Entah mengapa rasanya jantung Seina berdetak lebih cepat jika berdekatan dengan pria ini. Karena sejujurnya, Helian sangat tampan sekali. Tidak ada pemuda yang setampan Helian di desa.
Meskipun wajah Helian dingin bagaikan es, tapi hal tersebut tetap saja selalu membuat Seina merasa panas. Wajah Helian sendiri seperti dipahat dengan sempurna. Rahang yang kokoh, hidung yang mancung, rambutnya putih seperti Albino, bibir tipis yang mungkin akan tambah sempurnya jika saja dia tidak pucat.
Apalagi lengan kekar dan otot bisep yang terlihat ketika Helian menggendongnya seperti ini. Memang siapa yang bisa memalingkan diri dari pesonanya?
“Kenapa kau melihatiku terus seperti itu?” gumam Helian ketika mereka sudah keluar dari kamar utama.
“Ti-tidak. Maaf.”
Seina menundukkan padangannya lagi.
Diam-diam Fey memerhatikan mereka berdua dari belakang. Ada rasa tidak senang dari sorot mata Fey ketika melihat Tuannya memerlakukan wanita asing seperti itu. Kenapa wanita itu tiba-tiba datang ke kehidupan Tuannya lalu merusak semuanya?
Dia pengganggu. Proses bertapa Tuan Helian tinggal beberapa purnama lagi. Mungkin satu tahun lagi jika diibaratkan waktu manusia. Bagaimana jika pertapaan Tuannya gagal karenanya.
Wanita itu bagaikan anak kecil yang mengambil susunan kayu dadu di bagian tengah sehingga membuat bangunan utama roboh.
Sungguh... Fey sangat ingin membunuhnya detik ini juga.
Sudut mata Helian melirik ke samping. Melihat wajah masam pelayannya seolah memberikan kode supaya dia tidak bertindak gila sedemikian rupa membuat Fey tertunduk lesu.
Helian menurunkan Seina dari gendongannya ketika mereka berdua sudah sampai di depan goa. Udara segar menyambut indra penciuman Seina.
“Terima kasih, Helian,” ucap Seina sambil tersenyum senang sampai sudut matanya mengerut. Senyuman terindah yang pernah Helian tatap setelah senyuman Ibunya. Entah mengapa melihat Seina tersenyum, Helian pun juga ikut tersenyum.
Tapi, sedetik kemudian Helian merasakan dadanya berdenyut ngilu sampai dia meringis kesakitan.
“Ada apa?”
Wajah Seina panik ketika Helian terlihat kesakitan seperti itu.
Helian menggelengkan kepala. “Tidak apa. Mungkin efek karena kemarin malam aku kurang tidur,” bohongnya.
Helian rasa. Ini semua efek karena tadi Helian mentransfer sihir ke tubuh Seina. Sekelebat Helian teringat sesuatu. Atau jangan-jangan... ini adalah pertanda dari apa yang diucapkan Fey waktu itu. Ramalan.
“Kau serius tak apa?” tanya Seina lagi merasa khawatir.
Helian memejamkan mata sejenak, mencoba mengabaikan pikirannya tadi. Dia baik-baik saja dan ramalan hanyalah omong kosong yang dibuat para tetua sialan itu.
“Siapa namamu?” tanya Helian dengan saksama untuk mengalihkan pembahasan.
“Namaku Seina.”
“Nama yang cantik.”
Mendengar pujian tersebut membuat pipi Seina menghangat.
“Terima kasih.”
Seina hendak berucap kembali. Namun tiba-tiba ia teringat akan sesuatu dan ke segala arah. Kiri dan kanan seperti orang yang kebingungan.
A-apa? Ini sudah siang! Bukannya terakhir kali waktu dia terkapar itu ketika malam hari.
Seina lupa. Tujuan awal dia ke sini adalah untuk mencari bunga violet orchid untuk obat menyembuhkan penyakit Daisy. Mana bisa dia sampai lupa seperti ini!
Helian yang melihat Seina kebingungan pun hanya mampu mengerutkan dahi. Dia bisa membaca pikiran Fey karena Fey adalah dayangnya namun Helian tidak bisa membaca pikiran dari manusia dan garis silsilah sedarah keluarganya.
“Ada apa?”
Kenapa wanita ini tiba tiba panik seperti itu?
“Aku harus pergi!”
Helian mengeratkan rahangnya ketika mendengar hal tersebut. Tiba-tiba Seina juga berbalik badan dan hendak kabur dari sini.
Helian berdecak kesal. Inilah alasannya Helian malas membawa wanita itu pergi ke luar. Manusia memang tidak dapat dipercaya.
Sampai kapan pun Helian tidak akan membiarkan Seina untuk pergi. Dia sendiri yang melemparkan diri ke arahnya. Lalu mana bisa Seina pergi begitu saja. Sekali Seina sudah masuk ke kehidupannya. Maka Helian tidak akan melepaskannya lagi. Dia tidak akan membiarkan mata cokelat itu menghilang dari pandangan. Cukuplah Helian kehilangan ibunya.
“Kau mau pergi ke mana!” ucap Helian sambil dengan cepat mencekal erat lengan Seina sehingga membuatnya terhenti kemudian Helian menarik lengan tersebut sampai Seina berbalik badan dan mengaduh kesakitan. Seina menatapnya kesal, kenapa Helian sangat kasar. Padahal tadi dia menggendongnya dengan lembut.
Helian hanya tidak mau kehilangan. Itu saja.
“Lepaskan aku! Aku mau pergi, Helian!” teriak Seina sambil mencoba melepaskan jari jemari Helian yang mencengkeram tangannya.
“Beraninya dirimu. Kau mau kabur dariku setelah kuselamatkan?!”
Seina menggelengkan kepala.
“Bukan begitu, Helian. Aku berjanji akan menemuimu lagi. Tapi untuk saat ini aku benar-benar harus pergi karena ada sesuatu yang sangat penting yang harus kuselesaikan. Kumohon lepaskanlah aku.”
“Tidak! Aku tidak akan pernah membiarkanmu pergi.”