(Isi percakapan antara Jessica dan Gavin)
Jessica : Pagi, Vin.
(Jessica mengirim pesannya sekitar jam setengah enam pagi. Status w******p Gavin dalam keadaan online, tetapi Gavin tidak kunjung membalas pesannya. Ia masih sabar menunggu pesan balasan)
Setengah jam kemudian ...
Jessica : Vin, ...
Vin, ...
(Belum ada balasan sama sekali dari Gavin. Jessica masih setia menunggu sambil menatap layar handphonenya)
Tidak berapa lama kemudian ...
Gavin : Jess.
Jessica : Vin, akhirnya kamu baca pesanku. Aku menunggu kamu dari tadi pagi, kamu online tapi kamu tidak menjawab pesanku sama sekali. Apa kamu marah? Apa kamu kecewa sama aku?
Gavin : Jess, maaf. Seperti yang pernah kukatakan sama kamu. Aku telah berjanji pada diriku sendiri bahwa aku akan selalu ada untukmu kapanpun kamu membutuhkanku. Dan aku gak akan pernah marah sama kamu. Itu janjiku, Jess.
Jessica : Vin, kenapa kamu berjanji seperti itu pada dirimu? Sebegitu berartikah aku untukmu?
Gavin : Kamu mau tahu?
Jessica : Ya, Vin.
Gavin : Mungkin ini terdengar konyol dan menggelikan juga sedikit aneh, tetapi sejak pertama aku berbincang denganmu, aku mengagumimu. Dan entah sejak kapan, aku semakin merindukan kamu, Jess. Aku merasa sangat nyaman dan bahagia ketika berkirim pesan denganmu.
Jessica : A ... aku gak tahu harus berkata apa.
Gavin : Kamu tidak perlu berkata apa-apa. Jawab aku, Jess. Apa semua ini terdengar menggelikan?
Jessica : Vin, tapi kita belum pernah bertemu, bahkan kita tidak saling tahu wajah masing-masing. Bagaimana mungkin?
Gavin : Mungkin, Jess. Bukankah menyukai seseorang tidak harus selalu melihat fisiknya? Aku menyukai dirimu yang selalu ceria, perhatian dan semangat serta dewasa. Karaktermu yang demikian itulah yang membuatku tertarik padamu. Tetapi, semua sudah terlambat bukan?
Jessica : Vin, maaf. Ini tidak terdengar menggelikan, hanya saja aku tidak tahu harus berkata apa. Aku pun merasa nyaman saat berkirim pesan denganmu, meski terkadang kamu terdengar aneh, tetapi begitu perhatian.
Gavin : Jess, dapatkah kamu menyukaiku suatu saat nanti?
Jessica : A ... aku ... aku tidak dapat menjanjikan apapun. Maaf, Vin. Jika kamu mau marah silahkan, kamu mau menjauhiku pun silahkan.
Gavin : Sebaiknya kita lupakan saja pembicaraan ini, lagipula kamu telah memiliki kekasih. Aku benar khan?
Jessica : Iya. Maaf, aku tidak dapat membalas perasaanmu. Andai di dunia ini ada reinkarnasi, aku mau menjadi pasanganmu.
Gavin : Jangan berkata yang tidak dapat kamu penuhi, Jess. Kita tidak pernah tahu masa depan. Dan reinkarnasi itu tidak ada. Dan andaipun ada, belum tentu kamu akan memilihku.
Jessica : Vin, kamu gak akan menjauhiku khan?
Gavin : Aku tidak tahu, Jess. Sekarang aku tanya kamu, maumu gimana?
Jessica : Aku ingin selalu berteman denganmu. Apakah boleh?
Gavin : Boleh. Tapi, Jess ...
Jessica : Ya, Vin.
Gavin : Apakah tidak ada kesempatan untukku? Kalau aku boleh tahu, apa pacarmu itu cowo yang pergi dinner dengan kamu waktu itu, apakah betul?
Jesssica : Maaf, aku baru saja jadian sama dia. Ya, kamu betul, bagaimana kamu tahu?
Gavin : Hahahahahaha, aku hanya asal menebak dan ternyata benar. Kamu baru saja mengenalnya, Jess. Apa kamu yakin?
Jessica : Ya, keluargaku sudah mengenalnya. Dan aku cukup yakin.
