Chapter 6 : Kebetulan Atau Takdir?

1453 Words
“Jack, aku di sini. Kemarilah!” seru seorang wanita ke arah pria tampan yang berada di seberang Jessica. Lalu, pria tampan tersebut menoleh ke arah sumber suara dan berjalan mendekati wanita yang berdiri tepat di belakang Jessica. Jantung Jessica berdegup kencang, wajahnya merona merah. Dirinya merasa tak kuat untuk menatap wajah sang pria. Beberapa saat kemudian, pria tampan tersebut berjalan melewati Jessica dan menyapa sang wanita yang diketahui bernama Linda, “Hi, Linda. Rupanya kamu di sini juga.” “Iya, aku teman baik mempelai pria. Kalau kamu?” tanya Linda pada Jack. “Aku rekan bisnis mempelai pria.” Jack mengambil minuman dari seorang pelayan pria yang berkeliling menawarkan minum kepada para tamu. “Sampai kapan kamu di Bandung? Perlu aku temani?” tanya Linda penuh harap. Jessica berpura-pura berdiri di sebelah mereka sambil memasukkan makanan yang diberikan oleh sang mama ke dalam mulutnya. Pesta malam itu berlangsung cukup meriah dengan konsep Standing Party, maka semua tamu bebas untuk mengantri dan mengambil makanan yang mereka sukai. “Minggu sore aku kembali ke Jakarta. Besok aku masih ada sedikit urusan dengan salah satu rekan bisnisku. Selain itu, aku belum memiliki rencana,” jawab Jack sambil melirik ke sana ke mari memperhatikan para tamu. “Hubungi aku kalau kamu butuh teman, oke?” ucap Linda yang sedari awal terus memandangi wajah Jack. Harus diakui memang Jack cukup tampan dengan garis mata yang tegas, hidung yang mancung, bibir yang tipis, tubuh yang tinggi dengan perawakan tubuh yang tegap serta d**a yang bidang. Jessica cukup terpana untuk yang pertama kali kepadanya. “Oke, Thanks Linda,” jawab Jack singkat. Jessica yang merasa jika pembicaraan mereka telah berakhir, lalu mulai bergeser perlahan ke arah lain, sambil tetap berpura-pura menikmati makanan dan melemparkan pandang ke sudut lain. Ketika Jessica mencoba untuk mencuri pandang kembali, ternyata Jack dan Linda sudah pergi. Dengan rasa penasaran, Jessica mencari dan memperhatikan setiap stand makanan dan tamu yang berdiri, tetapi keduanya tetap tidak ditemukan. ‘Pertama kalinya setelah sekian lama gak lihat cowo tampan, sekalinya lihat malah menghilang,’ batin Jessica meratapi nasibnya. Rupanya Jessica dan sang mama terpisah, ia melihat ibundanya sedang berbincang dengan kedua orang tua mempelai, sementara dirinya berpindah antara stand makanan yang satu ke stand makanan yang lain untuk mengisi perut. Setelah hampir mencicipi sebagian besar stand makanan yang tersedia, akhirnya Jessica menetapkan pilihannya ke stand Dim Sum. Setelah memastikan antrian yang tidak cukup panjang, dirinya pun mulai berbaris mengantri. Sambil mengantri, Jessica menyalakan handphonenya dan membuka aplikasi komik online. Rupanya tanpa ia sadari, orang yang ikut mengantri tepat di hadapannya ialah Jack, pria tampan yang sempat ia sukai. Entah takdir atau kebetulan, Jack melangkahkan kakinya mundur satu langkah ke belakang, sehingga menginjak kaki Jessica yang berada persis di belakangnya. Tak ayal gadis manis berbibir seksi tersebut pun  meringis kesakitan. “Ow, aduh. Ssssshh sakit.” Jessica meringis kesakitan kemudian berlutut sambil memegangi jempol kakinya yang berada dalam balutan high heelsnya. “Sorry, sorry. Aku gak sengaja mundur karena orang yang mengantri di depanku mundur juga. Kamu gak apa-apa?” tanya Jack merasa bersalah. Jessica