‘Kenapa aku harus berada di situasi seperti ini? Sepertinya hubunganku dengan Gavin bakal semakin renggang. Ya Tuhan, seharusnya aku gak terlalu dekat dengannya, mungkin semua ini gak akan terjadi. Apa yang harus kuperbuat?’ gumam Jessica dalam hati.
Jessica membuka matanya, menatap langit-langit kamarnya dan merenung sambil menghela napas panjang. Beberapa saat lamanya ia merenung tanpa tahu apa yang harus diperbuat. Pagi itu, pikirannya perasaannya menjadi sangat kacau.
Lalu, ia memejamkan mata, sambil berdecak menyesali dirinya sendiri berulang kali. Sampai akhirnya perutnya berbunyi memberontak meminta padanya untuk segera diisi. Dengan tubuh sedikit lemas, ia bangkit dari tempat tidur dan berjalan gontai menuju ke lantai bawah.
Ia berjalan perlahan menuruni tangga, sambil melirik ke arah meja makan, rupanya semua anggota keluarga beserta Jack sedang menikmati makan pagi bersama. Jessica mempercepat langkahnya dan langsung berjalan menghampiri meja makan.
“Morning mom, papi.” Jessica mengambil tempat duduk di sebelah Jack, lalu membuka piring yang tertelungkup di hadapannya. Kemudian, tanpa diminta Jack mengambilkan dua potong pancake dan menaruhnya ke atas piring Jessica.
“Morning anak mom yang cantik, kamu gak sakit khan sayang? Jack bilang kamu tertidur, masa pagi gini kamu tertidur lagi?” tanya sang mama penasaran.
“Aku gak sakit, sehat gini. Kemarin malam aku tidur larut malam, ngobrol bareng teman-teman. Terus pagi-pagi, Sam bangunin aku, padahal aku masih ngantuk,” jawab Jessica sedikit kesal.
“Oh, makanya lain kali jangan tidur larut malam. Lebih baik tidur awal dan bangun lebih awal. Olahraga sana, biar sehat,” ucap sang mama. Selama itu, Papa Jessica beserta yang lainnya terdiam dan menyimak perbincangan keduanya dengan serius.
“Oke, mom. Gak akan aku ulangi lagi, kok. Oia mom, siang nanti mom masak apa?” tanya Jessica penasaran.
Mama Jessica menoleh ke arah Jack dan bertanya padanya, “Jack, kamu mau makan apa? nanti tante buatkan.”
Mata Jessica terbelalak mendengar ucapan sang mama, rupanya ibundanya sangat menyayangi Jack. Kening gadis cantik berwajah oval tersebut mengeryit dan matanya menatap lekat pada Jack.
“Aku makan apa aja yang tante masak. Lagipula nanti siang mungkin aku sudah harus kembali ke Jakarta. Besok aku harus ngantor pagi-pagi,” jawab Jack lembut.
“Ikut makan siang dulu bersama kami, baru kamu kembali ke Jakarta, oke? Nanti tante masakin yang enak-enak dech pokoknya.”
“Oke ... oke tante, aku ikut apa kata tante aja,” jawab Jack semangat.
Papa Jessica dan Samuel menatap ketiganya. Menyimak perbincangan mereka bertiga dengan serius, tanpa berkata sepatah kata pun.
Lalu, setelah Jack dan Jessica selesai menyantap makan paginya, mereka berdua lantas berpamitan dan langsung naik ke lantai dua menuju ke kamar sang gadis untuk menyelesaikan urusan mereka yang sebelumnya sempat tertunda.
Sesampainya di dalam kamar, Jessica berjalan mendahului Jack dan duduk di atas tempat tidurnya, sementara sang pria menutup rapat pintu kamar. kemudian ikut bergabung dengan sang gadis dan mengambil tempat di sampingnya seraya memeluk pinggang rampingnya.
Jessica cukup merasa terperanjat tatkala tangan kekar Jack memeluk erat pinggangnya seraya berbisik, “ Girl, ayo cerita kenapa tadi pagi kamu menangis?”
“Umm, oke. Gini aku berteman dekat, maksudnya berteman baik dengan beberapa orang di dunia maya. Intinya aku tergabung ke dalam suatu group di Platform Online A sebagai penulis. Di situ ga cuma penulis aja sech, tapi juga ada penerjemah. Singkat kata, aku berteman dan dekat dengan beberapa orang, khususnya satu cowo,” jawab Jessica
Jessica mengambil napas dalam-dalam lalu melanjutkan ceritanya.
