“Aku ingin tubuhmu,” bisik Helian tepat di telinga Seina membuat sekujur tubuh wanita tersebut merinding seketika.
Bulu kuduknya meremang apalagi ketika Helian membisikkan perkataan itu, dia juga menjilat dengan pelan daun telinga Seina membuatnya hanya mampu mencengkeram erat baju yang dikenakan Helian supaya tubuhnya tidak merosot ke tanah lantaran tiba-tiba kakinya teras lemas bagaikan jelly yang tak mampu menopang tubuhnya sendiri.
“He-hentikan,” pinta Seina pelan. Namun lelaki di depannya tak mengindahkan, malahan dia semakin menjadi.
Helian mengendus dengan pelan tengkuk Seina membuatnya hanya mampu menggigit bibir bawahnya sendiri kuat-kuat. Cengkraman tangannya pada baju Helian juga semakin erat.
“Aku suka bau tubuhmu,” ucap Helian sembari memberikan kecupan di leher Seina.
“Hentikan Helian….”
Helian meraba dengan pelan punggung Seina. Semakin lama gerakan tangannya semakin turun ke bawah.
Kurang beberapa senti lagi tangan kekar Helian akan meraba b****g Seina kalau saja wanita tersebut tidak mendorong d**a Helian dengan kuat sampai Helian mundur ke belakang.
Seina menatap Helian dengan pandangan tidak suka. Namun lelaki tersebut malahan terkekeh senang.
Seina membuang muka ke samping. Semua lelaki memang berengsek. Otak mereka tak lebih dari sekadar nafsu seksual belaka.
“Jadi… kau tidak mau menerima tawaranku?” tanya Helian lagi sambil bersedekap d**a.
“Tidak!”
Menurut Seina, perminataan Helian sangatlah keterlaluan! Bagaimana mungkin Seina mau menukar tubuhnya dengan bunga violet orchid.
“Kau yakin? Apa kau tidak mau kalau adikmu sembuh?”
“Aku tidak mau,” ucap Seina dengan lirih sambil menunduk lesu.
“Kenapa? Hanya mengabiskan satu malam denganku saja kau sebegitu tidak maunya, ya?”
Sekali tidak, maka jawabanya akan sama yaitu, tidak. Seina tersinggung atas permintaan Helian. Bagaimana pun juga dia masih memiliki harga diri.
Helian tersenyum miring. Wanita ini boleh juga. Padahal ketika Helian tinggal di istana, dia bisa tidur dengan wanita manapun yang dia mau. Entah itu bermalam dengan putri tercantik atau pun dayang sekalipun mereka tetap akan melayaninya dengan baik.
Namun Seina malahan menolaknya?
“Kalau begitu biarkan saja adikmu mati.”
Helian masih saja terus-menerus memprovokasi Seina. Dia tidak gencar untuk membuat wanita tersebut bimbang dalam pilihan.
“A-aku… aku masih bisa mencarinya sendiri bunga itu di hutan,” ucap Seina optimis, pasti ada jalan lain.
Helian tertawa mendengarnya. Yang benar saja, sampai kapan pun Seina tidak akan mendapatkannya.
“Mau kau cari di seluruh sudut hutan ini pun kau tidak akan pernah menemukannya. Bunga itu hanya ada di dua tempat. Dan hanya aku yang tahu di mana bunga itu berada.”
Seina mereemas dengan erat kain celananya. Kini mereka berdua saling adu pandang.
“Aku pasti bisa menemukannya,” ulang Seina setengah berteriak.
Helian tersenyum. Baikalah, selain berwajah manis, ternyata wanita ini juga keras kepala.
“Baiklah. Kalau begitu cari saja bunga itu sampai mati. Jika kau berhasil menemukannya, berarti nasib baik memihakmu. Tapi….”
Helian memutus sejenak ucapannya.
“Kita tidak akan pernah tahu mana yang lebih cepat antara kau menemukan bunga itu duluan atau malahan adikmu yang mati duluan.”
Seina menatap Helian dengan nanar. Mana mungkin dia bisa berbicara seperti itu?
Seina sudah hilang harap, ia menuruni gundukan anak tanah dan pergi dari sini.
Sebenarnya Helian ingin mencegah kepergiannya, tapi untuk saat ini lebih baik dia bermain tarik ulur terlebih dahulu saja.
Toh, Helian yakin jika nanti wanita itu akan datang lagi kepadanya untuk mendapatkan violet orchid tersebut.
Dari arah kejauhan, punggung wanita tersebut semakin bergerak menjauh dari padangan Helian.
“Pergilah Seina. Aku akan menunggumu di sini.”
***