Bab 10

714 Words
 “Argh….” Seina mengerang ketika ia sudah terbangun dari pingsannya, ia memegangi kepalanya yang masih terasa pening dan pandangannya juga masih terasa berkunang. “A-aku di mana?” katanya dengan lirih. Tubuhnya masih terasa lemas sekali. Samar-samar kepingan potongan dari ingatan Seina kala malam itu pun mulai menyatu membentuk rentetan kejadian yang utuh di kepala. Seingat Seina… terakhir kalinya dia mencari bunga violet orchid dan berakhir terkena serangan serigala. Setelah itu, dia pingsan dan tidak ingat lagi apa yang terjadi. Lalu… kenapa dia bisa terbangun di sini? Seolah refleks, sontak saja Seina langsung menyentuh paha kanannya. Benar saja, kaki kanan Seina masih terasa agak sakit dan nampak sedang dibebat oleh kain jarik cokelat tua. Namun anehnya mengapa tidak ada bercak darah di kain jarik yang membebat pahanya itu? Kainnya masih nampak bersih. Perlahan Seina membuka kain jarik tersebut, ajaibnya kini pahanya putih mulus seperti sedia kala. Tidak ada bekas gigitan serigala sama sekali, yang ada hanyalah garis seperti strechmarck berwarna merah. Seina masih bertanya-tanya dalam hati…. Kenapa bisa begitu? Seharusnya kaki Seina terluka parah—atau bahkan patah. Seribu pertanyaan bersarang di kepalanya. Dan sekarang, di manakah dia berada? Tempat ini aneh, tidak seperti kamarnya di rumah. Ranjang tempatnya tidur besar sekali, dengan kasur dari bulu hewan asli serta selimutnya dari kain satin berwarna merah mengilat. Pada empat sisi ranjang terdapat tiang sebagai tempat pengait kelambu. Nakas kecil tampak berada mengapit kiri dan kanan ranjang tidur serta obor yang berada di dinding ruangan sebagai pengganti lampu. “Permisi… apa ada orang di sini?” ucap Seina agak keras. Namun yang terdengar hanya dengung suaranya yang memantul ke seisi ruangan. Ketika kaki Seina menapak lantai yang beralaskan tanah. Ia mengusap dadanya karena entah mengapa rasanya udara di sini terasa pengap. Tubuhnya terasa gerah, ia juga merasa kekurangan oksigen. “Permisi… Apa ada orang di sini?” ulang Seina lagi namun tidak ada jawaban. Mungkin pemilik rumah sedang berada di luar, begitulah pikir Seina kala itu. Seina meringis ketika pertama kali melangkahkan kakinya lantaran kaki kanannya masih terasa kebas untuk digerakkan sehingga mau tak mau dia harus berjalan seperti orang yang pincang. Tangannya digunakannya untuk merambat pada tembok ruangan agar tubuhnya tidak terjatuh. Dahi Seina mengerut, tulang jari tengahnya ia gunakan untuk mengetuk dinding ruangan. “Dari batu?” gumam Seina keheranan. Pantas saja udara di sini terasa panas. Hawa hangat dari gua memang cocok untuk ular bersarang. Tapi untuk manusia sendiri, rasanya seperti dipanggang di tungku bara api. Manusia yang berada di gua akan merasa kepanasan, pengap, dan dehidrasi. “Kau sudah bangun?” tanya seseorang yang tahu-tahu muncul di depannya. Seina hampir berteriak karena kaget. “Y-ya,” ucap Seina terbata sambil menelan ludah. Saat ini terlihat seorang wanita berambut pendek di atas bahu. Rambutnya hitam legam dengan hiasan seperti kalung di dahinya. Bibirnya tipis, hidungnya mancung, serta sudut matanya seperti mengenakan riasan eyeliner model wings. Cantik sekali. Bahkan bisa membuat Seina tidak berkedip. Kulit wanita itu kecoklatan. Dia mirip seperti ratu Mesir di cerita dongeng. Pipi Seina memerah dan dia memalingkan muka ketika melihat baju yang dikenakan wanita tersebut nampak terlalu terbuka. Atasan model seperti kemben yang menampilkan bahu yang terekspose serta belahan p******a yang menyembul. Fey hanya melirik sekilas wanita yang dibawa pulang Tuannya melalui ekor matanya. “Kau seharusnya istirahat saja,” ucapan Fey dengan nada dingin. “A-apa kau yang menolongku?” tanya Seina dengan saksama. Dia sangat berterimakasih kepada siapa pun orang yang malam itu menyelamatkannya. Kalau tidak ada orang itu, mungkin saat ini Seina sudah mati. Wanita yang tidak Seina tahu siapa namanya itu pun mengabaikannya dan menaruh kain yang tadi dibawanya di atas meja kecil yang berada di sudut ruangan. “Terima kasih,” ucap Seina pelan. Ia sedih, sepertinya wanita itu tidak menyukainya. Fey menggelengkan kepala. Kemudian dia menyalakan obor lain supaya kamar Tuannya yang semalam disabotase oleh orang asing yang tidak dikenalnya itu menjadi hangat—yang malahan menurut Seina sendiri malahan membuat udara di sini semakin panas saja. “Apa di sini tidak ada jendela?” tanya Seina sambil mengibas-ngibaskan telapak tangannya di depan wajah. Tubuhnya sudah mulai berkeringat. Rasanya sangat pengap lantaran dinding rumah ini terbuat dari batu tanpa satu jendela sekali pun. Fey tersenyum miring mengejek dan mengacuhkan Seina. Dasar manusia merepotkan. Mana mungkin ada jendela di dalam gua. Bodoh!
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD