Bab 11

597 Words
 “Sudahlah! Duduk saja di ranjang. Kau seharusnya beristirahat . Jangan merepotkanku terus!” ucap Fey dengan ketus. Seina mengerut. Sekarang sudah terlihat jelas kalau wanita cantik di depannya sangat tidak menyukainya. Tapi meskipun begitu. Seina tetap berterimakasih kepadanya karena dia sudah menyelamatkannya semalam. “Baiklah. Terimakasih telah menyelamatkanku,” ulang Seina karena tadi ucapan terimakasihnya diabaikan oleh wanita yang entah siapa namanya itu. “Bukan aku yang menyelamatkanmu. Jadi tak usah berterimakasih kepadaku!” Seina mengeryitkan dahi. “Lalu, siapa yang menyelamatkanku?” Fey mengembuskan napas kasar. “Tuan Helian yang menyelamatkanmu.” “Tuan Helian itu siapa?” Fey berdecak dan menatap ke arah Seina dengan tajam. Wanita yang dibawa pulang oleh Tuannya itu benar-benar sangat berisik. Rasanya saat ini Fey ingin membunuhnya saja. Fey berjalan keluar melewati tirai penutup kamar Tuan Helian dengan kesal. “Siapa Helian?” Seina hanya mampu menelan ludahnya dengan tubuh yang terasa semakin lemas—efek belum pulih sepenuhnya serta kepanasan di dalam gua ini. Hingga akhirnya tubuh rapuh Seina terjatuh ke bawah. Dia pingsan lagi. *** Helian duduk di tepi ranjang sambil mengulurkan jari telunjuknya di depan hidung Seina untuk mengecek kondisinya. Helian tersenyum tipis—hampir tidak terlihat jika tidak diamati dengan saksama ketika mendapati ternyata wanita yang tengah terlelap itu masih bernapas dengan normal. Dia baik-baik saja. “Air,” gumam Seina dengan lirih. “Air,” ulangnya. Seina dehidrasi. Ia merasa tenggorokannya kering sekali. “Fey! Bawakan air untuku!” teriak Helian dari dalam kamar. Fey buru-buru mengambilkan air dan membawanya menggunakan nampan perak. Helian mencoba membangunkan tubuh Seina dan menyandarkannya pada dirinya. Hal itu membuat Fey semakin tidak suka. Sekilas Fey melihat cahaya merah pada tubuh Helian. Di dunia mereka, cahaya merah yang memudar bisa menyimbolkan dua hal. Hasrat dan kematian. “Minumlah.” Helian menempelkan gelas perak berisi air di bibir merah Seina dan membantunya untuk minum. Seina menegaknya dengan perlahan. Matanya masih sulit untuk dipaksanya agar tebuka. “Kau siapa?” tanyanya dengan lirih. “Helian.” Helian menatap mata Seina yang sayu hendak tertutup lagi. Dia terlihat sangat lemas. “Terima kasih.” “Jangan berterimakasih kepadaku. Bukan aku yang menyelamatkanmu.” “Lalu siapa yang menyelamatkanku?” “Tuan Helian.” Sekelebat ingatan Seina muncul kembali. Jadi pria pucat yang sedang menopang tubuhnya dan memberinya minum ini adalah Helian? “Terimakasih….” ucap Seina dengan sisa-sisa tenaganya. Dia tampan sekali, jantung Seina seolah berdetak dua kali lebih cepat dari sebelumnya. Apalagi dia tidak pernah berada sedekat ini dengan lawan jenis. Helian menatap wanita itu dengan saksama. Ia menyentuh dagu wanita cantik di hadapannya. Matanya cokelat almond, hidungnya mancung, kulit wajahnya putih berseri. “Panas,” gumam Seina sambil mencengkeram baju Helian seolah berharap supaya Helian mengajaknya untuk sekadar keluar dari tempat pengap ini. Helian mengusap dagu wanita antah berantah di depannya. “Buka mulutmu,” ucap Helian lirih, menimbulkan semburat merah di pipi putih Seina. Fey membuang muka dan muak. Apa yang hendak mereka lakukan? Fey berpamit untuk undur diri. Dia bisa menebak pasti setelah ini Tuannya akan… ah, sudahlah! “A-apa?” Seina malu, kenapa dijarak sedekat ini dia memintanya untuk membuka mulut. Helian menekan sedikit dagu Seina sehingga mulutnya terbuka. Helian memiringkan kepala dan mendekatkan dirinya kepada Seina. “Ja-jangan….” Seina menekan d**a Helian supaya laki-laki itu bergerak menjauh tapi usahanya sia-sia karena dia tidak punya daya. A-apakah mereka akan berciuman? Seina merakan napas Helian menerpa pori-pori wajahnya. Kurang beberapa senti saja pasti bibirnya akan bertemu dengan bibir lelaki tampan itu. Tidak, Seina tidak mau. Dia belum pernah berciuman sama sekali. Wajah Helian semakin mendekat. Lalu… ***  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD