Pria dengan manik mata berwarna emas itu menengadah menatap ke atas. Sorot matanya menembus cahaya dari bulan purnama penuh yang tampak terang.
Aneh sekali. Baru kali ini dia merasa bulan purnama seterang itu, berbeda daripada purnama sebelum-sebelumnya.
Helian mengusapkan kembali air ke rambutnya. Meredam rasa panas yang menjalar di sekujur tubuhnya dengan cara meanenggelamkan setengah dirinya di dalam air danau yang jernih.
Orang normal pasti akan kedinginan ataupun mungkin bisa saja mereka mati jika berendam di danau pada malam hari. Tapi hal itu tidak berlaku jika kau adalah seorang siluman.
Memang tubuh Helian akan merasa terbakar jika melewati bulan purnama di musim semi karena bertepatan dengan masa kawin bagi kelompoknya.
Namun Helian menahan gejolaknya sebisa mungkin meningat saat ini dia sedang bertapa untuk menjadi manusia yang sempurna. Maka dia harus berpuasa segala hal tentang kenikmatan dunia seperti perempuan, khamr, kekayaan dan lainnya atau jika tidak maka hasil bertapanya yang sudah ia lakukan beratus tahun itu akan gagal dan tidak membuahkan hasil sama sekali.
Mata Helian semakin menggelap. Entah sudah berapa jam dia berendam di danau ini. Helian menutup mata dengan perlahan. Sekarang naluri binatangnya yang bekerja dan melihat sekitar. Reptil memang buruk pada indra penglihatan, tapi mereka sangat memukau pada instring penciuman.
Ketika Helian menutup mata, yang nampak hanya kegelapan yang memekat. Instingnya hanya menangkap dua warna, hitam dan merah. Khusus yang merah adalah aroma dari darah segar yang berada di lingkup hutan belantara ini.
Tapi... Hei tunggu dulu! Helian menarik sudut bibirnya melengkung membentuk senyuman yang paling memukau. Kemudian ia menyeringai dan menjilat bibir bawahnya sendiri.
Ia dapat merasakan hawa panas dari mangsanya tiba-tiba mulai mendekat. Luar biasa. Biasanya Helianlah yang berburu ketika kelaparan. Tapi kali ini malahan hewan buruannya yang mendekat. Apalagi bukan hanya satu, Helian merasakan darah-darah segar itu lebih dari tiga. Bagus! Malam ini dia akan berpesta. Selain itu Helian juga dapat memiliki banyak bahan persediaan makanan sampai proses bertapanya selesai.
Helian membuka mata. Netra kuning keemasan dengan silinder hitam ditengahnya seolah menyala.
Um... Saatnya makan malam.
***
Tubuh Seina bergetar hebat dengan mulut yang tiba-tiba membisu. Hilang di tenggorokan.
Seina menjatuhkan lenteranya. Di depan sana... Ada banyak sekali sosok buas menakutkan dengan mata merah menyala dan liur yang menetes sampai ke tanah seolah kelaparan dan siap menerkamnya hidup-hidup.
Seina mundur satu langkah. Jumlah mereka banyak sekali.
Bukan, sosok itu bukanlah hantu. Melainkan....
Sekarang serigala itu mengepungnya. Mereka mengaum membuat sekujur tubuh Seina bergidik ngeri. Satu manusia banding lima ekor serigala. Bahkan Seina tidak yakin pada dirinya apakah dia bisa meloloskan diri dari serigala-serigla itu.
Sekarang Seina tahu betul. Pantas saja hutan ini ditutup rapat-rapat. Setelah kesadarannya pulih. Seina berteriak kencang dan berlari sekencang-kencangnya untuk menghindari sekelompok serigala tersebut. Ia berharap tidak tertangkap.
“Tolong!!!” teriak Seina berharap ada pertolongan. Namun nihil. Memangnya siapa orang bodoh yang pergi di hutan belantara malam hari selain dirinya? Seina merutuki dirinya sendiri.
“Kumohon siapa pun tolong aku!!!”
Seina menyesal. Seharusnya dia tidak datang ke hutan terlarang ini. Kini dia mulai menangis ketakutan mengingat kejaran serigala itu tidak sebanding dengan kecepatan langkah kakinya yang berlari.
Tiba-tiba serigala yang menyusul di samping kanan Seina menerjangnya membuat tubuh Seina terjatuh di tanah.
“Arghhh!!!” teriak Seina kencang sekali ketika serigala itu berhasil menubruk tubuhnya dan menggigit tepat di paha kanannya. Rasanya amat sakit sekali namun Seina hanya mampu menangis terisak.
Hari ini... mungkin dia akan mati.