Mama dan Papa Jessica saling berpandang-pandangan satu sama lain. Keduanya sempat terdiam beberapa saat lamanya kemudian sang mama berkata, “Ok, mom dan papi ijinkan tapi dengan satu syarat.”
“Apa syaratnya, mom?” tanya Jessica penasaran.
“Syaratnya kalian jangan berbuat yang macam-macam yah. Mungkin mom terdengar kolot atau tradisional, tapi segala sesuatu akan indah pada waktunya. Kalian sudah dewasa tahu mana yang boleh dan tidak boleh, pilihan ada di tangan kalian sendiri. Mom cuma minta kalian menjaga diri, itu saja,” jawab sang mama sembari menatap Papa Jessica.
“Oke mom, kami mengerti kok,” sahut Jessica sambil menoleh dan menatap Jack yang rupanya sedang menatap dirinya juga.
“Kamu paham khan, Jack?” tanya Jessica.
“Aku paham,” jawab Jack. Lalu, dia menatap papa dan Mama Jessica dan berkata, “om dan tante jangan khawatir, aku tahu batasannya. Aku dan Jessica akan menjaga diri baik-baik. Kalian bisa memegang ucapanku.”
“Kapan rencananya kalian akan berangkat?” tanya Mama Jessica penasaran.
“Weekend minggu ini setelah kami selesai memesan semuanya. Kami juga perlu mengajukan cuti kerja terlebih dulu,” jawab Jack mantap.
“Oke, kalau begitu. Masih ada waktu beberapa hari untuk bersiap-siap. Ayo kita teruskan makan sebelum makanannya menjadi dingin,” ajak Mama Jessica sambil menyendok sayur yang tersisa dan menuangkannya ke atas piring Jack dan Jessica.
Setelah semua orang menghabiskan makanannya, tidak lupa Jack juga ijin pamit kembali pulang ke Jakarta. Lalu, dia dan Jessica naik ke lantai dua dan masuk ke dalam kamar tidur Jessica.
Di dalam kamar, Jessica mengambil tas pakaian sang pria dan membantunya merapikan semua barang bawaannya, lalu berkata, “Jack, pakaian kotormu biar di sini saja dulu yah, aku akan mencucinya. Gak apa-apa khan?”
Tiba-tiba Jack memeluk pinggang Jessica dari belakang dan mencium belakang kepalanya seraya berbisik di dekat telinga sang gadis, “Melihat kamu seperti ini, rasanya kita bagai pasangan suami istri yah? Kamu merasa begitu gak, girl?”
Jessica tersenyum lalu menjawab, “Iya juga sech, awalnya aku juga merasa seperti itu. Sudah ayo cepat kamu bersiap-siap sebelum hari bertambah sore.”
“Aku gak mau berpisah dari kamu, girl. Aku ingin selalu berada di samping kamu. Kamu ikut aku aja yuk ke Jakarta, nanti aku sewakan apartemen untukmu, bagaimana?”
“Mana boleh begitu? Mom dan papiku gak akan mengijinkan. Kita kan bisa bertemu lagi waktu weekend, khan kita mau ke Bali.”
“Ok dech, ikut apa kata nyonya aja hahahahaha.”
“Periksa semua barang bawaanmu, ada yang tertinggal atau gak? Sebelum kamu berangkat.”
Jack segera memeriksa isi tasnya dan memandang ke sekeliling kamar sang gadis, memastikan bahwa tidak ada barang yang tertinggal.
“Ada yang tertinggal, girl.”
“Oh ya, apa? Perlu aku ambilkan?” sahut Jessica sambil menatap mata Jack.
Jack segera meraih pinggang Jessica dan mendekatkan tubuh sang gadis ke tubuhnya, lalu berkata, “Kamu yang tertinggal sayang. Aku ingin bawa kamu. Ikut yuk.”
“Kamu jahil banget, aku kira beneran ada yang tertinggal. Gak bisa, Jack. Lagipula khan aku kerja, gak bisa aku tinggalkan begitu saja.”
“Kamu mengundurkan diri saja, persoalan biaya hidup dan lain-lain biar kuurus. Aku bukan bermaksud mengaturmu atau bersikap sombong, tapi aku mampu untuk menghidupi kamu sayang. Aku hanya ingin kamu berada dekat denganku.”
Mata Jessica terbelalak, pria ini begitu lembut dan tahu bagaimana memperlakukan dirinya. Sekali lagi hati gadis cantik berwajah oval ini kembali tersentuh dan rasa tertariknya kepada pria tampan tersebut semakin besar.
