Fey hanya menggelengkan kepala dan menundukkan pandangan. Helian tahu pelayannya itu takut untuk berucap sehingga perkataannya hanya ditahan di tenggorokannya saja.
“Katakanlah.”
Kali ini Helian berganti menatap Fey dengan tajam. Tatapan yang sangat dingin sampai rasanya mampu menusuk ulu hatinya. Tuannya itu memang menakutkan. Dia tidak memiliki hati. Hawanya selalu redup. Dia juga jarang tersenyum tidak seperti pangeran ke tiga yang ramah.
Lalu kenapa dia bisa membaringkan manusia yang baru saja dibawanya pulang dengan selembut itu? Bahkan sampai hendak menyembuhkan lukanya.
Tidak! Fey harus memberitahukan ini semua ke baginda raja. Jangan sampai kisah kelam itu terulang lagi.
“Jangan pernah berpikir untuk memberitahu Raja.”
Deg!
Kesadaran Fey seolah tersentak. Dia hanya mampu meringis, dari dulu Tuan Helian memang seperti bisa membaca pikirannya saja.
“Katakanlah, Fey,” ucap Helian dengan tenang sambil duduk di pinggiran ranjang.
“Tu-tuan. Maafkalan hamba jika hamba terdengar lancang. Tapi....”
Fey ragu. Peluhnya menetes di pelipis. Bisa mati jika dia salah berucap. Kemudian setelah mengumpulkan segenap keberaniannya. Fey melanjutkan kembali ucapannya.
“Tuan. Anda tidak seharusnya membawa seorang manusia ke sini.”
Ya, Helian tahu itu. Memang tidak seharusnya dia membawa seorang manusia ke sini. Tapi entah mengapa Helian seolah memiliki dorongan untuk membawa wanita itu. Meski hanya sekadar menyembuhkan lukanya kemudian membuangnya ke hutan lagi.
Entahlah, rasa yang sangat aneh dan tidak pernah ia rasakan sebelumnya. Seharusnya Helian memakannya saja. Tapi....
“Tu-Tuan... bagaimana jika nantinya orang itu akan seperti Ibu Ratu yang—”
“Tutup mulutmu!!!”
Helian tiba-tiba berteriak dan mengeratkan rahangnya. Fey tahu ucapannya salah dan memicu amaran dari Tuannya. Tuan Helian memang benci segala topik mengenai Ibu Ratu.
“Maafkan Saya. Saya yang salah dan saya juga pantas mati, Tuan,” kata Fey sambil bersujud di tanah. Napas Helian masih berembus cepat dilingkupi rasa amarah. Ia memejamkan mata berusaha meredamnya.
“Pergilah. Ambilkan tiga potong kain dan air untukku.”
Fey mengangkat padangannya setelah Helian mengatakan hal tersebut kepadanya. Benarkah kali ini Helian masih memberinya kesempatan untuk hidup?
Padahal dulu ketika masih di istana pernah beredar kabar jika ada seorang pelayan yang lidahnya dipotong sebelum lehernya ikutan menyusul ditebas oleh Pangeran Helian karena pelayan tersebut menyinggung tentang Ibu Ratu yang sudah meninggal.
Fey mengangguk dan mencarikan tiga carik sesuai perintah Tuannya.
Sekilas Fey menatap ke belakang untuk melihat Tuannya yang saat ini sudah melepaskan baju perempuan yang sedang sekarat tersebut sambil mengecek kondisi lukanya.
Fey menelan ludah. Bagaimana jika ternyata perempuan yang dibawa pulang oleh Tuannya adalah perempuan yang disebutkan dalam ramalan dari leluhur itu?
Membayangkanya saja sudah membuat Fey merinding ngeri.
“Jangan banyak berdebat dengan isi kepalamu, Fey. Cepatlah,” ucap Helian menyadarkan Fey dari lamunanya.
Apakah Tuan Helian bisa menebak isi pikiranna lagi?
Tapi sungguh. Fey sangat takut. Besok dia akan mencuri waktu untuk memberitahu orang di kerajaan jika Tuan Helian membawa pulang seorang manusia walaupun taruhannya adalah nyawanya sendiri. Lebih baik dia yang mati daripada Tuannya yang mati.
Bagaimana jika ramalan itu benar adanya. Fey menelan ludah. Isi ramalan itu sendiri tak lain adalah....
“Kau tak perlu khawatir. Aku menyelamatkannya karena tidak ingin jika keberadaan kita tercium warga di desa seberang. Jangan pikirkan tentang ramalan konyol itu.”
Fey meringis. Tuannya benar-benar bisa membaca pikiran.