga itu untukmu dan adikmu pasti akan sembuh.”
“Bagaimana jika kau berbohong?”
“Aku tidak pernah berbohong.”
Seina menatap kedua manik mata berwarna kuning keemasan tersebut. Ucapan Helian tadi tampak sungguh-sungguh.
Helian memajukan kepalanya dan menyentuh dagu Seina. Seina hanya mampu terdiam. Sampai akhirnya Helian menempelkan bibirnya pada bibir merah Seina.
Helian mengecupnya dengan perlahan. Pelan namun penuh sensual.
Karena Seina tidak tahu harus berbuat apa, akhirnya Seina hanya mampu memejamkan kedua matanya dan menikmati ciuman yang diberikan Helian.
Helian menyisipkan jemarinya pada rambut Seina untuk memperdalam ciuman mereka meskipun Seina tampak amatiran dan tidak membalas ciumannya.
“He-Helian… hentikan….”
Helian menggigit dengan pelan bibir bawah Seina yang tebal sensual itu.
Ketika mulut Seina terbuka sedikit. Helian tidak menyia-nyiakan kesempatan tersebut. Dia memperdalam ciumannya dengan cara memasukkan lidahnya ke dalam.
Lutut Seina semakin melemas diperlakukan seperti itu. Dia hanya mampu menggenggam erat baju depan Helian.
Tubuh Seina gemetar. Dia tidak pernah seperti itu sebelumnya. Apa Helian tidak tahu jika ini adalah ciuman pertamanya?
Dengan sekuat tenaga, Seina mendorong tubuh Helian sampai akhirnya dia mundur ke belakang sehingga ciuman mereka pun terputus.
“Kenapa?”
Napas Helian berembus cepat. Dadanya kembang kempis. Matanya menyalak tajam. Nafsu sudah melingkupi dirinya.
Seina tidak menjawab perkataan Helian tersebut dan hanya mengusap dengan perlahan bibirnya yang basah bekas ciuman Helian.
Sekilas, Helian melihat di belakang Seina nampak Pak Tua yang datang. Helian mendesis. Pasti hawa sihir merah yang kemarin sempat Helian berikan kepada Seina tercium Pak Tua sialan itu.
“Ikut aku,” ucap Helian sambil menarik tangan Seina.
“Ke mana?” tanya Seina. Helian tidak menjawabnya.
Seina hanya mampu mengekori Helian di belakang.
Seina ingin menolak. Rasanya dia ingin menghempaskan tangan Helian yang menggenggam erat jemarinya. Namun sialnya Seina tidak dapat sedemikian rupa.
Raganya seolah tidak dapat menolak pesona yang dijanjikan Helian. Tanpa terasa kakinya pun seolah ikut terus berayun mengikuti langkah besar Helian.
“Goa?” ucap Seina tiba-tiba ketika mereka sudah sampai di depan kediaman Helian.
“Ya.”
Seina mengerjabkan mata. Bukannya begitu… hanya saja kemarin ketika kemarin Helian membawanya keluar dari kamar. Seina tidak mengamati sekeliling jika ternyata tempat tinggal Helian adalah tak lain adalah sebuah goa.
Helian mengulurkan tangannya melihat Seina memeluk lengan kirinya sendiri karena ketakutan.
“Kau percaya, kan, kepadaku?”
Seina hanya terdiam. Kenapa lelaki di depannya ini memiliki seribu misteri? Sebenarnya siapa dia?
“Ada adik yang menunggumu di rumah, bukan?” ucap Helian sambil tersenyum tipis mengingatkan Seina kembali pada tujuannya.
“Kau tidak akan menyakitiku, bukan?”
“Tidak akan.”
Dengan ragu Seina menerima uluran lelaki yang baru-baru ini ditemuinya tersebut.
Helian menarik tangan Seina dan membawanya masuk ke dalam. Ketika Seina melihat Fey yang sekilas menatap mereka dari kejauhan. Tatapan Fey seolah sama seperti tatapan Pak Tua penjaga gerbang yang mengejarnya tadi. Tatapan itu seolah memberikan isyarat supaya Seina pergi. Ini semua berbahaya.
Helian menyibak tirai pembatas ruang depan dengan ruang bertapanya sehingga saat ini Fey tidak dapat melihat apa-apa. Kini yang terlihat hanya kabut putih pekat.
Tanpa perlu diberitahu pun Fey sudah menebak pasti mereka akan….
Ya, begitulah. Apalagi Tuan tidak pernah membawa satu orang pun ke sarangnya. Atau yang lebih sering Fey sebut sebagai tempat bertapa Tuannya.
***