“Nama cowo itu, Gavin. Dia seorang penerjemah. Kami cukup sering berkirim pesan pribadi, karena selama ini aku pikir kami adalah teman baik. Meski, beberapa kali belakangan ini dia terdengar sedikit aneh dan aku gak bisa memahami maksud perkataannya. Sampai kemarin malam, dia berkata yang cukup mengejutkan, sampai akhirnya dia minta aku untuk dengerin satu buah lagu di Youtube dan katanya aku akan tahu artinya setelah mendengarkan lagu tersebut.”
Jack membalikkan tubuh Jessica menghadap padanya dan menatap tajam ke dalam mata sang gadis seraya berkata, “Jadi selama ini kamu dekat juga dengan pria lain? Hmm ....”
“Ini tidak seperti yang kamu pikirkan, dengarkan penjelasanku dulu. Bukannya kamu yang pingin agar aku bercerita? Seharusnya kamu percaya padaku, Jack.”
“Girl, aku cuma bercanda. Kamu serius banget. Iyalah aku percaya sama kamu, itu kan dasar sebuah hubungan sayangku.”
“Oke, aku lanjutkan. Intinya kemarin malam dia nyatain kalau dia suka sama aku. Terus arti lagu yang dia minta aku dengerin juga menyiratkan itu semua. Aku nangis karena aku sedih, Jack. Aku sayang padanya sebagai teman, aku gak mau kehilangan teman hanya karena masalah hati.”
“Terus kamu jawab apa sama dia?”
“Aku sudah bilang sama dia kalau aku sudah punya pacar. Setelah itu, dia minta aku dengerin lagu itu lalu pamitan. Aku harus gimana, Jack? Aku gak tahu kalau dia memiliki perasaan sama aku.”
“Huftt, kamu terlalu polos dan lugu, Girl. Makanya kamu gak menyadari tanda-tanda seorang pria menyukai kamu. Aku salah satunya. Menurutku, kamu bersikap biasa aja seperti tidak pernah terjadi sesuatu. Dan semoga seiring berjalannya waktu, semua akan kembali seperti semula.”
“Jika dia tidak mau berteman denganku lagi, lalu bagaimana?” tanya Jessica seraya memeluk erat tubuh Jack dan menyandarkan kepalanya ke d**a bidang sang pria.
“Kamu harus belajar menerima konsekuensi dari semua hal, girl. Tidak semua hal berakhir baik. Dan jika memang dia tidak mau berteman denganmu lagi, maka tidak ada yang dapat kamu lakukan sayangku. Itu sudah keputusannya, mungkin dengan begitu luka hatinya akan sembuh.”
Air mata menetes jatuh membasahi pakaian Jack, memyadari hal tersebut membuat sang pria berinisiatif untuk membelai lembut kepala sang gadis untuk menenangkannya.
“Mungkin seharusnya aku tidak terlalu dekat dengannya, jadi tidak akan muncul masalah ini, aku betul khan, Jack?”
“Girl, kamu terlalu naïf. Apa kamu tahu bahwa cinta tidak dapat memilah? Ia datang kapan saja dan menghinggapi siapa saja. Jangan merasa bersalah lagi, itu bukan salahmu dan bukan salahnya. Tidak ada yang dapat dipersalahkan saat rasa itu muncul dalam hatinya.”
“Jack, bagaimana mungkin dia tertarik padaku? Padahal kami tidak pernah melihat wajah masing-masing, bahkan suaranya pun aku tidak tahu. Dan dia tidak tahu suaraku juga.”
“Semua bisa menjadi mungkin, sayangku. Untuk tertarik pada seseorang ada kalanya tidak perlu melihat bentuk fisiknya. Saat hati merasa cocok dan merasa nyaman dengannya, dapat dikatakan kita telah tertarik padanya. Fisik adalah urutan kesekian, yang paling penting di atas semuanya itu adalah hati, sayangku.”
Jessica terdiam dan merenungi semua perkataan Jack, meresapi semua penjelasannya. Kini, semua tampak masuk akal baginya, meski perasaan bersalah masih menggelayuti perasaannya. dan ia masih sedikit takut saat menghadapi Gavin.