Ia menggenggam tangan Jack dan membalikkan tubuhnya, lalu menatap lekat ke dalam matanya seraya berkata, “Aku ingin tapi kurasa tidak semudah itu, bersabarlah oke. Tidak mudah untuk meyakinkan mom dan papiku. Lagipula hubungan kita baru seumur jagung. Jalani saja dulu prosesnya, oke?”
Jack mendekap erat tubuh Jessica, lalu menjawab, “Oke girl. Aku berharap waktu itu akan tiba segera. Sudah waktunya aku kembali ke Jakarta, kita lanjut nanti malam. Aku akan kirim wa. Love you girl.”
“Love you too, Jack.”
Sebelum keluar dari kamar Jessica, untuk ke sekian kalinya Jack mencium kening sang gadis, lalu melepaskan pelukannya dari tubuh sang gadis dan membawa tas berisi barang bawaannya dan mengajak Jessica turun ke lantai satu bersamanya.
Mereka berdua berjalan perlahan menuruni tangga sambil bergandengan tangan. Rupanya papa dan Mama Jessica telah menunggu Jack di ruang tamu. Keduanya berjalan menghampiri kedua orang tua Jessica.
“Om, tante. Aku pamit pulang yah. Terima kasih untuk semua yang sudah aku terima selama di sini. Aku pamit dulu yah, om dan tante,” ujar Jack sambil menjabat tangan papa dan Mama Jessica.
“Ya, Jack. kami senang dengan kehadiranmu di sini. Berhati-hatilah di jalan, jangan mengebut oke?” ucap Mama Jessica.
“Oke, tante. Kalau gitu aku pergi sekarang.” Jack berjalan keluar menuju ke mobilnya yang telah terparkir di depan pintu gerbang rumah Jessica, lalu memasukkan semua barang bawaannya ke dalam bagasi mobil.
Lalu, dia masuk ke dalam mobilnya dan melambaikan tangan kepada semuanya yang berdiri di teras rumah seraya melajukan mobilnya menjauh dari rumah Jessica.
Setelah mobil Jack menjauh dan tidak tampak lagi, ketiganya masuk ke dalam rumah. Jessica lantas naik ke lantai dua dan masuk ke dalam kamarnya. Tetapi sebelum naik sang mama berkata, “Jess, besok kamu langsung minta cuti ke kantor. Jangaan mendadak. Kamu khan keseringannya semua serba mendadak.”
“Mom, khan perginya kapan juga aku belum tahu. Tapi iya juga sech, besok aku ajuin cuti, makasih mom sayang. Aku mau ngetik dulu yah.”
Lalu, Jessica naik ke lantai dua dan masuk ke dalam kamarnya. Di dalam kamar, ia duduk di meja belajarnya dan menyalakan laptopnya. Tidak lupa ia juga menyalakan handphonenya dan memeriksa pesan masuk di dalam Whatsappnya.
Sore itu, rupanya tidak ada pesan masuk sama sekali ke dalam w******p Jessica dan entah mengapa ia sangat ingin menerima pesan w******p dari Gavin. Tapi itu tidak mungkin, tadi pagi mereka baru saja berbincang.
Lalu, Jessica menaruh handphonenya ke samping laptopnya dan mulai membuka berkas novelnya. Sambil menulis lanjutan novelnya, ia pun sesekali melamun, membayangkan hal indah apa saja yang akan ia lakukan di Bali nanti bersama dengan Jack.
Jessica tersenyum-senyum sendiri membayangkan lamunannya bersama dengan Jack. Dan ia tidak dapat membayangkan reaksi teman-teman sekantornya jika tahu ia berpacaran dengan pria tampan tersebut dan apalagi berencana untuk berlibur berdua.
Saat sedang asyik-asyiknya melamun, tiba-tiba handphone berbunyi dan ada pesan masuk ke dalam Whatsappnya.
(Isi percakapan dalam Group Rempong)
Owen : Halo semua, lagi pada ngapain?
Calista : Gue lagi nulis novel. Loe lagi apa Ow?
Jessica : Halo juga, sama aku juga lagi nulis novel.
Owen : Lho, Jack tampan sudah pulang?
Calista : Cieee yang ditinggal sendirian, kangen gak sama si dia, Jess?
Jessica : Iya sech kangen. Tapi nanti minggu depan kami mau berlibur ke Bali. Oiya, gue ada sedikit info, kejadiannya mulai kemarin malam.
Valerie : Halo semuanya. Lagi serius ini sepertinya.
Owen : Iya, si Jess mau curhat. Yuk kita dengerin curhatnya dia.