Gavin : Oke dech kalau memang kamu sudah yakin. Aku gak bisa berbuat apa-apa lagi, dan aku akan selalu berdoa yang terbaik untukmu. Meski rasanya gak enak tertolak, tapi apa boleh buat hahahaha.
Jessica : Vin, maaf.
Gavin : Kamu gak perlu minta maaf, Jess. Bukankah cinta tidak harus memiliki?
Jessica : Tergantung kerelaan hati tiap orang, Vin. Apa aku boleh berteman denganmu? Berjanjilah padaku
Gavin : Jess, aku berjanji. Aku akan selalu ada untukmu. Oke, aku off dulu. Ada janji dengan yang lainnya. Bye.
Jessica : Bye, Vin.
(Dan percakapan mereka pun berakhir)
Jessica menatap sedih layar handphonenya, ia membaca kembali setiap pesan yang ditulis oleh Gavin. Entah kenapa hatinya merasa sakit, ia merasa sedih karena telah menyakitinya dan tentu hal ini akan berdampak pada hubungan pertemanan mereka di dunia maya.
Tanpa terasa air mata jatuh menetes membasahi layar handphonenya, dan pagi itu Jessica kembali menangis terisak. Dan air mata seakan terus jatuh tanpa henti, meski ia ingin berhenti menangis.
Sementara di sisi lain, setelah mengucapkan pamit pada Jessica. Gavin duduk termenung di meja belajarnya sambil menatap layar laptopnya. Hatinya sedih mendapat penolakan dari Jessica, selama ini dia berpikir bahwa gadis cantik berwajah oval tersebut pun menyukainya, tetapi ternyata semua perkiraannya salah.
Gavin memejamkan matanya dan berusaha menenangkan hati serta pikirannya. Dia terus menekankan pada dirinya bahwa ini hanyalah ketertarikan secara dunia maya, dan seiring berjalannya waktu, luka hatinya pasti akan sembuh dengan sendirinya.
Saat tengah menenangkan diri, tiba-tiba sebuah pesan masuk ke dalam Whatsappnya. Gavin meraih handphonenya dan membuka pesan yang ternyata berasal dari Monica.
(Isi percakapan antara Gavin dengan Monica)
Monica : Pagi yank.
Gavin : Pagi.
Monica : Ih, gak romantis banget jawabnya. Yang romantis donk yank jawabnya.
Gavin : Aku lagi gak mood buat bercandaan, sorry.
Monica : Ada apa sech yank? Cerita donk, aku selalu siap menjadi pendengarmu.
Gavin : Hmm, gak ada apa-apa kok. Gak ada yang perlu kuceritain.
Monica : Gavin sayang, aku suka kamu sejak dulu. Kenapa kamu selalu menghindariku? Apa kamu gak tertarik sama aku sedikitpun?
Gavin : Aku gak pernah menghindari kamu. Aku hanya menganggapmu teman dan adik, itu saja. Monica please, belajarlah dewasa, oke.
Monica : Gak mau, pokoknya aku maunya sama kamu. Aku sudah cocok sama kamu, Vin. Beri aku kesempatan untuk membuatmu jatuh cinta padaku.
Gavin : Monica, aku sudah menyukai orang lain, kamu tidak perlu tahu siapa orangnya. Saat ini, aku belum bisa berpindah ke lain hati, maaf.
Monica : Aku akan menunggu kamu dengan sabar. Aku dapat melakukan apapun untukmu.
Gavin : Monica, jangan begitu. Beri aku waktu untuk berpikir oke?
Monica : Oke.
Gavin : Dan selama aku berpikir, kita jalani semuanya seperti biasa. Dan aku tidak pernah berjanji bahwa aku akan membalas cintamu. Semua memerlukan proses, kamu sudah mengerti, Monica?
Monica : Iya, aku mengerti. Vin, aku minta foto kamu donk, masa selama ini kita ngobrol tanpa tahu wajah masing-masing sech?
Gavin : Maaf, aku gak bisa kasih kamu fotoku. Aku pun gak pernah minta foto kamu.
Monica : Aku gak keberatan kirim fotoku sekarang. Aku benar-benar pingin lihat wajahmu. Please dech Vin.
