Napas Helian nampak berembus cepat membuat Seina sedikit keheranan. Kenapa lelaki ini bisa protektif seperti ini sampai sama sekali tidak membiarkannya untuk pergi?! Apa dia tidak tahu jika adiknya di rumah sedang kritis!
“Lepaskan aku! Adikku membutuhkanku!” teriak Seina sambil menarik dengan kasar tangannya sampai terlepas dari cengkraman tangan Helian.
“Bagaimana bisa aku percaya padamu jika kau akan kembali lagi ke sini?”
Semua manusia itu pembohong!
Helian menatapnya dalam diam, sorot matanya dingin dan sangat menusuk ke jantung.
“Adikku sakit keras. Setiap malam dia muntah darah. Itulah alasannya kemarin malam aku masuk ke hutan terlarang karena aku harus mencari bunga violet orchid untuk menyembuhkan penyakit adikku, Helian.”
Dahi Helian mengerut mendengarnya. Mimik wajah Seina tampak benar-benar sedih. Dia tidak terlihat sedang berbohong.
“Anggrek ungu?” ulang Helian lagi. Seina menganggukkan kepala.
“Iya. Aku janji akan menemuimu lagi jika aku sudah menemukan violet orchid itu untuk adikku. Kau tak perlu khawatir. Kau bisa pegang janjiku, Helian.”
Baru saja Seina berbalik badan hendak meninggalkan Helian. Namun tiba-tiba perkataan Helian membuatnya menghentikan langkahnya.
“Bunga violet orchid ? Bukannya itu nama lainnya dari Anggrek Ungu?”
Mata Seina membulat penuh mendengarnya. Bagaimana bisa Helian tahu akan hal itu?
“Iya! Benar itu! Apakah kau tahu di mana bunga itu berada? Beritahu aku, Helian!”
Seina mencengkeram baju Helian. Helian hanya menatapnya sambil tersenyum tipis. Jelas saja dia tahu. Bunga violet orchid adalah salah satu bunga yang tumbuh di dekat sangkar pertapaanya. Tidak ada di tempat lain selain di sana dan di istana. Bunga itu juga dikenal sebagai bunga penawar.
“Ya. Aku tahu di mana tempat bunga itu,” ucap Helian singkat namun berhasil membuat mata indah mirip mata milik ibunya itu berbinar bahagia.
Seina sangat sengang. Karena artinya, masih ada harapan kalau Adiknya selamat. Helian benar-benar bagaikan malaikat untuknya.
“Beritahu aku Helian, beritahu aku di mana aku bisa mendapatkan bunga itu! Kumohon! Kumohon padamu!”
Helian bisa saja memberikan bunga itu cuma-cuma kepada Seina. Tapi… apa untungnya jika dia melakukan hal itu? Yang ada wanita ini pasti akan pergi dan tidak akan kembali ketika sudah berhasil mencari apa yang dia butuhkan. Dan yang pasti, Seina tidak akan kembali lagi. Dia akan hilang. Seperti ibunya yang meninggalkannya. Maka dari itu Helian memutar otak untuk bagaimana supaya Seina tetap berada di sisinya.
“Kalau aku memberimu bunga itu untukmu. Apa yang akan kau berikan kepadaku?”
Seina menatap Helian dalam diam. Padahal dia sedang terhimpit oleh nyawa adiknya yang berada di ujung tanduk tapi lelaki yang tiga menit lalu dianggapnya sebagai malaikat malahan meminta imbalan atas bunga violet orchid itu.
Tapi... ini semua demi adiknya.
“Apa pun itu. Asal adikku selamat. Aku akan memberikan segalanya untukmu, Helian.”
“Benarkah?” ucap Helian sambil mengangkat sebelah alisnya. Tangannya terulur memegang dagu Seina dan Seina hanya mampu pasrah saja.
“Apa pun?”
Seina mengangguk.
“Ya. Apa pun. Aku berjanji kepadamu apa pun yang kau mau, aku akan memberikannya.”
“Bagus.”
Kemudian Helian memajukan kepalanya dan membisikkan permintaannya di telinga Seina membuat wanita tersebut bergidik ngeri. Permintaan yang paling sulit Seina berikan. Sampai rasanya sekujur tubuhnya merinding. Apalagi ketika Helian menjilat dengan perlahan cupingnya setelah berbisik seperti itu.
Permintaan Helian tak lain adalah....
“Aku menginginkan tubuhmu.”