“Bu. Aku sudah tidak tahan lagi melihat Daisy selalu kesakitan dan muntah darah seperti itu. Biarkan aku mencari anggrek ungu itu, Bu.”
Mimik wajah Ibu masih sangat khawatir. Seina mencoba tersenyum dan mengusap tangan ibu yang menahan tangannya.
“Tenanglah, Bu. Aku tidak apa,” kata Seina menyakinkan. “Kalau aku tidak kembali sampai fajar tiba. Maka artinya aku kenapa-napa dan Ibu boleh mencariku di hutan terlarang bersama para warga lainnya.”
Ibu sudah menahan Seina sekuat tenaga namun Seina masih gigih pada keputusannya untuk mencari bunga itu di tengah malam gelap gulita seperti ini.
Dengan sweaters berwarna merah yang senada dengan warna lentera di tangannya. Serta tas rajut pada bahunya. Kini Seina berjalan pelan dari rumah menuju ke arah pembatas hutan terlarang.
Biasanya perbatasan hutan terlarang ini dijaga oleh Pak Tua bertubuh bungkuk dengan tongkat di tangannya untuk berjalan.
Pak Tua itu adalah juru kunci hutan terlarang ini. Tugasnya adalah menjaga hutan dan mengantar beberapa orang yang hendak menyeberang ke desa lain.
Itu pun Pak Tua akan mengantar jika kebutuhan mereka memang sangat mendesak seperti menjenguk keluarga dari desa seberang yang meninggal. Selebihnya, Pak Tua tidak mau mengantar.
Tapi kali ini Pak Tua tidak ada di sini.
Seina menatap kawat pembatas setinggi tiga meter itu dengan pandangan ngeri.
Bahkan Seina tidak dapat memikirkan bagaimana bisa adiknya menyelinap masuk ke dalam hutan terlarang ini hanya untuk memetik buah berry.
Angin malam berembus menerpa, cahaya purnama di atas kepala, lolongan serigala seolah menyambut kedatangannya. Tubuh mungil Seina gemetar ketakutan.
Wajah Seina pucat pasi. Apalagi tulisan di papan kayu dengan tinta merah semerah darah itu benar-benar menakutkan.
HUTAN TERLARANG!!! SIAPA PUN DILARANG MASUK!!!
Tulisan di papan itu seolah menjadi peringatan untuknya ‘Pulanglah, Nak. Ini berbahaya’
Apa iya Seina harus pulang saja? Tapi adiknya yang berada di rumah saat ini sedang keritis.
Seina menggelengkan kepala. Ia membulatkan tekadnya kembali.
Tidak! Kau sudah melangkah sejauh ini, Seina. Jangan mundur lagi!
Karena pitu pembatas hutan ini digembok rapat. Maka Seina berinisiatif untuk memanjat saja kawat pembatas itu. Seina mematikan lenteranya sejenak dan akan menyalakan kembali ketika sudah memanjat kawat tinggi ini.
Ketika berada di kawat pembatas bagian atas. Seina bergidik ngeri. Dia ingin kembali. Tapi sudah tidak ada waktu lagi.
Ketika sudah turun ke bawah. Seina meniup telapak tangannya yang memerah karena memanjat kawat pembatas.
Kemudian Seina menyalakan ulang kembali lenteranya. Untung saja malam ini bulan purnama sedang terang. Jadi pekatnya malam tidak terlalu menakutkan.
Seina melangkah perlahan memasuki jalan setapak hutan. Tubuh mungilnya diapit oleh pepohonan tinggi yang menjulang.
Napasnya terasa sesak, berebut oksigen dengan tumbuhan lain di sini.
Seina gemetar ketakutan setiap mendengar lolongan serigala dan suara hewan malam lainnya.
Ia bertanya tanya dalam hati. Apakah di hutan ini ada hewan buas lainnya selain srigala? Mungkin macan? Harimau? Atau ular? Entahlah.
Ketika Seina sudah berjalan beberapa meter dari pembatas hutan, ia seolah memasuki dunia yang berbeda, atmosfernya terasa pekat, bahkan dinginnya udara semakin menjadi-jadi seolah membekukan jiwa.
“Ibu, aku takut,” gumam Seina sambil mengusap lengannya sendiri yang terasa dingin padahal ia sudah mengenakan sweaters tebal.
Tapi Seina harus berani, ini semua demi Daisy.
Seina mengarahkan lenteranya ke pepohonan dan meneliti sekitar. Dia harus menemukan anggrek ungu secepat mungkin agar dia bisa segera pulang ke rumah.
Namun belum sempat melangkahkan kaki lagi. Mata Seina sudah membulat penuh. Mulutnya terbuka. Tubuhnya gemetar kuat. Kakinya seolah tak bisa digerakkan.
Kini di depannya ada sesuatu yang sangat menakutkan.
Seina mundur perlahan ke belakang. Lenteranya jatuh ke tanah.
Seina berteriak keras. Setelah itu ia berlari sekencang-kencangnya untuk menghindari kejaran makhluk itu.
Makhluk itu tak lain adalah...