Gavin : Gak bisa yah gak bisa. Jangan maksa. Aku off dulu ada perlu. Kita berbincang lagi lain waktu. Bye.
Monica : Gavin ... ah sudahlah. Bye. Kita chat lagi nanti malam oke?
Gavin : Gak janji. Bye.
(Dan percakapan pun berakhir)
Pagi itu, keduanya di dua tempat yang berbeda saling meratapi dan merenungi semua hal yang telah terjadi kepada mereka berdua belakangan ini. Berada di dua tempat yang berbeda, terpisah oleh jarak, seakan sebuah tembok besar menghalangi keduanya untuk bersatu.
Rasa yang tumbuh dalam hati Gavin telah terpupuk sekian lama, sementara rasa dalam hati Jessica hanya tertuju kepada Jack. Dan kini, perasaan bersalahlah yang memenuhi hati Jessica.
Tidak lama kemudian, terdengar suara ketukan pintu dari lantai bawah, Jessica segera menyeka air matanya dan menaruh handphonenya ke atas nakas. Lalu, berjalan keluar kamar, menuruni tangga menuju ke pintu depan.
Rupanya, papa dan Mama Jessica kembali dari pasar dan di belakang mereka berdiri Jack dan Samuel yang bermandikan keringat dengan napas yang tersengal-sengal.
Jessica membukakan pintu untuk mereka berempat. Setelah mereka masuk satu persatu ke dalam rumah, Jessica mengajak Jack naik ke lantai dua. Sementara, papa dan Mama Jessica membereskan semua barang belanjaan mereka.
Samuel naik tangga terlebih dahulu, diikuti oleh Jack dan Jessica yang berjalan di belakangnya.
“Girl, kamu habis nangis?” tanya Jack penasaran sambil menatap wajah Jessica.
“Umm iya,” jawab Jessica singkat.
“Kenapa? Cerita sama aku. Ada apa?”
“Gak apa-apa, sudah gak apa-apa. Kamu mandi dulu sana, sarapan sudah aku siapin di bawah.”
“Aku gak mau sarapan sebelum kamu cerita ada apa. Kamu tunggu aku mandi, lalu kita berbicara. Girl, dengar, sekarang kamu adalah pacarku dan aku ingin tahu apa yang buat kamu sedih. Itu wajar, karena sekarang kita adalah pasangan yang perlu berkomunikasi.”
“Oke, aku paham. Setelah kamu mandi, kita bicara. Kamu mandi di mana?”
“Di kamar mandi kamarmu. Gak apa-apa khan girl?”
“Gak apa-apa. aku ambilkan kamu handuk dan baju bersihnya yah, kamu masuk duluan saja ke dalam kamar mandi.”
“Makasih girl, Love you.”
Lalu, Jack masuk ke dalam kamar mandi, sementara Jessica mengambilkan handuk serta pakaian bersih untuk sang pria. Diketuknya pintu kamar mandi, setelah pintu terbuka, ia segera menyerahkan handuk dan baju tersebut kepadanya.
Sambil menunggu Jack selesai mandi, Jessica duduk di atas tenpat tidurnya dan berbaring sambil mencoba menenangkan pikirannya. Ia memejamkan mata dan mencoba mengatur napasnya, tetapi ia malah terlelap tidur karena banyaknya beban yang mengisi pikirannya.
Tidak lama kemudian, Jack telah selesai mandi, dan berjalan menghanpiri Jessica yang sedang terlelap tidur. Pria tersebut berlutut di tepi tempat tidur dan menatap wajah cantik sang gadis dalam posisi mata terpejam.
‘Dia sungguh sangat manis meski sedang tertidur. Lebih baik kubiarkan dia beristirahat,’ gumam Jack dalam hati.
Sebelum Jack melangkah keluar kamar, dia mendekatkan wajahnya ke wajah Jessica dan mengecup lembut kening sang gadis. Lalu, bergegas bangkit berdiri dan berjalan keluar dari kamar tidur Jessica.
Merasa seseorang mencium keningnya, mata Jessica terbuka dan melihat sosok Jack yang sedang berjalan keluar dari kamarnya. Perasaan hangat lantas menyelimuti hatinya, rasa kagum bercampur haru memenuhi benak Jessica. Dan rasa tertariknya kepada sang pria menjadi semakin besar.