Jessica : Gaes, Gavin nyatain suka sama gue kemarin malam, meski gak secara gamblang. Dia nyuruh gue dengerin satu lagu. Dari lagu itu, gue menangkap kalau dia suka sama gue. Terus paginya kami berdua berbincang lagi, dan akhirnya dia bilang kalau dia suka sama gue.
Owen, Calista : Whattt!!! Ternyata dia suka sama loe, Jess. Wow, cinta segitiga ini.
Valerie : Terus loe jawab apa, Jess?
Jessica : Gue jawab maaf, gue gak bisa nerima cinta dia. Dia kecewa gitu sech kalau dari bahasa chatnya, gue bingung gimana ini? Gue gak mau pertemanan kami rusak. Jack sudah tahu soal Gavin, dia bilang gue bersikap biasa aja. Tapi kayaknya semua bakalan berubah dan gak akan seperti dulu lagi.
Valerie : Iya pastinya, gak mungkin semua kembali seperti semula. Gue sudah mengira kalau dia naksir sama loe. Dari cara dia perhatian ke loe, itu dah kelihatan, ternyata benar. Ya sudahlah yang terjadi biarlah terjadi. Loe pura-pura gak terjadi apa-apa, tetap sapa dia seperti dulu.
Jessica : Iya sech. Tapi sepertinya mereka berempat sekarang jarang terlihat online di group chat official. Coba nanti kalau dia online, aku sapa langsung.
Calista : Repot nech. Cinta segitiga.
Owen : Iya, sam. Si Monica juga ngejar si Gavin terus, padahal Gavin menghindar dan sepertinya malas berurusan sama dia.
Calista : Mau gimana lagi? Monica bucin sama Gavin, orang bucin itu memang gitu.
Valerie : Sudah, sudah jangan diteruskan, gak baik ngomongin orang lain. Oia Jess, loe betulan mau ke Bali?
Jessica : Iya, minggu depan. Jack yang mau pesan semuanya. Gue dah gak sabar nech. Uwu.
Owen : Cie, yang lagi jatuh cinta memang beda. Ajakin kita-kita donk.
Jessica : Yaelah Ow, orang mau pacaran aja loe pingin ngikut. Pergi sendirilah, Ow.
Owen : Dasar loe pelit, Jess. Hahahahahaha.
Jessica : Ya udah, gue mau lanjut nulis. Off dulu yah gaes. Bye.
Valerie, Calista, Owen : Ok bye, Jess.
(Dan percakapan pun berakhir)
Malam tiba, saat itu waktu menunjukkan pukul setengah tujuh malam. Jessica baru saja kembali dari makan malam bersama keluarganya. Ia meraih handphonenya dan memeriksa kembali pesan masuk ke dalam whatsappnya.
Rupanya Jack belum mengirim pesan padanya, hatinya sangat merindukan sang pria. Lalu, ia memutuskan untuk mengirim pesan terlebih dahulu kepada Jack.
(Isi percakapan antara Jack dan Jessica)
Jessica : Jack?
(Setengah jam lamanya Jessica menunggu pesan balasan dari sang pria, tetapi hal itu tak kunjung datang)
Beberapa menit kemudian,
Jack : Girl maaf. Aku baru balas. Tadi ada sedikit urusan. Kamu sudah makan girl?
Jessica : Jack, aku sempat khawatir karena kamu gak kirim pesan padaku.
Jack : Maaf sayang, begitu sampai rumah, mendadak ada urusan yang harus aku lakukan. Kangen yah sama aku?
Jessica : Iya, kangen. Kamu lagi apa sekarang?
Jack : Lagi lihat villa sayang. Kurasa nanti kita menginap di Karma Kandara Uluwatu saja yah, ada pantai pribadi yang menghadap ke Samudera Hindia dan tempatnya romantis pastinya. Kamu mau khan sayang?
Jessica : Aku mau, yang ada kolam renang pribadi di setiap kamarnya khan?
Jack : Iya, kalau begitu aku langsung pesan yah.
Jessica : Bukannya tempat itu mahal banget yah per malam? Kisaran lima sampai enam juta per malam. Kamu gak apa-apa?
Jack : Gak apa-apa sayang. Aku gak keberatan kok, lagian sepadan dengan semua fasilitasnya.
Jessica : Yeay, makasih yah Jack.
Belum sempat Jack membalas chat dari Jessica, tiba-tiba sebuah pesan dari Gavin masuk ke dalam w******p Jessica.
(Isi percakapan antara Gavin dengan Jessica)
Gavin : Jess, i miss you.