masih belum menyadari jika orang yang berada di hadapannya adalah Jack, sebab perhatiannya terfokus ke kakinya yang sedang kesakitan. Saat hendak menjawab pertanyaan yang dilontarkan oleh Jack, saat itu pula ia merasa suara yang sedang bertanya padanya tidak asing. Kemudian, ia mendongakkan kepalanya ke arah sumber suara dan saat itu pula ia terperanjat. “A ... a ... ahh ya tidak apa-apa, aku tidak apa-apa,” jawabnya gugup meski rasa sakit masih menyerang jempol kakinya. “Sungguh? Sepertinya kamu masih menahan sakit. Begini saja, kamu duduklah di sana, biar aku yang mengantri makanan untukmu, oke? Anggap saja sebagai penebus kesalahan,” ucapnya lembut. Untuk sesaat Jessica sempat terpana oleh sikap lembutnya. Lalu, Jessica menerima usul dari Jack. Ia berjalan menuju ke tempat duduk yang tersedia di sudut ruangan, dekat dengan jendela. Diamatinyalah dengan seksama pria tersebut yang sedang mengantri makanan untuknya. Sambil menunggu Jack datang, ia menatap ke sekeliling ruangan berusaha mencari sang mama. Tetapi karena terlalu banyak tamu undangan yang berjalan ke sana ke mari, sehingga membuat Jessica kesulitan untuk mencari di mana ibundanya. Akhrinya, ia pasrah dan berpikir jika sang mama sudah puas berbincang, dia akan segera mencari dirinya. Jessica kembali menatap Jack yang sedang berdiri di hadapan stand Dim Sum, kini gilirannya telah tiba. Jack maju dan memilih Dim Sum untuknya dan untuk Jessica. Lalu, dia berjalan ke arah tempat duduk Jessica sambil melemparkan senyum manisnya. ‘Gila, senyumnya maut. Dia cakep ya Tuhan,’ batin Jessica yang tak kuasa untuk menolak pesona Jack. “Sorry, menunggu lama yah? Ini Dim Sumnya. Oia, aku belum memperkenalkan diri, namaku Jack Christian. Namamu siapa?” tanyanya seraya menyodorkan tangan untuk bersalaman. Jessica menyambut tangannya lalu menjawab, “Namaku Jessica Milly Iskandar, panggil Jess saja. Oia, makasih yah sudah mau antri Dim Sum buat aku.” “Gak masalah, Jess. Lagian juga aku sudah injak kaki kamu. Oia, kamu kerja atau mahasiswa?” tanyanya sambil menyuap Dim Sum ke dalam mulutnya. “Aku sudah kerja. Kalau kamu?” tanya Jessica seraya menatap wajah Jack dengan seksama, menikmati pesona ketampanannya.   “Hmm, aku kerja donk, gak mungkin tampang sudah tua begini masih jadi anak kuliahan,” jawabnya yang diikuti oleh gelak tawanya yang cukup kencang. Jessica ikut tertawa dibuatnya, mereka berdua tertawa terkekeh hingga tidak menyadari jika Mama Jessica berdiri di sebelah tempat duduknya. “Jess,” panggil sang mama yang merasa kebingungaa. “Oh, mom. Sejak kapan mom di sini?” tanya Jessica keheranan. “Sudah sejak tadi, oia apa ini temanmu? Perkenalkan pada mom donk,” pinta sang mama yang menatap Jack dengan tatapan bahagia. “Nama saya Jack, tante. Maaf tidak memperkenalkan diri sejak tadi,” ucap Jack sambil menyalami tangan Mama Jessica. “Oh ya. Saya mama Jessica. Kalau kalian masih ada urusan, silahkan lanjutkan,” ujar sang mama yang merasa cocok dengan Jack. “Gak kok, mom. Aku sudah kenyang, lagian juga sudah malam, kita pulang yuk.” Jessica menggandeng tangan mamanya dan memberi kode untuk segera pergi dari sana. Sang mama mengerti kode dari anaknya, lalu mereka berdua berpamitan pada Jack. Keduanya berjalan menjauh menuju pintu keluar gedung. Setelah beberapa saat, Jack dan Jessica akhirnya sadar jika mereka belum meminta nomor w******p masing-masing. Penyesalan menggelayuti hati dan