Jack memeluk erat sang gadis dan membelai rambut halusnya seraya mencium kepalanya. Dia tahu Jessica masih seorang gadis yang polos dan lugu. Kebaikan hati yang dimilikinya dapat menjadi masalah untuknya suatu hari nanti, saat ia bertemu dengan orang-orang yang hanya memanfaatkan kebaikan hatinya.
“Girl, apa kamu sudah merasa lebih baik?”
“Ya, sedikit. Aku masih tidak tahu caranya bersikap seperti biasa, pasti semuanya akan terasa canggung.”
“Itu pasti, girl. Tapi kamu harus mencobanya. Jika dia menjauhimu, kamu jangan mengejarnya lagi agar hatinya tidak kembali terluka, oke?”
“Huum, oke.” Jessica kembali mendekap tubuh atletis Jack dan membenamkan kepalanya ke dalam d**a bidang sang pria sambil memejamkan matanya.
Siang itu, keduanya menghabiskan waktu dengan berpelukan. Jack sadar bahwa hati sang gadis sedang gundah gulana. Lalu, demi menghibur sang gadis yang sedang bersedih, dia pun mengajukan sebuah pertanyaan kepadanya.
“Minggu depan kita berlibur yuk. Kita berdua ambil cuti. Kamu mau pergi kemana? Aku akan memesankan semuanya untukmu.”
“Terserah kamu saja. Aku tidak punya ide.”
“Bagaimana jika kita ke Bali, kamu mau? Atau kamu mau ke Singapore atau tempat lainnya?”
“Kita ke Bali aja, gak apa-apa. Aku pingin lihat sunset.”
“Kamu serius, girl? Kalau kamu serius, aku bakal nyiapin semuanya buat kamu oke. Kalau gitu, berlibur ke luar negerinya waktu kita honeymoon aja dech.”
“Hahahaha, kamu lucu, Jack. Memangnya aku bilang bersedia menjadi istrimu?”
“Anggap saja sudah bersedia. Hahahaha. Kalau gitu, nanti siang kita ijin sama mama kamu, oke?”
“Oke.”
Sementara itu, sang mama sibuk memasak di dapur. Sementara Papa Jessica sibuk membereskan berkas-berkas pekerjaan di dalam ruang belajarnya. Samuel sedang asyik bermain game di dalam kamarnya.
Tidak berapa lama kemudian, Mama Jessica telah selesai memasak semua makanan. Menu siang itu adalah, ayam goreng saus mentega, pakcoy cah sapi lada hitam. Kedua menu tersebut sebenarnya merupakan menu kesukaan Jessica.
Lalu, sang mama berteriak memanggil semuamya agar segera turun ke lantai bawah dan makan siang bersama. Papa Jessica keluar dari ruang belajarnya dan membantu sang mama menata meja makan.
Kemudian, giliran Samuel keluar dari kamarnya dan bergegas turun ke lantai bawah. Lalu, beberapa menit kemudian, Jessica dan Jack ikut keluar dari kamar tidurnya dan berjalan menuruni tangga.
Setelah semua orang berkumpul di meja makan, mama Jessica mempersilahkan semuanya untuk mengambil makanan.
“Masakan tante harum banget,” ucap Jack seraya memandangi ayam goreng yang berada tepat di hadapannya.
“Makasih, Jack. Ayo dicicipi ayamnya,” jawab sang mama.
Lalu, di tengah-tengah acara makan siang, Jessica memberanikan dirinya untuk meminta ijin kepada kedua orang tuanya.
“Mom, papi. Jess mau bicara. Jack mengajak aku ke Bali minggu depan, kami akan mengambil cuti. Boleh gak mom dan papi?”
“Sebelumnya tante dan om, maafkan kelancangan saya yang tidak meminta izin terlebih dahulu. Ide ini telah terpikir lama, hanya saja lokasi berliburnya baru kami tentukan tadi. Saya minta ijin mengajak Jessica berlibur ke Bali minggu depan. Saya janji akan menjaganya dengan baik dan tidak akan berbuat macam-macam.”
Mama dan Papa Jessica saling berpandang-pandangan satu sama lain. Keduanya sempat terdiam beberapa saat lamanya kemudian sang mama berkata, “Ok, mom dan papi ijinkan tapi dengan satu syarat.”
“Apa syaratnya, mom?” tanya Jessica penasaran.