perasaan keduanya, sebab mereka tidak tahu kapan dapat bertemu kembali. Malam itu, sepulang dari pesta dalam perjalanan pulang Jessica terdiam dan tidak banyak berbicara, ia mengarahkan pandangannya ke jalan raya menikmati pemandangan lalu lalang pengendara motor dan mobil. Sesampainya di rumah, Jessica langsung pamit tidur pada sang mama. Di dalam kamar, ia segera berganti pakaian, menghapus make upnya kemudian mencuci mukanya. Selama berada di pesta ia sama sekali tidak menyalakan handphone dan kini ia sangat penasaran dengan pesan masuk di Whatsappnya.   Malam itu, jam menunjukkan pukul dua puluh satu lewat tiga puluh menit. Banyak pesan masuk ke dalam Whatsappnya, tetapi karena terlalu lelah, Jessica menaruh handphonenya di atas nakas yang terletak di sebelah tempat tidurnya, lalu naik ke atas tempat tidur, menarik selimut dan ia memutuskan tidur lebih awal. Namun, sebelum terlelap, ia sempat membayangkan wajah Jack untuk sejenak. Senyumnya, sikapnya yang sempat membuat Jessica terpukau, ia mencoba meyakinkan dirinya mungkin saja ini semua karena efek terlalu lama menjomblo, sehingga ia dengan mudah terpukau. Malam itu, Jessica tidur lebih awal tidak seperti biasanya, sebab besok ia harus berangkat lebih awal supaya ia dapat menyelesaikan pekerjaannya yang belum ia selesaikan hari ini. Keesokan paginya, dengan tergesa Jessica bergegas berangkat ke kantor dengan diantar oleh Samuel mengendarai sepeda motor barunya, sebab arah menuju kampus sang adik searah dengan tempat kerjanya.   Sesampainya di kantor, Jessica bergegas menyelesaikan pekerjaannya yang sempat tertunda. Tidak lama kemudian, seluruh karyawan kantor telah datang, begitu juga dengan sang pimpinan yang langsung masuk ke dalam ruangannya. Selang tiga puluh menit kemudian, Jessica dipanggil masuk ke dalam ruang pimpinan. Sambil membawa laporan keuangan yang telah selesai dikerjakan, ia mengetuk pintu ruangan Pak Hans yang merupakan Manager Umum di perusahaan tempatnya bekerja. Setelah dipersilahkan masuk, Jessica segera menyerahkan laporan keuangan tersebut dan Pak Hans memintanya duduk dan memberitahunya jika siang ini kantor mereka akan kedatangan seorang tamu yang merupakan Perusahaan Supplier Produk Bayi dari Jakarta. Pak Hans secara khusus meminta Jessica untuk menemani tamu tersebut makan siang di luar, untuk restorannya Jessica dipersilahkan memilih dan memesan tempat terlebih dahulu. Demi profesionalitas kerja, Jessica lantas menyanggupi permintaan sang pimpinan. Siang harinya, setelah restoran telah dipesan dan segala sesuatunya telah siap, tamu yang ditunggu tidak kunjung datang. Jessica memutuskan untuk beristirahat sejenak di kursinya melepas lelah setelah seharian menatap layar komputer. Tidak lama kemudian, suasana kantor yang biasanya hening tiba-tiba mendadak ramai, terutama para karyawan wanita. Jessica menatap kumpulan para karyawan wanita yang sepertinya sedang mengagumi seseorang yang hendak masuk ke dalam kantor mereka. Karena penasaran, Jessica ikut mencari tahu, siapa gerangan yang dihebohkan oleh para karyawan wanita? Saat melihat ke arah depan kantor mereka, Jessica tidak percaya dengan apa yang ia lihat, bukankah itu Jack? Pria yang ia temui tadi malam. Rupanya tamu yang diminta sang pimpinan untuk ia temani adalah Jack Christian. Oh ... yesssss. Seketika jiwa jomblo Jessica bersorak kegirangan.  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD